
Di belahan benua lain, yakni benua Amerika, Amerika Serikat. Di mansion mewah keluarga Nero, tepatnya di kamar Tuan Tuan Nero yang bernama Marco.
Hujan turun di sore hati. Jendela kamar basah dengan cipratan hujan. Jendela kaca itu terasa sangat dingin.
Namun, agaknya Marco tidak terpengaruh dengan hujan yang dengan lebatnya mengguyur daerah tempatnya tinggal. Kamar dilengkapi dengan penghangat, setiap saat kamarnya selalu hangat.
Marco, pria tua yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, dengan menatap layar laptop yang menampilkan foto Bella dan Nesya. Pria bertubuh kurus dan tampak rapuh itu menatap lekat foto itu tanpa berkedip.
"Heh!" Pria itu mencibir. Raut wajahnya yang semula datar berubah menjadi meremehkan. Jemarinya mengepal. Ada dendam pada tatapannya.
"Marissa … Marissa kecantikanmu menurun pada cucumu. Andai saja … andai saja dulu kau tidak menolakku dan lebih memilih mahasiswa asing itu, pasti!"ucap Marco berandai-andai, nadanya melemah, tatapannya berubah sendu, penuh kasih dan sayang.
Marco tengah mengingat masa-masa mudanya dulu, saat ia pertama kali melihat nenek Marissa dan jatuh cinta pada pandang pertama. Di usianya, ia masih mengingat dengan begitu jelas, bahkan masih sanggup memimpin rapat.
Di umurnya pula, Marco tidak buta akan teknologi. Hal itu sejalan dengan basis bisnis keluarga Nero yang bergerak dalam transportasi udara yang setiap waktunya mengalami perkembangan dan berbagai macam inovasi.
Marco bahkan sampai sekarang masing memegang dan memimpin rapat-rapat besar tanpa kesusahan. Usianya boleh sudah uzur, tapi semangatnya, membuat tubuhnya yang sudah rentah begitu kuat. Otaknya berfungsi dengan sangat baik. Ingatannya masih begitu kuat. Ia adalah tokoh yang sangat dihormati dalam dunia bisnis, bahkan pemerintah juga menghormati dirinya.
"Pasti aku adalah pria yang sangat berbahagia di dunia ini. Istri yang secantik dirimu, anak setampan Bisma, dan cucu secantik dan secerdas Abel dan Nesya. Tapi, hahahaha …." Marco tertawa. Tawanya memang terbahak. Namun, terkesan hambar.
"Kau! Kau menjadikan semua itu hanya angan, Risa! Aku bertanya-tanya, apa yang kurang dariku hingga kau lebih memilihnya yang jelas tidak sebanding denganku …."
Lagi, pria itu berbicara sendiri dan menggantung ucapannya sendiri. Sorot matanya menggambarkan kekecewaan dan kesedihan.
"Hingga pada akhirnya aku mengerti, dia memiliki hatimu. Kau mencintainya hingga kau rela menentang dan meninggalkan keluargamu. Kau bahkan rela meninggalkan kepercayaan kau anut demi cintamu padanya."
Marco tersenyum getir. Matanya mulai berkaca-kaca. Kakek itu kemudian menggerakkan tangannya membuka laci dan mengambil sebuah foto.
Foto hitam putih itu masih terlihat begitu bagus. Di dalamnya terdapat potret seorang wanita dengan gaya rambut ala Eropa abad ke-19.
"Risa aku sangat mencintaimu. Aku gila karenamu. Bahkan saat aku sudah memiliki istri dan anak, hingga cucu dan cicit, sampai detik ini aku tidak bisa melupakanmu. Risa dari atas sana tidakkah kau bisa melihat begitu besarnya cintaku padamu?"
Marco menatap foto Marissa dengan air mata yang membasahi pipinya. Matanya sudah merah, pria itu menunjukkan sisi rapuhnya. Marco kemudian mendekap foto itu. Memeluknya penuh cinta.
"Aku terus berpikir bagaimana caranya membuatmu melihatku. Membuatmu memerlukan diriku. Membuatku bisa memilikimu. Menjadikan ratu dalam hidupku. Dan … aku sudah melakukan hal gila untuk itu. Kau tahu Risa, sebenarnya aku lah, aku lah yang membunuh suamimu. Akulah yang menyebabkan keluargamu, keluarga Chandra sialan itu bangkrut. Aku juga yang mengambil nyawa anak dan menantumu. Dan aku hampir saja, sedikit lagi bisa mengirim kalian sekeluarga ke alam sana. Hahahaha … kau tahu apa alasannya, Risa?"
Marco mulai tak terkendali. Ia berbicara sendiri, mengungkapkan kejahatan yang ia lakukan selama ini kepada keluarga Chandra atas nama cinta pada Marissa.
Marco menatap tajam foto Marissa. "Dengan harapan kau melihatku. Dengan harapan setelah sialan itu mati kau akan melihatku. Sayang, kau wanita yang sangat keras kepala. Tidak bisakah kau melihatku, Risa?"
Rasa cinta yang berubah menjadi obsesi dan berkembang menjadi sebuah dendam kesumat. Marco memang gila karena obsesi cintanya pada Marissa. Pria itu bahkan tak merasa bersalah pada istrinya yang setia mendampinginya sekian puluh tahun. Bertahan dengan sikapnya yang kasar, hanya baik di depan media guna pencitraan.
Marco bahkan tak merasa kehilangan saat istrinya tiada. Ia kala itu dengan gilanya tidak ada air mata yang keluar. Ia menangis dengan bantuan obat mata.
Dendam kesumat itu masih ada sampai kini. Ia bertekad untuk menghabisi semua keturunan Marissa di dunia ini. Marco akan merasa puas jika keluarga Chandra sudah pergi kembali pada sang Pencipta.
"Atau begini saja, bagaimana jika salah satu di antara mereka yang mengakhiri hidupku? Ah tidak! Aku akan mengakhiri hidupku setelah aku mengakhiri keturunanmu!"
Marco terkekeh. "Itu luar biasa, kan?"
Wajahnya terlihat begitu menyeramkan.
"Hmm Risa, menurutmu apa cucumu itu sudah tahu kalau aku adalah penyebab hancurnya keluarga kalian?"tanya Marco dengan nada polos.
Kakek tua itu bisa mengubah ekspresi wajahnya dalam waktu yang berdekatan.
"Ah berdasarkan kecerdasannya pasti sudah. Aahh bukankah ini akan sangat menarik nantinya? Perselisihan dan permusuhan antar empat keluarga di tiga benua. Pasti akan sangat luar biasa dan spektakuler!!!"
Lagi, ia kembali tertawa. Kali ini begitu bersemangat. Matanya berapi - api, tak sabar menantikan apa yang ia prediksi.
Alasan Marco menyertakan keluarga Mahendra adalah karena ia hampir mengancam nyawa Ken.
Otomatis, Surya Mahendra yang ia kenal sebagai sosok salah taipan di Asia tidak akan tinggal diam. Ken juga pasti akan berada di samping Bella.
*
*
*
Kembali ke benua Asia, tepatnya di Asia Tenggara, Singapura, di salah satu rumah sakit terbaik di negara singa putih itu, Cia baru saja sadar saat matahari menerangi negera singa putih.
Angkasa yang terjaga sejak tadi malam, langsung memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Cia. Bayu dan Clara terbangun mendengar pergerakan Angkasa.
"Ma, Cia sudah sadar."
Rasa kantuk dan letih keduanya seakan terangkat. Didekati Cia yang menatap kosong langit-langit ruangan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
Pertanyaan Bayu dan Clara pun tegak ia gubris. Hal itu membuat Clara dan Bayu cemas. Cia sudah sakit secara fisik, keduanya tak ingin batin Cia juga sakit.
Wajah Clara menggelap mengingat ucapan Angkasa kemarin soal penyebab Cia jadi down parah.
"Ken!"desisnya geram. Matanya memancarkan sejuta amarah. Bayu membawa Clara menyingkir saat dokter datang untuk memeriksa Cia.
Namun, dengan kekesalannya ia tidak bisa berbuat banyak. Sebagai kepala keluarga, ia tak ingin menjerumuskan keluarganya lebih jauh ke dalam jurang. Bayu tak ingin mengambil resiko besar dengan memusuhi keluarga Mahendra.
"Kondisi Cia masih begitu lemah. Cia akan dalam pemantau ketat selama beberapa waktu ke depan. Tolong jaga kondisi hati Cia. Perasaan sangat memengaruhi kondisinya," jawab dokter.
"Kami mengerti, Dok." Dokter kemudian keluar.
"Aku ingin membunuh anak itu! Aku ingin mencakar wanita itu! Mereka yang membuat Cia seperti ini! Aku tidak terima mereka hidup bahagia!"
"Singkirkan dulu pikiran gelapmu, Ma! Kita harus fokus dengan Cia!"tegas Bayu. Ia kembali menghampiri Cia yang belum merespon mereka bertiga.
"Kakak kau kenapa lagi? Jangan diam seperti ini. Katakan sesuatu, aku mohon."
Melihat kebisuan Cia, Angkasa tak sanggup menahan tangis.
"Cia, Sayang. Apa yang kau pikirkan, Nak? Bagilah dengan kami. Jangan hiraukan ucapan Ken. Kami selalu ada untukmu, Nak. Tolong, jangan diam saja. Katakan sesuatu," tangis Clara. Ia begitu terpukul melihat kondisi Cia.
Clara mendengarkan ucapan suaminya. Sedang Bayu, menundukkan kepalanya.
"Sayang, lebih baik kau menangis daripada diam seperti ini," ucap lirih Bayu.
Sejurus kemudian, air mata Cia menetes.
"Ma, Pa, aku tidak rela. Aku tidak bisa melepasnya," ucap Cia, lemah.
Angkasa mengangkat wajahnya, begitu juga dengan Bayu. Ketiganya menatap rumit Cia.
"Apa maksudmu, Nak?"
"Di sisa umurku, aku ingin meraih kembali cintaku. Aku ingin memperjuangkan cintaku kembali. Aku sudah memutuskan."
"Apa maksud, Kakak? Kakak mau kembali pada Ken, maksudnya?!"
"Cia apa yang kau katakan? Tolong, jangan berbicara melantur!"tegas Bayu.
"Sayangku, tarik kembali ucapanmu. Kau yang memutuskan untuk pergi, untuk apa kembali lagi? Soal umur, mengapa kau berkecil hati? Dokter hanya menjatuhkan vonis namun Allah lah yang menentukan!"imbuh Clara.
Cia menggeleng lemah. Ia sudah memikirkan dan memutuskannya.
"Aku ingin di sisa umurku bersama Ken. Ma, Pa, tolong jangan halangi aku. Tolong bantu aku untuk kembali pada Ken. Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa melepasnya. Aku tidak rela ia berpaling dariku dan mencintai wanita lain! Tolong!"
Cia memelas. Matanya memancarkan sejuta harap pada kedua orang tuanya.
"Tidak! Mama tidak setuju!"
Clara menolak dan langsung keluar. Angkasa menyusul Clara. Bayu menghela nafas kasar melihat tatapan harap putrinya.
"Anakku mengapa kau tidak bisa menjaga keputusanmu sendiri? Apa kau sudah memikirkan konsekuensi? Cia, keluarga Mahendra bukan keluarga yang mudah untuk dipermainkan. Masalahnya bukan hanya terletak pada Ken, tapi juga istri dan keluarganya. Sayang, jika Papa menyetujuinya, kehormatan keluarga kita dipertaruhkan. Tolong, pikirkan lagi pintamu ini!"
Cia terdiam mendengar ucapan Bayu. "Papa rasa saat ini pikiranmu begitu kacau. Tenangkan dulu hati dan pikiranmu. Setelah itu baru kita bicara lagi," tukas Bayu kemudian.
*
*
*
Bella keluar kamar dengan penampilan yang siap untuk berangkat kerja. Bella menatap datar Ken yang tidur dengan duduk bersandar pada dinding. Selimut menutupi dirinya.
Bella berjongkok di depan Ken kemudian menepuk pipi Ken untuk membangunkannya. Tanpa menunggu lama, kelopak mata Ken bergerak dan mengerjap.
"Aru?"panggil Ken dengan mengusap matanya.
Ada lingkar hilang di bawah mata yang menandakan Ken tidak tidur dengan nyaman tadi malam. Sebenarnya Bella juga begitu. Namun, ditutupi dengan make up.
"Lekas bersiap. Kita ke pengadilan untuk menebus tilang kemarin!"titah Bella.
"Kau sudah tidak marah lagi, kan?"
"Cepatlah. Aku sudah mengundur meeting pagi ini karena dampak tadi malam!"ucap Bella dingin kemudian melangkah pergi.
Ken buru-buru bergegas masuk ke dalam kamar. Walau Bella belum memaafkannya, ia tak mau menambah kadar kemarahan Bella padanya.
Silvia dan Brian tidak berada di rumah. Mereka menginap di Aksara Hotel. Kepala pelayan ikut dengan Surya dan Rahayu ke Paris. Begitu juga dengan Dylan yang berada di rumah sakit.
Calia sendiri tempat tinggalnya terpisah dengan Ken dan Bella. Ia tinggal di paviliun yang kayaknya sekitar lima puluh meteran dari rumah utama.
Menuju ruang makan, Bella mendengar bisik-bisik pelayan yang bergosip tentang mereka yang bertengkar.
Bella tidak terlalu memusingkannya. Berita tadi malam yang ia takedown begitu rilis. Bella memantau berita hingga begadang semalaman. Sesungguhnya ia begitu lelah, namun tanggung jawab tidak bisa ia abaikan.