This Is Our Love

This Is Our Love
Terpaksa Setuju



"Assalamualaikum!" Ken menekan bel gerbang kediaman Utomo. 


"Assalamualaikum! Cia! Cia!"panggil Ken lagi dengan berteriak. Penjaga gerbang yang hampir terlelap, terbangun dan berjalan gontai mendekati gerbang.


"Siapa?"tanyanya serak.


"Pak Muji, saya mau bertemu Cia! Tolong bukan gerbangnya!"pinta Ken. Mata Pak Muji langsung terbuka lebar.


"Apa Anda tidak tahu bahwa Non Cia masuk rumah sakit?"tanya Pak Muji heran. 


Deg!


Hati Ken berdenyut perih, "Cia masuk rumah sakit?"tanyanya balik, lirik. Pak Muji mengangguk.


"Rumah sakit mana?"tanya Ken cepat.


"Rumah sakit biasa, Tuan Muda." Secepat kilat Ken kembali masuk ke dalam mobilnya. Pak Muji menatap sendu Ken yang tampak sangat panik tadi. 


Sepertinya Tuan Besar dan Nyonya sangat marah dengan kedatangan Nyonya Rahayu tadi. Semoga hubungan Non Cia dan Tuan Muda Ken tidak berubah terlalu banyak, harap Pak Muji.


Sialan! Jika terjadi hal buruk pada Cia, aku tidak akan melepaskan keluarga Mahendra walaupun mereka keluargaku sendiri! 


Cia kamu harus baik-baik saja! Aku tidak akan sanggup kehilangan dirimu!


*


*


*


"Cia!" Ken membuka kasar pintu kamar rawat Cia. Terlihat Bayu, Clara, dan dua adik kembar Cia yang masih terjaga menunggui Cia. 


Mereka berempat menoleh ke arah Ken yang kini diam mematung dengan mata menatap lekat Cia yang terbaring tak berdaya dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. 


"Mau apa kamu kemari?!"tanya Clara dingin. Ken tidak menjawab. Tatapan Bayu terlihat marah namun sebisa mungkin ia menahan emosinya. Sedangkan Anggara dan Angkasa, kedua anak kembar itu mengepalkan kedua tangan erat, tatapan mereka penuh amarah pada Ken. 


Mereka yang sore tadi baru kembali dari acara camping sekolah, terkejut bukan main mendengar kakak tersayang mereka masuk rumah sakit. Hati mereka teriris melihat kondisi Cia yang drop dan belum ada peningkatan bahkan tadi sempat kritis. Mereka begitu marah dan emosi mengetahui penyebab Cia masuk rumah sakit. Jika bukan karena larangan Bayu, niscaya mereka sudah ke kediaman Mahendra dan meminta penjelasan dan tanggung jawab. 


"Belum cukup kah keluargamu membuat Cia seperti ini? Cia sudah setuju, harusnya kamu menuruti orang tuamu! Cepat pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu, Mahesa Ken Mahendra!"usir Clara, memalingkan wajahnya melihat Cia yang terbaring tak berdaya. 


"Tidak!" Ken menggeleng, ia melangkah maju.


"Berhenti di tempatmu Tuan Muda Ken! Pergilah dari sini!"ucap Anggara menunjuk Ken dengan jarinya.


Ken tetap menggeleng, ia semakin dekat. Anggara dan Angkasa sigap menahan langkah Ken. Akan tetapi, dengan mudahnya Ken mendorong jatuh mereka.


"KEN!"teriak Clara penuh amarah.


"Cia …."


Ken tidak menggubris hal itu, kini ia menunduk dengan tangan menyentuh jemari Cia, dengan gemetar. Terlihat air mata Ken mengalir dan kini terdengar jelas tangisnya. Penuh kesedihan dan penyesalan.


"Pergi kau, Ken! Jangan mengganggu Cia!"hardik Clara, berusaha keras menarik lengan Ken untuk diseret keluar. Ken tetap tidak bergeming dan menepis tangan Clara. Clara hampir terjatuh, untung saja Anggara sigap menahan tubuh Clara.


"Tolong … tolong berikan saya waktu sebentar dengan Cia …," ucap Ken pelan.


"Mau apa lagi hah?"sentak Angkasa marah.


"Paman Bayu, tolong … saya berjanji akan tetap bersama dengan Cia. Saya tidak akan pernah meninggalkan Cia sekalipun saya harus melawan keluarga saya sendiri. Saya mohon, Paman," pinta Ken penuh harap. Bayu tercengang dengan ucapan Ken. Bayu menghela nafas kasar, berpikir tak ada salahnya memberi waktu untuk Ken dan Cia.


"Baiklah."


"Papa!"protes Clara, Anggara, dan Angkasa serentak.


"Ayo keluar," ajak Bayu, menarik lengan Clara. Clara berontak, Bayu yang tak mau berdebat di sini dengan Clara, segera menggendong paksa istrinya seperti karung bekas.


"Ayo, kakak kalian pasti butuh waktu berdua dengan Ken," tegas Bayu.  


Anggara dan Angkasa menatap wajah Cia. Mereka saling tatap melihat wajah Cia yang tampak berbeda dari sebelumnya , jauh lebih baik. Mengalihkan pandang melihat Ken yang masih menangis dengan menenggelamkan wajahnya di samping kepala Cia.


Seharusnya mereka sudah tahu. Dan mereka memang sudah tahu, bahwa Ken adalah pria yang sangat Cia cintai. Ken adalah penyemangat dan alasan mengapa Cia masih sanggup bertahan sampai sekarang. Kebencian mereka sebenarnya juga bukan pada Ken, melainkan pada keluarga Mahendra, Surya dan Rahayu. Akan tetapi, mereka harus bersikap begini demi keselamatan Cia juga. Mereka berpikir bahwa jika Ken tetap menjalin hubungan dengan Cia, maka keluarga Mahendra akan bertindak yang dapat semakin membahayakan kondisi Cia. 


Tapi mereka lupa, bahwa Surya dan Rahayu adalah tipe orang yang menepati janji. 


Anggara dan Angkasa menghela nafas kasar, "ayo," ajak Anggara menarik lengan sang adik.


Setelah keluarga Utomo keluar, Ken mengangkat wajahnya. Matanya jelas semakin merah. Kini dengan lembut menyentuh dan mengusap pipi Cia.


"Sayang ku mohon bangunlah. Jangan seperti ini. Sungguh aku tidak ingin menikah dengan siapapun selain denganmu. Maafkan aku, aku gagal menjaga dirimu. Aku benar-benar tidak tahu rencana Papa dan Mama akan diriku. Sayang ku mohon, cepatlah sadar."


Ken tergugu, air matanya jatuh membasahi pipi Cia. 


"Bangunlah. Dan aku akan lakukan apa yang selama ini kita impikan. Sayang aku berjanji, kita akan menikah setelah kau sadar. Aku berjanji …."


Cinta Ken begitu besar untuk Cia sampai-sampai ia tidak lagi menggubris keluarganya. Bagi Ken, Cia adalah dunianya. Ken tidak peduli dan takut dengan akibatnya kelak. 


Tapi Ken lupa bahwa Surya dan Rahayu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. 


"Berhentilah menangis, Ken," ucap lemah Cia yang baru membuka mata, memberikan senyum terbaiknya pada Ken.


"Sayang … kau sudah bangun … syukurlah …." Ken langsung memeluk Cia dan menghujani Cia dengan ciuman di kening. Cia tertawa pelan, "hentikan, itu geli," ujarnya lemah.


"Sayang kamu sungguh membuatku cemas. Tapi syukurlah. Gadis kuatku sudah sadar," ucap Ken sendu.


"Haha aku hanya pingsan, Ken. Sekarang aku sudah sadar bukan? Air matamu mengganggu tidurku," lakar Cia. Ken tersenyum kecut, bahkan di saat begini Cia masih bisa tersenyum dan melayangkan candaan.


"Mengapa kau kemari?"tanya Cia yang melihat Ken melamun.


"Tentu saja, aku merindukanmu, Sayang. Dan ya, setelah kau keluar dari sini, kita akan lakukan semua yang pernah kita impikan," ucap Ken, mengusap lembut rambut Cia. 


Cia tersenyum, menyentuh jemari Ken dan membawanya ke pipi, "tidak, Ken." Ken mengerutkan dahinya, antara bingung dan tidak senang.


"Aku sudah memberi izin untukmu menikah dengan perempuan lain. Menikahlah dengan pilihan orang tuamu. Turutilah mereka. Aku tidak akan pernah bahagia jika kamu menentang orang tuamu demi aku. Aku tidak apa, karena kita masih bisa tetap bersama. Ken … masa depanmu masihlah panjang sedangkan aku … aku hanyalah seorang penyakitan yang tinggal menunggu ajal. Sepeninggal nya diriku nanti, aku tidak ingin kamu terpuruk. Kamu juga butuh seorang yang kuat dan berkemampuan untuk mendampingi dirimu di masa depan. Keluarga kita, bukan keluarga biasa. Kamu bukankah seorang dari keluarga biasa. Kamu punya tanggung jawab yang besar dan aku … aku tidak akan pernah bisa mendampingi dan membantumu. Kedua orang tuamu berharap banyak padamu, Ken. Turutilah mereka, aku akan sangat bahagia dengan itu …."


Setiap kata yang keluar dari bibir Cia, hati Ken terasa teriris dan begitu hancur. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kaya-kata itu keluar dari bibir Cia? Ken menangis tanpa suara, bibirnya terasa keluh untuk menanggapi ucapan Cia.


Cia tersenyum lembut. "Kadang cinta yang selalu tentang mencintai. Dan yang terjadi pada kita adalah sebuah cinta, sebuah pengorbanan. Ken jangan sia-siakan pengorbananku ini. Menikahlah dengannya," tutur Cia lembut.


"Kita terluka, Cia. Pengorbananmu ini membuat aku dan kau menderita. Ini bukan sebuah pengorbanan tapi kebodohan! Sayang, ku mohon tarik kembali kata-katamu. Aku hanya ingin denganmu, hanya ingin menikah denganmu."


"Tidak, Ken." Cia menggeleng lemah.


"Kita akan tetap bersama. Sama seperti biasanya. Kau hanya akan menikah untuk berbakti kepada orang tuamu. Kita tidak akan terpisahkan. Cintamu adalah aku."


"Tidak, Cia. Tidak!"


"Ken aku mohon …." Mendadak kondisi Cia kembali memburuk. Ken panik dan segera memanggil dokter.


"Ken berjanjilah. Kau akan menurut pada orang tuamu. Aku mohon, Ken …," pinta Cia lemah dalam pelukan Ken.


Ken dilema. Melihat kondisi Cia yang kembali memburuk membuat otak Ken tidak bisa berpikir lagi. "Baik! Aku setuju!"ucap Ken lemah. Senyum Cia mengembang.


"Terima kasih," lirik Cia.


"Jangan tutup matamu! Kau harus berjanji untuk kembali sehat! Aku berjanji padamu dan kau harus berjanji padaku!"ucap Ken tegas pada Cia.


"Ya … aku berjanji …." Setelah mengatakan hal itu, Cia kembali tak sadarkan diri. Ken meraung sedih, dokter yang tiba segera memeriksa kondisi Cia. Keluarga Utomo menatap cemas Cia dan menatap marah Ken yang tertunduk lemas di sudut ruangan. 


"PERGI KAU KEN!"hardik Clara.