
Malamnya, Bella, Ken, Brian, Silvia, dan Calia pergi ke rumah sakit. Mereka berangkat setelah Ken dan Bella selesai meeting online. Calia berangkat bersama dengan Brian dan Silvia. Malam ini, Brian menyetir sendiri. Calia duduk di belakang dengan menjaga rantang yang berisi ikan nila panggang hasil pancingan Bella tadi.
Calia sendiri sudah pindah ke paviliun tadi sore. Besok rencananya baru membuat jadwal untuk terapi Bella setelah berdiskusi dengan dokter terapi satu lagi serta menyesuaikan jadwal dengan pekerjaan Bella.
Bella sudah memberitahu Calia bahwa ia akan menggunakan dua dokter. Awalnya Calia tidak senang. Ia berpikir Bella tidak percaya dengan kemampuannya. Namun, setelah penjelasan Bella lebih lanjut, Calia setuju. Menggunakan dua metode terapi diharapkan dapat mempercepat kesembuhan Bella dari trauma.
Calia juga sudah tidak canggung lagi dengan Brian. Mengenai sikap datar Brian, Calia memahaminya. Ia seorang dokter yang kita mempelajari dan menempuh pendidikan psikologis dan gerak tubuh.
Kakak iparmu itu hanya datar di muka padahal di dalam hatinya punya beragam ekspresi. Tapi, apa wajahnya itu memang kaku hingga hanya bisa menarik senyum tipis?
Istrinya begitu ramah, energik tapi suaminya ckckck! Kakak iparmu itu lebih parah darimu dalam segi ekspresi!
Dalam boncengan Ken, Bella tersenyum sendiri mengingat ucapan Calia itu.
Brian hanya tidak pandai mengekspresikannya.
Louis? Ku dengar ia tidak menjalin hubungan asmara dengan seseorang. Yang ku tahu dari Papa, ia sekarang jadi gila kerja.
Wajah Bella berubah datar ucapan Calia saat menanyakan tentang Louis. Jika bertanya pada keluarga Kalendra, mereka hanya menjawab Louis baik-baik saja. Begitu juga saat menghubungi Louis ataupun Carl, sekretaris Louis.
Kesamaan jawaban itu justru membuat Bella gusar akan keadaan Louis. Papa Calia adalah dokter pribadi keluarga Arsen. Kakak pertamanya direncanakan akan menggantikan papanya menjadi dokter pribadi keluarga Kalendra beberapa bulan lagi.
Tapi, apa Louis dan Teresa menjalin hubungan? Saat melewati gedung Kalendra Group, aku beberapa kali melihat mereka satu mobil. Dalam acara pertemuan belakangan ini, Teresa juga mendampingi Louis. Teresa bukan penikung kan?
Penikung apanya? Dunia tahu wanita mana siapa sih yang tak terpesona, menyukai, dan mencintai seorang Louis Kalendra? Tidak ada bukan? Dan untuk Teresa, dia adalah pilihan yang terbaik untuk Louis. Terlebih restu keluarga sudah dikantongi. Kita tinggal menunggu undangannya saja. Ah ya, satu lagi aku dan Louis itu satu darah, kami ternyata sepupu. Dan aku, aku sangat mendukung Teresa dengan Louis bersatu.
Calia terbelalak dengan penuturan Bella saat berbincang santai dengannya seusai Calia pindah ke paviliun. Ia tidak percaya sebelum Bella menuturkan buktinya.
Calia berdecak. Lidahnya keluh, hanya menggelengkan kepalanya kecil sebagai tanda Calia takjub dengan fakta yang terbongkar.
Ya ku lihat saat itu, Teresa juga proaktif pada Louis. Rumor yang tersebar, mereka dikabarkan sudah melakukan hal 'itu'. Lepas dari keterkejutan dan ketidakpercayaan Calia atas fakta bahwa Bella adalah bagian dari keluarga Kalendra, ia kembali membahas tentang Teresa dan Louis.
Impossible, Lia!! Itu hanya rumor tidak berdasar. Walau Teresa sangat mencintai Louis. Tapi, Teresa tidak akan menyerahkan dirinya sebelum tali suci mengikatnya dengan Louis. Dan Louis, dia bukan lagi pr*a br*engsek yang gemar bermain wanita. Louis sangat menjaga kehormatan seseorang yang ia pedulikan.
I know. Itu hanya rumor, Abel! Aku tidak percaya dengan itu. Aku berharap Teresa dan Louis benar-benar berjodoh!
Bella kembali mengembangkan senyumnya. Ia mengeratkan pelukannya pada Ken yang membuat suaminya itu terkesiap sesaat. Ken tidak merasakan kegusaran Bella. Ia lantas tersenyum dan menyentuh tangan Bella sekilas dan fokus mengemudi.
"Jani!"panggil Bella yang mendapati Anjani sudah menunggu bersama dengan Arka di lobby rumah sakit.
"Abel!"balas Bella melambai pada Bella. Bella turun dari motor, setelah melepaskan helmnya, ia menghampiri Anjani. Kedua wanita itu lalu berpelukan.
"Hai, Boy!"sapa Ken pada Arka.
"Uncle Ken," sahut Arka dengan menaikan kedua tangannya meminta pelukan atau gendongan. Arka sudah cukup dekat dengan Ken.
"Uhh Aka beberapa hari tidak bertemu kau sudah sangat berat," keluh Ken saat menggendong Arka.
Arka mencembik sesaat, "namanya juga hidup bahagia, Uncle," sahut Arka kemudian.
Ken mengerjap sekali, tak lama ia tertawa renyah, "pandainya kau menjawab."
"Anak Mama Jani gitu loh!" Arka tersenyum lebar, menatap Anjani dan Bella yang menatap geli keduanya.
Tak berselang lama kemudian rombongan Brian tiba dan parkir di sebelah mobil Anjani yang kebetulan kosong. "Tuan Muda Brian, Nona Muda Via," sapa Anjani pada saat pasangan itu turun dari mobil.
"Jangan terlalu formal, Kak. Sekarang kita di luar lingkar kerja. Lagi kita ini keluarga, panggil nama saja," sergah Silvia. Ia melirik Brian yang tidak bereaksi apapun.
Pria itu tetap dengan wajah datarnya. Tampaknya Pria Itu tidak masalah dengan ucapan Silvia itu. Anjani melirik Bella, meminta pendapatnya.
"Ini tidak formal. Santai saja." Anjani mengangguk, "okay."
"Abel aroma ikanmu ini membuatku lapar lagi!" Calia keluar dengan wajah ditekuk. Ia mengaduh dalam bahasa Jerman. Anjani menaikkan alisnya.
"Bukankah tadi kau sudah makan?"sahut Bella dengan bahasa Jerman pula.
"Gara-gara ini aku lapar lagi," rengeknya menunjuk rantang di tangan dengan sedikit menghentakkan kakinya.
"Ck! Tidak ada lagi bagianmu! Ini untuk adik-adikku. Calia kau tak ingin berebut dengan orang sakit dan anak kecil, bukan?" Bella menatap tajam Calia.
"Hhng!"sahut Calia, ia mendengus lalu melangkah masuk ke rumah sakit lebih dulu.
"Eh Calia! Kau tahu ruangannya?"tanya Silvia setengah berteriak.
"Aku bisa bertanya!"sahut Calia. Silvia segera menarik tangan Brian mengejar langkah Calia. Brian yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu tak kuasa menolak dan hanya bisa pasrah.
"Abel itu tadi siapa?"
"My friend from Jerman," jawab Bella.
"Aru akan menjalani terapi untuk traumanya. Itu tadi adalah dokter hipnoterapi," timpal Ken.
"Sungguh?! Abel kau berubah pikiran setelah sekian tahun?!"pekik Anjani senang.
"Tentu saja! Itu semua demi keluarga kecil kami," sahut Ken yang sedari tadi bergandengan tangan dengan Bella.
"Keluarga kecil? Abel kau sudah …." Tatapan Anjani mengarah pada perut Bella. Bella mengerti maksudnya, "akan segera hadir," sela Bella.
*
*
*
Calia benar-benar sudah menjadi anak kecil saat bertemu dengan Dylan. Wanita berusia 28 tahun itu tak segan berebut makanan dengan Dylan yang sejatinya berusia 23 tahun namun berjiwa 13 tahun. Hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Bella, Ken, Brian, Silvia, Anjani, Nesya, dan Arka yang menjadi wasit lomba makan antara Dylan dan Calia.
Di atas meja terdapat beberapa menu yang beberapa dibeli oleh Brian di jalan. Yang menang akan mendapat hadiah ikan nila panggang. Hadiah yang receh namun suasana yang begitu meriah dan terdapat sedikit ketegangan. Pencinta makan bertemu dengan pencinta makan, ini lah hasilnya.
Dan ternyata yang menang adalah Calia. Calia berseru senang dan langsung menarik ikan nila panggang yang diletakkan di tengah meja dengan senyum penuh kepuasan.
Dylan menunjukkan wajah masam. Hanya kalau beberapa detik saja, hadiah yang diidamkan berada dalam genggam Calia.
"Dasar jahat! Tak tahu malu!"ketus Dylan.
"Heh?"
"Anak kecil? Tante? Hei kau itu sudah dewasa mengapa bertingkah seperti remaja labil?!"
"Kau yang kekanak-kanakan!"
Dylan dan Calia bertatapan tajam. Keduanya saling beradu mata melotot. Hingga jarak di antara keduanya semakin dekat.
"Sudah-sudah, Dylan ayo sini. Kita bagi dua," ujar Nesya mencairkan suasana hati Dylan yang memburuk. Ia juga merasa tak nyaman dengan posisi Dylan dan Calia yang dari tempatnya terlihat seperti posisi yang intens.
"Sungguh?" Lihatlah cepatnya Dylan menoleh pada Nesya. Nesya mengangguk.
Dylan secepat kilat sudah berpindah ke sisi Nesya. Calia mengerjap, "dia ini kena penyakit, ya?"tanya Calia menunjuk Dylan dengan tatapan pada Bella.
"Amnesia Disosiatif. Harap maklum."
"Ah?" Ada gurat menyesal di wajah Calia. Ia lalu bangkit dengan membawa piring berisi ikan nila panggang dan meletakkannya di atas nakas.
"Anak kecil butuh banyak gizi agar bisa tumbuh dengan baik. Aku sudah kenyang, itu untukmu saja!"ucap Calia lalu melangkah menuju kamar mandi.
*
*
*
Anggara mengerjap melihat dekorasi pernikahan dan resepsinya dengan Azzura yang berada di ballroom Aksara Hotel, hotel keluarga Mahendra. Nuansa disney yang mengusung tema princes, itu lah dekorasinya.
Para pelayan mengenakan pakaian bak pelayan kerajaan. Panitia pun begitu juga. Dan para tamu wajib mengenakan pakaian khas menghadiri acara kerajaan disney pula.
Clara dan Bayu yang menyerahkan urusan pernikahan pada keluarga calon mempelai wanita saling tatap, mereka sungguh tidak menduga hal ini.
"Kau benar-benar menikahi bocah!"celetuk Angkasa yang bertugas mendorong kursi roda Cia.
Cia mengusap lengan Anggara, "anggaplah dirimu pangeran dalam dunia fantasi. Ini unik, jangan merasa infill," ujar Cia.
"Aku sudah menduganya. Namun, tidak menyangka akan terjadi." Anggara menguatkan hatinya. Ia mengembangkan senyumnya, "aku kuat."
"Anakku, maafkan kami." Sekali lagi, Clara dan Bayu meminta maaf pada Anggara. Mata keduanya begitu merasa bersalah. Mereka mengira Anggara pura-pura kuat.
"Jangan menyalahkan diri kalian lagi. Ayo masuk. Aku ingin bertanya pada panitia apakah aku harus ganti baju atau tidak."
"Tentu saja tidak, Angga! Baju ini kan khusus untuk akad, konsep princesnya baru untuk resepsi," ujar Cia.
"Wih benar-benar jadi pangeran sehari," celetuk Angkasa.
"Loe mau gantiin gue?"tanya Anggara tiba-tiba.
Angkasa terdiam dengan pertanyaan kakak kembarnya itu. "Kalau loe mau pun gue nggak bakal mau!"
"Hah?" Angkasa terkesiap dan mendapati Anggara sudah melangkah pergi lebih dulu.
"Mas anak kita nggak terganggu, kan?"tanya Clara cemas.
"Angga sudah dewasa. Kita berdoa saja agar dia mampu melewati semua ini," jawab Bayu.
"Ayo," ajak Bayu kemudian.
*
*
*
Anggara merasa sangat gugup mendekati detik-detik akad nikah. Tangannya terasa sangat dingin dan gemetar. Diedarkannya pandang dan melihat tamu undangan yang datang untuk menyaksikan akad sudah banyak. Mereka mengenakan pakaian ala kerajaan fantasi Eropa. Dari tempatnya, ia mendengar bisik-bisik tentang pernikahannya dan Azzura yang sempat menggemparkan lingkar bisnis ibu kota.
"Tuan Muda Anggara, silakan jabat tangan saya," titah Tuan Adhitama. Selesai akad barulah pengantin wanita akan keluar dan duduk di samping Anggara.
"Ah?!" Anggara terkejut sendiri. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Tuan Adhimata yang akan menjadi mertuanya menatap dirinya begitu tajam. Dengan gemetar, Anggara mengulurkan tangan menjabat tangan Tuan Adhitama. Saat berhasil berjabat tangan, Anggara menelan ludah gugup.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Saya nikahkah dan kawinkan engkau, Anggara Utomo dengan putriku, Azzura Adhitama dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!"ucap lantang Tuan Adhitama yang menikahkan putrinya secara langsung.
"Saya terima nikah dan kawinnya putri bapak dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"jawab Anggara lantang dalam sekali tarikan nafas.
Tuan Adhitama mengembangkan senyumnya. "Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!" Koor menjawab pertanyaan penghulu.
"Al-hamdu lillahi rabbil 'alamin." Mereka kemudian memanjatkan doa sebelum akhirnya mempelai wanita dipersilakan keluar dan duduk di samping Anggara. Suasana berubah hening kala suara langkah kaki memasuki ruang akad.
Sosok yang begitu cantik dalam balutan gaun yang menyeret di lantai, wajah bulat dengan mata indah lengkap dengan bibir tipis kemerahan. Hijab menutupi mahkota, sosok wanita dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading yang senada dengan pakaian Anggara berjalan dengan senyum merekah, diampit oleh sang ibu.
Anggara terpesona. Benar-benar tak meleset Bella mengatakan Azzura bak bidadari. Apalagi saat matanya yang berbola mata berwarna hazel mengerjap, Anggara semakin tak bisa menahan rasa gugupnya saat Azzura menatap dirinya.
"Zura Sayang, ayo cium punggung tangan suamimu," ucap Nyonya Adhitama.
Mendengar itu, Anggara mengulurkan tangannya. Azzura menerimanya. Getaran aneh, seakan ada sengatan listrik terjadi pada Anggara saat bibir Azzura menyentuh punggung tangannya.
"Nak Angga, ayo cium kening isterimu," tutur Penghulu. Dengan perasaan gugup, senang, Anggara memajukan wajahnya. Matanya terpejam dan setetes air mata keluar dari sudut matanya saat bibirnya menyentuh dahi Azzura.
"Cincin." Suaranya begitu lembut dan dalam. Azzura memajukan tangannya.
"Ah!"
Anggara lalu memasangkan cincin pada jari manis Azzura. "Ma ini sangat cantik!"ucap Azzura memandangi jarinya manisnya.
"Benar. Itu sangat cantik. Sekarang gantian Zura pasang cincin di jari manis Pangeran tampan Zura." Azzura mengangguk. Ia begitu riang menyematkan cincin pada jari manis Anggara.
"Pangeran Zura sangat tampan, Ma," puji Azzura tanpa rasa canggung.
Anggara tersenyum, "Putriku juga sangat cantik," balasnya yang membuat Azzura tersipu.
Hidup ini begitu berwarna, sudah takdirku begini untuk apa aku merasa sedih? Azzura, tak masalah jika kau tidak sempurna secara batin. Aku akan belajar untuk mencintai dirimu. Ah sepertinya aku sudah jatuh cinta saat pandangan pertama tadi.