This Is Our Love

This Is Our Love
Keputusan Azzura



Anggara tersenyum lega karena orang tua Azzura mengizinkan Azzura pindah ke kediaman Utomo, ikut dengan suaminya. 


Tentu saja semua itu atas keinginan Azzura sendiri yang disampaikan pada orang tuanya. Tak lupa, Azzura menyampaikan niatnya untuk meninggalkan title keterbelakangan mental yang ia derita.


Tuan Adhitama dan Nyonya Dinda tentunya sangat senang dengan niat Azzura itu. Sudah lama mereka menantikan ucapan itu keluar dari bibir Azzura.


Sebagai orang tua, tentu keduanya geram dengan gunjingan dan omongan tak sedap orang akan putrinya. Hanya saja, Azzura selalu meminta keduanya untuk tidak menggubris.


Acuhkan saja, anggap mereka sebagai bahan bakar gratis untuk semakin membuat Azzura dan keluarga ini semakin dan semakin baik dan berjaya dari waktu ke waktu. 


Dan jika Azzura sudah menunjukkan dirinya yang sebenarnya, maka siapapun itu yang menggunjing dan mencibir Azzura akan menampar dan menjilat ludah mereka sendiri. 


Namun, di balik rasa lega dan senang itu, tetap tersimpan sebuah kekhawatiran. Tuan Adhitama dan Nyonya Dinda harap-harap cemas dengan rencana sang putri yang cukup ekstrim karena akan membahayakan diri sendiri.


Tapi, itu adalah jalan yang paling pas untuk rencananya. Mereka hanya bisa berusaha untuk meminimalisir risiko yang akan tercipta. 


*


*


*


Selesai shalat jum'at, Anggara, Angkasa, ditemani oleh Tuan Adhitama langsung berangkat menuju Utomo Company untuk melangsungkan acara pengangkatan Anggara sebagai Presdir di rapat darurat petinggi perusahaan.


Azzura dan Nyonya Dinda tidak ikut. Mereka kembali ke kediaman Adhitama untuk mengambil barang-barang Azzura karena seterusnya Azzura akan tinggal di kediaman Utomo. 


Awalnya Anggara merasa tidak enak dengan mertuanya. Ia akan membawa istrinya meninggalkan rumah mertua, masa' mertua sih yang mengemas dan mengantarkan istrinya ke rumahnya? 


Nyonya Dinda dengan lembut menjawab hal itu bukanlah suatu masalah besar apalagi bentuk ketidaksopanan. Lagipula Anggara bukan dalam kondisi yang baik dari segi waktu dan pikiran.


Menyampaikan niat dan meminta persetujuan orang tua Azzura sudah dianggap cukup. Jika menunggu Anggara pulang dari perusahaan, Azzura lama menunggu dan hari kemungkinan sudah gelap. Yang terpenting Anggara menunjukkan niat baiknya. 


*


*


*


Rapat darurat digelar untuk mengangkat Anggara sebagai Presdir  dan  Angkasa dikukukan sebagai wakil Presdir Utomo Company.


Pengangkatan dan pengukuhan itu disaksikan oleh segenap dewan direksi dan petinggi lainnya. Anggara dan Angkasa memejamkan matanya saat ia sudah resmi diangkat menjadi Presdir dan wakil Presdir, disambut tepuk tangan peserta meeting darurat. 


Keduanya kemudian berjabat tangan dan berpelukan. Berikutnya Anggara menyampaikan sepatah dua kata sebagai Presdir.


Anggara menyadari dirinya belumlah pantas menjadi seorang Presdir. Ia menjadi Presdir karena ia adalah pewaris pertama yang ditunjuk oleh Bayu. Masih banyak kekurangannya. Masih banyak yang harus ia pelajari.


Ia masih butuh bimbingan dan meminta para senior untuk membantu dan mengawasinya dalam menjalankan tugasnya.


Ia harap, pergantian Presdir yang mendadak tanpa persiapan ini tidak membuat produktivitas perusahaan menurun. Ia berharap mereka tetap solid, menjalankan dan mengembangkan perusahaan ini. 


Karena Angkasa dan Anggara sama-sama baru diangkat dengan jabatan yang tugasnya hampir mirip, maka apa yang disampaikan Anggara adalah perwakilan apa yang ingin disampaikan Angkasa.


Jika ditanya apakah Angkasa merasa tidak adil dengan pembagian itu?


Tentu saja tidak! Memangnya menjadi Presdir itu enak?


Tugas dan tanggung jawabnya lah yang paling besar. Ke mana arah perusahaan ini, ditentukan oleh Presdirnya. Lagipula Anggara adalah kakaknya.


Beda lima menit pun sudah termasuk lama. Waktu begitu mahal karena setiap detiknya tidak akan bisa diulang kembali. 


Mereka tinggal berdua, jika berselisih mau dibawa kemana perusahaan dan keluarga mereka?


Jika mereka berselisih karena warisan, bagaimana perasaan orang tua mereka di sana?


Kecewa, bukan?


Jika mereka bisa bersatu, bersama-sama memimpin perusahaan, mengapa harus berselisih?


Anggara dan Angkasa mengangkat kedua tangan mereka ke atas dengan bergandengan tangan kemudian membungkuk kecil.


Tuan Adhitama terkagum dengan pembawaan dan kepercayaan diri Anggara dan Angkasa. Padahal selama di rumahnya, Anggara menunjukkan wajah yang biasa saja, ia juga sering bermain game sembari menemani Azzura bermain entah apapun itu. 


Tuan Adhitama kemudian tersenyum lebar, ia benar-benar percaya putrinya tidak salah pilih. 


*


*


*


"Terima kasih banyak, Paman. Paman telah membantu kami melewati hari ini," ucap Anggara pada Paman Wahyu.


Anggara kemudian memeluk Paman Wahyu disusul oleh Angkasa. Paman Wahyu tetap pada posisinya yakni sebagai sekretaris Presdir. 


"Sudah seharusnya, Tuan Muda," ucap Paman Wahyu dengan tersenyum lebar.


"Acara sudah selesai, lebih baik kalian keluar lalu lusa akan mulai berkerja," tutur Paman Wahyu. 


"Baik, Paman."


Paman Wahyu melambaikan tangannya pada Anggara dan Angkasa meninggalkan ruang ruang meeting. Namun, Paman Wahyu mengeryit melihat Anggara yang berhenti dan merogoh saku jas bagian dalam. Menerima sebuah panggilan.


"Apa?" Paman Wahyu tersentak mendengar Azzura berteriak kencang. 


"Ada apa, Ga?"tanya Angkasa yang tidak dijawab oleh Anggara.


Anggara berlari meninggalkan. Angkasa menyusul.


"Ada hal apa lagi?"gumam Paman Wahyu dengan cemas. 


Di lobby, Anggara menghampiri Tuan Adhitama.


Wajah Tuan Adhitama menunjukkan kecemasan luar biasa sama seperti Anggara. "Pa bagaimana bisa …."


"Jangan tanyakan sekarang, ayo kita ke rumah sakit!"sela Tuan Adhitama.


"Ada apa? Mengapa kalian cemas?"tanya Angkasa.


"Isteri dan mertuaku kecelakaan," jawab Anggara dengan wajah gusar.


Mata Angkasa terbelalak.


Kecelakaan, lagi?


Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka?


*


*


*


"Benar-benar serius. Kau memang hebat, Azzura," gumam Bella membaca berita kecelakaan yang sudah masuk ke dalam media sosial.


"Ken …," panggil Bella pada suaminya yang tertidur di sebelahnya.


Sepertinya begitu kelelahan. Wajar saja, keduanya lembut dan waktu hampir menunjukkan pukul 21.00. 


"Ken … Darling, Honey, wake up, please. Let's go to the home," panggil Bella lagi dengan mencolek-colek pipi suaminya. 


Ken terganggu dan mulai membuka matanya. Disambut oleh senyum manis istrinya.


"Sudah selesai?"tanya Ken dengan mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian duduk tegak dan merenggangkan tubuhnya. 


"Sudah. Ayo kita pulang. Tapi, sebelumnya mampir dulu ya. Aku ingin sate kacang," ujar Bella. 


"Kau lapar, Aru?"


"Aku ingin," jawab Bella.


"Okay," balas Ken. 


Ken menyipitkan matanya saat melihat artikel kecelakaan di ponsel Bella yang masih menyala.


"Innalillahi!"seru Ken terkejut saat membaca judulnya. 


"What's problem?"tanya Bella.


"Keluarga Utomo ini tengah diuji atau bagaimana? Atau mereka mereka memang lagi di fase nasib buruk?"pikir Ken.


"Itu rencana Azzura," jawab Bella. 


"Rencana?"


"Sebenarnya Azzura itu normal. Hanya saja ia sengaja untuk tetap menggunakan title keterbelakangan mentalnya itu. Dan apa kau, Ken? Kalau pesatnya perkembangan ASA BANK tak lain karena turut campur tangannya. Dia berbakat, bisa dikatakan setara dengan Brian."


"Sungguh?"


Jika orang lain yang mengatakannya, Ken pasti tidak percaya. Tapi, jika istri cantiknya ini, Ken tidak bisa untuk tidak percaya. 


"Kecelakaan itu adalah rencananya. Lihat saja perubahannya nanti setelah keluar dari rumah sakit," jelas Bella. 


"Dari mana kau tahu, Aru?"


Bella tersenyum simpul.


"Yang penting kau tahu tentang ini. Dari mana aku tahu, kau tidak perlu tahu," jawab Bella yang langsung membuat Ken cemberut merah.


"Kau pasti banyak merahasiakan sesuatu dariku," ketusnya pada Bella.


'Hidup ini adalah rahasia, Ken. Siapa sih di dunia ini yang ngak punya rahasia? Termasuk aku, Ken. Ya aku akui aku punya banyak rahasia. Namun, itu adalah privasiku jauh sebelum kita menikah. Jadi, aku tidak punya kewajiban atau suatu keharusan membagi rahasiaku denganmu. Lagipula rahasia itu tidak membebaniku. Dan aku lakukan atas pertimbangan yang matang," terang Bella, mengakui jika dirinya memiliki banyak rahasia.


Ken menghembuskan nafas pelan.


" Baiklah. Itu pilihanmu namun andainya kau ingin membagi rahasiamu denganku, aku akan menjadi tempat teraman untukmu berbagi rahasia," balas Ken.


Menurutnya mungkin Bella waktu membutuhkan waktu untuk berbagi dengannyan. Biarlah selama hal itu tidak membebani istrinya, bukanlah masalah baginya.


"Lalu bagaimana kita pulang dan mampir makan sate?"tanya Ken dengan mengulurkan tangannya. 


"Off course," jawab Bella dengan menerima uluran tangan Ken. 


*


*


*


Kecelakaan yang dirancang oleh Azzura cukup fatal. Azzura mengalami cidera kepala yang cukup parah karena kecelakaan itu.


Begitu juga dengan Nyonya Dinda. Keduanya kini dalam penanganan serius tim dokter. Operasi pun sempat dilakukan karena terjadi pendarahan. 


Dan syukurlah, kondisi keduanya sudah stabil sekarang yang membuat Anggara, Angkasa, dan Tuan Adhitama bisa bernafas lega. 


Tuan Adhitama menatap dalam wajah istri dan anaknya yang berada dalam satu ruangannya. Keduanya terlihat begitu damai. Kata dokter mungkin besok pagi baru keduanya akan sadarkan diri. 


Diraihnya telapak tangan sang istri, Tuan Adhitama mendaratkan kecupan pada punggung tangan Nyonya Dinda. 


Tuan Adhitama kemudian berpindah ke sisi ranjang Azzura. Dikecupnya dahi sang putri.


"Setelah bangun, Zura akan bebas berekspresi dan tidak perlu melakukan semuanya dengan sembunyi-sembunyi lagi. Kau tidak perlu berpura-pura lagi," tutur Tuan Adhitama, berbisik lembut di dekat telinga Azzura. 


Pandangan Tuan Adhitama beralih pada Anggara yang tertidur pulas di sofa. Tuan Adhitama yang memaksanya untuk tidur di sofa. Jika tidak Anggara akan tidur dengan duduk di tepi ranjang Azzura, menunggui sang istri bangun. 


*


*


*