
Udara menjelang pagi terasa menusuk hingga ke dalam tulang. Semakin dingin karena telah memasuki musim dingin. Lampu-lampu berbentuk bundar dan berwarna putih bersinar di halaman Green Palace.
Penjaga berseragam seperti prajurit kerajaan, lengkap dengan pedang dan juga senapan di pinggang. Mereka berjalan tegap, menyusuri koridor dan memeriksa setiap sudut Green Palace.
Derap langkah terdengar berirama, menjadi pesona tersendiri.
Di kamarnya, Nabilla Arunika Chandra, atau Bella tengah menunaikan shalat subuh.
Udara dingin di luar tidak terasa di dalam kamar ini. Pemanas berfungsi dengan baik.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Bella menoleh ke kanan kemudian ke kiri dengan mengucapkan kalimat yang sama.
Setelahnya, Bella tenggelam dalam doanya. Bercerita dan memohon petunjuk. Menumpahkan keluh kesah dan mengaduh pada sang Pencipta.
Matanya terpejam. Butir kristal air mata jatuh, mendarat dalam tangkupan kedua telapak tangan.
Sang Surya telah menunjukkan sinarnya. Begitu juga Bella yang telah selesai dan bangkit. Melepas mukena dan melipat sajadah.
Hah!
Helaan nafas yang mengandung sedikit kelegaan. Pancaran matanya lebih tenang daripada sebelumnya. Namun, lingkar mata dan mata sembab masih terlihat tanda ia menangis semalaman.
"Ken, ku harap kau bisa bekerja sama."
"Mama, Papa, dan kalian semua, aku tahu keputusan dalam suratku akan membuat kalian terkejut dan menimbulkan pro dan kontra. Namun, saat ini itulah yang bisa aku putuskan. Dan kalian pasti akan mengerti. Kata-kata perceraian dariku sama sekali tidak berlaku. Aku dan Ken masihlah suami dan istri." Bella bermonolog sembari menatap sang Surya yang sinarnya semakin terang. Bella menyimpan peralatan shalatnya kemudian melangkah mendekati jendela.
Lampu-lampu berbentuk bundar itu sudah tidak menyala lagi. Perannya digantikan oleh cahaya alam yang sama sekali tidak akan pernah padam sampai dunia ini berakhir kelak.
Para anggota, layaknya prajurit berlatih di lapangan yang tepat berada di pusat keempat istana yang saling berhadapan.
Satu komando. Gerakan yang serentak. Mereka disiplin. Sungguh tak ada bedanya dengan pasukan keamanan negara.
Yeah. Begitu mafia.
Mereka punya kekuatan dan kekuasaan tersendiri.
Terlebih dengan pimpinan mereka yang masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan. Juga pihak pro yang juga merupakan orang-orang penting.
Contohnya saja adalah ketiga istri Bella.
Again!
Bukan politik suatu negara saja yang membutuhkan pernikahan politik. Ekonomi juga ada politiknya. Mereka menikah bukan atas dasar cinta. But, atas dasar saling membutuhkan dan memanfaatkan.
Bella menengadah. Melihat ke arah langit yang sudah terang. Kemudian perlahan menutup matanya. Suara cuitan burung menyapa pendengaran Bella. Pagi yang cerah di udara yang dingin ini.
Ah udara dingin. Bella seakan tidak merasakannya. Entahlah.
Mungkin karena hatinya kembali mendingin di sini. "Aunty! Aunty! Here!!"
Bella mendengar suara anak kecil, terdengar begitu ceria nan menggemaskan. Bella membuka matanya kemudian melihat ke arah bawah. Dua orang anak kecil, melambai pada Bella.
Kedua bocah itu tersenyum seraya memanggil-manggil Bella.
Bella mengangkat tangan kanannya. Membalas lambaian itu.
Kedua bocah itu adalah anak Desya. Sepasang. Liev dan Lesta.
Tidak.
Sama sekali bukan kembar.
Liev, yang artinya pemberani satu tahun lebih tua dari Lesta. Liev adalah anak dari Ariel. Putra tunggal dan anak sulung dari Desya.
Sementara Lesta, yang artinya adalah Singa, adalah anak dari Lucia. Gendernya? Lesta adalah bocah perempuan yang menggemaskan. Dan juga lincah. Rambutnya pirang mengikuti warna rambut Lucia.
Bola mata kedua bocah itu mengikuti Desya, biru. Memandang mata keduanya bak menyelam ke dalam laut yang begitu jernih. Anak-anak yang terlihat sangat polos. Kendati demikian, tidak menghilangkan fakta bahwa mereka adalah keturunan, darah daging dari Desya, pimpinan Black Rose yang terkenal dengan kekejamannya. Sedikit banyaknya, pasti watak Desya turun pada keduanya.
Usia Desya baru menginjak 25 tahun. Liev berusia menginjak 3 tahun sementara Lesta menginjak 2 tahun.
Bella bergegas. Ia keluar dari kamar untuk menemui kedua bocah itu. "Aku lupa ada janji dengan mereka," gumam Bella.
Flashback….
"Mari, Nona." Baru saja keluar dari lingkungan gedung istana bagian ini, ada dua sosok cilik yang menabrak Bella. Bella melihat ke bawah. Sepasang anak kecil tampak kesakitan dan Irene langsung berjongkok.
"Tuan, Nona Muda, Anda baik-baik saja?"
Tuan muda? Nona muda? Dua bocah ini adalah anak-anak Desya?
Kedua anak itu tampak mengaduh namun tidak menangis. Selain Irene, ada dua orang dewasa yang turut berjongkok dan memeriksa kondisi kedua bocah itu. Terlihat dari gaya berpakaiannya, kedua orang itu adalah pengasuh kedua bocah itu.
"Hei! Beraninya kau diam saja setelah menabrak Tuan dan Nona Muda! Tunggu, kau asing! Siapa kau?! Apa kau tahu siapa Tuan dan Nyonya Muda?!" Salah seorang pengasuh berseru dengan menunjuk Bella yang tengah memperhatikan kedua bocah itu.
Bella mengalihkan pandangnya. "Mereka anak-anak Desya, right? Dan bukan aku yang menabrak mereka. But, no problem." Bella ikut berjongkok.
"Masih sakit?" Bella bertanya dengan nada lembut. Kedua bocah itu menggeleng dengan menunduk. Tampaknya takut dengan Bella. Ya dari segi penampilan memang sangat asing.
"Boleh aku lihat?" Bella bertanya pada Irene. Irene mengangguk. Kedua pengasuh tampak protes akan tetapi lirikan tajam Irene membuat keduanya diam. Memendam kekesalan dalam hati dan mungkin nanti akan mengaduh.
"Apakah ayah kalian Desya?"tanya Bella dengan menarik dan memangku bocah perempuan berambut pirang. Bocah itu mengangguk.
"Kau tidak menangis. Siapa namamu, Cantik?"tanya Bella lagi.
"Lesta," jawabnya dengan malu-malu.
"Lesta? Kalau kamu, bocah tampan?"tanya Bella, menatap bocah laki-laki yang berdiri dalam jangkauan Irene.
"Liev," jawabnya. Nadanya dingin bercampur malu. Agaknya rasa takut pada Bella sudah sirna.
"Baiklah. Perkenalkan, nama Aunty adalah Nabilla Arunika Chandra. Kalian bisa memanggilku Aunty Bella," ujar Bella memperkenalkan dirinya.
"Di mana Ibu kalian?"tanya Bella. Ya, meskipun bukan hal aneh di keluarga seperti ini anak diasuh oleh pengasuh. Akan tetapi, orang tua juga tidak harus atau boleh lepas kontrol, bukan?
Ah tunggu.
Bella tersenyum geli sendiri. Pastinya ketiga istri Desya itu tengah melampiaskan kekesalan.
Jika Desya tidak perhatian dan acuh maka …. Maka kedua anak ini yang harus berani muncul. Tidak ada yang salah berjuang untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karenanya ….
Desya? Kebahagian? Misi Bella adalah membuat Desya mendapatkan arti namanya. Dan anak adalah salah satu sumber kebahagian. It's okay!
Bella sudah mendapatkan langkah selanjutnya.
Bella mengangkat wajahnya. Melihat ke arah langit di mana sinar Surya sudah tidak begitu panas. Tetap bersinar namun terasa begitu lembut. Cocok untuk duduk di taman menikmati detik-detik mentari kembali ke peraduannya.
"Ayo, kita ke taman," ajak Bella dengan kemudian menggendong Lesta. Bocah itu tidak menolaknya. Liev menatapnya, bibirnya sedikit mencembik.
"Dasar tidak becus! Kalian ini kerjanya apa sih? Ini sudah memasuki musim dingin, Tuan dan Nona Muda keluar tanpa mantelnya?"
Irene sengaja mengatakannya sekarang. Bella saja memakai syal karena udara memang cukup dingin meskipun matahari tetap bersinar.
"Pengawal!" Tampaknya Irene
tidak senang kedua hingga tanpa menunggu pembelaan keduanya Irene langsung memanggil pengawal.
Pengawal datang menghadap dan segera melaksanakan perintah Irene yaitu menyeret kedua pengaruh tersebut keluar dari Green Palace. Rontaan dan permohonan maaf kedua pengasuh itu seakan tidak terdengar oleh Irene. Kedua bocah itu juga diam saja sama sekali tidak protes pengasuh mereka diseret keluar dari istana ini.
Irene lantas menggendong Liev. Ya meskipun awalnya bocah itu tampak enggan atau lebih tepatnya malu-malu. Pada akhirnya bocah itu anteng.
Taman tak jauh dari tempat mereka berada. Menjelang musim dingin, dedaunan tumbuhan gugur. Menciptakan pemandangan bak permadani berwarna keemasan di taman ini. Sengaja tidak dibersihkan.
"Irene, apa ada cemilan?"tanya Bella. Kedua bocah itu sibuk bermain daun. Ya begitulah, bocah tetaplah bocah yang senang bermain.
"Pelmeni? Atau Anda ingin sup, Nona? Cocok dinikmati di saat seperti ini," tawar Irene.
Di depan Bella ada sebuah meja. Jadi, bisa menikmati makanan sambil menikmati pemandangan. Jika musim semi pasti akan sangat begitu cantik.
Mawar-mawar itu pasti berbunga dan akan mengeluarkan wangi alami yang khas. Sayangnya ini adalah musim gugur. Kendati demikian, juga tidak menghilangkan wangi dari mawar mawar yang berguguran.
"Bawakan keduanya," pinta Bella. Irene kemudian izin pamit pada Liev dan Lesta.
"Aunty, Aunty siapanya Ayah?"tanya Liev setelah Irene menjauh.
"Aunty sama seperti Irene," jawab Bella.
"Who Irene?" Bella terhenyak. Tidak menduga. Kedua bocah itu tidak tahu siapa Irene?
"Dia adalah tangan kanan ayah kalian."
"Oh kepercayaan Ayah. Kami sama sekali tidak tahu." Jawaban yang terdengar menyakinkan dan Bella tidak terlalu memusingkannya.
"Kalian takut padaku?"tanya Bella. Anak kecil kan terkenal dengan kepolosan serta kejujurannya.
"Awalnya. Tapi, Aunty tidak seperti yang lain. Biasanya mereka tidak berani menatap kami. Lalu, intinya mereka seperti takut. Berbeda dengan Aunty," terang Liev.
"Apakah kita bisa berteman? Autny bisa membuat kalian sering bertemu dengan ayah kalian," tawar Bella.
"Sungguh?" Lesta bertanya dengan mata berseri-seri.
Bella mengangguk.
"Ibu kami saja tidak bisa dekat dengan Ayah, bagaimana Aunty bisa?" Liev tampaknya ragu.
"Jangan samakan Aunty dengan Ibu-ibu kalian itu. Aunty berbeda!"sergah Bella.
"Kan tadi Aunty katakan Aunty itu sama seperti Irene. Katakan pada Aunty, dekatkan siapa, siapa yang berada di sisi Ayah kalian, ibu kalian atau Irene?" Dapatkan kesan menarik di dalam hati. Setelah itu dapatkan hati serta kepercayaannya.
"Ehm … benar juga." Kecerdasan menurun pada anak.
"Nona, Tuan Muda, Nona Muda, silakan dinikmati." Irene kembali dengan beberapa orang pelayan yang membawakan nampan berisi tiga mangkuk sup dengan asap yang terlihat jelas.
Kemudian ada tiga mangkuk lagi, warnanya putih berbentuk seperti pangsit, pelmeni. Juga ada teko teh beserta dengan cangkirnya.
"Teh?" Bella menerka dari aromanya. "Mawar?"lanjut Bella.
"Ini adalah kelopak mawar yang dipetik beberapa waktu yang lalu, Nona. Diolah dan salah satunya dijadikan teh seperti ini," terang Irene.
"Ah begitu rupanya. Mengapa hanya tiga? Untukmu, Irene?"
Irene menggeleng. "Ambil untukmu. Ini, makanlah. Jangan menolaknya. Ini perintah!" Bella memberi tekanan.
"Duduk!" Perintah lagi. Irene melirik Liev dan Lesta. Tampaknya tidak keberatan.
Dengan canggung, Irene duduk. Mengambil satu piring pelmeni.
"Ayo makan." Bella menyodorkan suapan pada Liev.
Liev tertegun. Tatapannya aneh pada Bella. "Aku sudah besar, Autny. Bisa makan sendiri."
"Jadi, kalau sudah besar tidak boleh disuapi, begitu?"
"Kami tidak boleh manja," jawab Liev.
"Hm. Siapa yang mengatakan manja itu tidak boleh?"
"Ibu," jawab Liev.
"Ya, itu tidak salah. Namun, bukan berarti manja itu tidak boleh. Kalian, juga harus punya sisi manja. Jika disuapi seperti ini, dinamakan bentuk kasih sayang. Eits, jangan kalian langsung berpikir ibu kalian tidak sayang pada kalian. Bentuk kasih sayang setiap orang tua itu terkadang berbeda. Ini adalah bentuk perhatian dari Aunty," tutur Bella panjang lebar.
Kedua bocah itu saling bertukar pandang. Dan Liev akhirnya membuka mulutnya. Bella tersenyum. Liev menerima, begitu juga dengan Lesta.
Nona memang pandai bicara. Dan itu logis, gumam Irene dalam hati. Dalam diam memperhatikan interaksi Bella dengan kedua anak Tuannya itu.
Irene jadi melamun. Ia merenung … jika benar Bella akan menjadi pendamping tuannya. Maka, akan terjadi perubahan besar di Green Palace. But, pasti juga akan terjadi hawa panas dan pertentangan.
Irene menatap Bella sembari menyeruput tehnya, bagaimana cara Nona menanganinya? Aku tidak sabar melihatnya.
"Baiklah. Besok pagi kita sarapan bersama. Okay?!
"Okay!"