This Is Our Love

This Is Our Love
Rusia or Mongolia?



"Apa?!" Dylan berseru kaget saat Brian memberitahu pada yang lain jika Bella dan Ken tidak jadi pulang hari ini dikarenakan Bella jatuh sakit. Gurat-gurat wajah kaget dan juga cemas, terpampang begitu jelas pada wajah Silvia dan juga El. Fajar yang belum begitu mengenal Bella menatap anggota keluarga itu dengan bingung. Bahkan para pelayan saja tampak terkejut dan juga begitu cemas. 


"Yang benar kau, Brian!! Abel itu strong women. Tidak yakin aku dia jatuh sakit. Cepat kau hubungi Ken untuk memastikannya!" El menolak keras informasi itu. Meskipun ia tidak melihat langsung namun, El percaya pada cerita yang ia dengar langsung dari Bundanya. Brian melotot kesal pada El karena memanggil namanya secara langsung. Namun, yang dipelototi sama sekali tidak terpengaruh.


"Palle!! Tunggu apa lagi?!" El malah menyentak.  


"Lambat!" Dylan mendengus. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Bella. Ya, tentu saja tidak aktif. Gantian Dylan menghubungi Ken. On … but, tidak kunjung dijawab. Dylan mencoba beberapa kali. Wajahnya kini mulai kesal. 


"Ke mana sih dia?!"geram Dylan.


"Kak Abel sakit … wajar jika Kak Ken tidak fokus pada ponselnya," ujar Fajar. Dylan melirik Fajar yang duduk di tempat duduk. 


"Ponsel tidak pernah jauh dari mereka. Terlebih Kak Abel," balas Dylan. Kakaknya itu wanita karier, ponsel dan laptop adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan darinya. Juga Ken yang seorang sekretaris. Tentu up to date bukan?


"Mungkin lagi tidak dekat dengan ponsel. Entah di kamar mandi atau sedang tidur. Kita tidak bisa berburuk sangka dulu. Atau ada nomor lain yang bisa dihubungi?"ujar Fajar, tenang dan menenangkan. 


"Mengapa kau menatapku begitu? Tidak takut matamu keluar?" El seakan baru menyadari tatapan Brian padanya. Brian berdecak. "Lupakan saja," sahut Brian. Ia mengalihkan pandangnya ke arah Dylan. 


"Aku akan menghubungi seseorang," ujar Brian. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Tuan Adam. Ya, sebelumnya mereka sudah bertukar nomor ponsel. Tak butuh waktu lama Tuan Adam sudah menjawab panggilan Brian.


"Hallo, Paman," sapa Brian. 


"Hallo, Tuan Brian," jawab Tuan Adam di ujung sana.


"Aku ingin menanyakan sesuatu. Di mana Abel dan Ken? Apa benar Abel sakit?"tanya Brian to the point.


"Benar, Tuan Brian. Nona memang sedang sakit," jawab Tuan Adam. Nadanya tenang. Membuat kecurigaan Brian sedikit memudar.


"Apa begitu parah sampai mengundur kepulangan?" Namun, Brian masih sangat penasaran dengan sakit apa yang diderita Bella. Brian juga meloud speaker panggilan agar semua yang ada di ruang tengah itu mendengarnya langsung agar kecemasan mereka juga turut mereda. 


"Tidak terlalu … hanya demam. Namun, kondisinya memang cukup lemah, terlebih Nona sedang hamil. Dokter melarang Nona untuk bepergian jauh. Oleh karenanya kepulangan itu diundur," jelas Tuan Adam. Brian mengangguk membenarkan. Ya, resikonya akan jauh lebih besar saat ibu hamil yang sakit terlebih itu masih di awal, perjalanan jauh memang tidak dianjurkan. 


"Lalu di mana mereka mereka berdua sekarang?"tanya Brian, ingin memastikan mengapa Ken tidak menjawab panggilan Dylan dan mengapa juga ponsel Bella tidak aktif. 


"Tuan dan Nyonya tengah istirahat, Tuan. Sebelumnya saya atas nama Nona mohon maaf jika Anda ataupun keluarga yang lain tidak bisa menghubungi Nona. Nona memang menonaktifkan ponselnya agar ia fokus bedrest," beritahu Tuan Adam. Menjelaskan agar kekhawatiran itu mereda sereda redanya. 


"Ah begitu rupanya. Aku kira Ken takut menjawab telpon karena ada yang disembunyikan," sahut Brian. 


"Tidak, Tuan. Tidak ada yang disembunyikan dari kalian. Keselamatan Nona dan Tuan bukan hal kecil, kami tidak akan berani bermain-main dengannya," balas Tuan Adam. Brian tersenyum. 


"Baiklah, Paman. Hanya itu saja yang ingin aku tanyakan," ucap Brian, berpamitan.


"Iya, Tuan Brian." Panggilan berakhir dan Brian tidak perlu menjelaskan ulang karena yang lain sudah mendengar dengan jelas. 


Sama seperti dirinya, gurat-gurat kecemasan dan kecurigaan itu mereda. Namun, tetap saja mereka cemas. 


"Semoga Kak Abel cepat pulih," harap Fajar yang diangguki oleh yang lain.


"Aku akan memberitahu Bunda tentang ini," ujar Brian. 


"Aku saja," sela El, sudah mengangkat ponselnya menghubungi Rahayu. 


Brian mendengus. Ia kembali duduk. "Mengapa dia tidak memberitahu Anjani saja?"gerutu Brian. Silvia tersenyum melihat suaminya yang kesal dengan El. 


"Sudahlah, Mas. Kayak nggak tahu saja bagaimana El?" Silvia mengusap punggung Brian. 


"Besok aku akan menjenguk Nesya sekaligus memberitahukan kabar ini agar dia tidak bertanya terus dan berpikir yang tidak-tidak," ujar Dylan. 


"Baiklah," jawab Brian. "Aku akan ke perpustakaan. Kau kau ikut, Fajar?"tawar Dylan pada Fajar. 


Fajar mengangguk. Fajar harus belajar untuk mengambil surat kelulusan SMA-nya yang mana itu membutuhkan sebuah ujian. Sementara Dylan sudah hampir menamatkan semester 3 nya. Kedua pemuda yang sama-sama melewatkan waktu yang cukup lama itu pergi menuju perpustakaan.


"Bunda sudah aku beritahu. Katanya mereka akan langsung terbang untuk melihat Abel dan Ken," beritahu El yang sudah selesai berbicara dengan Rahayu. 


Brian ber-oh-ria saja. "Aku akan memberitahu Anjani. Ah ya, aku akan makan malam dengannya. Jadi, jangan tunggu aku saat makan malam, ya." Rupanya begitu. 


"Jangan macam-macam kau di luar sana. Jangan pulang larut malam atau aku tidak akan membukakan gerbang untukmu!"peringat Brian.


"Memangnya kau yang menjaga gerbang? Wheekk!" 


"Kau!"


Sebelum Brian berkata lagi, "aku pergi. Assalamualaikum," El berpamitan dan lari keluar dari rumah.


 Brian menghela nafas kasar. "Waalaikumsalam."


"Itulah yang menjadi ciri khasnya, Mas. Dia berubah namun tidak kehilangan esensinya," tutur Silvia. 


"Ya kau benar. Dan aku merasa kehidupan seperti ini sangat menyenangkan. Apakah kau merasakan perbedaannya juga, Via?"tanya Brian kemudian mengecup punggung tangan Silvia.


"Tentu saja, Mas. Ini jauh lebih baik dan menyenangkan," balas Silvia. 


*


*


*


Sama seperti shalat Zuhur dan Ashar tadi, Bella mengenakan sarung dari sprei dan sajadah dari selimut. 


Bella sudah tidak lagi memusingkan mengapa Desya tidak mengerti betapa pentingnya mukena itu baginya. Seorang mafia dan atheis, apa yang direncanakan Tuhan untuknya? Bella mengingat ucapan Desya setelah selesai shalat, maka kau yang akan mewujudkan arti namaku. 


Desya, itu dari bahasa Rusia yang artinya bahagia. Bella yang akan membuatnya bahagia?! 


Be mine? 


CK! 


Bella berdecak. "Memikirkannya membuatku lapar," gumam Bella. Segera melepaskan sprei dari tubuhnya kemudian keluar dari kamar. 


Di luar, Bella mendapati Desya tengah menikmati potongan steak. Bella kembali duduk di sofa, di depan Desya yang tengah makan. 


Bella mengamati cara makan Desya. Kedua tangan begitu elegan memotong daging steak. Duduk dengan bahu tegak. Mengenakan pelindung pakaian bagian depan, sapu tangan di atas meja. Gerakan makan yang anggun nan elegan. Pria itu bak sebuah karya tiga dimensi dengan sejuta pesona. Bahkan dengan ekspresi dinginnya, Desya tidak kehilangan pesonanya. But, tidak berpengaruh pada Bella. 


"Kau lapar?" Desya langsung bertanya. 


Bella mengangguk. Ia mudah lapar semenjak hamil. "Irene minta dapur menyiapkan makanan," titah Desya pada Irene. Irene mengangguk.


Sebelum Irene pergi, Bella mengangkat tangannya, "ada mie? Aku tidak bisa makan daging," tanya Bella, ia mengajukan request. 


"Kau hamil. Protein lebih baik," tolak Desya.


 Bella menggeleng, "cannot you hear me? I can't eat meat. I'm allergic to it!" Lebih baik memberitahu daripada jadi bumerang baginya di masa depan.


"Kalau kau tidak setuju … aku tidak akan makan. Akan sia-sia kau menculikku!"ancam Bella. Ia dia harus pandai bernegosiasi. 


"Apakah kau tidak sadar akan posisimu?" Desya menatapnya dingin. Bella seorang tawanan bukan? 


 "Spaghetti? Dengan sayuran?"tawar Bella lagi, dengan menaikkan alisnya. Ia menyunggingkan senyum. Memangnya mengapa kalau dia diculik? Harusnya ia menyusahkan dirinya sendiri?


Kali ini Desya mengangguk. Irene langsung menuju bagian dapur. 


"Inilah salah satu alasan aku memilihmu. " Desya memulai pembicaraan setelah ia menyelesaikan makannya.


"Hm? Why?"tanya Bella, dengan bertopang dagu. 


"Kau tetap tenang meskipun kau dalam masalah serius. Aku membutuhkan pendamping sepertimu." Lagi, Desya menyatakan keinginannya.


"Lalu?"tanya Bella. Bella mengganti posisi menjadi melihat kuku-kukunya.


"Tinggal di sisiku, temani aku," ucap Desya. Bella mengangguk-angguk kecil.


"Lalu apa pekerjaanmu? Untuk mendampingimu tentu aku harus tahu apa pekerjaaanmu, bukan?" Bella ingin mendengar sendiri jawaban Desya akan pekerjaannya. 


"Menurutmu? Aku yakin kau bisa tahu setelah melihatku," jawab Desya. Menantang ketajaman Bella. 


"Ouh. Main tebak-tebakan. Okay. Biar aku tebak!"


Bella mengambil pose bak tengah berpikir keras. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Namun, belum lama Bella berpose seperti itu, spaghetti Bella datang. Alhasil, Bella mendahulukan dulu urusan perutnya. Sebelum makan, Bella terlebih dahulu berdoa dan tidak lepas dari pengamatan Desya. Desya mengeryit tipis, lagi-lagi Bella melakukan hal yang asing baginya.


Setelah berdoa Bella langsung menyantap spaghetti nya. 


"Yo're mafia. I'm true, right?" Bella menjawab tantangan Desya setelah menyelesaikan makan dan minumnya. Desya tersenyum lebar, mengandung kepuasan yang mengartikan jawaban Bella benar. 


" Sebentar lagi kita akan mendarat, Tuan," ujar Irene. 


"Okay," jawab Desya.


"Kita akan segera tiba di rumah. Welcome in the Russian, Bella." Desya merentangkan kedua tangannya.


"Thank you, Sir," sahut Bella. 


*


*


*


"Bagaimana? Sudah menemukan kemana pesawat itu pergi?"tanya Ken saat Tuan Adam datang menghampirinya.


 Tuan Adam mengangguk, "pesawat tersebut sudah mendarat. Dan pendaratannya adalah di …."


Tuan Adam menjeda ucapannya. "Di?" Ken tidak sabar.


"Mongolia," jawab Tuan Adam.


"Mongolia?" Nama negara itu sedikit asing bagi Ken. Dan itu sangat jauh bahkan berbeda benua. 


"Kita terbang ke sana!"ucap Ken. Lupakan di mana itu, yang penting mereka harus menemukan Bella.


"Baik, Tuan." Tuan Adam berlalu untuk menyiapkan penerbangan. Ken segera bersiap. Setelah Ken menutup kopernya, ponsel Ken berdering. Sebuah pesan dari Rahayu. "Bagaimana ini?"gumam Ken setelah membaca pesan dari Rahayu itu.