
Selesai salat zuhur berjamaah di ruang kerja, Bella masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya berpesan pada Ken untuk membangunkannya pukul 14.00.
Bella ingin kembali menenangkan dirinya. Sejak pagi, ia terus memimpin meeting dalam jeda waktu yang berdekatan. Tugas Surya selama di Paris dihandle oleh Bella. Jadi, Bella lebih sibuk daripada biasanya.
Tiada jadwal meeting apapun sampai di pukul 14.00 nanti. Jadwal meeting selanjutnya di pukul 15.00. Waktu yang cukup untuk Bella menguasai bahan meeting.
Ken menatap pintu kamar tertutup dengan masih perasaan gusar. Sejak pagi selain soal pekerjaan, keduanya tiada membahas hal pribadi. Bella yang masih diselimuti aura suram membuat Ken masih ragu untuk membahas hal pribadi.
Astaga! Ken menepuk dahinya. Wajahnya berubah menjadi khawatir. "Aru belum makan siang," gumamnya.
"Bagaimana ini? Tadi pagi Aru cuma sarapan sedikit. Dan sampai saat ini hanya minim air. Jika aku bangunkan sekarang takutnya Aru kembali marah. Jika tidak … Aru tidur dengan perut kosong."
Ken menjadi dilema. Ia lantas masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Bella tidur dahi yang mengeryit. Di atas nakas ponsel Bella melantunkan ayat suci al-Qur'an. Ken duduk dengan pelan di pinggir ranjang. Wajah istrinya masih terlihat gusar walau kedua mata tertutup rapat.
Ken percaya dengan pepatah tidak bisa tidur dengan perut kosong. Namun, sepertinya Bella memang tidak merasakan lapar. Ekspresi tidur istrinya berangsur berubah. Ada seulas senyum tipis di sana. Kernyitan di dahi menghilang, wajah gusar itu juga sudah sirna. Hati Ken juga sudah mulai tenang. Tidur dengan diiringi lantunan ayat suci al-Qur'an memang sangat berguna.
"Semoga setelah bangun semua rasa marahmu sirna, Aru," gumam harap Ken. Ia membungkuk mendekati wajah istrinya. Memberikan kecupan hangat pada dahi Bella kemudian beranjak keluar dari kamar.
*
*
*
Errrghhhh ….
Bella mengerang saat bangun. Posisinya masih berbaring, mengerjap menatap langit-langit mengusir rasa pusing yang menghampirinya. Nafasnya terdengar beraturan.
Diliriknya jam dinding. Mata Bella sontak melebar. Cepat-cepat ia bangun dan sekali lagi memastikan waktu yang bangun.
"Astagfirullah!"
Bella bergegas beranjak menuju kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar dengan wajah yang lebih segar ketimbang saat bangun tadi. Namun, wajah cemas hadir di wajahnya.
"Ken mengapa kau tidak membangunkanku?"tanya Bella saat keluar kamar dan menuju mejanya.
"Tidurmu begitu nyenyak," sahut Ken sembari menutup laptopnya.
"Ck kau ini. Apa kau lupa pukul 15.00 ada meeting?"
Bella bangun di pukul 16.00. Tadi malam memang ia kurang nyenyak tidur. Rasa kantuk dan lelahnya memang hilang tapi rasa pusing kembali menyerang.
"Sudah aku tangani, Aru," jawab Ken.
Bella memalingkan wajahnya ke arah Ken yang tersenyum meyakinkan, "berkas hasil meeting sudah ada di mejamu, yang paling atas, map biru," lanjut Ken. Bella melihat ke arah yang dimaksud.
Bella mengambil dan membacanya. Tak lama kemudian senyum Bella sunggingkan. Ia menghela nafas lega, "syukurlah," gumam Bella. Ia kembali melihat Ken yang wajahnya meminta pujian.
"Good job! But, lain kali jangan seperti ini!"
Krucuk!
Itu suara perut Bella. Terdengar begitu jelas di telinga Ken. Ken terkekeh pelan mendengarnya sedangkan Bella tersenyum simpul. Ia jelas melewatkan jam makan siang.
"Di lemari ada makan siangmu. Sudah aku siapkan," ucap Ken, menunjuk lemari yang menyatu dengan dapur kecil untuk membuat minuman.
Tanpa banyak tanya, Bella bangkit dan menuju ke arah yang ditunjukkan.
"Eh apa ini?" Saat membuka lemari, didapatinya setangkai mawar, sebarang coklat ukuran besar, barulah makan siang berada di belakang ke duanya.
Ada catatan di bawah coklat. Bella mengambilnya dengan menoleh pada Ken.
Isteriku jangan marah lama-lama padaku, ya!
"I-ini? Apa maksudnya?" Ken mendekat. Menghadapkan tubuh Bella padanya. Bella mengeryit bingung. Wajah Ken sungguh serius, kedua tangan berada di pundak Bella.
"Aru aku tahu kau marah padaku. Tapi, sungguh bukan itu maksudku. Aku memang mencemaskan kondisi keluarga Utomo. Namun, itu semua semata bukan karena hubungan masa lalu kami. Aru biar bagaimanapun keluarga Utomo adalah sahabat keluarga Mahendra. Hubungan kami memang sudah berakhir. Tapi, tali silahturahmi tidak putus. Sungguh percayalah padaku. Sama seperti aku percaya padamu. Aku kini hanya mencintaimu seorang. Perasaan untuk masa lalu sudah sirna. Kau lah satu-satunya yang bertahta di hatiku," ucap Ken pandang lebar. Sorot matanya sendu, berharap rasa marah Bella sudah lenyap.
Keduanya saling tatap cukup lama. Pikiran buruk, kegundahan hati, dan amarah sudah hilang dari diri Bella. Pikirannya sudah jernih. Bella mengerti. Bahkan jika ia berada di posisi Ken, Bella pasti juga akan bersikap demikian, khawatir. Namun, yang membuat amarah Bella meledak ada karena isi email Surya yang mana itu adalah informasi tentang siapa ayah dari janin Nesya yang telah gugur.
Bella mendengus senyum, "siapa yang marah karena itu?"tanyanya dengan mengangkat alis.
"Kau tidak marah?"tanya Ken sedikit terkejut. Bella menggeleng. Tangannya bergerak dan mengalung pada leher Ken.
"Sungguh aku tidak marah. Aku marah bukan karena itu melainkan hal lain," jawab Bella.
"Sungguh? Hal apa itu?" Ken ingin tahu apa yang membuat amarah Bella meledak sampai membentaknya.
"Kau akan tahu nanti."
"Sekarang?"
"Aku lapar." Bella melepaskan diri dari Ken dan mengambil makan siangnya, kembali ke mejanya. Meninggalkan Ken dengan rasa penasaran. Hal apa itu?
*
*
*
Bella dan Ken lembur. Pekerjaan begitu menumpuk. Hingga di pukul 21.00 lah semua pekerjaan hari ini tuntas. Ya hari pertama di perusahaan setelah seminggu tidak masuk begitu melelahkan. Baik Ken dan Bella merenggangkan tubuh mereka.
Bungkus coklat yang isinya sudah habis terlihat di atas meja, begitu juga setangkai mawar yang berada di dalam vas bening. Cangkir kopi yang isinya masih ada setengah kembali Bella raih dan meminumnya hingga tandas.
"Ayo, Aru," ajak Ken yang telah selesai membenani mejanya juga telah memakai jaketnya. Sedang Bella berdiri di dekat jendela. Kedua tangannya bersedikap di dada.
"Baiklah. Aku tahu tempat yang cocok," sahut Ken.
Bella tersenyum. Ia berbalik dan menuju mejanya. Memakai jaket berikut ranselnya. Bella meraih bungkus coklat saat berjalan keluar, membuangnya pada tong sampah.
Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju basement.
*
*
*
"Ini?" Bella tertegun melihat apa yang di depannya. Selama perjalanan tadi, Bella menutup matanya. Begitu tidak, sudah berada di area parkir pasar malam yang begitu ramai dengan pengunjung.
"Kita makan malam di sini," ucap Ken. Ide ke pasar malam ia dapatkan setelah melihat postingan di media sosialnya saat jam makan siang nanti. Sebenarnya jika Bella tidak mengajak makan malam di luarpun. Ken akan membawa Bella singgah di sini.
"Sejak kapan ada pasar malam di sini?"tanya Bella.
"Ini sudah hari ketiga. Ayo masuk," jawab Ken, menarik tangan Bella untuk masuk ke pasar malam.
"Eh tunggu! Kau bisa makan di sini? Dan berbaur dengan pengunjung lain?"tanya ragu Bella. Biasanya anak konglomerat apa lagi Tuan Muda seperti Ken, identik dengan makanan restoran atau cafe. Mall, taman bermain berkelas, yang kebersihan dan pengunjungnya kelas atas.
Pasar malam kan, pengunjungnya dari berbagai kalangan. Lagi harus berdesakan dengan pengunjung lain, belum lagi kuliner yang biasanya pasaran.
"Aku bisa."
"Ah begitu ya?" Bella mencoba percaya. Lagi mengingat Surya dan Rahayu yang nyaman-nyaman saja saat bertemu pertama kali di warung pinggir jalan. Bella terkekeh pelan mengingat Surya dan Rahayu yang makan di pinggir jalan dengan mengendarai mobil ferrari.
Tempat pertama yang keduanya cari adalah stand yang bisa menutupi rasa lapar mereka. Setelah berkeliling akhirnya mereka memilih stand yang menyajikan ayam penyet, nasi uduk, dan rekan-rekannya.
Bella jelas menikmati suara pasar malam yang semakin malam semakin banyak pengunjung. Sate telur ia santap sembari menyaksikan keramaian. Ken puas dengan Bella yang menikmati suasana di sini. Ia mengambil ponselnya.
"Kau memotretku?"tanya Bella.
"Kenangan," sahut Ken.
Bella meletakkan tusuk sate dan mengambil ponselnya juga. Menyadari Bella ingin balas memotret dirinya, Ken segera mengatur posenya.
Tiga jepretan, Bella melihat hasilnya, "jika seandainya kau tak bisa jadi guru. Kau pasti cemerlang dalam dunia model," ucap Bella memuji wajah dan body suaminya.
"Aku tak ingin jadi publik figur. Karena aku tak ingin isteriku cemburu setiap waktu," sahut Ken.
"Ken …." Kedua tangan Bella melipat di meja. Ia memajukan wajahnya mendekati wajah Ken. Ken mengeryit, jantungnya berdebar lebih kencang. Padahal sudah sering namun hatinya tetap berdebar seperti sekarang.
"Ada apa?"tanya Ken gugup.
"Lain kali … jika aku sedang emosi kau jangan takut padaku," ucap Bella.
"Hah?"
"Maaf karena aku membentakmu tadi pagi. Emosiku sedang di luar kendali."
"J-jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Dekati aku. Genggam tanganku. Peluk aku, atau cium juga bisa. Di saat seperti tadi aku lebih butuh sandaran daripada sebuah keheningan."
"Hal yang intim, begitu?" Ken memastikan dengan berbisik. Bella mengangguk.
"Aku mengerti." Cara yang Bella sebutkan sudah tercatat di dalam memorinya.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Keduanya mulai menyantap makan malam.
"By de way, apa kau masih mengkhawatirkan keluarga Utomo?"tanya Bella di sela-sela makannya. Jika orang sedang mencemaskan dan mengkhawatirkan sesuatu apa punya waktu memikirkan lagi berkunjung ke tempat yang notabene nya untuk bersenang-senang?
Ken menggeleng pelan, mulutnya masih mengunyah. Bella penasaran dengan alasannya.
"Seperti kau katakan tadi pagi," jawab Ken, ia minum dulu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Om Bayu pasti punya cara untuk mempertahankan perusahaannya. Selain itu mereka juga punya asuransi kesehatan. Jadi, masalah pengobatan bukan menjadi masalah seandainya mereka tengah di masa sulit," terang Ken. Ken baru ingat saat berada di perjalanan menuju perusahaan tadi pagi. Namun, belum sempat ia sampaikan pada Bella. Sekarang mereka sudah berbaikkan.
"Baguslah." Bella mengangguk mengerti. Perasaan lega menyelimuti hatinya. Bella melanjutkan makannya.
"Mungkin jika mereka butuh bantuan keluarga kita, pasti akan menghubungi Papa yang akan disampaikan padamu," ujar Ken. Keduanya tidak ada waktu lagi untuk melihat atau membaca berita. Tugas begitu menumpuk.
"Bisa jadi."
Selesai makan dan membayar, Ken dan Bella berkeliling sebentar. Waktu menunjukkan pukul 22.30. Mereka berniat pulang pukul 22.45.
Sepuluh menit kemudian, tangan Ken sudah membawa beberapa kantong plastik. Sedang Bella membawa dua bungkus kembang gula berwarna merah muda.
"Sudah selesai?"tanya Ken saat keluar dari stand yang menjual aksesori.
Bella menggeleng. Ken mengesah pelan saat melihat jam tangannya. Sudah lebih dari waktu yang ditetapkan. Bukan apa, ini sudah hampir tengah malam dan besok, pagi-pagi sekali ada meeting dengan perusahaan luar.
"Bagaimana jika besok saja kita lanjut?"bujuk Bella yang enggan untuk pulang sekarang.
"Meeting jam berapa memangnya?"tanya Bella pelan. Ia masih ingin berkeliling dan mencoba beberapa permainan. Dari tadi hanya belanja saja.
"Pukul 06.00," jawab Ken.
Ahhh
Bella mendesah kasar. "Baiklah. Kita pulang," putus Bella. Tanggung jawab pekerjaannya begitu besar. Besok pagi akan diawali dengan meeting dengan perusahaan Nero Group.