
Bella memijat pelipisnya setelah Evalia meninggalkan kamarnya. Ucapan Evalia yang mengatakan bahwa ia cocok menjadi pengasuh Liev menjadi pikirannya. Bella beralih duduk di dekat jendela. Ia menatap langit malam yang begitu terang. Padahal tadi pagi hujan begitu deras.
Hah!
Bella menghela nafasnya berat. "Bagaimana bisa aku menjadi pengasuhnya? Sedangkan cepat atau lambat aku akan pergi dari sini," gumam Bella.
Satu sisi, ia tidak tega pada Liev. Dan satu sisi, Bella takut jika nantinya ia menjadi pengasuh Liev, akan menimbulkan ketergantungan dan Bella takut, Liev akan jadi penahannya untuk meninggalkan istana ini.
Hah ....
Sekali lagi ia menghela nafas. "Sudahlah. Jalani saja."
*
*
*
Tak jauh berbeda dari ucapan Evalia beberapa hari yang lalu, 3 hari setelah kematian Ariel, Bella ditunjuk menjadi pengasuh untuk Liev.
Terlebih dengan anak itu yang sudah lengket, Bella tidak bisa untuk menolaknya. Mengenai pemikirannya, itu urusan belakangan. Pasti ada jalan untuk itu.
Dan hari ini, Bella dan Dimitri akan bertanding. Terlambat karena ada kejadian tidak terduga. Dimitri bersemangat melawan Bella.
Desya, Aleandra, Evalia, dan Liev menonton dari pinggir lapangan.
Kejadian tahun baru itu, sudah luntur. Aktivitas Green Palace sudah berjalan seperti biasa. Bendera putih pun sudah ditarik.
Mereka kembali menjalani hari seperti biasa. "Kau siap?"tanya Dimitri sebelum mereka mulai memanah. Bella mengangguk. "Anda sendiri?"tanya Bella.
Dimitri tersenyum lebar. "Jangan menangis jika kalah ya, Paman!"ucap Bella.
"Aku tidak akan menangis, karena aku tidak terkalahkan!"
Bella tersenyum. Keduanya mulai memanah. Dan saat itu selesai, kembali Bella keluar sebagai pemenang.
"Hebat!"
"Kau kalah, Paman!"
"Aku tidak merasa kalah darimu. Sekalipun kalah, aku kalah dengan terhormat. Ini akan jadi pengalaman yang berharga!" Dimitri dan Bella berjabat tangan.
"Apa Ayah dan Ibu akan berangkat hari ini?"tanya Desya.
"Kalian mau ke mana?"tanya Bella, penasaran.
"Kami akan pulang. Ya rumah pensiun," jawab Aleandra.
"Ah, begitu rupanya." Bella menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu hati-hati."
"Terima kasih."
"Evalia."
"Iya, Ibu!" Evalia terkejut. "Kau jaga dirimu dengan baik. Kami akan kembali lagi saat ada hari besar dan kabar baik," ujar Aleandra dengan memeluk Evalia.
"I-iya, Ibu!"jawab Evalia, tergagap. Karena ia gugup diperlakukan seperti itu.
Aleandra tertawa ringan. "Kau lucu juga."
"Autny." Liev menjadi semakin manja pada Bella. Ia meminta digendong.
Bella mengernyitkan dahinya. Jujur saja, ia merasa tidak nyaman menggendong Liev saat ini. Ia sudah lelah dan juga karena faktor kehamilannya!
"Aku saja!" Desya menangkap ekspresi Bella itu. Ia segera menggendong Liev. "Ayah?"
"Mengapa?"
"Tidak!" Leiv tampaknya senang. Ia memeluk leher Desya.
"Ayo."
Mereka meninggalkan lapangan panah.
*
*
*
Sore harinya, Dimitri dan Aleandra pamit. Mereka akan kembali menghabiskan waktu dengan bersantai. Akan pulang saat ada kabar baik. Desya akan mengantar keduanya sampai bandara.
Sementara di sisi lain, Ken sudah masuk kerja. Sesuai ucapan surya pada malam tahun baru kemarin, Ken akan memiliki seorang sekretaris.
Sekretarisnya adalah seorang pria. Ken membaca CV nya dan itu sangat baik. Pantas bisa diterima. "Selamat pagi, Pak! Perkenalan nama saya Denny!"ucap sekretaris baru itu pada Ken.
"Pagi, Denny," jawab Bella.
"Saya sangat senang bisa berkerja dengan Tuan."
"Bisa katakan pengalaman kerjamu?"tanya Ken.
"Saya pindahan dari kantor cabang, Tuan. Diperintahkan oleh pusat untuk menjadi sekretaris Anda," jawab Denny.
"Ah … begitu ya? Okay. Semoga kau betah dan selamat bekerja!"
"Terima kasih, Tuan!"
Ken kemudian memberikan perintah untuk Denny. Denny segera mengerjakannya.
Ken melempar pandang ke arah jendela. "Sudah lewat tahun baru, kapan kau kita akan bertemu, Aru?"
*
*
*
Satu bulan kemudian.
Sudah memasuki bulan Februari. Namun, Ken dan Bella belum bertemu juga. Dan hari ini, Nesya akan keluar dari penjara untuk menjalani operasi sum-sum tulang.
Kini, Nesya telah berada di ruang rawat. Ia akan istirahat dan mempersiapkan dirinya untuk operasi yang dijadwalkan pukul 08.00 esok pagi.
Nesya ditemani oleh Dylan, setelah sebelumnya ditemani oleh Rahayu juga. "Bagaimana perasaanmu, Nesya?"tanya Dylan.
"Entahlah, Dylan. Aku tidak takut menjalani operasi ini. Aku hanya takut tidak bisa bertemu dengan kakak lagi. Dylan, kapan kak Abel akan pulang?"
Nesya begitu merindukan Bella. Sudah hampir tiga bulan mereka tidak bertemu. "Bersabarlah. Pencarian masih dilakukan!"
"Dan jangan takut. Kita pasti akan bertemu dengan yang lain! Kumohon fokus hanya pada operasimu. Jangan pikirkan hal yang lain," ujar Dylan.
Nesya menggeleng pelan. "Rasanya sulit, Dylan."
"Aku tahu. Tapi, ku mohon. Berjuanglah. Jangan menyerah. Kau dan kita pasti bisa!"
"Baiklah. Aku mengerti."
*
*
*
Malam harinya keluarga Kalendra menjenguk Nesya. Mereka berkumpul untuk memberi semangat untuk Nesya. Nesya merasa sangat terharu. Ia punya keluarga, ia punya dukungan.
"Kau merasa gugup?"tanya Rahayu seraya mengusap pipi Nesya.
"Iya, Ma," jawab Desya.
"Kau anak yang kuat. Pasti bisa melewatinya," ucap Rahayu dengan penuh keyakinan.
"Setidaknya jika bukan untuk kami, lakukan untuk dirimu sendiri dan juga kakakmu. Aku mohon, jangan sia-siakan perjuangannya untukmu!"ucap Ken.
Melihat kepercayaan keluarga ini yang begitu besar, Neysa menitikkan air mata. "Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin!"jawab Nesya.
*
*
*
Pagi harinya tepat pukul 08.00, Nesya memasuki ruang operasi.
Dylan mengantar Nesya sampai depan pintu operasi. Ia hanya bisa sampai di sana dan menunggu di ruang tunggu.
Menunggu. Itu yang paling menyebalkan! Entah sudah berapa lama Dylan menunggu dengan resah. Lampu operasi masih menyala. "Kapan selesainya?"gumamnya tak sabar.
Tiga puluh menit kemudian lampu operasi akhirnya mati.
Dylan berdiri saat pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dan Dylan segera menghampirinya. "Bagaimana?"
"Alhamdulillah. Operasinya berjalan lancar dan sukses. Tinggal memantau dan menunggu Nona Nesya sadar."
"Syukurlah." Dylan bisa sedikit lega. Tak lama kemudian, suster keluar dengan mendorong brankar Nesya.
Dalam pengaruh obat bius, Nesya tampak tenang. "Syukurlah." Dylan kembali mengatakan itu. Matanya memancarkan sejuta rasa senang.
*
*
*
"Apa yang terjadi? Apa ada hal bahagia di sana?" Pikiran Bella langsung tertuju pada keluarganya.
Bella mengingat-ingat. Dahinya mengernyit, mencoba menemukan apa yang dia lupakan.
"Astaga! Bagaimana bisa aku melupakannya!" Bella menepuk dahinya sendiri.
"Apa yang kau lupakan??" Bella menoleh ke arah pintu. Desya berdiri di sana dan menatapnya penasaran.
"Bukan apa." Desya sudah mengerti bahasa Indonesia. Namun, mereka lebih sering berbicara dalam bahasa Rusia.
"Kau tidak ingin berbagi? Padahal aku selalu berbagi apapun padamu," protes Desya, membandingkan.
"CK!"
"Ayo katakan. Berbagi denganku," ucap Desya.
"Iya-iya!"sahut Bella. Jika tidak, Desya akan terus menerornya.
"Hari ini adalah hari operasi adikku," jawab Bella.
"Sungguh?"
"Hm. Dan dari firasatku, aku yakin operasinya berjalan dengan lancar," lanjut Bella.
"Syukurlah kalau begitu." Desya ikut senang untuk hal itu.
"Apa aku boleh mengirim pesan untuknya?"tanya Bella.
Desya mempertimbangkan. Tak lama ia mengangguk. "Tapi, menggunakan laptopku."
"Okay."
"Oh iya, bagaimana dengan Lucia?"tanya Bella. Sudah hampir dua bulan Lucia di sana. Mungkin karena sibuk, Bella dan Lucia jarang berkomunikasi.
"Semua lancar. Mereka juga baik," jawab Desya.
"Syukurlah." Bella turut senang.
"Lucia menanganinya dengan baik. Kau tidak salah memilih orang."
"Thank you. Tapi, meskipun begitu, orang itu sendiri yang harus menunjukan kemampuannya," ujar Bella.
"Istrimu punya potensi. Sayang jika tidak dikembangkan. Ku dengar dari Evalia, kau sudah selesai membangun butik untuknya? Tinggal diisi dengan koleksi saja?"tanya Bella, ingin mendengarnya dari Desya.
"Itu benar. Besok, butik sudah bisa diisi dengan hasil karya seni rajut." Bella mengangguk mengerti.
"Tapi, ada satu hal yang aku bingungkan," ujar Desya.
"Apa itu?"
"Bagaimana bisa kau memiliki firasat seperti itu dan yakin dengan itu?"jawab Desya.
"Karena kami memiliki hubungan batin," jawab Bella.
"Hubungan batin?"
"Ya, hubungan batin antar saudara. Kau juga punya hubungan batin dengan anakmu atau orang tuamu. Jika hubungan itu kuat, kau akan bisa merasakan dia dalam bahaya atau tidak. Kadang hatimu juga senang tanpa alasan. Itu hubungan batin."
"Dari yang kau katakan, apa itu berlaku untuk yang sedarah saja?"tanya Desya.
"Tidak. Untuk suami dan istri atau orang yang saling mencintai, itu juga berlaku," jawab Bella dengan tersenyum.
"Hm … bagaimana denganku? Apa kau merasakannya juga?"tanya Desya dengan mata berharap.
"Tidak!" Bella menjawab tegas dan lugas.
"Why?"
"Aku tidak pernah merasakannya. Desya, sudah berulang kali aku mengatakan hal ini. Aku tidak mencintaimu. Sampai kapanpun itu tidak akan pernah! Aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih!"tegas Bella.
Lagi, Desya merasa kecewa. Namun, ia mulai terbiasa dengan penolakan itu.
"Tapi, ada satu hal yang membuatku bingung." Bella bertanya dengan kalimat yang sama seperti Desya tadi.
"Hal apa itu?"tanya Desya.
"Mengapa kau tetap belajar agama?"
Desya tidak langsung menjawab. Ia menghela nafasnya dan wajahnya berubah menjadi sendu. "Entahlah." Ia menjawab. Bella sedikit mendengus.
"Aku juga tidak bisa berhenti untuk mempelajarinya. Seperti ada magnet yang terus menarikku. Aku merasa ada yang kurang jika tidak mempelajarinya lagi. Bagaimana menurutmu? Apa itu bisa dikatakan lagi aku belajar agama hanya karenamu?"
Bella terperanjat. Tidak bisa berhenti? Seperti ada magnet?
Apa Desya mendapatkan hidayah?!
*
*
*
Keesokan paginya, Nesya sudah sadar. "Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?" Dylan yang bertanya. Wajahnya begitu senang.
"Air."
"Air?" Dylan segera mengambilkannya. "Ini, minumlah."
"Aku berhasil?"tanya Nesya dengan nada lemah.
Dylan mengangguk. "Ya kau berhasil. Operasinya berjalan sukses! Kau sangat kuat, Nesya!" Desya tertawa lemah.
"Itu berkat doa kalian semua. Terima kasih," jawab Nesya.
"Apa ada yang sakit? Beritahu padaku. Ah tidak aku akan memanggil dokter saja!" Dylan langsung keluar untuk memanggil dokter. Nesya menghela nafasnya.
"Kakak. Aku berhasil. Kau juga harus berhasil."
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Nesya. Dokter tersebut tersenyum, mengartikan bahwa semua baik-baik saja.
"Semuanya dalam keadaan baik. Namun, kami akan tetap memantau selama beberapa hari ke depan. Selain itu, Nona harus benar-benar m s dan tidak boleh memikirkan hal berat apapun. Semua itu untuk mendukung kesembuhan Nona," jelas dokter tersebut. Nesya menganggukinya.
"Terima kasih, dokter."
"Sama-sama."
Dokter tersebut kemudian meninggalkan ruangan Desya.
Beberapa saat kemudian ponsel Dylan bergetar. Ada sebuah pesan yang masuk. Sebuah kiriman video dari Ken. Dylan segera membukanya.
Saat ia membuka video tersebut, itu mirip dengan video yang Ken tunjukkan tempo hari pada saat Bella mengirim pesan.
Itu pasti pesan dari Bella!
From: Nabilla Arunika Chandra.
To: Mahesa Ken Chanda, Nesya Aruna Chandra, seluruh keluarga yang aku sayangi.
Assalamualaikum.
Apa kabar kalian?
Aku harap baik-baik.
Sudah hampir tiga bulan ya kita berpisah?
Aku sangat merindukan kalian semua.
Aku baik-baik saja di sini. Masih sama, mereka memperlakukanku dengan baik.
Ah ya, soal kehamilanku, usianya sudah menginjak enam bulan. Mereka sangat besar. Ya, firasatku mengatakan aku hamil anak kembar. Bagaimana? Itu tidak terlalu berlebihan, kan?
Untuk adikku tersayang. Hari ini kakak merasa senang tiba-tiba. Aku lalu mengingat-ingat. Rupanya karena hari operasimu. Dengan firasatku, aku yakin itu sukses.
Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah sadar?
Aku sangat merindukan kalian.
Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu. Tapi, aku sangat yakin, sebentar lagi kita akan bertemu.
Jaga kesehatanmu. Baik-baiklah dalam masa pemulihan. Kakak sangat menyayangimu, Nesya.
"Kakak…." Nesya tidak bisa menahan air matanya membaca pesan itu.
Ia memanggil parau. Begitu juga dengan Dylan yang tidak bisa menahan air matanya. "Aku percaya. Aku akan selalu percaya dengan kakak," jawab Dylan.
"Kakak, aku berjanji. Dan aku juga percaya. Kita akan segera bertemu." Nesya memeluk ponsel Dylan, seakan ia tengah memeluk Bella.
*
*
*