This Is Our Love

This Is Our Love
Aku Berjanji!



"Okay, Dad. I'll be there soon," ucap Bella mengakhiri percakapan dengan Max via telepon. Ken dan Bella masih melepas lelah di bawah pohon kelapa.


"Ayo," ujar Bella, berdiri dan mengulurkan tangan pada Ken.


"Ke mana?"tanya Ken tanpa ada respon hendak menerima uluran tangan Bella. Ken mendongak menatap wajah sang istri.


"Makan siang. Ayo," ajak Bella, tersenyum lebar. Mata Ken memicing, "dengan mereka?"


"Hm."


"Ayo cepat. Kita sudah ditunggu." Lelah uluran tangannya tidak kunjung disambut, Bella langsung meraih dan menarik Ken berdiri.


"Tidak bisakah hanya kita berdua?" Ken jelas enggan. Bibirnya mencembik dengan sorot mata berharap Bella tidak makan siang dengan keluarga Kalendra.


"Ken mereka itu keluargaku! Daddy dan Mommy itu orang tuaku. Sikapmu yang begini akan membuat mereka merasa kau bukan suami dan menantu yang baik untukku. Aku tidak bisa mengabaikan mereka hanya karenamu. Dan kau juga tidak bisa membuatku memutuskan hubungan dengan mereka. Aku mengerti keluargamu dan kau harus mengerti keluargaku. Kau cemburu pada Louis bukan? Apa kau sudah lupa ucapanmu tadi?"tutur Bella. Nadanya tegas bercampur kesal.


"Tetap saja. Aku belum bisa mengontrol kecemburuanku," cicit Ken.


"Ck … kau ini bagai air di daun talas! Apa kau tidak percaya padaku?"kesal Bella. Ia mendengus sebal.


"Ya sudah kalau tidak mau. Aku saja yang ke sana!"pungkas Bella, ia melepaskan tangan Ken dan melangkah menjauh tanpa menunggu Ken.


"Eh tunggu! Bukan itu maksudku! Aru jangan marah! Tunggu aku!"seru Ken, lekas mengejar langkah lebar Bella dengan berlari.


"Tunggu aku." Ken berhasil meriah lengan Bella dan segera menggandengnya.


"Huh!"


*


*


*


Bella melepas gandengan Ken sebelum masuk ke ruang makan. Ken tersenyum kecut, sesaat kemudian wajahnya berubah datar.


"Abel sini," panggil Louis menepuk kursi di sampingnya. Bella mengangguk.


"Lama sekali kau. Meeting di mana rupanya?"tanya Louis penasaran.


"Online harus menyimpan barang dulu," jelas Bella.


"Oh."


"Setelah makan siang, ada jam meeting lagi?"tanya Louis memastikan.


"Ada!" Ken yang menjawab. Ia duduk di sisi kanan Bella.


"Selesai jam berapa?" Louis tak terlalu menghiraukan lirikan sinis Ken berikut nada datarnya. Ia hanya fokus menatap Bella dari samping.


"So …."


"Belum bisa dipastikan. Ada ada memangnya?" Bella melirik Ken untuk diam. Ken mendecih pelan, ia memalingkan wajahnya.


"Tentu saja jalan-jalan. Jauh-jauh kemari jika hanya berada di kamar dan berkeliling resort, sia-sia bukan?"


"Ku usahakan," jawab Bella. Mata Ken melebar. Ia segera memberikan lirikan protes pada Bella.


"Sudah lanjutkan nanti obrolan kalian. Kita makan siang dulu," tukas Max setelah diam menyimak obrolan Bella dan Louis.


Louis dan Bella mengangguk mengerti. Mereka mulai mengambil makanan masing-masing. Berdoa menuju ajaran masing-masing sebelum menyantap makanan di depan mereka.


Ruang makan hening tanpa pembicaraan. Hanya ada suara denting alat makan yang beradu. Semua fokus pada santapan masing-masing. Makan siang berlalu dengan cepat.


"Abel sudah ada panggilan itu, lekas tunaikan kewajibanmu," ucap Rose saat mendengar ponsel Bella mengumandangkan azan Zuhur disusul dengan azan dari ponsel Ken.


Bella mengangguk mengerti. Saat ponsel keduanya berhenti berbunyi barulah Bella dan Ken berdiri.


"Kalau begitu kami salat dulu ya. Setelah itu kami akan lanjut meeting. No problem kan?"


"Pergilah. Selesaikan tugasmu baru kita berkumpul lagi," ujar Max, melambaikan tangannya dengan tersenyum.


"Aru ayo," ajak Ken.


"Kak Abel nanti kita naik motor ya," pinta key yang duduk dalam pangkuan Helena.


"Of course, My Prince," jawab Bella.


"Hore!"


"Dah," pamit Bella. Ia dan Ken segera keluar dari ruang makan.


"Sudah-sudah jangan lihat ke pintu terus, Abel sudah jauh," tegur Leo. Louis berdecak yang disambut kekehan Leo.


"Kenapa adik ipar? Kau cemburu pada sekretaris Abel itu?" Louis mengangguk pelan.


"Louis, satu pesanku padamu. Janganlah kau mengekang Abel dalam perasaan cintamu. Jangan juga kau menyiksa dirimu dalam penantian tiada akhir. Kau dan Abel berbeda. Jarak di antara kalian untuk bersatu  tidak akan pernah mengecil. Cinta tak harus memiliki. Cinta itu hal sesuatu yang sangat murni. Jadi berusahalah, cobalah untuk melepaskan perasaanmu terhadap Abel, semakin cepat semakin bagus!" tutur Max. Louis diam mendengarnya.


*


*


*


Max dan Rose berkeliling menyusuri resort sembari menunggu Abel dan Bella selesai meeting. Keduanya bergandengan erat, melangkah berdampingan.


Mereka menghentikan langkah tak jauh dari pendopo di mana keduanya melihat anak dan menantu mereka tengah fokus pada pekerjaan masing-masing dengan Key yang berbaring berbantalkan paha sang ibu.


Keindahan pantai yang terpampang di hadapan mereka kalah dengan hal yang mereka kerjakan. Leo dan Louis memang menyempatkan diri untuk mengecek perusahaan sejenak yang kini ditangani oleh asisten masing-masing, Carl dan Luce.


"Satu darah memang mirip," ucap Rose.


"Kau benar," jawab Max.


"Mengapa kau menghela nafas?"tanya Rose, ia menatap heran suaminya.


"Apakah jika Louis dan Bella tahu bahwa mereka satu darah … aku harap sikap mereka tidak berubah."


"Percayalah. Mereka sudah dewasa, meski butuh waktu pasti akan menerima dan mengakui kebenarannya. Jangan terlalu khawatir." Rose mengusap dada suaminya.


Max tersenyum simpul. Keduanya kembali melanjutkan langkah.


"Sweetheart apa yang kau tulis?"tanya Leo, menatap sekilas sang istri.


"Aku dapat ide jadi ku catat dulu," jawab Helena. Leo mengangguk paham. Laptop Helena berada di kamar. Namun, Helena tak pernah meninggalkan buku catatannya saat berpergian.


"Perkembangan cerita Abel bagaimana?" Leo teringat tentang hal itu.


"Sudah ada tiga bab awal. Namun, belum aku tunjukkan pada Abel. Rencananya selesai makan malam nanti." Louis menoleh singkat saat Kakak dan Kakak iparnya itu menyinggung nama Bella.


"Sebaiknya segera tunjukkan pada Abel. Kita akan makan malam di luar resort sekalian jalan-jalan. Takutnya kalau menunggu selesai makan malam tidak keburu. Lebih cepat lebih baik," saran Leo.


"Hm benar juga. Baiklah aku ambil laptopku dulu. Jaga Key ya," ujar Helena. Leo mengangguk. Ia bergeser berganti tempat dengan Helena guna memangku kepala Key.


"Kak apa maksud obrolan kalian tadi? Untuk apa Abel meminta Kak Helen membuatkannya cerita?"tanya Louis setelah Helena menjauh.


"Teman? Bukan untuk konsumsi pribadi?" Louis menghentikan ketikan jarinya pada keyboard. Pemilik senyum manis itu menautkan alisnya.


"Maybe." Leo juga enggan ambil pusing. Itu urusan Helena dengan Abel.


"Jika begitu bukankah itu namanya ilegal? Mempublikasikan hasil kerja orang lain atas nama orang lain." Leo menoleh pada adiknya. Bibirnya mengulas senyum tipis, tatapan matanya sungguh tenang tanpa riak kekhawatiran.


"Abel tidak akan merugikan keluarganya demi kepentingan orang lain. Mengapa kau cemas padahal kau mengenal Abel dengan baik?"tanya Leo, menyelidik.


Louis menghela nafas, "aku hanya cemas."


"Tenanglah. Helen juga bukan sembarang ambil keputusan. Lagipula tidak semuanya Helen yang mengerjakan. Mereka itu kerja sama," tukas Leo, menenangkan kecemasan sang adik.


"Jika begitu, aku lega."


*


*


*


"Dia juga ikut?"tanya Louis menunjuk Ken yang berdiri di belakang Bella. Bella mengangguk membenarkan. Meeting selesai pukul 14.30, tepat di pukul 15.00, keluarga Kalendra, berikut Bella, Ken juga Teresa telah berada di lobby resort.


"Dia tipe introvet. Aku cemas meninggalkannya sendiri," jawab Bella.


"Benarkah?" Mata Louis menyelidik. Ken tetap diam menunjukkan wajah datarnya.


"Sudahlah. Tidak masalah. Mobil juga cukup," putus Max, melihat ke arah luar di mana ada dua mobil dengan tipe atap bisa dibuka dan ditutup otomatis.


"Hm." Mau tak mau Louis menerima. Mereka mulai bergerak. Bella dan Key naik motor. Max, Rose, Leo, dan Helena satu mobil dengan Leo sebagai pengemudi.


Sementara Louis, Teresa, dan Ken di minum satu lagi dengan pemandu wisata mereka sebagai pengemudi. Louis mendengus kasar saat ia harus duduk berdampingan dengan Teresa. Niatnya ingin duduk di samping sopir. Namun, telah karena sudah diisi oleh Ken.


Teresa merasa kaku sendiri. Ia duduk mepet dengan pintu. Pandangannya tertunduk. Degupan jantungnya semakin kencang. Ia berharap Louis tidak mendengarnya.


"Tuan Muda atapnya mau dibuka atau tetap seperti ini?"tanya Pemandu Wisata ramah sebelum jalan.


"Dibuka saja," jawab Louis.


"Baiklah."


Atap mobil terbuka otomatis, mobil mulai berjalan meninggalkan resort. Disusul oleh mobil yang dikemudikan oleh Leo. Sedangkan Bella dan Key berada paling belakang. Bella mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. Itu atas dasar rengekan Key yang enggan waktunya dengan Bella berlalu dengan cepat.


"Jadi coklat kemarin itu titipan Key?"tanya Bella.


"Hem. Apa Uncle mengatakan itu darinya?"tanya Key, nadanya sedikit ketus.


"Tidak mengatakan apapun. Terima kasih untuk coklatnya. Kakak sangat menyukainya," ucap Bella menenangkan Pangeran kecilnya itu.


"Sama-sama. Key juga bawa lagi, tapi masih di kamar. Key lupa tadi. Nanti Key kasih pada Kakak."


"Baiklah."


"Key ingin mengejar mereka?" Jarak motor Bella dan dua mobil keluarganya cukup jauh.


"Tidak."


"Baiklah. Kita pelan-pelan saja."


*


*


*


Pantai Nusa Dua menjadi spot pertama yang dikunjungi oleh keluarga Mahendra. Jaraknya tak begitu jauh dari resort tempat mereka menginap karena masih dalam satu area. Sebenarnya pantai yang disusuri oleh Bella dan Ken tadi termasuk garis pantai Nusa Dua namun rasanya lebih pas jika ke pantai utamanya.


Nusa Dua Beach, pantai yang masuk jajaran pantai terbaik di Asia. Hal itu tak terlepas dari kondisi lingkungan pantai yang begitu bersih dan rapi, ditunjang lagi karena berada di kawasan elit. Keindahan pantai tak perlu diragukan lagi.


Pasir berwarna putih kecoklatan berpadu dengan air laut yang biru. Gradasi biru di langit menambah keindahan pantai. Belum lagi deburan ombak yang tenang, menciptakan irama tersendiri. Pepohonan yang tumbuh di pinggir pantai, berpadu dengan pesona resort dan hotel mewah yang turut mengelilingi pantai.


Ken tersenyum lembut melihat Bella yang asyik bermain dengan Key. Bella dan Key berlarian di tepi pantai. Tawa mereka berdua begitu ringan. Ken sendiri duduk di kursi pantai yang biasa digunakan untuk berjemur, bersama dengan Max dan Rose.


Louis, Leo, kedua pria itu sibuk menceburkan diri berenang di pantai. Helena dan Teresa asyik bermain pasir.


" Ken." Ken mengalihkan pandang ke arah Max.


"Ya begitulah jika Key dan Abel sudah bertemu, baik Louis maupun Helen tak bisa memisahkan mereka. Maklum saja, darah Abel ada pada Key," ujar Rose.


"Saya tahu, Nyonya," sahut Ken.


"Rupanya Abel sudah cerita. Baguslah. Sepertinya hubungan kalian sangat baik."


"Memang."


" Ken, bersabarlah sebentar lagi. Tidak mungkin kami mengatakan hal yang menyakitkan untuk Louis di saat begini. Setidaknya setelah atau di akhir liburan nanti," ucap Rose, menatap sendu Louis yang masih asyik berenang.


Ken kembali melihat ke arah Bella dan Key yang kini bermain air. Ingin rasanya bergabung namun Ken tahan.


"Ken apa kau mencintai Abel?"tanya Max.


Pria itu ingin memastikan karakter pria yang akan mendampingi Bella sampai akhir hayat. Ia tahu jelas karakter Bella. Putrinya itu sudah menentukan pilihan, entah itu kesepakatan atau apa, Bella sudah menetapkan pilihan pada Ken.


"Tentu!" Jawaban yang mantap.


"Sebesar apa?" Ken diam. Ia tidak langsung menjawab. Max tersenyum tipis.


"Aku sudah tahu latar belakangmu." Ken sontak duduk tegak.


"Kami tak minta banyak darimu. Sebagai orang tua, kami hanya ingin kau membahagiakan Abel. Apa kau sudah tahu prinsipnya pada pernikahan?" Ken mengangguk.


"Bisa kau bersumpah untuk itu?"


Tanpa ragu Ken kembali mengangguk.


"Belajarlah untuk menjadi kuat. Kembangkan terus kemampuanmu. Setidaknya kau bisa melindungi dirimu sendiri," ucap Max, memberi pesan.


"Aku paham."


"Ada satu hal lagi yang ingin aku pastikan," ucap Max.


"Silakan."


"Jika kelak masa lalumu kembali, apa kau akan kembali padanya? Maksudku apa tanggapanmu?"


Mata Ken melebar, Max juga tahu tentang Cia?


"Aku harap kau tidak akan pernah mengecewakan putriku. Jika itu terjadi, aku pastikan akan membawanya jauh darimu! Sekalipun keluargamu bertindak, mereka juga tidak akan mampu!"


"Aku berjanji! Biarpun Cia kembali, masa lalu tetaplah masa lalu. Tuan, Nyonya, aku tidak berani mengatakan seberapa besar rasa cintaku untuk isteriku. Namun, aku rela melakukan apa saja untuknya. Aku rela berkorban sekalipun harus menyerahkan nyawaku! Aku berjanji Aru adalah satu dan hanya isteriku sampai akhir hidupku ini. Jika aku mengecewakannya, aku rela menanggung konsekuensi atas perbuatanku!"


"Anak Muda, aku pegang janjimu ini!" Max tersenyum simpul. Ia lega. Begitu juga dengan Rose.