
Selesai sudah resepsi pernikahan Bella dan Ken. Kini sepasang pengantin baru itu memasuki kamar mereka, kamar pengantin. Ken tertegun sesaat melihat dekorasi kamar yang serba merah dan aroma mawar. Di atas ranjang, love yang terbuat dari mawar begitu indah dibuat. Ken kemudian menunjukkan wajah datarnya. Sedangkan Bella, mengerjap kemudian mendengus senyum. "Hei apa keluargamu berpikir bahwa kita benar-benar melakukan malam pengantin?"tanya Bella dengan nada tidak percaya.
"Maybe," jawabnya acuh, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Bella mengendikkan bahunya, melangkah mendekati ranjang.
"Hm mawar hati yang indah, sayang ini harus hancur!"gumam Bella, dengan santainya merusak bentuk hati tersebut, kemudian menyingkirkan semua kelopak mawar ke lantai.
Ya mengesankan, pernikahan yang mewah, kamar pengantin yang luar biasa, sayang semua hanya kesepatakan!batin Bella, tersenyum kecut kemudian melangkah dan duduk di kursi rias.
Bella melepas semua perhiasan yang menempel pada tubuhnya, kemudian membersihkan make up. Karena make up yang hampir natural, tak butuh waktu lama Bella sudah selesai, bahkan Ken saja belum selesai mandi.
Bella kemudian mendekati dan membuka lemari. Matanya kembali mengerjap melihat di dalamnya hanya ada lingerie beraneka rupa dan warna.
Hei?!
Apa yang dua orang itu pikirkan? Menggunakan ini untuk menarik anak ingusan mereka itu?
Oh ayolah?! Jika memakai ini hanya akan mempermalukan diriku sendiri. Ckckck.
Bertepatan dengan keluarnya Ken dari kamar mandi, Bella mengambil dan mengamati salah satu lingerie berwarna merah.
"Apa itu?"tanya Ken yang hanya menggunakan handuk mandi dan kini mengeringkan rambutnya.
"Entahlah."
Bella kembali menggendikkan bahunya dan dengan santai melempar pakaian haram itu pada Ken. Ken refleks menangkapnya.
"Mungkin pakaian untukmu," ujar Bella.
"Hah?"
Ken meneliti benda di tangannya itu. Pakaian menerawang yang super pendek, dan dengan polosnya ia mengukur pakaian itu di tubuhnya.
"Ini benar-benar pakaianku?"tanyanya dengan nada ngeri, bergidik membayangkan ia memakai benda itu. Bukankah sama saja dengan telanjang?
Ting tong.
Ada yang menekan bel pintu. Bella langsung membuka pintu.
"Ini," ujar Anjani menyodorkan tas ransel Bella.
"Thanks, Jani," ucap Bella sumringah memeluk tasnya.
"Memangnya tak disediakan pakaian?"tanya Anjani heran.
"Maksudmu itu?" Bella menyingkirkan tubuhnya dan menampakkan Ken yang sontak melemparkan lingerie di tangannya. Ia lantas berpaling dan membuka lemari.
"Wah amazing! Abel apa kau benar-benar apa akan malam pertama dengan anak ingusan itu?"tanya Anjani penasaran tingkat tinggi.
"Ya menurutmu? Bukankah ini memang malam pertama?"sahut Bella santai.
"Abel kau serius?" Anjani membulatkan matanya. Bella tersenyum, "sudahlah. Kembalilah ke kamarmu. Aku mau mandi," ucap Bella, langsung menutup pintunya sebelum Anjani kembali melayangkan pertanyaan.
"Hei apa tidak ada pakaian selain ini?"tanya Ken yang tidak mendapati pakaian yang pantas dan bisa ia gunakan di lemari.
"Ya gunakan saja itu, aku akan gunakan pakaian yang aku bawa," sahut Bella, bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ken tercengang. "What the …!"
Ia menghela nafas kasar. Mau menghubungi siapa? Layanan kamar? Bukankah lucu meminta pakaian? Ken menutup kasar pintu, langsung menuju ranjang. Ia baru saja bahwa kelopak mawar hati sudah berserakan di atas lantai.
Kak Billa yang melakukannya?tanyanya dalam hati, salut dengan Bella.
Ken lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Biarlah tidur menggunakan handuk, daripada menggunakan pakaian transparan itu.
Saat hampir terlelap karena lelahnya aktivitas hari ini, Ken kembali membuka matanya saat mendengar Bella memanggil namanya.
"Ken! Tolong aku sebentar!"
"Masuklah," suruh Bella dari dalam. Dengan rasa ragu dan gugup di dalam hati, Ken membuka pintu dan memasukkan kepalanya ke dalam. Terlihat Bella yang masih mengenakan lengkap pakaian pengantinnya.
"Masuk, bantu aku menurunkan retsleting belakang ini!"ucap Bella, membelakangi Ken.
"Apa katamu?"tanyanya memastikan pendengarannya bermasalah. Apa iya istrinya ini tidak punya rasa canggung? Ia dengan santai meminta tolong membukakan gaun? Oh ayolah, biarpun hati Ken hanya untuk Cia, tapi ia juga seorang pria, pria dewasa.
"Apa kau tuli? Bantu aku menurunkan retsleting belakang! Tanganku tidak sampai!"ketus Bella.
"Kau yakin, Kak?"tanyanya lagi memastikan. Ya, panggilan Ken untuk Bella adalah kakak karena biar bagaimanapun usia Ken dan Bella terpaut jarak lima tahun.
"Kenapa? Kau malu? Tenang saja aku tidak akan menerkammu!"jawab Bella penuh tekanan.
Ken kembali mengerjap, apa tidak terbalik?batinnya.
"Ya … baiklah." Dengan canggung dan juga gugup, Ken melangkahkan kakinya masuk. Dengan gemetar, tangan Ken mulai bergerak menuju retsleting gaun yang Bella kenakan. Dengan gerakan yang teramat pelan juga matanya yang terpejam, Ken menurunkan retsleting itu. "Kau gemetaran? Kenapa? Bukannya seharusnya aku yang gemetar ya?"ledek Bella.
"Sudah. Aku keluar!"ucapnya dengan nada tinggi, dengan segera keluar. Sayangnya matanya yang masih terpejam, membuatnya tidak tahu arah dan ….
Bugh!
Ken menabrak pintu dan jatuh terduduk di lantai. Mata Bella membulat melihat handuk Ken yang sedikit tersibak menunjukkan otot perut dan kem*luan yang sedikit terlihat.
"Ah buaya ngintip! Cepat pergi!"seru Bella, langsung berbalik dengan wajah memerah.
Ya Allah … ini bukan dosa kan? Mataku ternoda olehnya!batin Bella.
"Uhh sakit …," ringis Ken sembari mengusap dahinya. Ia masih linglung sesaat, kemudian menunduk.
"Ahhhh maaf aku tidak sengaja!" Dengan susah payah Ken berusaha berdiri dan keluar dari kamar mandi.
Ken meringis saat duduk di ranjang. Dadanya berdegup kencang. Ini pertama kalinya ada yang melihat kemal*annya walaupun hanya mengintip. Benar-benar memalukan!gerutunya dalam hati.
Tanpa ia inginkan wajahnya memerah, rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa malu yang ia rasakan.
"Uh …." Ken kembali meringis saat menaikkan kakinya ke ranjang.
Sedikit bengkak. Padahal cuma terjatuh pelan, ah tidak terlalu keras. Kamar mandi memang tempat berbahaya jika sudah naasnya.
Terpaksa Ken memejamkan matanya dengan rasa sakit dan ngilu yang masih terasa. "Hei apa kakimu terkilir?" Bella yang baru keluar kamar mandi dengan pakaian tidur panjang dan hijab menutupi rapat rambutnya menatap Ken yang tidur dengan dahi mengerut.
"Hm." Hanya disahut gumaman. Bella yang khawatir langsung melihat kaki Ken. Ken terkesiap dan langsung membuka matanya. "Apa yang kau lakukan, Kak?"tanya Ken meronta.
"Diamlah! Aku ambil obatnya dulu!"ucap Bella tegas.
"Tidak! Tidak perlu! Kakiku baik-baik saja!"
"Ini baik-baik saja?" Bella memberi sedikit tekanan pada kaki yang terkilir itu.
"Ahhhh …."
"Dasar bocah ingusan angkuh!"gerutu Bella kesal. Bella lantas berdiri, mengambil tas ranselnya dan mengambil sesuatu di dalamnya.
"Aaah apa itu?"tanya Ken was-was dengan sesuatu yang Bella bawa.
"Krim untuk terkilir!"jawab Bella, langsung mengoleskan krim tersebut ke kaki yang terkilir.
Tak berapa lama kemudian, rasa hangat menjalar dan mengurangi rasa sakit yang Ken rasakan.
"Hei Kak, mengapa kau peduli denganku?"
"Karena kau suamiku!"jawab Bella. Bella kemudian menyimpan tasnya kemudian berbaring di samping Ken. Ken terkesiap lagi. Benar-benar tidak mengerti dengan pola pikir Bella.