This Is Our Love

This Is Our Love
Umi Hani dan Allen (1)



Umi Hani dan Nizam bangun sebelum subuh. Keduanya kemudian secara bergantian membersihkan diri. Dan ketika azan subuh dari ponsel Nizam berkumandang, Umi Hani dan Nizam langsung menunaikan shalat subuh berjamaah.


"Nizam, Umi mau masak dulu di dapur. Kamu tolong bangunkan Evan dan Ayahmu," ujar Umi Hani setelah keduanya selesai shalat dan berdoa.


Nizam mengangguk, "baik, Umi."


Umi Hani bergegas menuju ke dapur. Sedangkan Nizam menuju kamar Evan dan Allen.


Sarapan pagi ini, Umi Hani berniat membuat hidangan nasi goreng. Menu itu tidak terlalu asing dan lebih rumahan. Di dalamnya, Umi Hani bisa menuangkan bentuk kasih dan sayang dalam masakan.


Namun, mengapa Umi Hani begitu tenang dan santai memaksa di dapur yang tidak seiman? Di dalam ajaran Allen dan Evan, beberapa makanan yang diharamkan di keyakinan Umi Hani, sah-sah saja dimakan oleh Allen dan Evan.


Umi Hani bisa memasak di sini karena set peralatan masak dan makan di sini baru. Yups, baru! Semenjak orang tuanya meninggal, Allen mengganti seluruh set alat masak dan makan. Dan itu hanya digunakan satu dua karena ia lebih sering makan di kantin laboratorium.


Mungkin, hanya sekadar membuat pasta. Terlebih Allen tidak memakan daging diharamkan itu. Bisa dikatakan ia memeluk keyakinannya, namun anjuran dan larangan dalam keyakinan Umi Hani tetap ia jalankan.


Di saat Umi Hani tengah meracik bahan, Nizam datang dan menawarkan diri membantu. Evan yang juga sudah bangun juga ke dapur. "Morning, Mom," sapa Evan dengan ceria. Ia mencium kedua pipi Umi Hani kemudian menuju kulkas.


"Morning, Evan," jawab Umi Hani.


"Nizam tolong kamu potong bersihkan dan potong sayurannya, ya," ucap Umi Hani.


"Baik, Umi." Nizam segera mengerjakan tugasnya, mengupas wortel lalu dipotong dadu. Ia juga memotong daun bawang serta brokoli.


"Ahh sudah habis?" Evan bergumam cukup keras yang didengar oleh Nizam.


"Apa yang sudah habis?"


"My milk," jawab Evan.


"Mom, Evan keluar sebentar ya, ke minimarket," pamit Evan kemudian.


"Baiklah," jawab Umi Hani.


"Eh-eh apa ini?" Nizam terperanjat saat ia ditarik oleh Evan.


"Temani aku," sahut Nizam.


"Tapi, aku sedang membantu Umi," tolak Nizam.


"Tidak apa, pergilah," tutur Umi Hani.


"Nah, Umi sudah mengizinkan." Evan tersenyum.


"Tapi, Umi …."


Dan, pada akhirnya Nizam mengangguk. Sebelum pergi, ia menepiskan lebih dulu tangan Evan yang menariknya. "Kalau begitu, Nizam keluar dulu ya, Umi. Assalamualaikum." Nizam meraih dan mencium punggung tangan ibunya.


"Waalaikumsalam," jawab Umi Hani.


Melihat itu, Evan tersentak sendiri kemudian tersenyum. Ia mengikuti apa yang Nizam lakukan.


Setelah itu, keduanya meninggalkan dapur untuk keluar rumah menuju minimarket. Evan terbiasa untuk minum susu setiap hendak dan bangun tidur. Aktivitas dan pekerjaannya yang berhubungan dengan bahan kimia, bahan yang berbahaya jika terpapar olehnya dan susu bisa menjadi salah satu alat untuk membersihkannya apabila ada yang bagian tubuh yang terpapar olehnya karena susu sifatnya menetralisir.


Setelah kedua anaknya keluar dari rumah, Allen baru muncul. Dari wajah dan pakaiannya, Allen sepertinya sudah mandi. Ia tidak langsung muncul di dapur melainkan diam melihat Umi Hani yang sedang sibuk memasak dari ambang pintu.


"Wanginya masih seperti dulu. Masakanmu tidak berubah, Hani."


Mencium aroma masakan, Allen tidak bisa untuk tidak mengingat. Ah kenangan saat bersama Umi Hani masih melekat erat padanya dan tidak lekang sampai saat ini. Umi Hani mengalihkan pandang pada Allen yang kini sedang mengambil air minum.


"Sungguh? Memangnya kau masih ingat, Mas?"tanya Umi Hani dengan suara tercekat. Gerakannya menggoreng nasi terhenti sesaat.


"Aku ingat segalanya tentang kita, Hani. Kau tidak berubah, kau tetap sangat cantik seperti saat aku pertama kali melihatmu." Allen tidak menyembunyikan. Ia ingin berbicara dengan mantan istrinya itu.


Umi Hani tersenyum, senyum kecut, "ya, kau pun sama." Umi Hani menunduk dan kembali menggerakkan tangannya menggoreng. Allen mengulum senyum, ia kembali minum.


"Apa kau bahagia?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Allen. Umi Hani kembali mendongak. Sebelum menjawab, ia mematikan kompor karena nasi goreng sudah selesai.


"Bagaimana denganmu?"balas Umi Hani, berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Bisa kita bicara, Hani?"


"Apa yang mau dibicarakan, Mas?" Mengenang perpisahan juga akan semakin membuat hati luka. Lebih baik mereka saling berbincang dan bertukar cerita, menghilangkan kecanggungan.


"Duduklah di sini," pinta Allen dengan menarik kursi untuk Umi Hani.


Umi Hani mengangguk. Mereka duduk agak berjauhan, terpisah satu kursi.


"Maafkan aku …." Itu yang pertama kali Allen katakan setelah Umi Hani duduk.


"Untuk apa? Apa Mas melakukan kesalahan?" Dari sorot matanya, Umi Hani sepertinya tahu apa yang Allen maksud  namun terlihat enggan untuk membahasnya.


"Maafkan aku. Maafkan aku yang lemah dan tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita bahkan anak-anak juga terpisah satu sama lain, dan mereka melewati hidup sejauh ini tanpa orang yang lengkap." Allen menunduk. Nadanya serak seperi tengah menahan tangis.


"Hani … dadaku sesak setiap kali memejamkan mata. Aku mengingat dengan jelas hari perpisahan kita. Aku … tangismu, tangis anak-anak, itu selalu terbayang saat aku memejamkan mata. Aku … aku sampai detik ini tidak bisa … tidak bisa melupakan, apalagi menerima perpisahan kita. Aku tidak bisa melepaskanmu, Hani. Aku … aku masih sangat mencintaimu." Itu sebuah pengakuan.


"Saat kita bertemu kemarin, walaupun kita tidak pernah bertemu selama puluhan tahun, aku masih bisa mengenalimu. Aku … jantungku tetap berdebar kencang saat di hadapanmu. Hani … aku merasa senang dan tersiksa."


Umi Hani terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh mantan suaminya. "Lalu … apa yang ingin Mas katakan?"tanya Umi Hani dengan suara bergetar.