
Pengakuan Ariel mengejutkan Andry.
Bagaimana tidak?
Pengakuan cinta?
Ariel mencintainya?
Andry tidak habis pikir.
Wanita itu, ia menangis tersedu dalam pelukannya. Menangis dan memohon.
Hati siapa yang tidak tergerak? Namun, tetap saja, Andry dilema dengan hal itu.
Selain itu, Andry, meskipun ia melakukan hal yang benar-benar tidak termaafkan, di dalam hatinya, ia begitu menghormati Desya.
But, siapa yang tidak terpancing dengan umpan yang diberi cuma-cuma?
Ariel menginginkan kehangatan yang tidak ia dapat dari Desya dari Andry. Dan Andry, ia memberikan keperjakaannya pada Ariel.
"Malam tahun baru adalah kesempatan yang pas untuk itu! Aku mohon, Andry," ucap Ariel. Pipinya bercucuran air mata. Ia menangkup wajah Andry.
"Aku akan membuatnya mabuk setelah itu kau yang akan menghabisi nyawanya!"ucap Ariel lagi. Sedikit menggebu.
"Apa itu akan membuatmu bahagia?"tanya Andry. Sungguh sulit menanyakan hal itu. Namun, ia sudah tidak tahan.
"Aku akan mempertimbangkannya," ucap Andry sebelum pergi meninggalkan Ariel sendirian.
"Sebentar lagi, aku akan bebas," gumam Ariel sembari menyeka sudut matanya.
*
*
*
Tahun baru telah tiba. Dan syuting di dalam negeri telah usai. Tiga hari setelah tahun baru, El dan tim akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan syuting di luar negeri.
Malam tahun baru. Seharusnya ini malam yang menggembirakan. Akan tetapi, bagi keluarga Mahendra, malam tahun baru ini terasa suram. Tahun baru ini, meskipun hubungan antar anggota keluarga sudah membaik dan hangat. Namun, kurangnya satu orang membuat suasana tidak begitu bahagia.
Malam tahun baru, dihabiskan di kamar masing-masing. Ken yang lelah langsung memejamkan matanya.
Begitu juga dengan Surya dan Rahayu. Silvia juga sudah tidur. Tinggallah Brian, El, Dylan, dan Fajar yang menghabiskan waktu di taman ditemani petikan gitar dan barbeque.
"Coba bangunkan Ken. Ini malam tahun baru, setidaknya dia harus menyambutnya dengan penuh harapan," ucap Brian, menoleh pada El yang sedang memetik gitar dan bersenandung.
"Mengapa harus aku?"balas El, tidak senang aktivitasnya diganggu.
Brian tidak menjawab. Hanya mempercepat kipasannya pada daging dan sosis yang tengah dipanggang.
"Mereka berdua?"
Brian mempertajam tatapannya pada El. "Kami mana digubris, Kak El," celetuk Dylan.
"Hmhp!" Ken mendengus.
"Pegang ini!"ucap El dengan memberikan gitar pada Dylan.
El kemudian melangkah masuk ke dalam rumah untuk memanggil Ken, ikut bergabung dengan mereka. "Kalau menolak, seret saja!"teriak Brian.
"Okay!"sahut El.
El melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.
Tadi siang ia sudah menghabiskan waktu bersama dengan Anjani dan Arka. Maka malam adalah saatnya bersama keluarga. Besok siang, mereka ada acara lunch bareng.
Tok.
Tok.
El mengetuk pintu kamar Ken. Tidak ada sahutan. Kembali diketuk pun tidak disahut. El yakin, Ken sudah terlelap. Jujur, rasanya agak kasihan membangunkan Ken. Namun, El lebih kasihan lagi Ken tidur dalam keadaan hati sedih.
El mencoba membuka knop pintu. "Tidak dikunci?" Dan El segera masuk. Menemukan Ken tertidur dengan posisi memeluk guling.
El menghela nafasnya. Terlihat Ken tertekan dalam tidurnya. Dahinya itu mengerut dengan bibir sedikit terbuka.
"Ken, Ken, ayo bangun," ucal El membangunkan Ken, dengan menggoyahkan bahu Ken.
"Hmm…." Ken bergumam tidak jelas. Ia enggan. Rasanya berat membuka matanya.
"Ken, ayo bangun. Kita malam tahun baruan dulu baru tidur. Ayo begadang malam ini," ajak El lagi, menambah tenaga dalam menggoyahkan bahu Ken.
"Hmm…." Lagi-lagi gumaman. Tampaknya Ken begitu lelah.
"Ajakanku tidak digubris. Cara apa lagi?" El mengedarkan pandangnya. Ia mencari ide untuk bisa membuat Ken benar-benar bangun.
Dan matanya tertuju pada kamar mandi.
Benar!
Air adalah senjata yang ampuh!
El segera ke kamar mandi dan kembali dengan membawa satu gayung air. Ken mencipratkan air ke wajah Ken.
Benar saja. Tak menunggu lama, mata dengan bulu mata lentik itu terbuka. Mengerjap seperti tengah mengumpulkan nyawa.
"Akhirnya bangun." Mendengar suara El, Ken langsung sadar. Kini ia beringsut duduk sembari mengusap wajahnya.
"Kak El? Apa-apaan ini?"kesal Ken.
Sedang tidur malah diganggu. "Ayo keluar," ajak El.
"Ini sudah malam. Aku lelah dan mengantuk," tolak Ken, ingin kembali tidur.
"Apa tidurmu nyenyak dengan membawa beban? Wajahmu terlihat tidak nyaman. Lebih baik lepaskan dulu semua perasaan sedihmu bersama dengan kami. Kak Brian juga menginginkannya," terang El.
"Aku baik-baik saja," tolak Ken lagi.
"Come on. Apa kau lupa pesan Abel kemarin itu? Kau jangan terlalu sedih dan cemas. Kau juga jangan sakit. Kau mau Abel tidak akan menjengukmu, hah?!"omel El. Menggunakan pesan yang ditunjukkan Ken itu menjadi sebuah alat yang El gunakan untuk membujuk Ken.
Benar saja. Wajah Ken langsung berubah. "Ayo!" Ia bahkan melompat dari ranjang dan telah memakai sandalnya. El sedikit melongo.
Sementara di taman, Dylan memetik gitar dan Fajar bernyanyi. Suaranya begitu merdu. Dan pas dengan petikan gitar Dylan.
Di satu sisi, Brian telah selesai memanggang. Saat proses penyajian, bertepatan dengan Ken yang datang dengan wajah yang masih lesu. Ia masih mengantuk. Ken mendudukkan tubuhnya di samping Dylan. Menguap beberapa kali.
"Mana El?"tanya Brian. Ken nya datang, El nya malah tidak muncul.
"Katanya mau ke kamar Mama dan Papa," jawab Ken sesuai dengan jawaban El tadi.
"Tiga puluh menit lagi pergantian tahun," ucap Fajar setelah melihat jam tangannya.
"Minumnya sudah ada?"tanya Brian.
"Akan segera datang." Dylan menyerahkan gitar pada Ken. Dan pemuda itu langsung lari masuk ke dalam rumah.
"Ayo-ayo. Malam tahun baru kok malah tidur!" El datang dengan menggandeng Surya dan Rahayu. Kedua orang itu tampak masih mengantuk.
"Dasar kau ini!"dengus Brian dengan mengarahkan tendangan ke kaki El. Brian sendiri sudah selesai menghidangkan makanan malam tahun baru.
"Aduh!"ringis El.
"Itu sakit!"
"Rasakan!"balas Brian.
Tak berselang lama, Dylan kembali dengan membawa satu lusin minuman bersoda.
"Ayo-ayo, duduk! Kita sambut tahun baru dengan semangat!" El menggiring mereka untuk duduk melingkar, mengikuti bentuk kursi taman.
Makanan di tata di tengah meja. Jadi, bebas mau mengambil yang mana.
"Ayo makan, Ken!"ucap Brian yang hanya menatap datar daging panggang di hadapannya.
"Jangan dibawa sedih. Makanlah dan sampaikan harapanmu!"tukas El, menepuk bahu Ken.
"Benar, Kak! Lagipula kau butuh tenaga dan energi untuk bersedih dengan sehat," imbuh Dylan, meletakkan daging dan sosis pada piring Ken.
"Jika tidak semangat, bagaimana bisa semangat sama menemukan Kak Bella?"timpal Fajar.
"Sudah tahun baru," ucap Fajar dan tak lama kemudian, langit bercahaya karena kembang api. Aneka rupa dan warna menghiasi malam tahun baru. Langit terlihat sangat indah.
Beberapa saat, tatapan mereka semua terfokus ke sana.
"Tahun yang baru, semangat yang baru. Happy new year!"ucap El dengan mengangkat minuman sodanya.
"Yeah! Happy New Year!"balas Brian, Dylan, Fajar, Surya, dan juga Fajar, seraya mengangkat minuman mereka. Lain halnya dengan Ken yang menatap itu datar.
"Ken?" Suara bariton Surya menyadarkan Ken.
"Ah … happy new year!" Ken ikut mengangkat minumannya. Setelah bersulang, mereka kemudian minum.
"Ayo makan!" El lagi-lagi memimpin. Surya dan Rahayu yang sudah kehilangan rasa kantuk, langsung mengangguk kecil. Kecuali Ken, yang lain mulai menyantap menu tahun baruan itu.
"Apalagi, Ken? Mau aku suapi?"sergah El melihat Ken yang melamun.
"Hah?"
"Ya, kami tahu kalau kau sedih karena tidak ada Kak Abel. Tapi, setidaknya bahagialah untuk kami, Kak. Kami juga sedih. Jangan seolah-olah hanya kau yang merasa kehilangan!"ucap Dylan, nadanya sedikit ketus.
"Makanlah dulu, setelah ini tidak bertukar cerita," tukas Brian.
Pada akhirnya Ken makan dengan tidak berselera. Ia memaksakan diri karena tidak ingin keluarganya tambah khawatir ataupun sedih.
Sedikit warna karena ada tawa yang dihasilkan. El dan Dylan, melemparkan candaan untuk mencairkan suasana. Hati sedikit terobati.
"Oh iya, Dylan kapan operasi Nesya?"tanya El pada Dylan. Ia sedikit lupa akan hal itu.
"Hm … sekitar satu bulan lagi," jawab Dylan.
"Itu sebentar lagi," celetuk Fajar.
"Memang." Wajah Dylan berubah cemas, "tapi, aku sedikit cemas dengan hasilnya nanti. Suasana hati sangat mempengaruhi rasa hasil operasi. Aku takut, hasilnya tidak sesuai dengan keinginan," tutur Dylan. Ia merasa takut jika operasi Nesya gagal.
"Bagaimana hasil pencarian Kak Abel?" Fajar ingin tahu.
"Sebentar lagi akan menemukan hasil. Satu bulan lagi, itu waktu yang cukup lama!"jawab Surya.
"Benar! Sudah setengah dari Rusia Barat yang dilacak. Memang ada beberapa tempat yang mencurigakan dan berpotensi menjadi markas mereka. Kami sudah mencatatnya dan tim tengah menyelidiknya satu persatu," imbuh Dylan yang memang ikut dalam tim pencarian.
"Surat itu apa tidak membuat Nesya sedikit tenang?"tanya Brian.
"Itu sesuai dugaan. Ia merasa senang. Aku berharap Kak Abel akan ditemukan atau pulang sebelum waktunya Nesya operasi. Atau jika tidak, ia memberi Nesya semangat lewat pesan seperti kemarin." Dylan menyampirkan harapannya.
Dan itu diangguki oleh semuanya, termasuk Ken.
"Kalian harus selalu positif. Usaha tidak akan mengkhianati hasil!"timpal Rahayu.
"Ah benar. Papa hampir lupa, Ken," ucap Surya tiba-tiba. Apa yang hampir dilupakan olehnya?
"Setelah masuk kerja nanti, kau akan memiliki sekretaris," ucap Surya.
"Sekretaris?"beo Ken. Selama menjabat sebagai wakil presdir, Ken tidak memiliki seorang pewaris.
"Papa yakin kau membutuhkannya karena ke depannya kau akan semakin sibuk," ucap Surya, secara tidak langsung membujuk Ken untuk menerimanya.
Ken mempertimbangkannya. Ya, ia memang sedikit kewalahan. "Tapi, sekretaris pria, kan?"tanya Ken, lebih menekankan dan meminta sekretaris pria.
"Why? Kau takut digoda jika sekretarisnya wanita?"celetuk El yang dibalas dengan dengusan Ken.
"Sekretaris pria aku rasa lebih kompeten. Kalau tidak, Frans saja yang jadi sekretarisku!"jawab Ken.
"Enak saja!"tolak Surya langsung. Frans adalah sekretaris Surya yang saat ini masih berada di Paris.
"Katakan saja kau cari aman, Ken!"kekeh Brian.
Ken menatap kedua kakaknya bergantian. Keduanya seperti memojokkan Ken. "Aku setia pada istriku! Terserah saja, pria atau wanita sama saja!"ucap Ken dengan kesal. Dan itu malah terdengar lucu.
"Baiklah. Papa akan berikan sekretaris paling kompeten. Kau tunggu saja di hari masuk kerja!"jawab Surya.
"Baiklah," balas Ken.
"Tapi, Ken … kau jadi makan banyak kalau kesal, ya?"cibir El yang melihat piring Ken. Daging yang ia berikan tadi sudah habis dan Ken tambah dengan mengambil sosis.
"Ah?" Sepertinya Ken tidak menyadarinya.
"Lupakan saja. Aku selesai. Pa, Ma, aku ke kamar dulu, ya," ucap Ken. Wajahnya sedikit memerah karena malu. Tidak nafsu tapi banyak makan.
Itu disambut oleh tawa renyah. Sementara Ken sudah jalan dengan langkah lebar masuk ke dalam rumah. "Sudah dapat caranya agar tidak makan banyak," ucap El dengan tersenyum lebar.
"Buat Ken kesal!"lanjutnya dengan tawa.
"Sialan!"gerutu Ken saat tiba di kamarnya.
Ia bersandar pada pintu. Tak lama kemudian, tatapan kesalnya berubah. Bibirnya menyunggingkan senyum. "Tapi, terima kasih. Perasaanku jauh lebih baik."