This Is Our Love

This Is Our Love
Silvia Berhijab?!



Sementara di tempat lain, Louis tengah menatap hamparan pantai, menikmati deburan ombak dan pantulan rembulan di atas air. Louis duduk di atas bumper mobil, sebotol wine ikut menemaninya. Digoyahkannya botol wine tersebut kemudian menenggaknya. 


Louis memang sendirian di sini, tidak bersama Teresa apalagi dinner dengan Teresa, Louis berbohong agar keluarganya tidak merasa cemas ataupun curiga. Keluarganya sangat bahagia saat Louis memberitahu mereka bahwa pertunangan akan diganti dengan pernikahan. 


Pandangan Louis lurus ke depan. Matanya menyimpan sebuah keraguan besar. 


Menikah? 


Tidak terpikir olehnya bahwa seminggu lagi ia akan menyandang status suami dari Teresa, wanita kedua yang bertahta di hatinya. 


Masih ada rasa untuk Bella? 


Tentu saja! Walau sudah menerima belum tentu bisa melupakan. Cintanya murni sebuah cinta, Bella bahagia tentu ia ikut bahagia. Bella terluka, hatinya akan merasakan sakit yang sama. 


Lalu jika begitu, mengapa Teresa mengatakan pada Bella bahwa Louis lah yang mengajukan pernikahan?


 Jika begitu mengapa Louis mengatakan pada keluarganya bahwa itu keputusan bersama, sedangkan Louis terlihat tidak yakin dengan keputusannya sendiri? 


Ikatan pernikahan lebih kuat dari pertunangan. Toh mereka pada akhirnya akan menikah, jika sudah sepakat untuk apa ditunda lagi? 


Belum yakin? Belum siap?


 Itu alasan klasik karena mereka akan melangsungkan pertunangan yang artinya setelah itu mereka berdua harus siap untuk menikah, jika bisa sekaligus mengapa harus menunggu waktu?


 Mereka juga sudah saling mengenal lama, sudah tahu karakter masing-masing, bukan dua orang yang saling asing yang menjalankan pernikahan kilat. 


Louis ingin menyendiri dan memantapkan hatinya lagi. Karena hal ini juga mendadak baginya. Bukan karena ia tidak mau menikah dengan Teresa. Wajah bukan jika ia memantapkan hatinya lagi?


Mereka bakal satu atap, Louis ingin mengoreksi dirinya sendiri. 


Ingin tahu alasannya? 


Ingatan Louis kembali pada kemarin lusa. Saat itu, ia dan Teresa tengah menghadiri sebuah pesta pernikahan. Mereka datang sebagai pasangan. 


Awalnya semua berjalan baik. Mengucapkan selamat pada mempelai, berbincang dengan para tamu, dan menerima ucapan selamat atas pertunangan yang akan segera digelar. Dan di setiap moment bahagia, pasti akan ada bagian yang tidak suka dengan kebahagian itu. 


Hal itulah yang terjadi pada Louis dan Teresa. Louis tidak bisa disentuh maka target beralih pada Teresa. Setelah minum segelas minuman, Teresa merasa tidak nyaman dan izin pada Louis untuk ke toilet. 


Di toilet, seberapa banyak ia membasuh wajahnya, tidak bisa menyingkirkan rasa tidak nyaman dan pandangannya berubah sayu. Satu yang ada dipikirkan Teresa kemudian, minumannya diberi obat.


Teresa berusaha untuk menghilangkan efek obatnya dengan keluar toilet mencari sebuah kamar untuk ia pinjam kamar mandinya. Hanya saja, langkahnya semakin terhuyung, tubuhnya terasa lemas, dan panas semakin menjadi.


Satu hal yang bisa ia lakukan adalah menelpon Louis. Namun, sebelum panggilan itu tersambung ada yang membekap dirinya dan menyeretnya ke suatu tempat.


Samar-samar Teresa melihat beberapa orang pria dengan tatapan lapar padanya. Tubuhnya terasa dingin, dan langsung merespon saat Teresa melihat para pria itu melucuti pakaian mereka sendiri.


"Siapa kalian? Mau apa kalian? Pergi!"hardik Teresa, berusaha untuk memundurkan tubuhnya saat salah seorang pria mulai merangkak naik mendekatinya. 


"Tenang saja, Cantik. Kami orang baik kok. Malah kami akan membawamu terbang ke surga," jawab pria yang merangkak naik itu.


"Pergi! Jangan dekati aku!" Akal Teresa masih berfungsi dengan baik.


Diambilnya bantal dan apa saja yang dijangkau oleh tangannya pada pria-pria itu. Bukannya marah, mereka malah semakin semangat. Teresa meringkuk di ujung ranjang. 


"TOLONG! TOLONG! HELP ME, PLEASE!"teriak Teresa dengan seluruh kekuatannya.


"Cantik jangan teriak-teriak. Nanti saja saat kita sudah menyatu kau bisa berteriak nikmat. Jangan buang-buang suara indahmu, di sini kedap suara," ucapnya dengan nada sensual yang terdengar mengerikan di telinga Teresa. 


"Cepatlah, Kawan! Kami menunggu giliran!"ucap pria lain pada pria yang sudah berada di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam. 


"Sabar. Mohon kerja samanya, Cantik," balas pria itu yang dengan cepat menarik Teresa.


Teresa memberontak, kedua tangannya dicengkeram oleh pria itu dengan satu tangan.


 "Tunggu dulu!"ucap Teresa, ia akan tidak akan membiarkan kehormatannya dinodai.


Jika bisa mengulur waktu, Louis pasti akan segera menemukannya setelah menyadari ada sesuatu yang terjadi padanya. Akalnya lebih kuat daripada nafsunya.


"Ada apa lagi, Cantik?"


"Siapa yang menyuruh kalian? Berapa banyak kalian dibayar? Katakan padaku, aku akan memberikan kalian dua kali lipat dari itu dan akan membuat kalian menjadi tamu VIP di Bar, kalian bebas memilih wanita mana saja di sana. Tapi, lepaskan aku. Itu juga untuk keselamatan diri kalian sendiri. Karena aku tidak bisa menjamin setelah kalian melakukannya denganku nyawa kalian masih berada di dalam raga!"


"Hm tawaran yang menggiurkan. Hanya saja, pelac*r di bar mana bisa dibandingkan dengan kekasih wakil Presdir Kalendra Group. Hahaha … masalah nyawa asal bisa menikmati Anda, tidak masalah kami kehilangan nyawa," jawabnya dengan tertawa. 


Teresa mengerti, mereka setia dan melakukan tugas seperti apa yang dikatakan tuannya.


"Kalian bodoh! Demi nafsu rela kehilangan nyawa," cibir Teresa.


"Hei, Cantik. Kau sudah terkena obat mengapa bisa berkata seperti itu?"heran salah seorang pria. 


Jika sudah terkena obat perangsang, pasti akan menunjukkan sisi menggoda yang sangat ingin menerima sentuhan. 


Hanya saja, tatapan Teresa jernih tajam. Biar begitu, tubuh Teresa lemas seluruhnya. Rada panasnya masih sangat menguasai diri. Namun, Terasa sekuat tenaga, hati, dan pikiran menahannya. 


"Karena aku mengandalkan akal bukan nafsu." 


"Ah ini terlalu lama. Ayo kita mulai." 


Louis cepatlah datang! Teresa memejamkan matanya saat tangan pria itu hendak menyentuh dirinya. 


BRAKK!


Pintu ditendang dengan keras dan jebol. "TERESA!" Itu Louis. Teresa bisa bernafas lega. 


"T-Tuan …." Tiga pria itu tampak ketakutan. Raut wajah Louis begitu mengerikan di mata mereka.


"KURANG AJAR!"


Tanpa banyak bicara lagi, Louis menghajar ketiga pria itu. Perlawanan yang tidak berarti bagi Louis, tiga pria itu sudah terkapar tak berdaya. Orang-orang Louis datang.


"Yes, Sir!"jawab orang-orang Louis. 


"Louis," panggil Teresa parau.


Louis segera menghampiri kekasihnya dan mendekapnya erat. Louis segera bertindak saat Teresa menghubunginya namun sebelum dijawab sudah dimatikan dan saat ditelpon balik tidak dijawab. 


"Louis aku merasa sangat panas," ucap Teresa dengan semakin memeluk erat Louis. Sekarang ia tidak bisa menahan nafsunya. 


"Sadarlah, Resa. Kita tidak bisa melakukannya sebelum kita menikah," ujar Louis, melepas pelukan Teresa kemudian menangkupkan wajah kekasihnya yang begitu sayu. 


"Aku sangat tersiksa, Louis. Aku tidak tahan. Tubuhku sangat panas Louis, aku butuh kau." Ucapan itu begitu mendesak. Teresa sangat membutuhkan Louis. 


Louis masih ragu. Walau kekasihnya dan di sana itu sudah hal lazim berhubungan *** sebelum menikah, Louis ingin mempertahankan prinsipnya setelah ia berubah. Lagipula ajaran agama sangat melarangnya. 


Namun, sungguh ia tidak tega melihat Teresa.


Apa Louis terangsang?


Bisa dikatakan begitu karena pakaian Teresa acak-acakan dengan mata yang begitu sayu. 


Dan di saat Teresa sudah kalah dengan nafsunya, Louis mempertahankan akal sehatnya. Ia kemudian menggendong Teresa menuju kamar mandi.


"Louis?!" Teresa protes saat Louis memasukkannya ke dalam bath up dan menghidupkan air.


Air dingin menyentuh kulit Teresa. Air semakin dalam dan menyentuh leher Teresa. Louis tentu saja menahannya agar Teresa tidak bangkit. 


Namun, Teresa memberontak dan menarik Louis masuk ke dalam bath up.


Louis tercengang, seberapa banyak dosis yang diberikan pada kekasihnya? 


Sebelum Louis merespon, Teresa sudah lebih dulu membekapnya dengan ciuman. Menuntut, pertahanan akal Louis pecah. Dan begitulah. Hal itu terjadi di antara keduanya. 


Setelah hal itu terjadi, ada rasa kecewa di hati Louis. Namun, Louis sadar itu sudah hal biasa. Teresa sudah kehilangan kesuciannya sejak lama bahkan sebelum masuk bangku kuliah. 


Dan Louis harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. 


Oleh karenanya pertunangan diubah menjadi sebuah pernikahan. Dan alasan itu tidak diungkapkan pada orang lain selain mereka berdua. 


*


*


*


Louis sudah menghabiskan setengah botol wine. Hatinya mulai merasa tenang dan yakin dengan keputusannya.


Ia menghela nafas pelan, suasananya hatinya sudah sangat baik.


"Semakin diundur akan semakin ragu," gumannya kemudian, menumpahkan sisa wine diatas pasir sebagai tanda Louis sudah melepaskan segala keraguan dan ketidakyakinannya. 


*


*


*


"Ayo, Via," ajak Brian pada sang istri yang sedari tadi menatap cermin padahal sudah selesai berias. Brian merasa aneh pada sang istri. 


"Iya, Mas. Mas duluan saja," balas Silvia.


Brian mengendikkan bahunya dan turun untuk segera menikmati segelas kopi. 


Sedangkan Silvia begitu Brian keluar dari kamar ia langsung beranjak dan mengunci pintu. Seperti sedang ingin melakukan sesuatu tapi masih ragu untuk dilihat secara langsung. 


"Via mana?"tanya Bella pada Brian. 


"Masih belum siap," jawab Brian sekadarnya. Bella mengangguk.


"Aru dalam perkiraanmu bagaimana pemikiran para karyawan?"tanya Ken sembari menikmati segelas jus jeruk sebagai nutrisi yang masuk setelah ia begadang tadi malam. 


"Random," jawab Bella. 


"Random?"


"Kita lihat saja nanti," ucap Brian. 


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.


"Nona Silvia?" Pelayan tampak terkejut. Semua menoleh ke arah tangga. Bukan hanya Bella, Ken dan Brian juga terbelalak melihat penampilan Silvia. 


"Kau Silvia?"tanya Bella memastikan. Ia bahkan berdiri dan mengelilingi Silvia. Sedangkan Brian membeku di tempatnya. 


Apa yang membuat mereka terkejut?


Jawabannya adalah Silvia berhijab.


"Are you Silvia? Brian wife?"tanya Bella memastikan lagi karena Silvia malah senyum-senyum tanpa menjawab. 


"Lalu, siapa lagi?"balas Silvia. Ia tampak begitu cantik dalam balutan celana panjang yang longgar dengan mengenakan baju kerja lengan panjangnya. Dan rambutnya yang biasa tergerai tertutup rapat dengan hijab berwarna hitam. 


"Ini mengejutkan. Tapi, luar biasa!"takjub Bella. 


Silvia tersenyum dan melihat ke arah Brian yang tampaknya salah tingkah. Brian tidak menyangka jika Silvia akan melakukan apa yang ia pinta kemarin. 


"Terima kasih," ucap Brian. "Kau cantik seperti itu," lanjutnya memuji.