This Is Our Love

This Is Our Love
Dilema Hati



Bella dan Anjani langsung kembali ke perusahaan setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selama perjalanan, wajah Bella tampak tenang sedangkan Anjani gelisah. 


Setibanya di perusahaan, Bella langsung memerintahkan bagi setiap cabang toko milik Diamond Group mengirim laporan penjualan. Juga meminta laporan penjualan yang sudah dirangkum versi divisi pemasaran yang telah ditandatangi oleh Presdir sebelumnya.


Dibantu oleh beberapa karyawan lain, mereka sibuk mencocokkan setiap laporan. Selama itu, wajah Bella tetap tenang sementara wajah Anjani sudah memerah kesal. Tiada henti ia menggomel dan menggerutu pada para sampah yang melakukan kecurangan demi keuntungan pribadi dan merugikan perusahaan.


Bella hanya tersenyum menanggapi setiap omelan Anjani. Begitu juga karyawan yang membantu mereka.


*


*


*


"Assalamualaikum, Sayang," ucap Ken seraya melangkah memasuki kamar Cia.


Cia yang membaca buku memalingkan wajah, ia tampak terkejut dengan kehadiran Ken.


"Assalamualaikum, Sayang," ucap Ken lagi saat telah berada di sisi Cia.


Mata bulat itu menatap Ken bingung, bibirnya yang terbuka sedikit membuat Ken tertawa pelan.


"Hei," sentak Ken pelan, bertepuk tangan. 


"Ah Ken mengapa kau di sini?"


Cia tersentak dan menatap Ken meminta jawaban. Ken tersenyum manis.


"Jawab dulu salam aku dong," sahut Ken, duduk di samping Cia. 


"Waalaikumsalam," jawab Cia, matanya tetap lekat menatap sang kekasih. Kemarin katanya Ken malam baru akan datang dan ini masih siang, apa Ken menunda waktu belajarnya?


"Ken? Jawab dong! Kok malah senyum nggak jelas gitu?"


Cia mencembikkan bibirnya. Dan sontak membuat Ken tertawa lepas.


"Ihhh nggak ada yang lucu malah ketawa. Ken kamu buat aku bingung loh!"


Wajah pucat itu cemberut kesal. Dengan segera menyerang Ken dengan cubitan cap kepitingnya.


"Aaah … auh … sakit Sayang! Pinggang aku mau putus nih," pinta Ken meringis.


"Nggak sebelum kamu jawab pertanyaan aku!"jawab Cia menambah kekuataan cubitannya.


"Aduuhh … aaauh … okay-okay. Aku jawab tapi lepasin dulu. Sakit pinggang aku."


Dengan mendengus Cia melepas cubitannya. Ken langsung mengusap pinggangnya. Ia yakin di balik kemejanya pasti pinggangnya lebam. Cubitan Cia tak main-main.


"Duh itu tangan apa capit kepiting sih?"keluh Ken, meringis menatap Cia yang tersenyum puas.


"Tahu. Sekarang jawab pertanyaan aku tadi. Kamu kok kemari? Kemarin kan kamu bilang mau belajar sama Kak Bella. Kenapa? Kamu bolos ya?"terka Cia menyelidik.


"Enak saja. Memangnya aku tipe suka bolos apa?"sahut Ken kesal.


"Lalu?" Mata Cia menyipit.


"Kak Billa lembur. Dia kan sekarang jadi asisten Kak Anjani. Tadi ku dengar ada masalah serius. Aku disuruh belajar sendiri. Daripada belajar sendiri di rumah mending aku kemari. Nemani kamu sekalian belajar. Jadi kan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," jelas Ken, tentu saja dengan nada menyakinkan miliknya.


"Oh … memangnya atasannya Kak Billa itu kerja di mana?"tanya Cia penasaran.


"Presdir Diamond Corp." Mata Cia membulat. 


"Benarkah? Hebat sekali!"takjud Cia. 


"Ya nggak heran sih. Kalau Kak Billa mau jadi Presdir pun bisa secara ia kan lulusan luar negeri terus pernah menjabat jadi GM, itu sih yang aku dengar dari orang rumah," papar Ken.


Cia berdecak kagum. Wajah pucat itu tampak berseri. Tak menduga bahwa selain cantik, ramah, Bella juga punya kemampuan yang mumpuni di bidang bisnis. Tak heran jika keluarga Mahendra menjadikan Bella sebagai menantu mereka.


Berbeda dengan dirinya yang penyakitan dan sudah berhenti kuliah. Mendadak Cia berubah muram. Ken mengeryit melihat binar wajah Cia yang memudar.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Apa karena ucapan aku? Sayang aku nggak bermaksud begitu. Jangan sedih ya. Karena secantik, secerdas apapun Kak Billa tidak akan pernah menggantikan posisi kamu di hatiku. Kamu yang pertama dan terakhir." 


Ken bersimpuh, menggenggam jemari Cia. Mata Cia berkaca-kaca. Keduanya larut saling tatap dan saling menyelami perasaaan satu sama lain. 


"Ken … apa kamu yakin dengan ucapan kamu?"tanya Cia, menyuarakan keraguan di dalam hatinya. 


"Seratus persen yakin!"jawab Ken mantap.


Cia menggeleng pelan, "tapi aku tidak yakin dengan sang waktu."


"Waktu tidak dapat ditebak. Hadirnya cinta dan perasaan juga tidak bisa diprediksi apa lagi ditolak. Aku hanyalah seorang yang tinggal menunggu ajal. Sedangkan kamu, masa depanmu masih panjang. Terlebih saat di dampingi oleh Kak Bella, masa depan kamu terbuka lebar Ken. Aku tidak berani meminta banyak lagi dari kamu. Aku juga tidak bisa melarang kamu untuk jatuh cinta lagi. Karena setelah aku pergi, aku hanya tinggal kenangan. Dan cinta yang pertama dan terakhir, terlalu cepat rasanya jika mengatakan hal itu di awal seperti ini. Aku yakin, dengan sikap Kak Bella, cepat atau lambat pasti kamu akan jatuh cinta dengan Kak Bella. Aku memang tidak tahu kapan itu akan terjadi, akankah saat aku masih hidup, atau saat aku sudah pergi. Tapi yang pasti, itu akan terjadi. Kamu kagum dengan Kak Bella dan perlahan rasa kagum itu akan berubah menjadi cinta. Kalian sudah menjadi suami dan istri, bukanlah suatu kesalahan jika saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi wanita egois, Ken. Aku hanya minta jangan abaikan aku, jangan lupakan aku …," ucap Cia panjang lebar. 


Air matanya meleleh mengiringi setiap kata yang ia ucapkan. Sungguh, sesak rasanya mengatakan hal itu. Akan tetapi itulah yang ingin katakan. Ia sadar akan kondisinya. Cia ingat saat Rahayu meminta izin padanya. Semua demi kebahagian Ken. Ya memang awalnya akan penuh dengan ketidakrelaan juga rasa sakit tapi Cia yakin akhirnya akan bahagia. 


Ken sendiri belum menjawab sepatah katapun, ia terdiam dengan air mata yang menetes tanpa izin. Ken benar-benar bingung menanggapi ucapan Cia. Ia masih mencerna ucapan Cia. Ucapan Cia, mulai terbukti. Ia merasakan ada rasa nyaman saat bersama dengan Bella. 


Dan tadi, ia merasakan rasanya cemburu bahkan membuat nama panggilan untuk istrinya. Ken bukan orang yang pandai bersandiwara. Ia juga sulit untuk berbohong. Cia tahu benar bahwa Ken bukan orang yang ahli menyamarkan perasaan.


"S-Sayang apa kamu rela melihat aku bersama dengan Kak Billa?"tanya Ken lirih. Dadanya juga sesak, Ken menyandarkan kepalanya pada paha Cia. Cia mengusap lembut rambut Ken, bibirnya tersenyum. Matanya memancarkan sebuah ketulusan, serius dengan setiap kata yang ia ucapkan tadi.


"Jika ku katakan tidak rela pasti kamu tidak percaya bukan? Kita sudah bersama hampir lima tahun. Kita sudah saling mengenal hati masing-masing. Berat, Ken. Tapi aku juga bisa apa? Aku hanya bisa menerimanya. Terimalah Kak Bella. Mulailah belajar untuk mencintainya. Kelak saat aku pergi, kamu tidak akan terpuruk terlalu dalam. Aku serius, Ken. Aku harus belajar merelakan kamu. Cukup temani aku sampai menutup mata, sungguh tiada lagi rasa sakit dan kecewa di hatiku. Semua sudah takdir, dan sebagai hamba-Nya aku harus menerima dengan lapang dada."


Ken merengkuh pinggang Cia. Ia kembali duduk di samping Cia. Kedua tangan Ken beralih memegang kedua pipi Cia. Menyatukan dahi mereka. Merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Isak tangis masih terdengar. 


"Sayang tahu kan bahwa ucapanmu sangat menyakiti hatiku?"tanya Ken lirih, penuh kepiluan. 


"Tahukah bahwa mengucapkan semua itu meremas hatiku, Ken?"tanya balik Cia dengan nada lirih.


"Mengapa tetap kau ucapkan? Mengapa tidak kau katakan saja kau tidak suka aku dengan Kak Billa? Tetaplah bersama denganku selamanya? Hanya boleh mencintai diriku seorang? Mengapa tidak itu yang kau ucapkan, Sayang?" 


Ken bergetar saat menanyakan hal tersebut. 


"Pengorbanan. Cinta tak selalu tentang keindahan. Tidak selalu tentang saling memiliki. Cinta itu loyal bukan egois. Cinta itu sebuah ketulusan bukan obsesi. Aku mencintaimu dan aku siap berkorban untuk itu."


Persatuan kening itu berubah menjadi pelukan. Keduanya berpelukan erat. Sangat erat. Mata keduanya memerah, tangis sudah berhenti tapi bahu mereka masih bergetar. Tiada kata yang terucap lagi. Keduanya hanya ingin merasakan kehangatan satu sama lain.


Tanpa keduanya sadari, Clara yang menguping pembicaraan itu dari awal hingga sekarang, ikut meneteskan air mata. Clara memukul dadanya, sesak mendengar semua ucapan putri tersayangnya.


Mengapa berat sekali cobaan untuk putriku? 


Clara merosot. Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar keikhlasan dan ketulusan anaknya dalam mencintai? Putrinya siap berkorban perasaan demi kebahagian orang yang dicintainya. 


Ya Allah, aku mohon jangan renggut semua kebahagian putriku. 


*


*


*


Ken tidak jadi belajar di rumah Cia. Kini ia sudah tiba di rumah dengan wajah yang kacau. Matanya sembab, sangat tidak bersemangat. Langkahnya gontai, bahu itu biasanya tegas kini lunglai. 


"Assalamualaikum, Ma," sapa Ken lemas, mengecup punggung tangan Rahayu.


"Waalaikumsalam, Ken. Ken kamu kenapa, Sayang?" Rahayu menarik Ken agar duduk di sampingnya. 


"Ma … Ken sungguh bingung." Ken berbaring dengan paha Rahayu sebagai bantal.


"Kenapa? Masalah kuliah atau asmara?" Rahayu dengan lembut merapikan poni rambut Ken. Bertanya dengan penuh rasa keibuan.


"Cia, Ma."


"Cia? Ada apa dengannya?" Ken menceritakan pembicaraannya dengan Cia tadi. Rasa sesak itu kembali datang, dan Ken kembali tergugu. Rahayu mengembuskan nafas berat seraya memberi tepukan ringan pada pundak Ken. 


"Ma bagaimana cara Ken bersikap? Ken nggak bisa nolak permintaan Cia. Tapi Ken juga nggak bisa melakukannya. Semua berat, Ma. Ken nggak sanggup."


"Sayang, jangan paksakan dirimu untuk menolak ataupun menerima. Jalani saja dulu hubungan kalian. Biarlah sang waktu yang menjawab," ujar Rahayu.


"Tapi Ma semua sangat berat. Dan Cia … begitu teganya memintaku untuk belajar mencintai Kak Billa, padahal aku hanya mencintai Cia."


"Sayang, itu bukan sebuah permintaan tapi keharusan. Abel sudah menjadi istri kamu. Sudah haknya untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari kamu. Dan untuk Cia, itu adalah sebuah keikhlasan. Cintanya adalah cinta yang murni. Jadi, belajarlah untuk mencintai Abel. Jangan kecewakan kedua wanita itu. Seseorang yang asing bagimu sekarang, bisa jadi sesorang yang paling penting dalam hidupmu. Jadi sayang, jangan ke depan emosimu. Jangan pula menyimpan dendam untuk istrimu," tutur Rahayu lembut, memberi arahan untuk Ken yang tengah dilema.


"Tapi Ma, semua berat …." Ken mengeluh, matanya mulai terpejam seiring dengan tepukan lembut Rahayu.


"Tidak ada yang mudah di dunia ini, Sayang."


Ken mulai memantapkan keputusan hatinya. Saran Rahayu membuatnya berani mengambil keputusan. Ya jalani saja. Takdir sudah ditentukan, jodoh telah digariskan sejak ia masih berbentuk segumpal daging. 


"Ma …." Nada bicara Ken mulai tampak bersemangat.


"Hm?"


"Papa kok belum mengirim uang untuk Ken?"


"Oh itu, kan sekarang kamu sudah menikah jadi jatah uang untuk kamu juga diberhentikan. Sekarang kamu kan seorang imam, maka kamu punya tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Kamu sudah bukan tanggungan Mama dan Papa lagi."


Ken terperangah mendengar jawaban Rahayu. Ini serius? Ia tidak dapat jatah bulanan lagi? Darimana ia uang untuk memenuhi kebutuhan hidup selain untuk kebutuhan pangan? Juga untuk Bella, bukanlah sekarang Bella juga tanggung jawabnya? Kepala Ken kembali pusing dan Ken pun tak sadarkan diri yang membuat Rahayu panik seketika