This Is Our Love

This Is Our Love
Membersihkan



"Nyonya! Nyonya! Tidak!"


Andry memangku kepala Ariel dan meraung memanggil nama kekasihnya itu. Sayangnya, wanita itu sudah selesai. 


"Tidak! Huhuhu!"


"Bagaimana bisa seperti ini?" Andry menangis pilu. Ia membunuh Ariel langsung dengan tangannya. Tidak! Bukan hanya Ariel, Andry juga membunuh janinnya!


"Tuan." Irene menatap Tuannya yang memberi tatapan dingin. 


"Urus mayatnya dan bawa dia ke penjara. Aku akan mengurusnya nanti!"titah Desya pada Irene. 


Irene mengangguk. "Umumkan bahwa dia tewas karena dibunuh olehnya!" Irene kembali mengangguk. Desya kemudian meninggalkan kamarnya. 


"Tuan." Seorang wanita dengan seragam Pelayan datang menghadap Bella. 


"Kerja bagus! Kau pantas diberi hadiah!" Pelayan itu mendongak dengan wajah berseri. 


"Terima kasih, Tuan!" Dia adalah pelayan Ariel.


Apalagi ini? "Pengawal!" 


"Tuan."


"Kurung wanita ini!" Pelayan itu membelalakkan matanya. 


"A-apa ini, Tuan?" Meronta saat ditahan oleh dua pengawal.


"Tugasmu selanjutnya," balas Desya, kemudian melangkah pergi. 


Aku tidak akan pernah menerima atau mengasihani penghianat!


*


*


*


Kematian Ariel menggemparkan seluruh Green Palace. Tak hanya anggotanya. Namun, juga Dimitri, Aleandra, Evalia, dan Bella sendiri juga terkejut bukan main mendengar pengumuman dari Irene itu. Apalagi dengan pembunuh yang tak lain adalah Andry. 


Andry, sosok itu dikenal setia namun mengapa bisa menghabisi nyawa Ariel?


Pertanyaan itu bersarang dalam setiap benak Green Palace. Apa alasannya? Itu menjadi pertanyaan besar. Namun, Desya tidak mengatakan alasannya. 


Meskipun ia membenci penghianat. Namun, ia masih ada sedikit belas kasihan untuk Ariel. Biar bagaimanapun, Ariel adalah istrinya dan juga ibu dari anaknya. 


Ya, ia harus memberi sedikit muka untuk Ariel. Mengatakan alasannya, itu hanya akan membuat dirinya mempermalukan diri sendiri. Dan itu nantinya akan menjadi lelucon dan celaan. Terutama lagi untuk Liev yang masih kecil. Itu ditakutkan akan membawa trauma untuknya. Oleh karena itu, Desya membiarkan semua tuduhan atau prasangka pada Andry. Lagipula, Andry yang membunuhnya. Maka dia yang harus bertanggung jawab!


Tahun baru, satu Januari, menjadi hari kematian Ariel. Ia akan langsung dimakamkan. Yang harusnya diawali dengan hal bahagia malah diawali dengan bendera duka. Kain putih terbentang. Suasana duka mewarnai Green Palace. 


Padahal tadi malam mereka berpesta. Kini, mereka malah berduka. Takdir memang tidak bisa ditebak. 


Orang tua Ariel, langsung datang setelah mendengar kabar kematian putrinya. Tangis mereka histeris. Benar-benar kehilangan putri mereka. 


"Aunty, mengapa Ibu tidur di peti kayu itu?"tanya Liev yang melihat ibunya tidur cantik di dalam peti mati. 


"Ibumu sedang beristirahat, Liev. Lebih baik kita jangan mengganggunya," ujar Bella. Tangannya menggenggam jemari kecil Liev. 


Bella sendiri, meskipun ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia hanya tahu satu hal yakni menjaga hati Liev. 


"Tapi, Aunty. Mengapa ibu tidur di sana? Dan orang-orang menggunakan baju hitam. Aunty juga." Anak itu kritis. Tidak langsung percaya pada Bella.


"Kakek dan Nenek juga menangis," tambah Liev, melihat orang Tuan Ariel. 


Bella tersenyum, "itu sebuah perayaan. Lebih baik kita keluar dari sini. Ibumu tidak bisa diganggu saat ini," ucap Bella, sembari membawa Liev dalam gendongannya. 


Liev mengangguk kecil. Ia kemudian menoleh ke arah peti mati. Ibunya memang sangat cantik. Ia menggunakan pakaian terbaik lengkap dengan perhiasannya. 


"Ayo, ibumu tidak akan marah lagi." Bella melangkahkan kakinya keluar. Liev menoleh ke belakang. Ia melihat ayahnya yang berdiri diam di samping peti mati. Juga Dimitri dan Aleandra. 


"Kita akan ke mana, Aunty?"tanya Liev, mengalihkan pandangnya ke depan.


"Ruang musik. Bagaimana?"tawar Bella. Liev mengangguk dengan semangat. 


*


*


*


Pemakaman Ariel berlangsung khidmat, oleh tangisan kedua orang tua Ariel. Peti mati itu masuk ke dalam liang lahat. Tangis kedua orang tua Ariel semakin menjadi saat tanah mulai menutupi peti mati itu. 


Pemakaman tidak berlangsung lama. Setelah selesai dikebumikan, hujan turun. Semua segera bubar, termasuk kedua orang tua Ariel. Hanya Desya, yang masih berdiri di samping makam itu ditemani oleh Irene. Irene memayunginya.


"Aku tidak tahu harus bersedih atau senang," gumam Desya. 


"Tapi, satu hal yang aku tahu. Aku akan menjaga Liev dengan baik. Tidak perlu takut, dia akan menjadi penerusku!"ucap Desya. Irene menatap punggung Tuannya. Sedikit terhenyak. Apa itu sudah diputuskan sejak awal?


"Sejak awal aku sudah memutuskannya. Namun, aku yakin kau tidak akan puas dengan itu. Oleh karena mengambil nyawa beberapa orang lebih baik daripada menumpahkan banyak darah!"


Rupanya seperti itu. "Ah benar! Kau mencintainya, bukan? Tenang saja, aku akan segera mengirimnya menemaniku. Tidak perlu berterima kasih. Ini hadiah dariku."


Selepas itu, Desya melangkah meninggalkan makan Ariel. Irene yang tersadar langsung menyusul langkah Tuannya.


Desya berjalan dengan langkah lebar. Tidak mempedulikan tubuhnya yang kehujanan. Irene bahkan tak bisa mengejar langkahnya. 


Teriakan Irene pun tidak dihiraukan. Desya menuju ke ruangannya. Dimana disana sudah menunggu Dimitri, Aleandra, dan juga kedua orang tua Ariel. 


Air mata kedua orang tua Ariel sudah kering. Kini ekspresi mereka menuntut penjelasan dari Desya.


"Bukan aku yang membunuhnya!"


"Lantas siapa?" Ibu Ariel langsung menjawab. 


"Ikuti aku!" Desya melangkah pergi, meninggalkan ruangannya. Dan itu diikuti oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Ariel.


Mereka menuju penjara di mana Andry ditahan. 


Di dalam penjara, Andry duduk di kursi dengan menunduk. Tubuhnya penuh dengan luka. Namun, itu bukan fokus perhatian, melainkan wajahnya. "Dia siapa?"tanya ayahnya Ariel. 


"Yang membunuh putri kalian!"


"Kurang ajar!" Ibu Ariel langsung mengamuk dan menendang kursi. Ia memukul Andry yang membuat pemuda itu terbangun. 


"Kau baj*ngan tengik! Mengapa kau membunuh putriku? Aku akan membunuhmu!"teriak ibu Ariel, menggila.


Tatapan Andry kosong. Ia sangat sedih dan menyesal. Andry tidak menjawabnya. Membiarkan ibunya Ariel memukuli dirinya. Bibirnya sama sekali tidak meminta permohonan ampun atau mengatakan sesuatu. Itu terkunci rapat.


"Bunuhlah saya, Nyonya!" Tiga kata itu Andry ucapkan. Ia sudah tidak tahan lagi. Memohon ampun pun percuma. Lebih baik lekas menemui kematian. 


"Mengapa kau membunuhnya?" Suara bariton ayahnya Ariel membuat Desya mendongak. 


Andry tidak menjawabnya. Itu menjadi tontonan tiga orang keluarga Volcov itu.


"Ya, kau memang pantas mati!" Ibunya Ariel mengambil pistol yang disediakan. Desya sama sekali tidak mencegahnya.


Dor.


Dor.


Dor.


Tiga tembakan bersarang pada tubuh Andry. Pria itu menggelepar beberapa saat sebelum akhirnya tewas.


"CK! Benar-benar bagus!" Desya berdecak dengan bertepuk tangan. 


"Apa maksudmu, Desya?"tanya ayahnya Ariel dengan bingung. Menantu mereka ini sukar untuk ditebak. 


Desya tersenyum miring. Tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam penjara dan menahan kedua orang tua Ariel. Pistol yang di tangan ibu Ariel di ambil kembali. 


"Apa-apaan ini?!"


Kedua orang tua itu kebingungan. Mereka meronta saat dipaksa untuk berlutut. 


"Ayah, Ibu, lebih baik kalian tunggu di luar," ujar Desya. Dimitri dan Aleandra menuruti hal tersebut. Keduanya keluar dari penjara. 


"Apa maksudmu? Apa salah kami padamu?"


"Apa salah kalian? Bukankah seharusnya kalian lebih tahu?" Kedua orang itu terhenyak. 


"Rencana kalian, apa kalian pikir aku tidak mengetahuinya?"tanya Desya. 


Raut wajah kedua orang itu pias. Astaga bagaimana bisa mereka melupakan hal penting?! 


Hancur sudah! Menantu mereka ini … tamat sudah.


"I-ini salah paham, Desya!"


"Salah paham? Bagaimana mungkin aku salah paham dengan rencana kalian yang ingin menggulingkanku?"sahut Desya dengan tertawa. 


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan kalian. Aku hanya ingin mengakhiri kalian!" Desya mengangkat kedua tangannya memberi perintah untuk mengeksekusi kedua orang tua. 


"Habisi mereka! Lalu kirim pulang!"titah Desya.


"Baik, Tuan!"


"Tidak! Tidak Desya! Jangan lakukan ini!" Teriakan mereka tidak digubris oleh Desya. Desya diikuti oleh Irene meninggalkan penjara. 


Teriakan yang meminta ampuh juga rasa sakit, membuat siapa saja akan takut mendengarnya. Sayangnya berefek pada Desya. 


"Kau membunuh mereka?"tanya Dimitri. 


Desya mengangguk. "Sejak kapan kau merencanakan hal ini?"selidik Dimitri. 


Ia yakin, putranya ini pasti sudah mempunyai persiapan yang matang hingga semuanya bisa berlangsung dengan lancar.


Desya tidak menjawabnya dengan kata lain melainkan tersenyum. "Sudahlah. Sudah terjadi untuk apa dipertanyakan lagi?"tukas Aleandra. 


"Ibu bangga padamu!"ucap Aleandra kemudian. 


"Ayah juga!"


"Terima kasih!"


"Tapi, Desya. Bagaimana dengan Liev?"tanya Aleandra. Ia mengkhawatirkan cucu laki-lakinya itu. 


"Bukankah ada dia?"sahut Desya. 


"Dia?" Tatapan kedua orang tuanya penasaran.


"Bella." 


"Ah, dia rupanya." Kedua orang tua itu mengangguk.


"Aku pergi dulu," ucap Desya.


"Mau ke mana kau?"tanya Dimitri. 


"Menyelesaikan urusan!"jawab Desya, melangkah meninggalkan kedua orang tuanya. 


*


*


*


Di penjara, pelayan pribadi Ariel meringkuk di sudut penjara. Pakaiannya acak-acakan dengan rambut yang sama. Ada luka di wajahnya. 


Kepalanya bersembunyi dibalik lutut. 


Kreek.


Terdengar suara pintu dibuka. Wanita itu mendongak. Matanya menatap merah siapa itu. "Anda mengkhianati saya, Tuan!"desisnya.


Desya, pria itu menyunggingkan senyum tipis.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu. Kaulah yang berkhianat pada majikanmu, juga dirimu sendiri!"balas Desya. 


Wanita itu terperanjat. "Ingatlah. Siapa yang mengkhianatimu lebih dulu. Dan selamat tinggal!" Desya datang hanya untuk mengatakan hal itu. Ia kemudian meninggalkan penjara. Meninggalkan pelayan itu mengingat masa lalu. 


*


*


*


Alasan pelayan itu membelot dari Ariel, itu karena keluarga Ariel sendiri. Sejak Ariel menginjakkan kaki di Green Palace bersama dengan orang-orangnya, Desya mencari detail informasi tentang mereka. 


Pelayan itu menjadi pilihan Desya untuk menjadi mata-mata di sisi Ariel. Apalagi dengan posisinya. Desya menjadikan teman sebagai lawan. Dia mempergunakan orang sendiri untuk menghabisi diri. 


Itulah dirinya. Dia memang penuh perhitungan dan kejam. Ia tak segan untuk itu. Membunuh tanpa berkedip, itu hal kecil baginya. Desya memang mencari kesempatan untuk hari ini, hari kematian Ariel yang akan menbuka jalan untuk mengakhiri sampai akarnya.


Wanita itu bersedia menjadi orang Desya karena ia mempunyai dendam pada keluarga Ariel. 


Wanita itu adalah seorang yatim piatu yang keluarganya yang dibunuh oleh keluarga Ariel. Itu sudah menjadi alat yang cukup bagi Desya untuk menggunakan pelayan itu. 


Yang memberikan Ariel ide untuk menantang Bella dalam panahan adalah Desya yang disampaikan lewat perantara pelayan itu. 


Namun, siapa sangka? Setelah Ariel tewas, ia juga akan segera menemui ajalnya. "Tuan, Anda benar-benar kejam!"pekik pelayan itu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya karena peluru yang menembus dadanya.


*


*


*


"Apa yang kau pikirkan, Evalia?"tanya Bella yang melihat Evalia melamun. Berada di kamarnya dan Evalia mengunjunginya. 


"Ariel sudah pergi, bagaimana dengan Liev?"tanya Evalia dengan melirik Liev yang tidur nyenyak di ranjang Bella.


"Mengapa?"tanya Bella.


"Aku tidak tahu cara mengurus anak."


"Memangnya akan diserahkan padamu?"balas Bella. 


Evalia tercengang. "Hm … benar juga!"


"Tapi, mana mungkin diberikan pada orang tua Ariel."


Astaga! Bella sedikit menepuk dahinya. Istri ketiga Desya itu terkadang sangat polos. 


"Rasanya itu mustahil," sahut Bella. 


"Jadi, siapa yang anak mengurusnya?" Evalia menatap dalam Bella. Bella mengedikkan bahunya. Itu bukan urusannya!


"Ah, benar!" Tiba-tiba saja Evalia berseru. 


"Liev dekat denganmu. Kau saja yang mengasuhnya!"


"Hah?" Bella tersentak sendiri. 


"Benar! Kau dekat dengan Liev. Liev menurutimu. Kau juga pintar. Pasti bisa mengajarkan banyak hal padanya!"


"Jangan bicara sembarangan!"ketus Bella.


"Ah … ditambah lagi kau akan menjadi istri Tuan! Kau adalah kandidat yang paling cocok, Bella!" Evalia tidak mendengarkan ucapan Bella.


Bella memijat pelipisnya. Bingung dengan Evalia. Suami baru kehilangan istri, dia sudah memikirkan pernikahan suaminya lagi!


Apa Evalia tidak keberatan hal itu? Bukankah harusnya ia berusaha untuk merebut hati Desya. Memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan baik?


"Kau mengapa mendukungku dan dia menikah? Apa kau tidak keberatan?"


"Kau berbeda," jawab Evalia. "Dan aku menyukaimu," lanjutnya.


Bella tetap tidak habis pikir. "Aku bersedia menjadi pengasuh Liev. Tapi, tidak dengan menjadi istri Desya!"tukas Bella