This Is Our Love

This Is Our Love
Ariel berencana, Perkara Tidur Desya dan Lucia



"Ibu." Liev menghampiri sang ibu yang tengah sibuk merias diri. 


"Hm," jawab Ariel dengan bergumam. 


"Apa aku boleh keluar kamar? Aku bosan, Ibu. Aku ingin bertemu dan bermain dengan Lesta," ujar Liev dengan nada memohon. 


Ariel menoleh pada putranya. Wajahnya datar. Liev mundur beberapa langkah. Tatapannya ibunya sudah seperti tidak memberi izin. Namun, Liev berusaha untuk tetap berani, seperti arti namanya. 


"Kau sudah menyelesaikannya?" Liev mengangguk. Jujur saja, dari pagi hingga magrib, Liev menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan hukuman dari Ariel dan juga belajar. Itu adalah perintah dari Ariel dan Liev harus menurutinya. Dan hanya berhenti saat makan siang tadi. 


"Kau cek," suruh Ariel dengan menatap pengasuh Liev. Ada dua orang pengasuh. Satu yang Ariel pilih dan satu lagi adalah orang pilihan Irene yang disetujui oleh Desya. 


"Tuan Muda sudah menyelesaikannya, Nyonya," ucap pengasuh yang ditunjuk oleh Ariel.


"Hanya satu jam," ucap Ariel. Liev mengangguk. Ia sumringah. "Dan jangan berinteraksi dengan wanita itu. Atau Ibu tidak akan segan menghukummu lagi!"tegas Ariel, memberi peringatan. Ia sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Bella, pada siapapun tanpa terkecuali termasuk putranya.


Liev tidak mengangguk. "Kau harus berjanji!" Ariel tidak melepasnya begitu saja dan dengan terpaksa Liev mengangguk. 


"Kalian temani putraku. Jaga dari wanita itu!"ucap Ariel pada kedua pengasuh Liev. Pengasuh yang di bawah Ariel jelas mengangguk. Sementara untuk bawahan Irene tidak bereaksi apapun. Ia tetap dengan wajah datarnya. 


Liev ditemani dengan kedua pengasuhnya kemudian meninggalkan kamar. Meninggalkan Ariel sendiri dengan pelayan pribadinya. Itu adalah orang yang ia bawa dari kediamannya sebelum menikah dengan Desya, orang kepercayaan Ariel. 


Ariel kemudian mengeluarkan ponselnya. Membuka kontak pesan. Ada beberapa pesan masuk namun tidak ada yang ia buka. Ariel malah mendengus. Raut wajahnya yang tidak puas. Ada gurat keras dan tidak sabar, seperti menantikan pesan dari seseorang. Akan tetapi, pesan yang ia nantikan tak kunjung masuk.


"Apa yang Anda kesalkan, Nona?"tanya pelayan pribadi Ariel. 


"Ibu atau Ayah tak kunjung menjawab pesanku. Aku sudah tidak tahan dengan wanita itu. Dan Desya, dia semakin mengabaikanku. Dia tidak memandangku lagi. Lalu ayah dan ibu mertuaku, mereka bahkan tidak memberiku muka waktu aku menegurnya. Ckck, aku sungguh kesal!!" Hanya pada pelayannya itu, Ariel leluasa mengeluarkan keluh kesah, amarah, dan kekesalan, juga rasa senangnya. 


"Nyonya, saya rasa jika tidak segera disingkirkan, suami Anda, mertua Anda, juga Black Rose ini akan dalam genggamannya."


Pelayan itu bukannya meredakan malah seperti menyiram minyak dalam kobaran api yang semakin membuatnya membara dan berkobar. "Aku tahu. Tapi, bagaimana cara menyingkirnya? Aku ingin sekali cepat bertindak. Tapi, aku menunggu apa kata ayah dan ibu," ucap Ariel, mengerang kesal. 


Jelas ia sadari. Bella berkemampuan, berani, dan yang terpenting di matanya, Bella telah mendapatkan hati Desya. 


"Saya dengar wanita itu beberapa kali masuk ke kamar suami Anda sore tadi," ujar pelayannya. 


"Sungguh?"


"Saya mendengarnya jadi penjaga koridor." Kesal, cemburu, membuat wajah Ariel menggelap dan ia menggertakkan giginya. Pikirannya melayang jauh. 


Ke kamar beberapa kali? Apa yang keduanya lakukan? 


Mereka akan semakin dekat dan posisiku semakin terancam. 


Tidak. Aku tidak tahan lagi. "Tadi, saya juga dengar dari Andry kalau wanita itu pandai memanah. Nyonya, bukankah Anda pemanah terbaik? Bagaimana jika membuat taruhan dengannya? Saya yakin dia akan kalah dan Nyonya bisa melampiaskan kekesalan Nyonya padanya setelah itu. Bagaimana?"saran pelayannya. 


Ariel memikirkannya. Ya, ia juga seorang pemanah yang handal dan dicap sebagai yang terbaik di Black Rose ini. 


"Andry?" Ariel bergumam. 


"Benar, Nyonya." Pelayan itu menatap Ariel penuh arti. 


"Kau benar," ucap Ariel kemudian. Ia tersenyum, senyum yang licik. 


*


*


*


"Nyonya Lucia, Tuan memanggil Anda ke kamarnya," ucap Irene saat mendatangi kamar Lucia. Setelah menyelesaikan hukumannya, Desya memberinya perintah untuk menyampaikan hal tersebut. 


Lucia yang tengah menyisir rambutnya terkesiap. "Tuan memanggil saya?"tanyanya memastikan. Irene mengangguk. 


"Ayo, Nyonya Lucia," ujar Irene.


"Aku harus bersiap dulu."


"Tidak perlu. Jangan membuat Tuan menunggu lama," ucap Irene. 


"Ah … begitu, ya?" Lucia segera bangkit. Mengikuti langkah Irene. Rasa gugup dan penasaran menghampiri dirinya. 


"Silahkan masuk, Nyonya Lucia," ucap Irene kala tiba di depan kamar Desya. 


"Kau di luar?"tanya Lucia. 


"Tuan menyuruh saya tetap di luar," jawab Irene.


"Baiklah." Lucia melangkah masuk. Langkahnya pelan dengan mengedarkan pandang. Mendapati Desya duduk di sofa dengan botol dan cangkir wine di meja. Desya tampil elegan dengan setelan kasual. 


Suasana kamar begitu hangat dengan cahaya keemasan. Sejenak, Lucia tenggelam dalam pesona Desya dan suasana kamar ini. "Duduklah." Desya menepuk sofa di sampingnya. 


Jantung Lucia berdebar saat mendudukkan dirinya di samping Desya. 


Desya menuangkan wine ke gelas. Menyodorkan satu pada Lucia. "Terima kasih, Tuan." Merasa senang dan terhormat. 


Ting.


Suara gelas bersulang kemudian mereka minum. Desya belum mengatakan apapun lagi. Membuat Lucia sedikit tegang bercampur gugup. 


Jarak seperti ini saja sudah sangat membuat jantungnya berdebar keras. Bagaimana jika sampai mereka tidak ada jarak lagi? 


Lucia menunduk. Wajahnya memerah. "Apa yang kau pikirkan?" Suara Desya menyapa pendengaran Lucia. Suaranya tidak lembut namun juga tidak datar. Tapi, mampu menggetarkan hati. 


"Hah?"


"Wajahmu merah."


"Ah tidak." Lucia kembali menunduk. 


"Kau berpikir aku memanggilmu untuk melakukan itu?"


"Ah?"


Desya mendengus senyum. 


Bukan ya? 


"Kau tahu ini terbuat dari apa?"tanya Desya, menatap gelas yang masih ada winenya.


"Bukankah dari anggur yang difermentasi?"


"Kau tahu cara membuatnya?"tanya Desya. 


Lucia yang tidak menduga pertanyaan itu, diam beberapa saat. Kualitas dan cita rasa anggur, selain dipengaruhi oleh varietas dan juga tata cara merawat, juga dari cara pembuatan dan lama fermentasi. 


Lucia, ia tahu cara membuat anggur atau wine. Ia menatap Desya, menerka ke arah mana pembicaraan malam mereka ini.


"Ya." Lucia menjawabnya. Desya tersenyum, puas dengan jawaban Irene. Dan senyum tersebut membuat Lucia semakin terpesona dengan suaminya itu. 


Sudah resmi. Bahkan jika Lucia ingin menyentuh dan memeluk suaminya, itu sangat wajar. Akan tetapi, Lucia belum memiliki keberanian untuk hal itu. Meskipun mereka duduk bersebelahan seperti ini, seperti ada dinding tipis di antara mereka.


"Bagaimana dengan teh?"


"Ah?"


"Reaksimu lamban dan selalu ada kata ah. Kau juga mengerjap beberapa kali, kau melamun. Apa yang kau pikirkan?"


"Katakan saja. Aku lebih suka yang jujur," ucap Desya, lebih kepala sebuah titah. 


Lucia diam. Ia kembali menatap Desya. Mencari kebenaran dalam kata-kata Desya. 


Tatapan tajam yang dingin itu tidak bisa diterka. Akan tetapi, sedikit banyaknya Lucia tahu tabiat Desya. 


"Saya sedikit bingung, Tuan. Anda memanggil saya apa untuk membicarakan anggur, wine, atau teh. Atau untuk hal lain? Jujur saja, sebagai seorang istri, saat Tuan memanggil saya kemari, saya mengira kita akan menghabiskan malam bersama," ucap Lucia, dengan malu-malu di akhir karena terlihat ia mengharap untuk tidur bersama dengan Desya. 


"Oh. Kau mau tidur denganku?" 


Dibalas dengan sedikit acuh. But, menggetarkan hati Lucia. "Jika Tuan bersedia, maka saya juga bersedia," jawab Lucia, lagi-lagi dengan malu-malu. 


Hahaha.


Desya tertawa mendengarnya. 


Imut juga, batinnya melihat semburat merah di pipi istri keduanya. 


"Baiklah. Kita tidur bersama." Lucia mengangguk singkat. Ia tersenyum. Pipinya terasa panas, membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti. 


"Besok pagi, kau buat teh anggur juga selainya. Aku mau saat jam minum teh, itu sudah ada!"ucap Desya. 


"Baik, Tuan." 


Desya kemudian menghabiskan sisa wine di gelas kemudian bangkit menuju ranjang. Lucia mengikut. Kini mereka berada di ranjang yang sama. 


Lucia duduk dengan kedua tangan di dada. Semakin berdebar menantikan Desya menyentuhnya. Akan tetapi, setelah menunggu cukup lama, Lucia tak kunjung merasakan sentuhan Desya. 


Lucia mengangkat pandangnya, menoleh ke arah Desya.


Lucia tertegun. 


Bukankah mereka akan tidur?


Lalu mengapa Desya malah berbaring dan tidur?


Bagaimana dengannya?


"Tuan?" Memanggil ragu.


 "Hm." Dibalas gumaman Desya. 


"Bukankah kita akan tidur?"tanya Lucia. 


"Bukankah aku sudah tidur. Kau yang belum tidur. Lantas apalagi?"balas Desya acuh. 


Hah?


Lucia terdiam. Jadi, tidur yang Desya maksud benar-benar tidur? Bukan tidur dalam makna lain? 


Oh God!


Lucia merasa sangat malu. Ia terlalu berharap. 


"Ya, aku akan tidur."


Perlahan, dengan kaku, Lucia membaringkan tubuhnya di sebelah Desya. Posisinya membelakangi Desya. 


Setelah ini … aku rasa tidak berani menatap wajah Tuan, batin Lucia. 


Sulit baginya untuk memejamkan mata. 


Lain halnya dengan Desya. Ia menyunggingkan senyum. 


Pasti sangat menyenangkan melihat wajah merahnya lagi. 


Desya paham maksud tidur yang Lucia maksud. Ia hanya pura-pura tidak tahu. 


Ya sebenarnya Lucia cukup menarik. Wajahnya yang natural, pakaian yang sedikit tipis, dan semakin cantik di bawah pencahayaan kamar. Desya juga ingin. But, anu nya masih sakit. Jadi, Desya harus bersabar beberapa hari untuk itu.


*


*


*


Keesokan paginya, Lucia bangun dengan posisi yang sama. Segera Lucia bangkit dan melihat ke sisi lainnya. Desya sudah tidak ada di sana. 


"Tuan?" Memanggil dengan sedikit gugup. 


"Kau sudah bangun?" Rupanya Desya berada di ruang pakaian. Ia sudah mandi dan kini mengenakan setelan formalnya. 


"Iya, Tuan. Saya akan undur diri untuk menyiapkan teh dan selai anggur untuk Anda," ujar Lucia. 


"Hm."


"Ah … Lucia," panggil Desya saat Lucia hampir mencapai pintu. 


"Ya, Tuan?"


"Persiapkan dirimu. Dua Minggu dari sekarang kau akan pergi ke Italia."


Mendengar itu, Lucia membulatkan matanya. 


Pergi ke Italia?


"Tapi, Tuan untuk apa?"


"Aku sudah membeli perkebunan anggur di sana. Dan kau akan menjadi penanggung jawabnya. Kau bersedia bukan, Lucia?"


Lucia tidak langsung menjawab. Terlalu mendadak. Dan Lucia tidak tahu memberi jawaban apa. 


"Bagaimana dengan Lesta?"tanya Lucia. 


"Terserah. Mau ikut bersamamu atau tetap di sini, tidak masalah," jawab Bella. 


"Boleh saya pikirkan lebih dulu?"


"Lucia apa kau tidak mendengarnya dengan jelas?" 


Lucia terhenyak. 


Ini bukan sebuah permintaan. Tapi, sebuah perintah. Ia setuju atau tidak, Lucia akan tetap pergi. 


Lucia sedikit kalut. Tanpa menjawab lagi, Lucia segera meninggalkan kamar Desya.