
Sementara di Mahendra Group tengah viral dengan pengangkatan wakil Presdir beserta sekretarisnya, maka di Pesantren Baitussalam baru menghela nafas lega karena biang rusuh yang baru masuk telah dihukum berdiri satu kaki di depan tiang bendera.
Pengurus Pesantren tak kecuali pemilik pesantren ini ikut menggelengkan kepala melihat dan mendengar tingkah El. Baru dua hari masuk sudah membuat mereka pusing. Usia El yang sudah menginjak 25 tahun, kental dengan dunia malam yang bebas, lagi tak pernah terikat aturan apapun. Hidupnya ia jalani sesuai dengan apa yang ia mau. Tuan Muda dari keluarga terpandang, sejak bangun dan hendak tidur semua serba dilayani kini harus berada di dalam pagar ketat aturan pesantren. Kebutuhannya selalu disediakan bahkan sebelum ia meminta.
Semalaman El tak bisa tidur. Alasannya, kamar yang kecil lagi harus berbagi. Ranjang kecil nan tak seempuk ranjangnya. Tidak ada AC, lagi harus mendengarkan nyanyian malam dari rekan sekamarnya membuat El begadang dan memutuskan keluar kamar.
Aturan sudah dijelaskan oleh pengurus namun El tak terlalu mendengarnya. Ia tanpa sadar melangkah memasuki area santriwati, alhasil El mendapat sorakan dan lemparan benda dari santriwati yang mengira El adalah penyusup atau santriwan nakal yang berniat mengintip.
Dalam hati El bergidik ngeri, ternyata di sini lebih berbahaya dari pada dunianya. Ah karena kau belum taat aturan El. El terus melangkah mencari tempat bermalam, tentu saja untuk tidur. Tibalah ia di mesjid pesantren. Masjid yang cukup besar, terlebih tidak dikunci.
El melangkah masuk dan duduk bersandar pada dinding. El menghela nafas lega. Setidaknya di sini kosong, dan nyaman. El merenung sejenak. Ia merasa kesepian. Tanpa ponsel, tanpa minuman, tanpa pacar, dan tanpa keluarga. Ia seorang diri di sini, lingkungan yang asing. Sangat jauh berbeda. El merasa tidak betah namun mengingat wajah keluarganya, juga Anjani dan Arka membuat semangat El kembali. Ia pasti bisa! Dan tidak ada perjuangan yang mudah dan itu adalah tantangan untuk El!
Semangat El! Jangan kecewakan keluargamu lagi! Kau pasti bisa, ada yang menantimu di sana!!
Setelah merasa tenang, El mulai terlelap.
Tidurnya sungguh nyenyak karena dini harilah ia baru tidur. Tiga jam kemudian El terganggu dengan suara berisik juga guncangan pada tubuhnya.
"Em Pak Tio jangan ganggu aku. Aku masih ngantuk!"ucap El dengan nada merengek, ia membalikkan tubuhnya dan kembali tidur. El mengira dirinya berada di kamarnya, dan Pak Tio, kepala pelayan disuruh membangunkan dirinya. Biasanya El bangun dan tidur terserah dirinya.
"Nak El, bangun jangan tidur lagi. Waktunya salat subuh, Nak El. Ayo bangun." Namun El tidak menggubris.
Begitulah beberapa santri yang datang lebih awal ikut membantu membangunkan El tapi tidak berhasil. El seakan tuli.
"Ambil air!" Cara lembut tidak digubris. Seorang santri membawa air di gayung. Dan ustad yang menyuruh tadi mencipratkan air pada wajah Ken.
Benar, air memang selalu berhasil. Mata lentik itu mulai mengerjap dan terbuka. Matanya melayangkan protes, "apa sih, Pak?! Saya masih ngantuk! Tolong jangan ganggu saja. Katakan pada Papa kalau saya hari ini tidak ada pekerjaan! Ganggu saja!"
El yang belum sadar sepenuhnya berkata dengan ketus.
"Namanya juga Tuan Muda ya masih asing dengan lingkungan anak pesantren," ucap seorang pemuda tampan yang baru memasuki masjid, usianya hampir sama dengan El, ia ustad termuda di pesantren ini, ustad Nizam.
"Tuan Muda El, ini pesantren bukan kamar Anda di Jakarta."
Ustad Nizam menepuk cukup keras pundak El. "Hm? Pesantren?" Dengan nada mengeja El bertanya.
"Benar. Mengapa Anda tidur di sini? Ayo lekas bangun dan berwudlu. Kita salat subuh berjamaah," jawab ustad Nizam ramah.
"Ah Astaga!" El langsung tersadar. Ia melihat sekeliling. Beragam tatapan tertuju padanya. El merasa sedikit canggung, ia menoleh kepada ustad Nizam yang masih tersenyum padanya.
"Baiklah." Cepat-cepat El berdiri dan keluar dari masjid. Ustad Nizam mengikuti El.
"Tuan Muda mau ke mana? Tempat wudlu di sana bulan ke sana!"
"Aku mau ke kamar!"jawab El tanpa berbalik.
"Bukan ke kamar tapi berwudlu!" Buru-buru ustad Nizam mengejar langkah El dan menariknya ke tempat wudlu. El meronta, ia langsung berpikiran negatif. Terlebih saat melihat tatapan aneh para santri dan santriwati, juga pengurus pesantren yang mulai memadati masjid.
"Lepas!"
Ustad Nizam melepaskan El saat sudah berada di tempat wudlu.
"Sudah azan, lekaslah berwudlu!"ucap ustad Nizam tegas.
"Wudlu?"
"Benar."
El menatap keran air, lalu menatap ustad Nizam yang memberikannya tatapan tajam. Tatapan El kembali pada keran air. Dahinya mengeryit.
Dengan gerakan yang terbata El mulai menyalakan keran air dan berwudlu. Gerakannya masih ragu dan terkadang berhenti sejenak. Ustad Nizam mengeryit tipis kemudian tersenyum tipis.
Aduh apa doanya ya?batin El yang lupa-lupa ingat. El berusaha keras mengingatnya. Cukup lama, bahkan di dalam masjid sudah iqamah.
Aku sedikit lupa. Alhamdulillah saja deh.
"Tadi gerakan dan urutannya benar kan?"tanya El.
"Benar. Ayo Tuan Muda kau lebih dulu masuk."
Kini di sinilah El berada. Berdiri di antara para santri di barisan pertama, tepat di depan iman dan di ampit para ustad. Layaknya orang yang baru pertama kali salat, El mengikuti gerakan yang lain. Kadang kala ia mengaruk tengkuknya, cukup bingung dengan bacaan imam setelah takbiratul ikram. Saat sujud terakhir, El berulang kali mengangkat kepalanya, mengapa lama sekali?
El bernafas lega saat salat telah selesai. Ia sedikit mengerutkan dahi melihat santri yang menyalami ustad. Ia termenung sendiri, apakah ia juga harus menyalami para ustad itu? Termasuk Nizam?
"Nak El kenapa termenung?"tanya ustad yang membangunkan El pertama kali tadi.
"Apa aku harus melakukan itu juga? It's okay pada kalian but he is? Oh no usia kami sama ah tidak aku rasa aku lebih tua tidak mungkin aku mencium tangannya bukan?" Ustad Nizam tampak terkesiap dengan ucapan El. Ia langsung menggeleng, " kita berjabat tangan saja!"
"Okay." Dalam waktu singkat, tanpa penghayatan El sudah selesai dan kini telah memakai sendalnya.
"Tuan Muda, jangan tidur lagi. Anda harus mandi setelah itu sarapan, baru nanti Anda akan memasuki kelas untuk belajar," ucap ustad Nizam sedikit berteriak.
"Yayaya." Disahut oleh El tapi ia terus melangkah.
"Ustad Nizam, mengapa Anda perhatian sekali dengan Nak El? Apa Anda mengenalnya?"tanya ustad Bahri heran. Ustad Nizam dikenal sebagai ustad yang tegas nan cukup dingin. Ia termasuk ustad baru di sini, baru sekitar setengah tahun. Ia adalah anak dari pemilik pesantren ini.
"Tentu saja. Dia kan anak dari sahabat Umi. Saat kecil aku pernah beberapa kali berkunjung ke rumahnya bahkan menginap di kamarnya. Mungkin dia lupa padaku. Hahaha rasanya senang bertemu dengan sahabat lama," ucap Nizam, tersenyum lembut. Nizam baru pulang tadi malam, kembali dari luar kota.
"Oh begitu. Pantas saja. Tapi Nak Nizam jangan terlalu dekat dengannya, takutnya nanti menimbulkan gosip yang kurang mengenakkan," ujar ustad Bahri.
"Sahabat sudah seperti saudara, saya paham maksud Anda, ustad Bahri."
*
*
*
El kembali ke kamarnya. Rasa kantuk kembali menyerang. Dan El menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang lumayan keras itu. Belum ada sepuluh menit ia tidur, ia sudah dibangunkan lagi. Ternyata selesai subuh dilarang tidur lagi. Mau tak mau El kembali bangun. Wajahnya sungguh kusut dan masam.
"Mandi, Den. Biar segar. Baru semangat beraktivitas!"
El menjawab dengan gumaman tidak jelas. Ia melirik lemari pakaiannya. Sungguh kecil, sangat jauh dengan walk in closet di kamarnya. Bajunya juga terbatas.
El membuka lemari kecil itu, kemarin Rahayu membantunya menata pakaian. Mengingat Rahayu, wajah El berubah sendu. Matanya berkaca-kaca.
"Bunda El janji akan buat buat bangga!" El mengusap kasar wajahnya dan mengambil pakaian ganti, handuk, dan peralatan mandi lainnya. Dengan bantuan rambu-rambu petunjuk, El melangkah menuju kamar mandi. Matahari mulai terbit. Cahaya keemasan mulai mewarnai langit. Suasana pesantren sudah ramai.
Lagi dan lagi, El termenung lagi melihat kamar mandi untuk santri.
Tak ada air hangat, shower, dan toilet duduk, semua masih sederhana dan simple. Bak dengan gayung, dan toilet jongkok.
El mendesis saat mengecek suhu air. Sangat dingin. El bergidik sendiri saat harus mengguyurkan air itu pada tubuhnya.
Selesai mandi, El keluar kamar mandi dengan hanya handuk menutupi pinggang sampai lututnya. Ia berniat ganti pakaian di luar. Namun baru saja El mengangkat kaki hendak memakai celana panjangnya, El dikagetkan dengan teriakan keras.
El menoleh dengan wajah bingungnya. Terlihat ada seorang santriwati yang berdiri tak jauh darinya dengan menutup mata.
El langsung ikut panik saat mendapati beberapa santriwati ikut mendekat dan santriwati yang berteriak tadi menunjuk pada El.
"Hei siapa kau?!"
"Apa yang kau lakukan di area santriwati?"
"Kau penyusup?! Beraninya berniat cab*l di sini! Naina panggil ustadzah, biar aku yang menahan penyusup ini di sini!"
"Hei-hei! Tunggu sebentar! Ini tak seperti yang kalian kira! Aku tidak tahu ini area santriwati lagipula apa bedanya? Toh hanya kamar mandi?!"ucap El, dengan terburu-buru ia memakai celana dan pakaiannya kemudian membalut pakaian kotor dengan handuk. El berniat kabur sebelum masalah semakin ribet. Namun ia ditahan.
El merasa malu sendiri jika beradu mulut dengan bocah yang masih duduk di bangku SMA atau SMP itu. El memilih pasrah, ia menunggu dengan bosan, melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.00 dan perutnya sudah meronta lapar.
"Ada apa ini?" Ternyata pemilik pesantren sendiri yang datang, berikut dengan putra tunggalnya, Umi Hani dan ustad Nizam.
"Nak El? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Penyusup ini berniat cab*l di sini, Umi. Tadi ia bertelanjang dada dan hanya pakai handuk. Laki-laki kan dilarang di area santriwati."
"Hei bukan begitu. Aku masih kurang paham aturan dan tempat-tempat dilarang di sini. Lagipula aku tidak melakukan apapun selain mandi. Dan dia? Mengapa dia bisa masuk tanpa kalian marahi? Tidak adil! Padahal dia yang menyuruhku untuk mandi!"
"Ustad Nizam beda!"
"Beda bagaimana? Apa dia wanita berkedok pria?!"seru El kesal.
"Sudah-sudah. Ini hanya salah paham. Laila dia ini santriwan baru. Belum terlalu paham aturan dan lingkungan pesantren, jadi kamu harap maklum ya, Nak," ujar Umi Hani lembut.
"Dia? Santriwan baru? Nggak salah, Umi?"
"Kenapa? Merasa aku tidak cocok untuk belajar hah? Huh bukankah katanya belajar itu dari ayunan sampai liang lahat!"sahut ketus El. Wajahnya sungguh masam. Mood El berantakan pagi ini.
"Ya nggak sih. Tapi …."
"Laila ajak adik-adikmu ke ruang makan. Nizam antar kembali Nak El ke area santriwan," titah Umi Hani tegas.
Nizam mengangguk, "ayo."
El mengikut dengan terlebih dulu menjulurkan lidah mengejek Laila.
Anak Rahayu ini unik, batin Umi Hari, segera menggiring santriwati lainnya meninggalkan kamar mandi.
*
*
*
"Hei kenapa kau terus menatapku? Kau tidak belok kan?"tanya ketus El, dengan wajah ngeri pada Nizam. Nizam terkekeh pelan.
"Sudah sampai. Setelah ini langsung saja ke ruang makan. Aku menunggu di sana," ucap Nizam, meninggalkan El yang sudah tiba di depan pintu kamarnya.
"Eh Kak El, Kak El belum nyuci baju?" Zidan, satu dari tiga teman sekamar El bertanya sembari melihat El yang meletakan handuk berisi pakaian kotor di atas meja.
"Memangnya nyuci sendiri?"
"Iya."
"Kalau begitu cucikan pakaianku." El malah sibuk merapikan penampilannya di depan kaca.
"Nggak bisa. Cuci sendiri harus mandiri!"
"Nggak ada laundry di sini?"
"Dibilang nyuci sendiri loh, Kak."
"Ck nantilah itu. Dan kau siapa namamu kemarin?"
"Zidan.".
"Tunjukkan arah ruang makan padaku."
"Baiklah. Ayo sebentar lagi memang jam sarapan!" El merangkul anak berusia 15 tahun itu.
Tiba di ruang makan, ternyata sudah ramai dan harus antri. Cacing di perut El apa bisa bersabar menunggu gilirannya yang masih panjang lagi?
El berniat menyalip, baru lima langkah keluar barisan, ia sudah ditarik oleh seseorang.
"Kau lagi?!"
"Tuan Muda, Anda harus bersabar, jangan memotong antrian. Harus taat pada aturan!" Nizam tersenyum pada El. El mendengus, "aku sangat lapar!"
25 tahun ia hidup, makan selalu dilayani, tanpa perlu antri seperti ini. Dan harus menunggu, El bukan orang yang tahan lapar.
"Yang lain juga lapar. Bersabarlah!"
"Ck!" Rasa pusing mulai mendominasi El. El melangkah pergi dari ruang makan. Nizam yang sedikit cemas langsung mengikuti El. Langkah El terhenti di depan sebuah rumah. Ia ingat ini kediaman Umi Hani. El tersenyum dan langsung membuka pintu. Aroma makanan enak membuatnya langsung masuk dan mengikuti asal aroma itu. Benar saja, di meja makan tersaji nasi lemah lengkap dengan teman-temannya.
Nizam yang Langkahnya sempat tertahan, langsung merasa tidak enak saat melihat pintu rumah Uminya terbuka. Nizam terdiam sesaat melihat El yang lahap makan dengan ditemani oleh Uminya.
"Umi tidak bisa begini. Tuan Muda ini santriwan di sini bukan tamu. Tuan Muda sangat tidak sopan. Harus diberi hukuman agar jera!"
"Tunggulah selesai diam makan!"
"Baiklah."
Nizam ikut makan semeja dengan El yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Selesai makan, El bersendawa kecil.
"Ayo ikut aku!"ucap Nizam dingin.
"Eh kau? Kemana?"
"Ikut saja."
El menoleh ke arah Umi Hani.
"Pergilah."
Dengan langkah malas El mengikuti langkah Nizam.
"Untuk apa ke lapangan?"
"Berdiri satu kaki! Hormat pada bendera!"
"Hah apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun mengapa harus dihukum?"protes El.
"Tidak melakukan kesalahan apapun?" Nizam mendelik kesal.
"Benar!" El menjawab mantap.
"Cepat lakukan hukumanmu! Atau akan aku tambah dengan hukuman lain!"
"Ck!"
Setelah berdebat cukup lama hingga menjadi perhatian, El terpaksa menjalankan hukumannya. Berdiri satu kaki dan hormat bendera. Panas mulai terik. Mata El menyipit terhadap sinar matahari. Sudah hampir satu jam ia begini dan Nizam mengawasinya selalu. Di tangan Nizam ada sebuah papan rotan.
"Hei sampai kapan aku begini?!"
"Lima belas menit lagi!"
"WTF!!"