This Is Our Love

This Is Our Love
Sadar



"Ken berhenti di depan ya. Ada yang ingin aku beli," ucap Bella pada Ken. 


Ken mengangguk. Ia merasakan suasana hati Bella tidak bagus. Sadari hotel tadi, raut wajah istrinya dingin dan baru saja buka suara. Sejujurnya ia penasaran dengan penyebab suasana hati Bella memburuk. Ia menerka pasti ada hubungannya dengan pembicaraan Bella dan Gibran tadi. Ken bertekad bertanya setelah suasana hati Bella sudah membaik. 


Ken menunggu di motor, melihat Bella yang duduk di bangku panjang sebuah warung gado-gado, menunggu pesanan yang sedang dibuat. Ken tersenyum, ia sekarang tahu bagaimana cara mengembalikan suasana hati Bella. Memberikan Bella makanan. 


"Sudah?"tanya Ken. Bella mengangguk, menunjukkan kantong plastik berwarna putih di mana di dalamnya ada dua bungkus gado-gado.


"Kita pulang atau mau mampir di suatu tempat?"tanya Ken lagi saat Bella sudah naik di atas motor.


"Pulang," jawab Bella singkat. Ken mengangguk dan melajukan motor kembali ke mansion keluarga Mahendra.


*


*


*


"Assalamualaikum," sapa Ken dan Bella bersamaan saat memasuki rumah. 


"Waalaikumsalam," jawab Silvia yang berada di ruang tengah bersama dengan Brian yang tengah membaca majalah. 


"Eh kalian sudah pulang? Sudah lama?"tanya Ken. Ia mengambil tempat sedang Bella langsung menuju dapur. 


"Baru sekitar dua jam yang lalu. Bagaimana reuninya?"tanya Silvia penasaran. 


"Ya lumayan. Tapi, hampir sama saja dengan reuni kebanyakan, memamerkan kehidupan masing-masing," sahut Ken dengan mengangguk kecil.


"SMA Abel dulu di mana?"tanya Silvia lagi. 


"Aku dan Abel satu alumni, hanya beda angkatan." Brian yang menjawab tanpa mengalihkan pandang dari majalah. Ia menyimak pembicaraan Ken dan Silvia dengan seksama.


Koor tanda mengerti menjadi sahutan. Ken juga baru ingat bahwa Brian dan Bella satu alumni SMA Bunga Bangsa. Brian dulunya senior Bella. 


"Eh itu artinya kau mengenal Abel sejak zaman SMA dong?"tanya Silvia, ia begitu antusias jika sudah membahas tentang Bella, Ken, terlebih Dylan. 


"Apa kau pikir satu sekolah itu saling kenal semua, Via?"tanya balik Brian. Ia masih tidak menatap lawan bicaranya. Bunga Bangsa begitu luas, ada banyak siswa di dalamnya. Terlebih dengan tipe Brian yang dingin. 


"Tapi, dengan statusmu … Mas kau pasti masuk most wanted sekolah kan? Dan Abel … dia itu siswa yang cerdas bahkan meriah beasiswa ke luar negeri. Setidaknya kalian saling mengenal nama dan rupa walau tidak pernah berkenalan, kan?" Brian mengangguk kecil membenarkan pemikiran istrinya itu. Satu sekolah namun hanya mengenal nama. Kadang kenal nama tidak kenal rupa, terkadang juga sebaliknya. Brian juga baru tahu dan ingat setelah melihat daftar riwayat hidup Bella di mana di dalamnya tercantum Bella menempuh pendidikan di mana saja. 


"Apa yang kalian obrolkan?" Bella datang dengan membawa dua buah piring berisi gado-gado. Disusul oleh pelayan yang membawa tiga piring dan diletakkan di atas meja. 


"Hanya soal kau dan kak Brian yang satu sekolah dulu," jawab Ken. 


Bella mengangguk, "aku ingat tentang itu."


"Ini, apa? Pecel?"tanya Silvia, menatap lima piring yang berada di atas meja. 


"Bukan. Ini gado-gado," jawab Bella. 


"Gado-gado? Terlihat sama saja dengan pecel. Apa bedanya?" Silvia menarik satu piring dan melihat apa saja isi piring itu. Brian menutup majalahnya, ia sepertinya tertarik namun hanya menatap datar makanan di meja itu. 


"Keduanya hanya memiliki kesamaan di bidang sayuran. Namun, lebih banyak di gado-gado. Gado-gado menggunakan selada, telur rebus, kentang rebus, dan beberapa sayuran mentah tanpa direbus. Perbedaan lainnya ada bumbu kacang. Kalau pecel kan cuma digiling lalu disiram air panas, kalau gado-gado, bumbunya itu pakai santan," terang Bella. 


"Hm ada aroma santannya …." Silvia mencicipi, "rasanya lebih kental dan kaya daripada bumbu pecel," lanjutnya setelah mencicipi. Melihat Silvia yang suka dengan gado-gado, Brian menarik satu piring dengan wajah datarnya. Ken dan Bella saling lirik melihat ekspresi Brian saat mencium aroma dan menguyah gado-gado bagiannya. Ia mengunyah lambat dan gerakan mata menilai.


"Ini enak," ucapnya singkat, lanjut makan dengan gayanya yang elegan.


"Kak Abel!" Panggilan itu berasal dari arah tangga. Dylan ke ruang tamu dengan berlari kecil. Ia langsung duduk lesehan di lantai dan menarik satu dari tiga piring yang belum disentuh karena Bella menunggu Dylan dan Ken menunggu Bella.


"Ini favoritku. Thank you, Kak!"ucap Dylan, menatap penuh minat gado-gado bagiannya.


"Ayo makan," ajak Bella. Dylan dan Ken mengangguk. Mereka menikmati makanan tanpa ada obrolan. 


Pelayan yang berada tak jauh dari sana, tersenyum lebar melihat kedekatan anggota keluarga majikannya. Hadirnya Bella membawa warna baru. Namun, sesaat kemudian wajahnya sedikit murung, "jika ada Tuan Muda Kedua pasti akan lebih ramai lagi," gumamnya. Tak bisa dipungkiri jika dirinya dan pelayan lainnya merindukan kehadiran El dan berharap Tuan Muda Kedua mereka itu cepat kembali. El adalah pria yang baik di mata para pelayan terlepas dari semua ulah buruk El di luaran sana. 


*


*


*


 


Sore harinya, Ken dan Bella menikmati suasana sore hari dari gazebo halaman samping di mana ada kolam ikan mas koi di bawahnya. Ikan mas dengan beberapa corak pada tubuhnya itu berkumpul untuk berebut makanan yang Ken dan Bella berikan. Kedua kaki keduanya menjulur ke bawah, menggantung di atas air. Cipratan air yang ditimbulkan dari gerakan ikan yang berebut, membasahi kaki dan celana bagian bawah menimbulkan suasana cerita yang kontrak dengan sore yang cerah.


Suasana hati Bella sudah membaik. Ia bahkan sudah tertawa lepas. Ken yang melihatnya tentu senang. Ia berniat untuk menanyakan apa yang dibicarakan Bella dan Gibran tadi.


"Aru …."


"Hm?" Bella menoleh pada Ken. 


"Boleh aku tahu apa yang kau dan pria itu bicarakan?"tanya Ken, wajahnya sedikit ragu jika Bella akan memberitahunya. Ekspresi Bella langsung berubah datar. Menatap lurus ke depan. 


"Belum saatnya, ya?"tanya Ken dengan meringis. Ken menerima apapun jawaban Bella. Walau ia akan merasa kecewa dan sedih jika Bella tidak memberitahunya sekarang. Namun, Ken tahu Bella pasti punya alasan untuk tidak memberitahunya dulu. Ken ikut menatap lurus ke depan. 


"Ken …." Bella memanggil pelan.


"I?"sahut Ken cepat.


"Apakah kau akan marah jika aku tidak terbuka soal apa saja yang aku hadapi padamu?"tanya Bella, lirih. Hatinya kembali gundah dan merasa merasa bersalah. Ken menoleh sekilas pada istrinya, semakin yakin jika ada yang Bella sembunyikan darinya. Ken menghembuskan nafas kasar. "Sejujurnya aku tidak marah," jawabnya. Bella langsung menatap wajah suaminya yang tetap menatap lurus ke depan. Pria itu menghela nafas sebelum melanjutkan jawabannya.


"Tapi, aku akan sedih dan kecewa," lanjutnya. 


"Kita sudah menikah. Dua raga yang menjadi satu jiwa. Sudah seharusnya saling terbuka, saling berbagi. Melewati kehidupan dengan tangan bergandengan. Walaupun mungkin aku tidak bisa membantu masalah yang kau hadapi, setidaknya kau sudah membagi keluh kesahmu padaku. Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama. Aku bisa mengerti alasanmu jika memendam sesuatu sendirian."


Ken menatap Bella. Tatapannya dalam dan penuh arti. 


"Kau sudah terbiasa mandiri. Menyelesaikan dan menghadapi masalah sendirian, aku yakin itu salah satu alasannya. Tapi, Aru. Itu sebelum kau menikah. Sekarang kau punya aku, suamimu," imbuhnya. Bella tersenyum tipis. Kegundahannya memudar. Ia ingin mengakhiri rasa bersalah ini walaupun tidak sepenuhnya. Apa yang Ken katakan memang benar. Ia sudah terbiasa untuk melakukan dan menyelesaikan apapun sendirian. 


Tangan Bella terukur, kembali menyentuh dan menjelajahi batang hidung Ken. Tangan Bella kemudian beralih menyentuh dan menepuk pelan pipi Ken sebanyak dua kali. "Akan aku katakan."


Ken mengembangkan senyumnya, "di sini?"tanya Ken.


"Di sini nyaman," jawab Bella. Kini ia memeluk lengan Ken. 


"Baiklah. Aku akan mendengarnya dengan baik," jawab Ken.


"Sebenarnya Gibran itu adalah ayah dari anak yang dikandung Nesya," ucap Bella, berbisik pada Ken. Mata Ken sontak membola. Ia tampak tidak percaya. 


"B-bagaimana bisa? Dan darimana kau tahu, Aru?"tanya Ken, ia bertanya dengan terbata karena belum bisa menguasai keterkejutan. 


Untuk jawaban pertanyaan pertama Bella menggeleng karena Nesya tidak menceritakan bagaimana caranya bisa melakukan perbuatan kotor hingga berujung pada kehamilan yang kini sudah gugur. 


"Dari Papa."


Ken mulai percaya. Informasi yang diberikan Papanya pasti akurat sebab jika tidak akurat, Surya tidak akan mengatakannya. Ia akan terus mencari sampai akurat barulah akan mengatakannya. Ken mengusap kasar wajahnya. 


"Lalu bagaimana ceritanya sekarang? Apa pria itu mau tanggung jawab pada Nesya? Jika bersedia apa Nesya mau? Lalu istrinya? Mau dimadu?" Ken malah frustasi sendiri. 


Bella menggeleng, "tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan lagi olehnya," jawab Bella.


"Maksudnya?"


"Anak itu telah gugur dan sekarang Nesya koma."


"Apa?!"


*


*


*


Keesokan paginya, Ken dan Bella ke rumah sakit untuk menjenguk Nesya. Kebetulan jadwal Bella sampai jam 10.00 nanti cukup longgar jadi bisa mencuri waktu mengunjungi Nesya. 


"Kau datang?" Pertanyaan itu Bella lontarkan pada seorang pria yang keluar dari ruang VIP 3, tempat Nesya berada.


"Aku harus meminta maaf secara langsung padanya. Saat dia sadar nanti aku juga akan kembali meminta maaf," jawab pria itu yang tak lain adalah Gibran.


"Tidak perlu. Lebih baik tidak usah bertemu lagi," balas Bella dingin. 


"Saya tahu Anda marah pada saya bahkan membenci saya. Namun, Nona … tolong jangan halangi saya untuk menunjukkan penyesalan secara langsung di depan adik Anda. Jika adik Anda tidak menolak, saya akan bertanggung jawab secara hukum. Jika enggan saya akan memberi kompensasi yang besar untuk Nesya. Tolong jangan buat saja terjebak dalam rasa bersalah berkepanjangan," ucap Gibran panjang lebar. Wajahnya mengharapkan agar Bella tidak menolak permintaannya.


"Tidak perlu. Simpan niat baik Anda. Masalahnya sudah selesai, tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan," tolak tegas Bella. 


Gibran mendesah kasar. Ia mengusap wajahnya frustasi. Rasa bersalah memenuhi relung hatinya. Terlebih saat melihat kondisi Nesya yang lemah dengan segala alat yang menempel di tubuh kurus Nesya sebagai penopang kehidupan. Rasa ingin bertanggung jawab semakin besar. Tapi, sepertinya itu sangat sulit karena Bella menolaknya mentah-mentah. 


"Okay!" Gibran menerima keputusan Bella. "Tapi, saya harap Anda ingin mendengar penjelasan saya," ucap Gibran.


"Baik!" Setelah menimang sesaat lagi menuntaskan pertanyaan yang belum ia dapati jawabannya, membuat Bella setuju. 


"Kalau begitu kalian bicaralah. Aku akan ke dalam," ujar Ken, masuk ke dalam ruang rawat Nesya.


Ken mematung sesaat melihat sosok wanita yang terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat yang menempel pada tubuhnya. Detak jantungnya masih lemah. Kulitnya pucat, pipinya tirus, tubuhnya begitu kurus dengan kepala yang diperban.


Ken melangkah dan kini berada di sisi ranjang Nesya. Sorot matanya begitu prihatin pada Nesya. 


"Assalamualaikum," sapa Ken lembut. "Hei! Kita bertemu lagi," tambah Ken. Ia memaksakan diri untuk tersenyum. Ia merasakan sakit Bella saat melihat kondisi Nesya. Bersikap pura-pura tidak terjadi apapun pastilah sangat berat dan Bella menutupinya dengan wajah datar.


"Bagaimana kabarmu? Apa mimpi panjangmu begitu indah hingga kau enggan bangun?"tanya Ken pelan.


"Cepatlah bangun. Kakakmu sangat sedih melihat kondisimu."


"Bangunlah. Kau kemarin ingin bertemu dan melihatku secara langsung bukan? Sekarang aku sudah di sini, di sampingmu. Namun, kalau malah begini."


"Hem … ada baiknya aku mengenalkan diri dulu. Aku Ken, kakak iparmu," ucap Ken. 


"Aku harap kau bisa menerimaku dengan baik." Mengingat kesan pertama Nesya padanya adalah pria yang angkuh dan sombong, Ken was-was jika Nesya malah tidak menyukainya. 


Ken memejamkan matanya berdoa agar Nesya cepat sadar. Ken tidak bisa melihat Bella terus bersedih karena mengkhawatirkan kondisi Nesya.


Errrggg 


Sebuah erangan pelan terdengar.


"Kau? Mengapa kau berada di sini?" Ken membuka matanya mendengar nada pelan yang lemah. 


Ken membulatkan matanya. Angin segar menerpa dirinya. Netra yang telah terpejam selama lebih dari satu pekan itu menatap dirinya penuh selidik. Walau lemah, Ken merasakan ketajaman tatakan itu.


"Kau sudah sadar? Ah syukurlah. Nanti akan aku jelaskan. Kau jangan bergerak atau memikirkan apapun dulu! Aku akan memanggil dokter!"


"Hei!" Panggilan lemah Nesya tentu didengar oleh Ken. 


"Uhhh apa yang terjadi?" Nesya memejamkan matanya merasakan pusing yang mendera.