
langkah lebar melangkah keluar dari lift menuju ruangannya. Ken baru saja menyelesaikan dua meeting yang Bella dibebankan padanya dari jam delapan sampai jam sebelas siang.
Ken sudah mengetahui tentang Nesya. Dan Ken tak banyak komentar untuk hal itu.
Jadwal penting hari ini adalah meeting akhir dengan Nero Group dan Pihak Pemerintah. Proyek telah rampung dua hari yang lalu. Dengan kecanggihan teknologi dan alat konstruksi terbaru, pembangunan bandara dapat rambut dalam waktu yang tergolong singkat.
Meeting dijadwalkan pukul 14.00. Meeting terakhir ini dilakukan secara langsung, tetap muka antara tiga pihak. Hal itu dikarenakan perwakilan Nero Group yang diketuai langsung Presdirnya yakni Mr. Aldric, yang tak lain adalah putra tunggal dari Marco.
Marco sendiri tidak ikut karena ia tidak tahan dengan perjalanan yang jauh. Meeting akhir ini ia hanya akan menerima laporan akhir. Hal itu juga sama dengan Surya. Ia menyerahkan meeting akhir ini pada Abel dan hanya akan menerima file berisi laporan akhir.
Mr. Aldric dan rombongan tiba di Jakarta tadi pagi. Tentu saja dalam rangka menghadiri peresmian bandara.
Lima belas menit sebelum meeting, Mr. Aldric dan rombongannya menginjakkan kaki kembali ke Mahendra Group. Pertama kali adalah saat menghadiri peletakan batu pertama sebagai bentuk simbolis pembangunan bandara dimulai.
Disusul dengan perwakilan dari Pemerintah.
Bella menyambut perwakilan Nero Group dan Pemerintah dengan ramah. Ia mengesampingkan amarah yang langsung menyelimuti hatinya saat mendengar apalagi berhadapan dengan keluarga Nero.
Meeting berlangsung cukup lama. Tentu saja karena dijelaskan secara rinci agar tidak ada kekeliruan, terlebih soal dana. Hingga pada akhirnya, semua mengucapkan selamat, senang bekerja sama dengan perusahaan Anda.
Semoga di lain waktu kita dapat bekerja sama lagi. Itu hal yang biasa dikatakan saat suatu proyek sudah berakhir. Dan sebagai bentuk perayaan, akan diadakan makan malam bersama. Ken dan Bella tidak bisa menolaknya.
Orang luar, terlebih negara yang bebas, biasa merayakan sesuatu dengan minum. Minum minuman beralkohol seakan sudah jadi hal wajib. Bahkan ada juga yang membuat pepatah, tidak minum berarti tidak menghormati atau menanggap seseorang.
Mengingat kembali bahwasannya peserta makan malam nanti dari dua negara dengan budaya yang amat mencolok, maka restoran dengan menu universal, misal steak, fried chicken, spaghetti menjadi pilihan.
Sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditentukan, Ken dan Bella telah tiba di restoran yang ditunjukan oleh pemerintah sebagai tempat makan malam. Karena Tuan rumah, pemilik proyek adalah pemerintah, maka pemerintahlah yang menanggung semua biaya makan malam.
Sebuah meja panjang menjadi maka makan mereka. Dengan beraneka ragam menu, dari pembuka, utama, hingga desert semua ditata begitu rapi. Ada pula beberapa botol minuman beralkohol untuk perwakilan dari keluarga Nero dan pemerintah.
Sebelum makan mereka bersulang sebagai bentuk acara makan malam dimulai, dan sebagai bentuk penghormatan satu sama lain. Bella, Ken, dan beberapa lainnya yang tidak minum alkohol bersulang dengan jus. Mereka makan sembari mengobrol. Bella dan Ken menimpali sesekali.
Tak terasa menu makan malam telah habis. Beberapa juga terlihat mabuk. Ada juga yang sudah undur diri lebih dulu, dan terakhir menyisakan Bella, Ken, dan perwakilan Nero Group yang sudah tepar karena mabuk.
Bella sedikit memiringkan kepalanya, dengan senyum miring menggoyahkan gelas jusnya, tatapannya tertuju pada Mr. Aldric yang duduk tepat di seberangnya.
"Haruskah kita mengantarkan mereka satu persatu ke mobil?"tanya Ken, ia tampak bingung.
"Mungkin. Tapi, bukan kita yang mengantarkan mereka ke mobil!"jawab Bella.
"Kalau begitu aku akan memanggil beberapa pelayan."
"Jangan sekarang. Ada yang ingin aku ketahui darinya," tahan Bella, menunjuk Mr. Aldric dengan dagunya. Ken melihat ke arah Mr. Aldric. Ia tahu dan ingat mengenai masalah keluarga Bella dengan keluarga Nero karena Bella sudah memberitahunya.
"K-kau mau balas dendam pada keluarga Nero, sekarang?"tanyanya tanpa pikir panjang. Bella melirik, kesal.
"Aku mengatakan ada yang ingin aku ketahui! Lagipula aku bukan Tuan Tua itu, yang marahnya pada satu orang, imbasnya sampai ke keturunan. Aku tidak ada masalah dengan anaknya, aku ada masalah dengan ayahnya!"tegas Bella, menoleh dan memberikan sentilan pada Ken. Ken refleks mengadu sakit. Dahinya memerah, sentilan itu cukup keras.
"Emm … ergggghhh …."
Bella kembali menoleh pada Mr. Aldric yang mengerang pelan, sepertinya akan membuka matanya dan itu saat yang dinanti oleh Bella. Saat mata Mr. Aldric terbuka, mata itu tampak terkejut, ada rasa takut dan menyesal di dalamnya. Bella menopang dagunya.
"Why, Mr. Aldric? Mengapa Anda menatap saya begitu seperti tengah melihat hantu?"
Mr. Aldric tidak menjawab dengan kata. Ia berdiri dari tempatnya, berjalan memutar dan berhenti di dekat Bella. Ken waspada, Mr. Aldric masih mabuk. Mr. Aldric menggeser kursi, memberi ruang yang cukup untuknya. Bella menaikkan satu alisnya, mengapa menggeser kursi?
Di detik berikutnya, Ken terkejut saat Mr. Aldric berlutut dengan menundukkan kepalanya pada Bella. "Apa maksud Anda ini, Mr. Aldric?"tanya Bella, nadanya tenang. Bella menyembunyikan ketercengannya.
Seperti yang sering dilihat atau dibaca, maupun didengar, mabuk bisa menunjukkan sisi lain seseorang, juga bisa mengungkapkan perasaaan yang sembunyikan dengan sangat baik lagi dalam.
"Maaf." Satu kata yang terdengar tulus, penuh penyesalan, meluncur dari mulut seorang Presdir dari perusahaan terpandang di negeri Paman Sam itu.
"Memangnya Anda ada melakukan kesalahan pada saya?"
"Saya sudah setua ini. Tetapi, tidak bisa menahan dan membuat ayah saya untuk menyudahi sakit hatinya di masa lalu. Tolong, ampuni dosa kami. Keluarga Nero berhutang nyawa terlalu banyak keluarga Anda."
Walau Md. Aldric mengatakannya dalam kondisi mabuk, tak mengurangi intonasi penyesalannya.
"Jadi, Anda tahu perbuatan buruk apa saya yang ayah Anda lakukan pada keluarga kami?"
"Maaf. Maafkan aku yang tak berdaya ini di hadapan ayah."
Mr. Aldric menunduk semakin dalam. Kekuasaaan keluarga masih dipegang oleh Marco. Itu akan berganti alih saat Marco berpulang nantinya. Dan Mr. Aldric, tiada kuasa menahan tindak-tanduk ayahnya. Ia hanya bisa mengingatkan ayahnya akan perbuatan yang salah.
Dan itu akan dihadiahi dengan kemarahan Marco. Marco tak pandang bulu, ia menganggap Mr. Aldric hanya sebagai penerus keluarga.
"Anda meminta maaf pada saya, walau Anda menangis darah sekalipun, tidak akan mengubah kenyataan. Selain itu, saya tidak menerima maaf dari orang yang tidak bersalah. Dan saya beritahu Anda, meskipun yang berlutut saat ini adalah ayah Anda, Anda pikir saya akan memaafkannya? Maaf, Mr. Aldric. Hatiku tidak selapang itu untuk menerima permintaan maaf dan melupakan apa yang ayah Anda telah lakukan pada keluarga saya!"
Mr. Aldric semakin menunduk. Bella melihat air mata menetes dan jatuh membasahi celananya.
"Ken, ayo kita pulang!"ucap Bella berdiri. Mr. Aldric tidak menahannya. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan, Bella kembali melangkah mendekati Mr. Aldric.
"Sampaikan pada Tuan Tua Marco bahwa setiap perbuatan akan ada balasannya. Nikmati hidupnya dengan baik selagi bisa, sebelum akhirnya ia harus membayar perbuatan apa yang ia lakukan pada keluargaku, keluarga Chandra!"
Mr. Aldric memejamkan matanya. Ucapan maaf, menyesali perbuatan tidak akan bisa mengembalikan nyawa orang tua Bella. Penyesalan yang sia-sia. Tiada kata maaf lagi untuk keluarganya dari keluarga Chandra.
Dokter Rey menatap kepulangan Nesya dari rumah sakit kembali ke lapas, menjalani rawat jalan dari rooftop rumah sakit. Ia sedang merokok, tanpa menggunakan jas dokternya. Dokter Rey merokok dengan tangan bertumpu pada pembatas rooftop. Sepertinya Dokter Rey tengah frustasi dengan dirinya sendiri.
Kepulangan Nesya menuju lapas dijemput langsung oleh kepala lapas dengan menggunakan mobil, diikuti dengan Bella dan Ken yang naik motor. Salah satu alasan selain karena faktor kestabilan kondisi Nesya dan keringanan dari pihak lapas, alasan lainnya adalah karena hati.
Seperti yang diketahui bahwa Dokter Rey menyimpan rasa untuk Nesya. Walau sudah diperingatkan oleh Bella akan perbedaan mereka yang mustahil rasa itu akan bersatu walau berbalas. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Nesya sudah memiliki calon suami, melihat Nesya setiap hari, melihat kebersamaan dengan Dylan, membuat hati Dokter Rey berdenyut nyeri.
Sampai saat ini, ia belum bisa menghapus perasaannya untuk Nesya. Entahlah, Dokter Rey juga tidak tahu apa penyebabnya. Dengan tindakannya ini, ia menanggapnya sebagai sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Selain Nesya bisa menjalani masa tahanannya, ia juga bisa belajar melupakan Nesya dengan lebih fokus lagi. Hatinya berdoa dan berharap agar Tuhan mengirimkan seseorang untuk menggantikan nama Nesya di hatinya. Jujur saja, ia tersiksa dengan perasaaan tidak berdasar yang ia rasakan.
Kau harus bisa, Rey. Kau bisa! Hati, ku mohon bekerja samalah dengan logika. Dia tidak ditakdirkan untukmu. Terus mengembangkan perasaan ini padanya, sama saja dengan membunuh dirimu sendiri. Rey menyadarinya secara logika. Namun, secara hati, enggan untuk melakukannya.
Dokter Rey mematikkan rokok yang tinggal separuh. Menginjakkan menjadi remukan, kemudian menyemprotkan parfum pada pakaian dan ceruk lehernya guna menyamarkan bau rokok. Setelah itu, dokter Rey mengunyah permen karet untuk membersihkan aroma rokok dari rongga mulutnya.
Setelah dirasa cukup, dokter Rey kembali mengenakan jas dokternya kemudian meninggalkan rooftop. Sebelum itu, di depan pintu ada tong sama dan Dokter Rey membuang permen karet yang ia kunyah ke dalamnya.
Dua hari kemudian, acara peresmian bandara dilaksanakan. Banyak undangan yang hadir, dari mulai pejabat, kepala maskapai penerbangan, dan lainnya serta diresmikan langsung oleh kepala negara. Bella dan Ken tampil serasi dengan pakaian bercorak batik berwarna biru.
Pukul 09.00, Mr. Aldric dan rombongan baru tiba. Saat bertemu pandang dengan Bella, Mr. Aldric tersenyum ramah yang tentu saja dibalas ramah juga oleh Bella.
Mr. Aldric bersikap seperti biasanya, seakan tidak ingat apa yang ia lakukan dan katakan saat makan malam dua hari yang lalu. Padahal, sebenarnya Mr. Aldric berusaha mati-matian menyembunyikan rasa malu dan canggungnya.
Peresmian akan dimulai pukul 10.00. Presiden dan rombongan tiba sepuluh menit sebelum acara. Bella dan Ken ikut menyalami dan berbincang sejenak dengan beliau sebelum akhirnya acara dimulai. Kata sambutan dari berbagai pihak yang terlibat di dalam pembangunan bandara.
Harapan yang diutarakan dengan adanya bandara baru bertaraf internasional ini, yang utama tentu saja untuk meningkatkan mobilitas yang kian hari kian padat nan tinggi.
Bandara baru ini memiliki luas yang setara dengan bandara-bandara besar lainnya di indonesia yang bertaraf internasional. Dilengkapi pula kecanggihan teknologi, peralatan terbaru. Bentuk bangunan bandara kota unik, mengambil tema bentuk bunga melati sebagai bunga nasional.
Bandara akan resmi dibuka seminggu setelah ini. Tentu saja ini baru peresmian, harus menyusun berbagai macam hal lagi. Namun, sudah terlihat beberapa burung besi yang terparkir tak di tempat parkir pesawat.
Presiden dan rombongan langsung meninggalkan bandara beberapa saat setelah peresmian. Maklum saja, jadwal beliau begitu padat.
"Nona Bella, senang bisa berkerja sama dengan perusahaan Anda. Semoga di lain waktu kita bisa berkerja sama lain," ucap Mr. Aldric.
"Saya harap juga begitu, Mr. Aldric."
"Saya juga sekalian ingin berpamitan pada Anda berdua," ujar Mr. Aldric.
"Anda akan pulang setelah ini?"
"Benar."
"Ah kalau begitu selamat jalan. Semoga perjalanan Anda menyenangkan. Saya dan keluarga titip salam untuk keluarga Nero," ucap Bella dengan tersenyum. Mr. Aldric terlihat canggung sesaat sebelum akhirnya tersenyum.
Bella menatap dingin mobil yang ditumpangi oleh Mr. Aldric dan rombongan, menjauh dari tempatnya berada hingga hilang dari pandangnya.
Proyek telah tuntas, tunggulah pembalasan dariku!
"Ayo, Aru," ajak Bella, menepuk ringan bahu Bella.
Bella mengangguk kecil. Keduanya undur diri dari bandara.
"Aru, besok kita ada jadwal meninjau langsung proyek yang ada di Bandung," beritahu Ken, saat mereka tiba di ruang kerja Bella.
"Bandung? Berapa hari?"
"Satu hari saja. Lokasi proyek dekat dengan pesantren."
"Tempat El belajar?"
Ken mengangguk.
"Aku tahu maksudmu. Kau mau sekalian melihat kakakmu yang narsis itu kan?"
"Ya. Aku merindukannya," jawab Ken.