
Seorang pria dan wanita berpakaian perawat berjalan keluar dari sebuah gedung rumah sakit. Keduanya mengenakan masker dan untuk sang wanita mengenakan topi perawat. Sekilas tidak ada yang aneh dari keduanya. Namun, mereka melangkah cepat, seperti tengah dikejar waktu atau seperti kabur dari seseorang.
Gelagat keduanya memang seperti itu. Hingga keduanya mencegat sebuah taksi dan meninggalkan rumah sakit, tak lama kemudian terjadi kepanikan di rumah tersebut. Seorang pasien pengidap leukimia stadium akhir tidak berada di kamarnya dan tidak ditemukan di dalam area gedung rumah sakit. Salah seorang anggota keluarga pasien pun ikut menghilang.
"Kita pulang sekarang!!"ucap seorang pria paruh baya setelah melihat rekaman CCTV.
"Maksud, Mas?" Mereka berdua orang Indonesia yang tak lain adalah Bayu dan Clara yang sangat mencemaskan, sekaligus menyayangkan dan kecewa dengan tindakan yang diambil oleh putri tunggal mereka, Cia dan putra bungsu mereka, Angkasa.
Tadi malam, Cia merengek ingin pulang ke Indonesia untuk menghadiri acara wisuda Ken. Masih terekam, tercetak jelas di ingatan Cia kalau Ken akan menikahi Cia setelah wisuda. Cia masih tidak percaya jika Ken sudah melupakan dirinya.
Setelah ancaman bunuh dirinya digagalkan oleh Bayu, karena Cia yang mendesak untuk kembali ke Indonesia, kembali pada Ken, meminta kepada kepala keluarga Mahendra, Surya agar merestui hubungan Ken dan Cia, Cia menjadi kosong untuk beberapa hari.
Bayu dan Clara menganggap itu hal wajar karena saat Cia memutuskan untuk meninggalkan Ken, Cia juga kosong untuk beberapa hari. Hanya saja, kali ini Cia semakin nekad.
Saat kedua orang tuanya pulang sebentar ke apartemen untuk mengurusi pekerjaan juga mengistirahatkan tubuh, Cia mendesak Angkasa untuk menuruti keinginannya.
Angkasa yang sangat menyayangi kakaknya tak tega, tak kuasa melihat wajah memelas Cia. Alhasil keduanya sepakat untuk kembali ke Indonesia tanpa izin siapapun!
*
*
*
Tiga jam kemudian, Cia dan Angkasa tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Dengan taksi yang ada di sekitar bandara, keduanya meninggalkan bandara menuju universitas Ken. Dalam waktu empat puluh lima menit, mobil yang ditumpangi Cia dan Angkasa memasuki gerbang universitas Ken.
Tiba di depan gedung auditorium, Ken meremas jemarinya, wajahnya begitu muram melihat Ken dan Bella yang berboncengan. "Apa kau sungguh serius dengan keputusanmu, Kak? Masih ada waktu sebelum semua semakin rumit," ucap Angkasa memperingati Cia. Ini sudah peringatan ke sekian kalinya. Karena pada dasarya, Angkasa tidak mendukung keputusan Cia. Ia menuruti keinginan Cia karena tak tega dan tak ingin kejadian Cia mengancam bunuh diri terulang lagi.
"Kakak sudah mempersiapkan hati, Akas. Tak peduli apapun yang akan terjadi, Kakak akan memperjuangkan Ken. Dia milik Kakak, selamanya akan menjadi milik Kakak!"jawab Cia. Sorot matanya menunjukkan keteguhan.
Angkasa menghela nafas kasar. "Jangan rendahkan dirimu sendiri, Kak. Kak Ken sudah berubah. Dia sangat mencintai istrinya. Istrinya juga mendapat dukungan dari semua keluarga Mahendra. Akan sulit, bahkan mustahil rasanya untuk memisahkan mereka. Dan keluarga kita juga baru bangkit dari keterpurukan. Keluarga Adhitama juga bukan hal besar di mata keluarga Mahendra. Aku ingatkan sekali lagi, Kak. Yang akan kita hadapi bukan keluarga sembarang, mereka adalah salah satu orang yang sangat terpandang dan berpengaruh. Sebelum terlambat, ikhlaskan saja Kak Ken dan istrinya!"
Angkasa kembali memperingati Cia. Dampak dari tindakan apapun yang akan diambil, sedikit banyaknya akan berpengaruh pada keluarga Utomo. Surya, salah seorang taipan Asia itu tidak akan tinggal diam keluarganya diusik.
"Jika kau takut, tetaplah di dalam! Aku tidak akan melibatkan keluarga dalam urusanku ini! Dan ikhlas yang kau bilang, aku tidak bisa. Sekeras apapun aku mencoba, yang ada rasa ketidakrelaan yang semakin besar!"jawab Cia, langsung keluar dari mobil.
Angkasa mengesah pelan. Kakaknya mengapa begitu keras kepala?! Mau tak mau Angkasa ikut keluar dan disambut dengan tatapan terkejut Surya, Rahayu, Silvia, dan Ken. Sedangkan Bella dan Brian menaikkan satu alis mereka. Dan Dylan, ia menunjukkan wajah bingung melihat ekspresi keenam orang keluarganya.
"Ken bercerailah dengannya, menikahlah denganku!"ucap seorang wanita yang tak lain adalah Cia setelah turun dari mobil. Angkasa memejamkan matanya saat mendengar ucapan kakaknya itu.
"WTF?!!"seru Dylan, terkejut dan marah. Siapa wanita itu? Terlihat lemah tapi berani mengatakan hal itu.
"WHO ARE YOU? ARE YOU CRAZY?!!"seru Dylan lagi.
"Kau yang siapa?"balas Cia, melangkahkan kakinya menghampiri Ken. Dylan menyingsingkan lengan bajunya, bersiap untuk menghadang Cia. Namun, Brian menahannya.
"Kak Bri, wanita gila itu mengganggu kakakku! Bagaimana bisa aku diam?!"protes Dylan.
Brian kembali menggeleng kecil sebagai jawaban. "Siapa yang kau panggil wanita gila?" Suara berat yang mengandung amarah menyapa pendengaran Dylan.
"Tentu saja wanita itu! Kau keluarganya bukan? Cepat bawa dia pergi, kalau perlu masukkan ke rumah sakit jiwa agar tidak sembarangan berucap!!!"hardik Dylan menunjuk Cia yang sudah berada di hadapan Ken.
Angkasa tak bisa menahan amarahnya. Tangannya melayang hendak memukul Dylan. Namun, sebelum mengenai Dylan, Brian menahannya dan menatap tajam Angkasa.
"Kalian yang mencari masalah, mengapa kalian yang marah?! Asal kau tahu saja kehadiran kau dan kakakmu itu sudah mengusik ketenangan kami!!"desis Brian. Angkasa pias, cengkeraman tangan Brian pada lengannya begitu erat dan seperti meremas tulangnya.
"Apa yang kau katakan, Cia?"tanya Ken. Ekspresinya dingin. Sedangkan Bella bersedikap tangan, sedikit memiringkan kepala seakan tengah menganalisis apa yang Cia pikirkan.
"Impossible! Itu tidak akan terjadi!"jawab Ken tegas.
"Mengapa? Kita saling mencintai, menikahlah denganku. Kita rangkai kembali cita impian cinta kita, Ken. Aku sangat mencintaimu begitu juga sebaiknya. Apa yang mustahil?" Cia berusaha meraih tangan Ken. Namun, Ken menyembunyikan tangannya di belakang badan sedangkan satu tangan lagi menggenggam jemari Bella.
"Impian cinta kita sudah sirna, Cia. Sudah pupus sejak kau meninggalkanku! Dan kau kembali, mengatakan kau menyesal dan masih mencintaiku, terlambat. Semua, apapun pengakuanmu tidak ada artinya lagi! Kita sudah berakhir dan aku bukan lagi seseorang yang bisa kau jangkau. Cia apa kau tidak berpikir jika kau telah mempermainkan arti cinta? Kau pergi lalu kembali. Tidak. Cukup. Kembalilah. Teguhlah pada keputusanmu yang telah meninggalkan diriku! Jangan datang dan muncul lagi di hadapanku!!"ucap Ken datar.
Ken tampak tidak peduli dengan mata Cia yang sudah berkaca-kaca.
Melihat itu, Bella menarik senyum tipis lantas terkekeh. Pandangan Cia terarah pada Bella. Ia mengeryit, " apa yang lucu?!"
"Tentu saja dirimu, Nona Utomo!"jawab Bella kemudian tertawa. Biarpun tertawa sorot matanya menatap dingin Cia.
"Cinta dan pernikahan bukanlah sebuah permainan yang bebas untuk keluar dan masuk. Ah salah, bahkan untuk keluar dan masuk ke dalam sebuah permainan ada aturannya. Jika keluar di tengah permainan, akan mendapat sanksi atas AFK. Saya rasa Anda tahu apa yang saya maksudkan. Nona, jangan libatkan kami, jangan rugikan kami atas tindakan yang Anda lakukan sendiri! Dan jika Anda meminta saya untuk bercerai dengan Ken, impossible!!" Pasangan yang kembali menunjukkan kekompakkan, impossible!
Cia menggelengkan kepalanya. Bahunya bergetar, "aku tidak percaya! Kau milikku! Selamanya akan jadi milikku! Jangan berbohong! Katakan ya! Say yes, Ken!!"
"Sadarlah, Cia! Jangan tenggelam dalam pemikiran konyolmu itu!! Kita sudah selesai!"tandas Ken. Ia lantas kembali naik ke motor dan mengajak Bella untuk pergi.
"Tidak!" Cia menahan lengan Ken.
"Kakak berhentilah memohon! Jangan rendahkan dirimu!!"seru Angkasa yang melihat gelagat Cia yang hendak berlutut. Angkasa meronta, berusaha melepaskan diri dari Brian yang masih mencengkeram tangannya.
Brian melepaskannya dan Angkasa segera berlari untuk mencegah Cia berlutut. Namun, terlambat. Angkasa menghentikan langkahnya dan terdiam di tempat dengan tatapan sukar untuk diartikan. Kecewa, tatapan itu yang paling mendominasi.
"Tolong, jangan tolak aku, Ken. Tolong kembalilah padaku. Tolong, jangan katakan mustahil untuk kita bersama. Tolong, jangan abaikan aku. Aku menyesal, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku, aku hanya ingin kita menikah. Tidak masalah, tidak masalah jika kau tidak bercerai dengannya. Ken, menikahlah denganku. Aku tidak keberatan menjadi yang kedua!"pinta Cia dengan berlutut, Ken menunduk dengan kepala bersandar pada tangan Ken yang ia tahan.
Ken terkejut bukan main mendengar pinta Bella. "Jangan buat aku membencimu, Cia!"bentak Ken, ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang Cia pikirkan. Sedangkan Bella sudah naik pitam.
"Konyol! You're crazy!! Berhenti bersikap menjijikan seperti ini, Nona Utomo! Anda punya harga diri, jangan rendahkan harga dirimu karena aku … aku tidak akan pernah setuju Ken menikah lagi!!"
Tentu saja, dalam Islam, jika seorang suami mau menikah lagi, harus mendapat persetujuan lebih dulu dari istri pertama. Mendengar itu, Cia mendongak. Menatap tajam Bella.
"Jangan egois, Kak! Seharusnya aku! Aku yang harusnya berdiri, berada di samping Ken, bukan kau!! Kau egois bahkan di saat aku sudah mengalah! Kau jahat! Kau kejam telah memisahkan aku dan Ken! Kau wanita jahat!!"hardik Cia pada Bella.
Bella tertegun, "aku wanita jahat? Aku egois? Bagaimana denganmu, Nona Utomo?"tanya balik Bella.
"Ka …."
"Cukup!!" Surya akhirnya angkat bicarakan. Rahayu sejujurnya merasa tak tega dengan Cia. Namun, Rahayu lebih kecewa terhadap Cia. Bagaimana bisa, anak yang ia kenal dengan baik seperti tidak punya harga diri sekarang?
"Putra dan menantu ketigaku sudah menolak tegas dirimu! Jadi, jangan ganggu hubungan mereka!"tegas Surya.
Saat ini, Angkasa sudah menopang Cia yang tubuhnya semakin lemah dan nafasnya terengah. Ia menatap sendu Surya dan Rahayu.
"Kita pergi!"
Surya memberi intruksi dan semua menurutinya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Dylan menghampiri Cia dan mencengkeram pipinya. Angkasa tak sempat mencegah. Ia hanya bisa memegang tangan Dylan.
"Kau, wanita gila! Pergilah yang jauh! Jangan ganggu hubungan kak Bella dan kak Cia atau kau akan menerima akibatkan yang tidak pernah kau bayangkan!!"ancam Dylan dengan nada dinginnya.
Tubuh Cia bergetar hebat mendengar hal itu. Ancaman Dylan terdengar bukan main-main. Terlebih tatapannya dan sebelum masuk ke dalam mobil, Dylan tersenyum miring.
"Tolong jangan halangi kami untuk bersama," lirih Cia sebelum akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya.
"Kakak!"