
"Kau siap, Abel?"tanya Calia pada Bella. Bella memejamkan matanya sejenak lalu menoleh pada Calia sembari menganggukkan kepalanya, "aku siap!"
"Okay." Saat ini Bella dan Calia tengah duduk di dalam mobil yang diam. Sebentar lagi, mesin mobil sudah hidup dan Calia akan nenyetirnya beberapa meter sebagai bagian dari terapi.
Calia menekan pedal gas dengan perlahan. Mobil berjalan, "bagaimana perasaanmu, Abel?"tanya Calia dengan melirik Bella yang memejamkan matanya merasakan sensasi dan perasaannya saat mobil berjalan.
Jantung Bella berdegup kencang, berdebar-debar, bibirnya terbuka sedikit dan tampak kering. Saat ia membuka matanya dengan seperti terkejut, ada rasa takut di matanya.
"Lawan rasa takutmu, Abel!"ujar Calia memberi intruksi pada Bella.
Bella menganggukkan kepalanya mengerti. Sekarang mobil sudah keluar dari gerbang mewah kediaman Mahendra, melaju pelan di jalan perumahan elit itu.
Bella kembali memejamkan matanya rapat-rapat, mengusir rasa takut yang menyelimuti hatinya. Dorongan dari Calia, harapan dari keluarga, Bella kembali membuka matanya dan sorot matanya jauh lebih tenang.
Bella mengatur nafasnya sembari menoleh pada Calia, "aku berhasil?"tanyanya pada Calia.
"Ini baru permulaan, Abel," jawab Calia yang membuat Bella mengeryit, "apa maksudmu?"tanya Bella tidak mengerti.
Dijawab dengan Calia menambah kecepatan mobil. Bella yang tidak siap dan baru mengatasi rasa takutnya di kecepatan pelan spontan berteriak kesal pada Calia dengan memegang hand grip.
"Apa-apaan kau Calia?! Cepat pelankan mobilnya! Aku belum siap kau malah menaikkan kecepatan mendadak! Kalau aku jantungan bagaimana hah?!"ucap Bella kesal dengan nada tinggi.
Raut wajah Bella menunjukkan kecemasan dengan berulang kali melihat kanan, kiri, dan ke depan. Bella gelisah, duduknya tidak tenang dan keduanya tangan berpegangan pada hand grip.
"Ini tantangan, Abel. Atasi rasa takutmu sebelum kita tiba di jalan besar!"jawab Calia, tidak menggubris kekesalan Bella.
"Setidaknya kasih aba-aba!"balas Bella dengan memejamkan matanya.
"Tidak semua harus ada aba-aba, Abel. Kau yang mengatakannya padaku."
Bella menggertakkan giginya. Benar apa kata Calia. Bayangan kecelakaan kembali melintas di benak Bella walaupun kalo lebih kepada saat kakeknya memeluk dirinya, melindunginya.
Tidak! Aku harus membunuh rasa takut ini! Kecelakaan itu masih belum jelas, aku juga belum menagih hutang pada Pak Tua itu. Ayo, Abel! You're can!!
Hal yang paling sulit diatasi adalah rasa takut yang menjalar di dalam hati. Saat hati mengirim sinyal takut ke otak, maka hormon rasa takutlah yang menguasai diri. Dan begitu juga saat hati merasa tertantang, maka hormon adrenalinnya yang bekerja. Rasa takut harus diatasi agar tidak menjadi seorang pecundang.
"Ingat Abel! Ada banyak harapan dan tanggung jawab di pundakmu. Kau juga tengah hamil, jika traumamu tidak segera diatasi maka ke depannya akan lebih sulit lagi. Bahkan kita bisa mengulangnya dari awal. Aku punya perhitungan sendiri dan aku sangat-sangat yakin kau bisa mengatasinya. Kau orang yang suka tantangan dan ini adalah tantangan yang harus kau atasi!"
Orasi Calia sejalan dengan Bella yang sedikit demi sedikit mengatasi rasa takutnya.
"Lagipula jika kau punya penyakit jantung, kau sudah lewat sejak awal terapi, bahkan tidak sampai terapi juga," ledek Calia dengan nada bercandanya.
Bella mendengus mendengar ledekan sahabatnya itu.
Pegangan Bella pada hand grip mengedur dan perlahan Bella menarik kedua tangannya turun. Bibirnya kini melengkungkan senyum tipis. Ada pancaran kelegaan di mata Bella saat membuka mata.
Calia tersenyum puas. "Itu baru My Abel!"
"Bagaimana perasaaanmu sekarang, Abel?"tanya Calia.
Calia menghentikan mobil tak jauh dari gerbang perumahan yang dijaga ketat.
Bella tidak langsung menjawabnya. Ia membuka pintu mobil dan menarik nafas sedalam-dalamnya. Calia ikut keluar dan bersandar pada bomper mobil.
"Minumlah dulu." Calia melemparkan sebotol air minum pada Bella.
Dengan satu tangan, Bella menangkapnya kemudian duduk di tepi trotoar.
Calia menunggu Bella selesai minum sembari mengecek ponselnya. Namun, Calia mengeryit saat mengecek ponselnya. Ia lalu melempar tatapan heran bercampur bingung pada Bella.
"Ada apa?" Bella menangkap raut wajah Calia.
"Seminggu lagi Louis dan Teresa akan bertunangan, bukan?"tanya Calia dengan nada memastikan.
"Benar. Seminggu lagi terapiku juga akan selesai, kita berangkat ke Jerman bareng," jawab Bella.
"Mengapa kau menanyakan hal itu?"tanya Bella heran.
"Tapi, mengapa di sini malah tertulis bahwa Louis dan Teresa akan menikah seminggu lagi? Ini beritanya yang salah atau kita yang ketinggalan kabar, atau bagaimana?"
"Hah? Menikah?"kaget Bella. Ia terkesiap. Buru-buru mengecek ponselnya.
Benar apa yang dikatakan Calia, trending topic, Louis dan Teresa akan melangsungkan pernikahan seminggu lagi.
Apa yang terjadi? Mengapa pertunangan berubah menjadi pernikahan? Dahi Bella berkerut-kerut. Mungkin terdengar itu kabar yang sangat bagus di telinga orang lain.
Tapi, bagi Calia dan Bella itu menyisakan tanda tanya. Apa yang terjadi pada Louis dan Teresa?
Bella kemudian melihat pukul berapa sekarang. Pukul 17.45, di Jerman ini masih jam kerja dan kabar sepenting ini mustahil keluarga Kalendra tidak memberitahunya.
"Tinggalkan saja dulu. Mereka memutuskan untuk menikah itu langkah yang sangat baik. Toh seandainya mereka tunanganpun, pernikahan adalah tujuannya," tukas Bella, menyimpan kembali ponselnya.
"Ya. Kau benar, Abel. Hanya saja ini membuatku sangat penasaran," sahut Calia, ikut menyimpan ponselnya juga.
Di balik rasa heran dan bingung mereka, rasa bahagia turut di dalamnya.
"Aku rasa sebentar lagi aku akan lepas dari trauma ini," ucap Bella.
"Masih ada tiga kali lagi. Dengan dokter Susan sekali lagi, denganku dua kali lagi. Kau harus persiapan dirimu untuk terapi berikutnya karena selanjutnya kita akan berkendara di jalan besar," ucap Calia memberi aba-aba.
"Kau benar, Lia!"sahut Bella, kemudian berdiri.
"Ayo kita kembali," ajak Bella karena hari sudah semakin sore.
Sepanjang perjalanan, Bella sudah tenang-tenang saja saat mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Bella malah lekat melihat cara mengemudi. "Kau ingin belajar mengemudi?"tanya Calia.
"Jika bisa mengapa tidak?"tanya balik Bella.
Calia tertawa mendengarnya, "jadi, jika kau bisa menyetir pesawat, kau akan menjadi pilot begitu?"
"Why not?"
"Ck!" Calia berdecak mendengar jawaban Bella itu.
Dalam waktu lima menit, mereka sudah tiba di mansion keluarga Mahendra. Ken sudah menunggu di depan rumah. Menghampiri Bella saat sudah turun dari mobil.
Ken memang tidak menemani Bella karena Calia tidak mengizinkan. Alasan Calia adalah agar ia terganggu, cukup ia yang memberi intruksi dan orasi untuk Bella. Jika terlalu ramai akan membuat Bella kebingungan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Aru?"tanya Ken.
Bella tersenyum lebar, "bahkan jika aku gagal aku akan berusaha untuk mencapai keberhasilan," jawab Bella dengan memeluk Ken.
Calia mencebikkan bibirnya.
"Benar-benar tidak sopan mengumbar kemesraan di depan single sepertiku!"ketus Calia.
Sebelum Bella menjawab, Calia sudah pergi menuju paviliunnya.
"Apalagi yang ditunggu sahabatmu itu? Mengapa sampai sekarang belum menikah juga. Padahal dia cukup usia, finansialnya bagus dan juga kecantikannya standar orang barat?"
Usia Calia sama dengan usia Bella.
"Karena sampai sekarang dia tidak bisa move on dari kekasihnya," jawab Bella, pelan. Wajahnya berubah menjadi sedih.
"Maksudmu?"
"Kekasihnya sudah beda alam," ucap Bella.
Ken tertegun, rupanya itu alasannya. Calia punya kekasih yang sangat ia cintai dan kekasihnya itu menghadap Tuhan lebih dulu. Wajar jika Calia sulit untuk move on.
Ken kagum dengan ketetapan hati Calia, hanya saja jika begitu, "apa selamanya Calia akan sendiri?"
"Tentu saja tidak. Dia hanya butuh lebih banyak waktu," jawab Bella.
"Sebenarnya ada seseorang yang sabar menantinya. Hanya karena rasa takut, ia memilih utnuk tetap diam. Kau tahu siapa dia, Ken?"
Ken jelas menggeleng. Bagaimana bisa ia tahu tentang kehidupan Calia?
"Kau akan tahu nanti," lanjut Bella dengan senyum misteriusnya.
*
*
*
"Mengapa berubah rencana, Resa?"tanya Bella saat berbicara dengan Teresa.
Mereka melakukan video call di mana Bella berada di balkon kamar sedangkan Calia berada di kamarnya.
"Aku takut jika kami hanya bertunangan, hubungan kami bisa diganggu gugat oleh pihak ketiga. Kau tahu sendirikan seberapa banyak orang yang menginginkan Louis?"balas Calia di sana dengan wajah berapi-api.
Ya itu alasan yang masuk akal. "Namun, menikah juga tidak menjamin tidak ada orang ketiga, bukan?"
"Tapi, ikatan di antara kami menjadi sangat kuat. Pernikahan lebih kuat dari pertunangan. Selain itu, pacaran setelah menikah, itu lebih menyenangkan bukan?"
"Hm … okay."
"But, siapa yang mengajukan pernikahan lebih dulu?"tanya Bella penasaran.
"Tentu saja Louis," jawab Teresa.
"Wow!" Bella berdecak kagum.
"Tapi, Resa aku yakin tidak sesederhana itu sebenarnya. Aku tahu bagaimana Louis. Dia tidak akan merubahnya kecuali ada sesuatu yang terjadi, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi hingga kalian memutuskan menikah tanpa tunangan?"selidik Bella.
Teresa tampak terkesiap, tak lama ia terkekeh.
"Sungguh tidak ada apapun yang terjadi, Abel. Everything is okay. Hm … apa kau tidak senang aku menikah dengan Louis?"selidik balik Teresa.
"Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Dan kau, dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku tidak senang kalian menikah?! Kau kira aku ini musuh dalam selimut hah? Aku ini sudah menikah!"ketus Bella, berpura-pura marah.
"Eh-eh, bukan begitu. Maafkan aku, Abel." Teresa panik Bella marah.
"HMHP!" Bella membuang wajahnya ke samping.
"Abel … Abel I'm sorry. Bukan itu maksudku. Aku hanya bercanda," jelas Teresa lagi.
Bella tersenyum simpul. "Mana mungkin aku marah padamu, Resa."
"Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian? Gaunmu tetap yang kau tunjukkan kemarin atau berubah?"tanya Bella, mulai meninggalkan bahasan alasan mengapa pertunangan diubah menjadi pernikahan.
"Tetap yang kemarin, hanya saja dimodifikasi lagi. Karena agak mendadak dan hari -H nya sebentar lagi, jadi tidak sempat lagi membuat gaun pernikahan baru. Lagipula aku suka dengan warna dan potongan gaunnya," terang Teresa.