
Bella memalingkan wajahnya ke arah pintu begitu indra pendengarannya mendengar suara pintu terbuka. Itu Irene. Wanita itu sudah menggunakan kemeja putih dengan celana hitam ditambah dengan blazer dan rambut dikuncir kuda.
"Apakah? Anda ingin mandi, Nona?"tanya Irene.
"Tentu saja. Tapi bagaimana dengan pakaianku?"tanya Bella secara ini adalah istana atau markas mafia.
"Apakah Anda melupakan jawaban saya saat pesawat kemarin, Nona? Kami menyimpan dengan baik barang-barang Anda. termasuk koper Anda. Jadi, pakaian Anda ada di dalam koper Anda," terang Irene yang membuat Bella terkesiap.
"Jadi, koperku juga kalian bawa?"tanya Bella memastikan. Irene mengangguk.
"Koper, ransel, ponsel, laptop, semua kami bawa kecuali suami Anda," jawab Irene dengan sedikit lakaran. Bella mendengus.
"Artinya kau tahu aku ini sudah bersuami. Mengapa kau mendukungku menjadi pendamping Tuanmu?"sahut Bella.
"Karena Anda pantas!"jawab Irene kemudian menepuk tangannya. Seorang wanita berseragam pelayan masuk dengan membawa dua buah koper. Satu koper milik Bella dan satu lagi, koper berukuran sedang tidak tahu apa isinya.
Mengabaikan jawaban Irene, Bella segera membuka kopernya. Lengkap tidak ada yang kurang satu pun dari set pakaian yang ia bawa. Tas berisi alat make up nya juga ada di dalamnya. Juga ada tas kecil berisi mukena nya.
Wait!
Artinya Irene atau siapapun itu sudah membongkar isi tasnya.
"Hei!" Bella berseru pada Irene. Irene agaknya tersentak.
"Awas saja jika data di laptop atau ponselku hilang! Aku tidak akan mentolerirnya," peringat Bella tanpa menatap Irene. Nadanya serius.
Irene tersenyum.
Keamanan ponsel, laptop, dan data Anda sangat kuat, Nona. Tuan saja tidak bisa menemukan sandinya, jawab Irene dengan membatin. Ya, semua memang Bella pasang sandi yang kuat demi menjaga keamanan dan kevalidan data yang ada di dalamnya.
"Saya akan mengambil satu set pakaian Anda sebagai contoh agar designer kami dapat membuat pakaian Anda," ucap Irene.
"Hm?" Bella menorehkan wajah pada Irene. Bella menaikkan salah satu alisnya. Itu tanda bertanya.
"Anda akan tinggal di sini. Tentu saja kami harus menyiapkan keperluan Anda termasuk pakaian," terang Irene kemudian.
"Oh." Ya dalam benak Irene pasti berpikir jika Bella akan tinggal di sini dalam jangka waktu yang lama bersama dengan Desya.
"Silakan Anda membersihkan diri, Nona. Saya akan mengambilkan sarapan untuk Anda," ujar Irene kemudian pamit undur diri. Setelah Irene meninggalkan kamar, Bella mengusap wajahnya. Bella baru teringat jika di kamar mandi tidak ada apapun selain air, tidak lengkap rasanya mandi tanpa sabun dan kawan-kawannya.
Mata Bella tertuju pada koper di samping kopernya dengan rasa penasaran. Bella membuka koper tersebut. "Wow!" Bella berdecak. Isinya adalah set perawatan mandi. Mulai dari handuk, sabun dengan beberapa pilihan aroma, begitu juga dengan shampo dan pasta gigi.
"I'm ready." Bella bersiap untuk mandi.
*
*
*
Brakk!!!
"Tidak bisakah kalian diam?" Desya memukul meja dengan keras. Tiga wanita yang tadi malam berada di kamarnya juga pelayan yang ada di ruang makan terdiam serta menunduk. Ruang makan yang luas itu langsung sunyi senyap. Desya ingin menikmati sarapannya dengan santai namun malah diganggu oleh ocehan ketiga wanita itu. Mereka memperebutkan Desya. Dengan siapa Desya akan bermalam malam ini, ringkasnya mereka sedang mempertanyakan pembagian malam Desya dengan mereka.
Dan satu yang cukup aneh. Mereka bertiga kemarin mengaku sebagai istri dari Desya. Namun, apakah mereka tidak mendengar dan mengetahui jika Desya membawa wanita asing pulang? Bahkan menggendongnya ke dalam kamar dan tadi malam Desya tidur di kamar wanita itu?
Jawabannya ya. Mereka benar memang belum tahu karena Irene menyuruh siapapun yang melihat Desya tadi malam membawa wanita asing pulang untuk tutup mulut. Belum saatnya. Bella baru tiba dan tentunya lelah. Irene tidak ingin Bella langsung disambut masalah.
"Kalian merusak moodku!"ketus dan sinis Desya, meninggalkan ruang makan.
"Tuan … Tuan jangan pergi. Jangan tinggalkan kami lagi!!" Dan seruan itu tidak digubris oleh Desya.
"Ada apa dengan Tuan? Mengapa sikapnya berubah aneh?"tanya wanita yang mengenakan dress berwarna kuning dengan belahan dada yang rendah.
"Aku juga bingung. Biasanya dia langsung bergairah melihat kita memakai lingerie. Namun, reaksinya tadi malam sungguh tidak aku mengerti," sahut wanita yang mengenakan long dress berwarna biru dengan belahan paha yang cukup tinggi.
"Apa Tuan sedang berada dalam masalah serius?"terka wanita yang mengenakan dress berwarna hijau tosca.
"Entahlah. Tapi, aku tidak yakin karena pekerjaaan. Mungkin ada hal lain yang tidak kita ketahui," balas wanita yang mengenakan long dress biru tadi.
"Lebih baik kita sarapan lalu pikirkan cara menghiburnya," sarannya kemudian.
"Hm. Baiklah."
Mereka memilih untuk melanjutkan sarapan.
*
*
*
"Irene, ceritakan padaku tentang Tuanmu dan istana ini. Lalu lambang mawar hitam di bendera itu," ucap Bella saat Irene kembali dengan membawakan sarapan. Bella memintanya untuk duduk dan ikut sarapan. Awalnya Irene menolak. Namun, Bella memaksanya.
Menu sarapan adalah roti tawar dengan beberapa jenis selai. Irene duduk dengan kaku. Ia merasa tegang. Takut Desya datang tiba-tiba dan tidak suka dengan tindakan ini. Namun, Irene lebih takut lagi jika Desya marah karena membuat Bella merasa tidak senang.
"Sebelum itu berapa usiamu?"tanya Bella.
"Usia saya?" Irene tampak terhenyak.
"Mengapa kau kaget begitu? Seakan tidak ada yang pernah menanyakan usiamu," celetuk Bella yang tak disangka diangguki oleh Irene.
"Serius?"
"Sejak ibuku meninggal tidak pernah ada yang menanyakan usiaku. Aku bahkan seperti lupa berapa usiaku." Nadanya berubah menjadi non formal mungkin karena pembawaan Bella sehingga tidak membuat Irene terlalu kaku.
"Sepertinya kau mengalami hal yang sangat keras, Irene," ujar Bella. Irene tersenyum. Ya, untuk bisa berada di posisinya tentu Irene sudah melewati banyak hal baik pelatihan maupun hal lainnya. Menjadi seorang pengawal pribadi untuk seorang Tuan Muda tentulah hal yang mudah.
"Sudah jalan saya, Nona," jawab Irene dengan tersenyum. Nadanya kembali formal.
"Setidaknya kau tidak lupa cara untuk tersenyum, Irene," cetus Bella. Ia mencairkan suasana sedih itu.
"Kalau tidak salah saya berusia 25 tahun, Nona. Tahun kelahiran sayang sama dengan tahun kelahiran Tuan," ujar Irene kemudian.
"Hm. 25? Kau memberiku dua informasi."
Irene sedikit menyengir. Itu disengaja.
"Ayo ceritakan tentang Tuanmu. Aku butuh itu agar bisa menyesuaikan diri di sini, bukan?"ujar Bella.
"Baiklah, Nona."
*
*
*
Desya Volcov, itulah nama lengkap Desya. Entah mengapa orang tuanya memberi nama Desya yang artinya bahagia, dan disandingkan dengan marga keluarga yakni Volkov yang artinya serigala. Ya, mungkin orang tuanya berharap Desya menjadi serigala yang bahagia.
Namun, agaknya itu berbanding terbalik. Desya adalah seorang serigala yang menakutkan, penuh luka, dan dia bahkan tidak mengerti arti kata bahagia itu apa.
Desya adalah anak tunggal. Artinya sejak kecil ia harus belajar, mempelajari, mengasah dirinya untuk menjadi seorang pewaris.
Di dalam dalam Desya, masih mengalir darah bangsawan. Ibu Desya adalah keturunan bangsawan sedangkan ayahnya berdarah mafia.
Desya, ia berusia 25 tahun namun sudah memiliki tiga orang istri. Yups, tiga orang istri.
Bukankah kemarin Desya mengatakan tidak ada wanita yang menarik di matanya? Ya, itu memang benar.
Ketiga istri itu ada karena adanya pernikahan untuk memperluas dan memperkokoh kekuasaan. Lebih mirip sebagai perjodohan atau pernikahan aliansi. Desya tidak bisa menolak karena itu sudah tugasnya sebagai seorang pewaris.
Hal itu tentulah tidak aneh. Dalam hal bisnis ataupun kekuasaan, itu hal biasa. Lantas, apa Desya menyentuh mereka? Off course!
Desya menyentuh ketiganya. Namun, ia melakukan tanpa merasa bahagia sama sekali. Sama seperti saat ia menikahi ketiga istrinya. Desya melakukannya karena kewajiban dan perintah. Ia ada kewajiban untuk memberikan pewaris selanjutnya.
Lalu mawar hitam, apa nama mafia ini? Black Rose? Sesuai dengan lambang? Atau yang lain?
Ya, simple saja. Namanya sesuai dengan lambangnya, Black Rose. Dan makna lambang itu juga berbanding terbalik dengan nama Desya. Hitam, itu identik dengan kesedihan. Mawar hitam menjadi tanda duka mendalam atas kepergian atau kematian. Namun, mawar hitam di sini tidak bermakna kesedihan. Warna hitam merupakan penutup kedukaan untuk awal yang lebih baik dan penuh harapan.
Arti tersebut juga memaknai arti mawar hitam, di mana menyiratkan di tengah kedukaan maupun kegagalan yang sedang dilalui, maka kedukaan tersebut akan berakhir dengan awal mula kehidupan baru yang lebih baik.
Dengan dipadukannya dengan kain bendera berwarna putih maka maknanya menjadi bahwa dibalik kedukaan (tersirat pada mawar hitam) maka akan lahir sebuah kegembiraan dan pengharapan (makna tersirat pada bunga kain putih). Mawar hitam juga bermakna kelahiran kembali. Juga sebagai keberanian dan perlawanan serta kesetiaan. Satu lambang namun begitu banyak artinya.
Black Rose memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar. Mereka terkenal di tanah Rusia ini. Usaha yang dijalankan? Ada yang legal dan non legal. Narkoba? Itu salah satunya. Jual beli senjata? Itu sudah pasti.
Bagaimana dengan orang tua Desya? Orang tua Desya sudah memasuki masa pensiun. Orang tuanya kini menghabiskan hari di villa mereka yang terletak jauh dari hirup pikuk kota dan juga pekerjaan. Semua diserahkan pada Desya.
*
*
*
"Jadi … dia sudah menikah?" Itu yang lebih dulu Bella tangkap.
Irene mengangguk. "Gila! Bagaimana denganku? Apa aku akan jadi yang keempat? Apa aku juga akan berurusan dengan istri-istrinya itu? Aahhh memikirkannya membuatku gila!!"erang Bella frustrasi. Dulu, ia saja tidak mau dimadu. Sekarang, bukankah gambarannya ia akan dimadu dan menjadi yang keempat?
Ah. Kali ini, Irene pun bingung mau menjawab apa. Ia juga tidak terlalu paham dengan apa yang dipikirkan oleh Tuannya itu.
"Nona … lebih baik Anda menanyakannya pada Tuan," jawab Irene.
"Aku merasa aku harus tetap berada di kamar ini. Hei, dia malah membuatku menderita!!!"
"Lalu jika aku mengusir mereka semua apa kau akan menerimaku?" Desya tiba-tiba masuk dan melayangkan pertanyaan pada Bella. Bella dan Irene terperanjat. Terlebih Irene.
Sejak kapan Desya di sana! Apa Desya mendengar pembicaraan mereka tadi?