
Mahesa Ken Mahendra adalah putra ketiga keluarga Mahendra. Ia adalah anak dari pasangan Surya Mahendra dan Rahayu, buah pernikahan kedua Surya dengan cinta pertamanya, Rahayu.
Sebagai anak bungsu, tentu saja Ken menjadi anak emas. Ia adalah kesayangan Surya dan Rahayu. Memang tidak ada perbedaan dalam bidang materi, tapi dalam bersikap, Surya cenderung berbeda. Kepada Brian, Surya cenderung tegas. Untuk El, Surya cenderung dingin sementara untuk Ken sendiri, penuh kelembutan.
Ken yang tidak pernah dituntut apapun tentu saja belum pernah merasakan yang namanya dunia pekerjaan. Sejak kecil, apapun keinginannya selalu dituruti. Bahkan saat mengambil jurusan kuliah yang tidak berhubungan dengan usaha keluarga, Surya mengizinkannya dengan cepat.
Hari-hari Ken belum pernah diisi oleh tekanan, semua kebutuhan dipenuhi oleh orang tuanya, setidaknya sebelum kata perjodohan itu muncul. Hanya saja sekarang sudah berbeda. Ia sudah menikah dan punya tanggung jawab, yakni Bella. Suka tak suka, mau tak mau, ia harus menerima tanggung jawab itu. Setidaknya kalau tidak bisa nafkah batin, materinya harus terpenuhi.
Ia tidak bekerja, tidak pernah juga bekerja, untuk sehari-hari mengandalkan uang yang dikirim oleh Surya setiap bulan. Jumlah yang cukup besar untuk hitungan anak kuliah seperti Ken, terlebih ia bukan anak yang suka foya-foya apalagi sampai minum. Pendidikan agama yang ditanamkan oleh Rahayu sedari kecil, membuatnya anti dengan dunia malam.
Dan sekarang, mamanya mengatakan tidak ada jatah bulanan lagi untuknya. Bagaimana cara menanggung semua kebutuhan selain makan? Apa ia Bella cuma mau makan doang tanpa ingin apapun? Apakah ia harus mencari kerja?
*
*
*
"Apa saja yang kau pikirkan sampai pingsan?"
Ken yang masih terbaring lemas di ranjang membuka matanya saat mendengar suara Bella. Ia membuka mata, melihat Bella yang menanggalkan jaket hitam di sandaran sofa dan kini menatapnya dengan selidik. Ada raut wajah khawatir di sana.
Bella Baru pulang selesai Isya, pasti Rahayu yang mengatakan pada Bella bahwa ia pingsan tadi. Tapi mengapa Rahayu tidak mengatakan alasannya? Atau Rahayu mau Ken yang menjawabnya sendiri?
Ah bagus juga. Bella tidak tahu dan ia tidak akan memberitahu.
"Tidak ada."
Gengsi bukan mengatakan bahwa ia pingsan karena jatah yang bulanan yang diberhentikan? Ken memilih merubah posisi, tidur menyamping.
"Dokter mengatakan kau banyak pikiran, apa kau ingin mengatakan bahwa dokter itu berbohong?"
Suara dan langkah kaki Bella terdengar mendekat. Ken memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar saat Bella duduk di dekatnya dan kini memeriksa suhu tubuhnya.
"Sudah tidak panas," gumam Bella. Ia tidak menyadari bahwa Ken memejamkan matanya serapat mungkin.
"Biar ku tebak saja. Apa karena urusan wisuda?"
Ken menggeleng.
"Cia?"
Satu kata itu membuat Ken membuka mata. Ya permintaan Cia tadi memang mengusik pikiran Ken.
"Ya pasti karena Cia. Kenapa dengannya?" Bella menanti jawaban dari Ken.
"Tidak. Bukan karena Cia," kilah Ken cepat.
"Lalu?" Dahi Bella mengeryit bingung.
Wisuda bukan. Cia juga bukan. Lalu apa?
Ah tidak mungkin aku mengatakannya. Jika iya, Aru pasti akan menertawakanku. Aku juga tidak mau Aru besar kepala karena permintaan Cia.
Melihat Ken yang tidak ingin mengatakannya, Bella menghela nafas kasar.
"Mama bilang kamu belum makan. Aku akan mengambilkan makan malam untukku."
Ken tidak menjawab. Bella segera keluar dari kamar. Ken kini berubah posisi menjadi menatap langit-langit kamar.
Jika sikapnya yang seperti ini, cepat atau lambat bukan hal mustahil aku jatuh cinta pada Aru.
Ken melamun, tadi ia menangkap raut wajah khawatir dari Bella, tapi itu hanya sekilas. Ken penasaran, apa yang mampu membuat Bella menunjukkan ekspresi lain secara gamblang selain santai dan datar. Ah Ken ingat, tadi pagi. Wajah sendu dengan nada penuh kerinduan dan miris, Ken menangkap hal itu dengan jelas, sayangnya itu bukan ditujukan padanya melainkan pada orang lain.
Key … Key, seberapa besar cinta Aru padanya?
Rasa cemburu kembali hadir. Ken melirik nakas. Ada ponsel Bella yang tengah diisi daya. Hatinya berbisik untuk melihat isi ponsel itu. Ken beranjak, kini menggenggam ponsel Bella. Ya tapi bukan hal muda melihat isi ponsel Bella.
Ken menghela nafas kasar, kembali meletakkan ponsel Bella.
Sepertinya Aru pencinta alam, batin Ken, menebak hobi Bella dari wallpaper layar ponselnya.
Tak heran jika Aru menyukai bunga edelweis, batin Ken lagi. Ia ingat jelas saat Bella mengatakan bunga kesukaannya.
Ken yang bosan menunggu Bella yang sampai saat ini belum juga kembali, mengambil acak buku yang diletakkan di nakas sederet dengan ponsel Bella.
Ken yang tidak melihat judul buku yang diambilnya, mengeryit heran melihat tulisan di dalamnya dalam wujud bahasa asing. Bahasa jerman yang berada jauh dari pemahaman Ken.
Ahhh
Ken mengesah pelan. Pikirannya kembali kacau. Kini bertambah satu lagi beban pikirannya. Bella suka dengan bunga edelweis. Bunga itu melambaikan keabadian, cinta yang abadi. Dan sekarang cinta Bella bukan miliknya melainkan Louis yang Ken sangka adalah Key.
Ken mengusap wajahnya kasar. Kepalanya kembali berdenyut pusing. Walaupun tidak bisa bersatu tapi cinta tetap bersemayam di dalam hati. Walaupun tidak bisa saling memiliki, tapi mereka saling mencintai. Bukankah itu beban di hati? Jikapun kelak Bella jatuh cinta padanya, pasti akan tetap menyimpan nama itu di dalam hatinya bukan?
Dan Louis, apakah bisa ikhlas? Bagaimana jika tidak? Memikirkannya benar-benar membuat Ken semakin tidak nyaman.
"Kenapa? Pusing lagi? Mikirin cara mencari uang?" Suara Bella mengejutkan Ken. Ia tersentak pelan dan dengan canggung menatap Bella yang mendekat membawa nampan berisi makanan.
"Mama sudah cerita …." Bella sengaja menjeda ucapannya. Melihat ekspresi Ken yang terbelalak.
"Tentang Cia juga jatah uang bulananmu yang dihentikan oleh Papa."
Ken batuk tersedak mendengar ucapan Bella. Bukannya biasanya, jika seseorang sudah tahu dari orang lain, lebih dulu menguji? Sengaja dibuat tegang lebih dulu?
Ken menatap Bella dengan tatapan canggung. Lidahnya keluh ingin menanggapi ucapan santai Bella itu. Seakan itu bukan masalah besar bagi Bella.
Lihat saja wajah santainya, tetap tenang seperti biasa.
"Ku dengar kau bukan anak yang suka menghamburkan uang? Ku yakin kau punya tabungan yang cukup untuk sebulan ke depan," ucap Bella, duduk di dekat Ken dengan nampan berada di atas pangkuannya.
"I-iya sih," jawab Ken gugup.
Bella tersenyum. Ia mengerti. Menjadi seorang guru harus siap ditempatkan di mana saja, bahkan sampai pedalaman yang terisolir sekalipun. Mengabdi untuk bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa memangnya keinginan murni Ken, tapi sekarang itu hanya tinggal impian.
Bella tersentuh dengan keinginan Ken itu. Sungguh impian kecil bagi anak seorang konglomerat seperti Surya. Impian kecil yang sangat menyentuh hati.
"Lantas sekarang akan kau gunakan untuk apa uang itu?"tanya Bella penasaran.
"Sekarang?" Entahlah, Ken juga belum tahu.
Bella terkekeh pelan melihat Ken yang bingung mau menjawab apa.
"Makanlah, aku mau mandi dulu." Bella menyodorkan nampan berisi makan malam itu pada Ken.
*
*
*
Belajar mencintaiku? Melihat sifat jujurnya ku rasa itu bukan hal yang mustahil.
Bella keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang lengkap dengan hijabnya. Ken yang sudah selesai makan kini menatap Bella yang fokus memberi perawatan untuk wajah.
Piring kotor sudah tidak ada, kemungkinan sudah diambil oleh pelayan. Ken duduk bersandar pada kepala ranjang. Matanya menilik lekat Bella. Gelagapan sendiri saat Bella tiba-tiba menoleh padanya dengan tersenyum manis.
"Apa yang ingin kau ketahui?"tanya Bella, berdiri dan kini duduk di sebelah Ken.
"Apa kau tidak terganggu dengan permintaan Cia?" Sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan oleh Ken, tapi itu dulu yang keluar.
"Tidak, karena sudah semestinya," jawab Bella tenang.
"Lantas apa hanya aku sendiri yang melakukannya?"
Bella menghela nafas pelan. "Tentu saja tidak, Ken."
"Lalu jika seandainya kita sudah saling mencintai, apa Key-Key itu masih ada di hatimu, Aru?"
Bella mengerti. Ken tengah bimbang ditambah dengan rasa cemburu.
"Ku tanya balik, jika kita sudah saling mencintai apa Cia masih ada di hatimu, Ken?" Ken tercekat dengan pertanyaan itu. Ia sendiri belum bisa memastikan, bagaimana bisa juga ia meminta kepastian?
"Cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Wajar jika mempunyai tempat tersendiri walaupun telah berpisah. Kita jalani saja. Saling belajar mencintai dan jika itu sudah terwujud, dan apabila di hati kita masih menyimpan nama dua orang itu, janganlah saling cemburu, jangan saling memaksa untuk menghilangkan nama itu, karena biar bagaimanapun mereka adalah kenangan indah di dalam hidup kita," tutur Bella.
Ken tidak menjawab, memilih merapatkan tubuhnya pada Ken, dan kini berbaring dengan memeluk pinggang Bella. Kaku dan canggung sejenak menyelimuti, perlahan menjadi relaks. Bella dengan lembut mengelus rambut Ken.
Kehangatan Bella membuat Ken nyaman. Matanya terpejam dengan bibir yang tersenyum.
"Aru tahu tentang Cia, apa aku juga boleh tahu dengan Key?"
"Key? Serius?"
"Tentu. Aku juga ingin tahu rupa pria yang mendapatkan hati My Aru."
Bella tersipu mendengar Ken menyebut namanya, Aru, My Aru.
"Baiklah. Tapi kau jangan terkejut, ya," ucap Bella menahan senyum.
"Tidak akan." Ken membuka matanya, mendongak menatap Bella meyakinkan.
Bella langsung meraih ponselnya. Membuka galeri dan menunjukkan foto Key padanya. Dahi Ken tentu saja berkerut-kerut.
"Ini siapa?" Hanya ada foto anak kecil laki-laki yang berpose dengan latar belakang boneka salju.
"Key," jawab singkat Bella. Ken langsung terduduk. Menatap bergantian foto itu dan Bella. Bella tersenyum, dalam hati tertawa melihat Ken yang kebingungan.
"Aru suka sama anak kecil? Aru pedofil?"cerca Ken dengan mata membulat. Menggemaskan menurut Bella.
"Hahahaha …." Tawa Bella seketika pecah.
"Kok malah tertawa sih? Aru pedofil?"kesal Ken.
"Hahaha tentu saja tidak. Key itu keponakan Louis, yang orang yang aku cintai adalah Louis. Hahaha kamu salah kira, kamu termakan oleh ucapanku. Hahaha lucu sekali." Bella malah tertawa terpingkal. Sedangkan Ken, ia melongo. Jadi selama ini ada cemburu pada orang salah? Pada anak kecil?
Tunggu, Louis? Ken ingat nama itu sekarang. Nada panggilan yang lembut seketika membuat Ken mengubah ekspresinya. Ia menjadi datar.
"Terserah. Mana fotonya?"
"Hahaha baiklah." Bella mencari foto Louis. Mata Louis tertegun melihat foto seorang pria yang tingginya hampir sama dengannya, tubuh yang lebih berisi. Wajah yang sama bahkan lebih tampan darinya. Tersenyum lebar dengan lesung pipi yang begitu mempesona. Pria itu sungguh sempurna. Ken berdecak kagum, sungguh tak heran jika Bella jatuh cinta pada pria itu, Louis.
"Bagaimana?"tanya Bella menanti penilaian Ken.
"Lebih tampan aku. Dia tidak sebanding denganku karena akulah yang menikah dengan Aru." Ken menutupi rasa takjubnya. Bella kembali terkekeh.
"Apa pekerjaannya?"tanya Ken kembali penasaran.
"Wakil Presdir Kalendra Group."
Jabatan yang tinggi. Tampan dan cantik, pasangan yang serasi. Sayangnya terpisah oleh cinta yang tidak direstui oleh sang Pencipta. Ken kagum dengan keteguhan hati Bella yang setia memegang teguh keyakinannya. Bukankah cinta seorang wanita itu kadang lebih gila dan nekat dari pria?
"Hei Ken," panggil Bella menyadarkan Ken. Ken tersentak pelan dan menatap Bella.
"Simpan saja semua tabunganmu. Hanya untuk satu bulan, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri bahkan dirimu."
Seusai mengatakan hal itu, Bella langsung berbaring dan menarik selimut, meninggalkan Ken yang terperangah.
"Apakah ini yang akan disebut hidup dibawa naungan Sugar Mommy?"gumam Ken.
"Ya, anggap saja begitu. Sugar Mommy? Tidak buruk juga."
Ken tidak bisa membalas kata-kata itu. Otaknya kini hanya dipenuhi gerutuan rasa malu.