
"Aku akui, awalnya aku terpaksa menikah dengan kakakmu karena tuntutan orang tua. Aku juga menyakiti hatinya di awal-awal pernikahan karena tetap berhubungan dengan mantan kekasihku. Namun, itu dulu. Sudah lewat dan berlalu. Kini aku sangat-sangat mencintai kakakmu. She is My Aru." Ken mengakhiri penjelasannya dengan tersenyum lembut, menatap Bella penuh arti. Bella membalas senyuman itu. Keduanya saling tatap di antara Nesya yang masih menelaah penjelasan kakak dan kakak iparmu itu.
"Itu artinya kalian berpisah karena kesadaran diri atau bagaimana?"tanya Nesya.
"Begitulah," jawab Ken.
"Bagaimana jika suatu saat dia kembali?" Nesya meminta kepastian. Ia sangat paham arti sebuah pernikahan bagi kakaknya entah itu awalnya didasari alasan selain cinta.
"Aku selamanya dengan Aru. Tidak akan berpaling."
"Kau dapat memegang ucapanmu itu?"
"Tentu!" Ken menjawab dengan mantap.
"Baikkah. Aku ingin berbicara berdua dengan kakakku," ucap Nesya yang mengartikan ia meminta Ken keluar.
Bella memberi isyarat untuk Ken keluar dulu. Ken mengangguk dan melangkah keluar.
"Ada apa hm?"tanya Bella lembut, mengusap pipi Nesya. Nesya mencembikkan bibirnya. Ia menatap protes Bella. Bella sudah menduganya.
"Kau ingin tahu mengapa aku menikah dengannya?" Nesya mengangguk pelan. Tadi hanya versi Ken. Nesya ingin versi Bella.
"Yang pertama karena takdir. Yang kedua, seperti yang kakak iparmu tadi katakan, karena kepentingan masing-masing," jawab Nesya. Tadi Ken hanya mengatakan bahwa mereka awalnya menikah karena kesepakatan namun tidak mengatakan kesepatakan apa itu.
Tentang Cia yang pergi pun, jika dikatakan mereka berpisah karena kesadaran diri masing-masing sepertinya kurang tepat karena awal mula Ken dan Cia berpisah adalah karena Cia yang pergi meninggalkan Ken. Setelah itu barulah Ken tersadar bahwa ia mencintai istrinya.
Tentang Ken yang tidak akan berpaling seandainya Cia kembali nanti pun, Bella belum mampu untuk memastikan iya atau tidak. Tapi, ya pasti, Bella tidak akan pernah mengizinkan dan memberiarkan Ken berpaling darinya. Miliknya sampai kapanpun akan menjadi miliknya!
"Kepentingan apa itu? Kesepatakan apa yang menjadi landasan Kakak menikah dengan pria yang usianya di bawah Kakak? Kakak menikah setelah sebulan kembali ke Jakarta. Artinya itu pasti sangat penting. Apa salah satunya karena aku?"
Nesya sadar betul, biaya pengobatannya sangat besar. Kondisinya membutuhkan biaya yang banyak.
"Jika aku mengatakan tidak kau pasti tidak percaya bukan? Baiklah akan kakak katakan tapi kau harus berjanji tidak akan menyalahkan dirimu karena alasan itu. Terlebih kakak bahagia menikah dengannya. Kakak sama sekali tidak menyesal," jawab Bella, terlebih dulu mewanti-wanti Nesya. Nesya mengangukan kepalanya menyetujui.
"Alasan yang pertama ini karena kasus yang menimpa keluarga kita." Nesya tertegun sesaat.
"Kakak menyelidikinya?"
"Kita tahu bagaimana Papa. Dan kebenarannya yang melakukan penggelapan pajak itu adalah sekretaris Papa," jelas Bella.
Nesya mengeryit, ia mengingat sosok sekretaris papanya. Nesya kemudian mengangguk ingat. Bella kembali menjelaskan dengan runtut alasannya. Memberi tahu semuanya. Tidak menundanya lagi termasuk soal dalang tersembunyi di balik insiden yang menimpa Nesya.
Nesya mendengarnya dengan perasaan haru dan geram sekaligus. Suasana hatinya sempat berdampak menyerang kesehatannya.
Dokter menangani hal itu dengan cepat dan kini Nesya tertidur akibat obat penenang yang diberikan oleh dokter. Dokter kembali menegaskan pada Bella agar ia tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat kondisi Nesya drop, seperti yang baru saja terjadi.
Bella menunduk dan meminta maaf. Ia menyesali keputusannya yang ingin cepat membuka semuanya pada Nesya agar beban hatinya, setidaknya hilang setengah. Rupanya keputusannya terlalu cepat dan ia gegabah.
Bella menatap Nesya sendu. Bella memejamkan matanya, "maaf."
Ken masuk setelah dokter keluar. Tanpa bertanya ia tahu apa yang terjadi barusan. Ia membawa Bella dalam dekapannya.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 01.00 namun Bella tidak bisa tidur. Matanya menolak untuk tidur. Ia paksa pun tidak bisa, matanya terasa sakit dan kepalanya pusing. Apa saja yang terjadi dari pagi sampai sebelum ia dan Ken kembali ke mansion keluarga Mahendra berputar terus di ingatannya.
Hah
Bella menghela nafas kasar. Dilihatnya Ken yang terlelap dengan memeluk dirinya. Bella kemudian melepaskan diri dari Ken. Ia bangkit dari ranjang dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Ken. Bella kemudian memakai hijabnya.
Diraihnya jaket yang terletak di dekat pintu kemudian keluar dari kamar.
Bella melangkah menuju rooftop. Ternyata di sana ia dapati lagi Brian yang tengah menyendiri dengan mengisap rokok dan sebotong wine di sampingnya.
Brian menoleh saat menyadari seseorang duduk di sebelahnya.
Segera ia mematikan dan membuang rokok yang ia hisap. Beralih meminum winenya. "Tidak bisa tidur?"tanya Brian basa-basi setelah menyeka bibirnya.
Bella tidak menjawab. Ia menoleh pada Brian, sesaat kemudian tatapannya tertuju pada botol wine yang Brian pegang. Brian menyadari hal itu. "Sepertinya masalah yang kau hadapi sangat besar sampai berniat melupakan masalahmu dengan ini," ucap Brian yang tidak ditanggapi oleh Bella. Tatapan Bella tetap pada botol wine yang digoyangkan oleh Brian. Brian tersenyum simpul.
"Kau tidak boleh meminumnya."
"Kenapa?"
"Kau mau minum ini?" Brian terkejut sesaat. Ekspresinya kembali datar.
"Bukankah kau tidak boleh minum alkohol?"
Bella memalingkan wajahnya, "tidak bisakah barang sedikit?"
"Tidak!" Brian tidak sealim dan sepatuh Bella dalam urusan keyakinan. Alkohol walau dalam porsi wajar sudah menjadi bagian darinya. Selain itu, Brian juga punya kapasitas minum yang baik. Dan Bella, ia tidak ingin Bella menyentuh minuman haram itu.
Bella mencebik kesal mendengarnya, "sedikit saja?" Bella kembali meminta yang disambut gelengan kepala Brian.
"Lebih baik ceritakan saja masalahmu, jangan coba dilupakan dengan minum. Apa ini ada kaitannya dengan adikmu?"
Pertanyaan itu kembali membuat Bella menoleh pada Brian. Wajah Brian tetap datar. Dan Bella telah menguasai keterkejutannya.
Tidak mengherankan jika Brian tahu tentang Nesya. Pasti Brian sudah mencari tahu informasi seputar dirinya dan keluarga saat resepsi pernikahannya lalu, saat Surya mengatakan bahwa ia akan menjadi Wakil Presdir Mahendra Group.
"Syukurlah. Lalu kenapa kau tidak bahagia malah ingin minum ini?" Brian mengangkat botol wine di tangannya.
"Apa manusia hanya akan menghadapi satu masalah saja?"tanya balik Bella.
Brian mendengus pelan, ia memalingkan wajahnya menatap langit. "Ada yang iya ada yang tidak. Kadang seseorang menghadapi masalah bertumpuk. Apa kau masuk di dalamnya?"
"Menurutmu?"
"Yes." Brian kembali minum dan Bella memperhatikannya. Dari matanya terlihat jelas Bella juga ingin minum. Bella mengulum senyumnya.
"Apa kau merasa tenang jika minum itu?"
"Begitulah. Tapi Abel minum, melupakan masalah bukan solusi dari masalah. Kau wanita baik-baik, tahu ajaran agama, lebih baik kau shalat malam saja," saran Brian.
"Kau tahu?"
"Bunda pernah menyinggungnya beberapa kali. Belum lama ini, ku lihat Via melakukannya. Jadi aku rasa itu lebih baik untukmu. Daripada kau minum mendapat dosa lebih baik ibadah menambah pahala," jawab Brian.
Bella terkesiap sesaat mendengarnya. Tak lama ia berdecak. Brian mengeryit, tidak tahu arti decakan itu.
"Hehehe Brian … kau tidak sedingin yang terlihat. Kau ternyata sosok yang hangat dan perhatian. Pantas Silvia begitu mencintaimu."
Brian menarik senyum tipis. "Benarkah?"
"Sejauh ini sih iya. Ah jika kau tahu minum itu dosa mengapa tetap kau lakukan? Dan sebaiknya kau ikuti kebiasan baru istrimu," jawab Bella. Ia sudah bisa tersenyum walau tipis.
"Sudah kebiasaan. Sulit untuk dirubah."
"Okay. Tapi itu bukan alasan," sergah Bella.
Brian tidak menjawab. Ia mendongak saat Bella berdiri. "Aku kembali ke kamar," pamit Bella.
"Tidak ingin ini lagi?"
"Ucapanmu tadi lebih baik."
"All right. Sudah ku duga."
Bella tersenyum. Ia melangkah pergi sedangkan Brian kembali menenggak winenya.
"Ah Brian." Bella menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Ken. Brian menoleh dan mengangkat satu alisnya saat telunjuk Bella tertuju pada botol winenya.
"Sebaiknya mulai belajar meninggalkan kebiasaan minum itu."
"Ah itu … sepertinya …."
"Jika tidak dicoba bagaimana bisa tahu kau bisa atau tidak?"sela Bella cepat. Brian terdiam. Dalam hatinya membenarkan ucapan Bella.
"Selain itu … Brian aku harap kau tidak menjadi gelap mata hanya karena tahta dunia. Jangan karena suatu posisi, kau menghancurkan dirimu sendiri. Di dunia ini banyak orang cerdas namun bodoh. Aku harap kau tidak menjadi salah satu dari mereka."
"Posisimu sudah tinggi, mengenai siapa yang akan menjadi pewaris kelak, biarlah itu menjadi keputusan Papa Surya, karena dia adalah orang yang adil." Seusai mengatakan hal itu, Bella kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Brian mencerna ucapan Bella. Beberapa saat kemudian ia tersenyum.
Sebenarnya memang Ken yang lebih pantas menjadi pewaris. Brian kembali minum. Tinggal seperempat lagi. Ia melempar botol winenya ke tanah.
Well … aku memang akan berkompetisi dengan jalurnya.
*
*
*
Bella membuang nafas sebelum membangunkan Ken. Anggota tubuhnya sudah basah dengan air wudhu.
"Ken …." Bella menggoyahkan lengan Ken. Ken hanya bergumam, malah meraih dan menangkap tangan Bella lalu menarik dalam peluknya.
"Hei ayo bangun," ucap Bella lagi. Ia tidak terganggu dengannya malah senang. Namun, bukan waktunya untuk berpelukan.
"Hmm, sebentar lagi." Ken menjawab.
"Waktunya nanti habis."
"Baiklah." Ken melepas pelukannya. Ia membuka mata dan langsung duduk.
"Wajahmu sudah sangat segar," ucap Ken.
"Cepatlah wudhu," sahut Bella. Ia berdiri dan beranjak untuk menggelar sajadah dan memakai mukenahnya. Ken bergegas menuju kamar mandi.
Ia keluar dengan wajah yang segar dan berseri. Memakai sarung dan kopiahnya. Ken menjadi iman. Mulai mengangkat takbiratul ikram. Suasana begitu syahdu dan khusyuk. Suara Ken begitu merdu membacakan surat al-Fatihah dan ayat suci al-Qur'an.
Diakhiri dengan salam dan memanjatkan doa, Bella mencium punggung tangan Ken dan Ken mencium kening Bella.
"Bagaimana? Sudah lebih tenang?"tanya Ken sembari melepas kain sarungnya. Bella mengangguk.
Ken yang telah duduk di ujung ranjang menarik Bella dalam pangkuannya. "Bagaimana jika kita olahraga, supaya hati lebih tenang lagi?"tawar Ken.
"Olahraga? Semalam ini?"
"Yang ini tidak mengenal waktu, Aru." Sejurus kemudian, Ken mendaratkan ciuman pada bibir manis istrinya.