This Is Our Love

This Is Our Love
Hukuman (2)



"I know dan I understand. Bantuan dan doamu adalah yang terpenting, Abel."


"Of course. Yang terbaik untukmu, Calia. One more again, congratulations," ucap Bella. 


"Thanks, Abel," jawab Calia. "Hm …  apa urusanmu di LA sudah selesai?"tanya Calia ingin tahu. 


"Malam ini aku akan kembali ke Indonesia," jawab Bella yang mengartikan bahwa urusannya telah tuntas. 


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya. Hm … kalau begitu, aku tutup dulu ya. Kita lanjut nanti malam lagi," pamit Calia .


"Yakin nanti malam bisa telponan?"goda Bella. 


"Eh? Ah … itu … ah memangnya kenapa tidak bisa? Sudah ya, aku tutup. Dah, Abel!"


 Panggilan berakhir. Bella terkekeh geli. Ia yakin Calia di sana wajah tengah memerah.


 Ya, jika normalnya, nanti malam adalah malam pengantin Evan dan Calia. Mengenai apakah nanti malam mereka melakukannya atau tidak, itu belum bisa dipastikan, mengingat mereka termasuk nikah kilat. Ya walaupun saling mengenal namun, belum terlalu mendalam, bukan?


"Ada kabar bagus apa, Aru?"tanya Ken. Ia tidak mengerti bahasa Jerman. Namun, tadi Bella berbincang dengan memadukan dia bahasa, inggris dan jerman. 


"Calia akan menikah dengan Evan," jawab Bella santai.


"Really? Secepat itu?" Ken terkesiap. Begitu juga dengan Brian dan Silvia. Fajar menunjukkan wajah bingungnya. 


"Jika sudah sama-sama yakin dan mendapat restu, untuk apa mengundur-undur lagi?"tanya balik Bella. 


"Ah … itu benar. Keyakinan itu yang sulit dicapai." Brian membenarkan. 


"Nona, waktunya berangkat." Pak Adam kembali mengingatkan. Bella mengangguk dan segera melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamar diikuti oleh Ken. Brian yang juga akan ikut ke pengadilan, juga beranjak ke kamar untuk bersiap. Silvia tetap di rumah menemani Fajar.


*


*


*


Bella turun diikuti Ken dan Brian, juga Tuan Adam. Mereka berempat menatap gedung pengadilan yang berada tepat di depan mereka. Di sana sudah terdapat banyak wartawan, juga dijaga oleh petugas keamanan. Karena tahu akan hal itu, oleh karenanya mereka berempat memakai masker. 


Dari tempat mereka berdiri menuju pintu masuk pengadilan, ada sepuluh anak tangga yang harus dilalui. "Nona, sidang akan segera dimulai," ucap Tuan Adam. Bella mengangguk. Dengan bergandengan tangan, Bella dan Ken melangkah tegas memasuki gedung pengadilan tinggi itu. Brian dan Tuan Adam berjalan berdampingan. 


Kamera langsung menyorot keempatnya begitu melangkah menaiki satu demi satu anak tangga. Wartawan yang sensitif dan sudah menelusuri siapa yang memasukkan Marco ke penjara, langsung mengerubungi mereka.


Wartawan meminta salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu akan kasus tersebut. Setibanya di anak tangga terakhir, Bella menghentikan langkahnya dan berbalik. 


Bella membuka kacamatanya. Namun, tidak membuka maskernya. 


"Setiap perbuatan, baik jahat atau baik, baik besar atau kecil, akan mendapatkan balasan yang setimpal!"ucap Bella yang membuat para wartawan itu saling pandang. Ya, itu memang benar. 


Setelahnya, Bella kembali memakai kacamatanya, dan kembali melangkah memasuki gedung pengadilan. Di dalam, mereka langsung diarahkan ke ruang sidang. 


Di ruang sidang, Marco sudah duduk di kursi sebagai tersangka. Marco yang lebih dulu menjalani persidangan baru nantinya Aldric. Marco tidak bisa menghindar atau mengelak dari semua tuduhan yang ditujukan padanya dan ia pada akhirnya membenarkan semua tuduhan itu. 


Bukti-bukti yang Bella berikan, ditambah dengan pengacara yang handal dan merupakan pengacara kepercayaan Tuan Adam, terlalu konkret hingga tidak bisa dipertanyakan lagi. 


Di satu sisi adalah jaksa penuntut. Di sisi meja satu lagi adalah pengacara pembela untuk Marco. Marco memang tidak bisa lepas dari kasus ini. Namun, setidaknya keluarga berharap ada keringanan hukuman. 


Di sisi kursi untuk orang yang akan mengikuti sidang, di sana sudah ada keluarga Nero yang saat bertatapan dengan Bella dan rombongan, tidak berkata apapun. Mereka tetap diam. 


Bella dan lainnya kemudian mengambil tempat duduk, di baris kursi berlawanan dengan keluarga Nero. 


Seakan sudah ada kode, Bella, Ken, dan Brian melepas dan menyimpan kacamata mereka. Sedangkan Tuan Adam yang menderita rabun tentu tetap memakai kacamatanya. 


Tak lama setelah mereka Bella dan rombongan memasuki ruang sidang, hakim memasuki ruang sidang. Mereka berdiri untuk menyangkut dan sebagai bentuk hormat pada hakim. Ya begitulah kebiasaan yang sudah menjadi sebuah aturan. 


Setelahnya, pembacaan dakwaan dibacakan. Bella mendengarkan dengan serius apa yang dipersidangkan. Brian menyilangkan kakinya. Mengamati Marco yang sama sekali tidak menunjukkan bantahan atau sanggahan di wajahnya. Ia diam, menunduk. Ken melirik keluarga yang harap-harap cemas saat hakim mulai membacakan putusan. Bella menunggu, menunggu putusan apa yang hakim berikan untuk Marco. Hukuman apa yang akan dijatuhi kepadanya?


"Terdakwa diharapkan untuk berdiri." Marco menuruti perintah itu.


"Setelah mendengar penyataan jaksa penuntut dan pengacara pembela terdakwa, pengadilan memutuskan, erdasarkan bukti yang sudah dipaparkan dan pengakuan terdakwa, pengadilan menetapkan bahwa Saudara Marco bersalah atas kejahatan menghilangkan nyawa saudara …. Dan menyebabkan kerugian korban jiwa serta harta dan benda. Maka dengan ini pengadilan menjatuhkan hukuman mati pada saudara Marco dan denda sebesar 1 juta dollar!! Dendam paling lama diserahkan besok pagi, pukul 10.00!"


Tok.


Tok.


Tok.


Keluarga Nero terperanjat. Mereka tercengang dengan keputusan sidang. Marco juga membelalakan matanya. Hukuman mati dan denda satu juta dollar?! 


Marco kemudian mengerjap. Ia lantas memalingkan wajahnya melihat ke arah keluarganya. Menantu dan serta cucu dan cucu menantunya tampak begitu shock. 


Marco tersenyum kecut. Sorot matanya memancarkan sejuta maaf. Karena kesalahannya, karena kelakuannya, keturunannya turut menanggung dampak. 


Satu juta dollar, itu senilai dengan 13 milyar rupiah bahkan lebih. Jika dulu, uang sebesar itu, sangat mudah untuk mereka keluarkan. Namun, saat itu, dengan kondisi keluarga Nero yang hanya mempunyai sisa harta dari hasil penjualan saham, dan dengan ultimatum dari Bella akan mereka yang diblacklist dari lingkaran bisnis, tentu itu jumlah sangat besar. Keuangan mereka akan berkurang dratis. 


Marco memejamkan matanya, seakan memberi ucapan maaf lagi, dan penyesalan yang terdalam. Tak lama setelah putusan dibacakan, polisi membawa Marco meninggalkan ruang sidang diikuti jeritan frustasi dari keluarga Nero. 


Hukuman mati dan itu akan dilangsungkan besok pagi. Artinya Bella akan menunda kepulangannya ke Indonesia. Otomatis Ken juga ikut menunda kepulangannya. Sedangkan Brian, ia tetap pada jadwal. Nanti malam, Brian, Silvia, dan Fajar akan kembali ke Indonesia dengan menggunakan pesawat pribadi keluarga Mahendra. 


Sedangkan besok, Bella dan Ken akan kembali dengan menggunakan pesawat pribadi keluarga Kalendra yang tetap stay di bandara Internasional Los Angeles. 


Setelah selesai sidang untuk Marco, para hakim istirahat sebelum nanti dilanjutkan dengan sidang untuk menentukan hukuman untuk Aldric.


Menunggu hal itu, Bella tidak meninggalkan ruang sidang. Begitu juga dengan keluarga Nero. "Nona … ada puas dengan hukuman yang dijatuhkan?"tanya Tuan Adam.


"Jika aku menuruti keinginan hatiku, aku katakan aku tidak puas!" 


Tuan Adam terhenyak mendengar jawaban Bella yang dingin. 


"Namun, imanku menghalangi aku bertindak demikian." 


Jika ditanya, hukuman apa yang Bella inginkan untuk Marco adalah Bella ingin Marco merasakan ingin atau memohon untuk mati namun tidak bisa. 


Namun, jika ia bertindak demikian, apa bedanya ia dengan Marco? 


"Rasa marahku sudah memudar. Nama keluarga Chandra juga sudah bersih. Semua sudah mendapati titik terang. Aku cukup puas dengan keputusan itu!" Bella menghela nafas kasar. 


"Jangan terbelenggu dan terjerumus dalam dendam berkepanjangan, Aru. Mereka yang bersalah sudah mendapat balasannya. Maka, sudahi dendammu itu, Aru," ujar Ken. 


"Ya … aku mengerti," sahut Bella dengan memeluk Ken. Ia memejamkan matanya. 


Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, aku sudah membalas pelaku yang menyebabkan keluarga kita jatuh. Aku harap, kalian bisa setenang-tenangnya di sana, gumam Bella.


Brian berdesikap tangan. Matanya terpejam dengan telinga mendengarkan ungkapan frustasi keluarga Nero.


Bibirnya melengkungkan senyum. Janganlah berbuat kejahatan karena dampaknya bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga terhadap orang sekitar. 


Setiap kebajikan dan keburukan, akan mendapat balasan. 


Sekitar empat puluh lima menit kemudian, sidang kembali dimulai. Sidang berjalan dengan lancar. Jika Marco menunggu putusannya dengan wajah pasrah, maka Aldric lebih tampak tegar. 


Keluarga Nero yang sudah lemas tak berdaya, mendengarkan dengan raut wajah penuh kesedihan dan tampak tertekan. 


"Saudara Aldric dimohon berdiri untuk mendengarkan putusan hakim!"


Aldric berdiri. Pandangannya lurus ke depan. Menanti keputusan apa yang ditujukan padanya. 


"Saudara Aldric, berdasarkan bukti dan pengakuan Anda, Anda terbukti melakukan kejahatan dengan menyembunyikan kejahatan tersangka Marco yang tak lain adalah ayah kandung. Tindakan Anda menyebabkan saudara Marco bertindak sangat jauh dan kejam, oleh karenanya, pengadilan menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dan dendam sebesar 500 ribu dollar! Denda paling lama diserahkan besok pagi pukul 10.00."


Tok.


Tok.


Tok.


Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali, artinya keputusan telah final.


Aldric tertegun. 10 tahun penjara? Denda 500 ribu dollar?


"Mom!" Aldric langsung melihat ke belakang saat mendengar putranya berseru. Terlihat istrinya pingsan. Aldric ingin menghampiri istrinya. Namun, petugas segera menghampiri dan membawanya meninggalkan ruang sidang. 


"Papa … Papa … tidak!!" Putranya berteriak. Aldric tidak bisa berkata, hanya air mata yang menetas mengaliri pipinya. 


"Puas?!" Putra Aldric itu berteriak keras pada Bella. Bella menunjukkan wajah datarnya. 


"Jika Anda melakukan hal yang merugikan, Anda akan duduk di kursi ayah dan kakek Anda tadi!"balas Bella dengan mengarahkan pandangnya pada kursi yang berada di hadapan hakim ketua. Hakim juga sudah meninggalkan ruang sidang. 


"Kita urus Mom dulu!" Istrinya memanggil. Putra tunggal Aldric itu membuang nafas kasar sebelum akhirnya menggendong sang ibu untuk mendapat penangangan.


"Finish. Mereka telah mendapat balasannya." Bella tersenyum tipis.


"Paman."


"Saya, Nona."


"Pastikan paling lama besok … tidak ada lagi keluarga Nero di kota ini! Hapus marga mereka! Dan denda yang diberikan oleh pengadilan nanti, donasikan untuk anak panti asuhan!" 


Bella tidak kekurangan uang. Lebih baik uang pembayaran denda itu ia donasikan untuk yang lebih membutuhkan. 


"Baik, Nona." Tuan Adam tidak menentang apapun mempertanyakan keputusan Bella. 


"Kita kembali?"tanya Ken dengan merangkul Bella.


"Tidak. Aku ingin menemuinya lebih dulu," jawab Bella.