This Is Our Love

This Is Our Love
Bantuan El



"Hei-hei apa yang kau lamunkan, Ken?" El mengejutkan Ken yang tengah melamun di pendopo di atas kolam yang diisi oleh ikan hias.


Ken menatap El yang ikut duduk di sampingnya, kedua kaki dijulurkan ke bawah, hampir menyentuh air kolam. El menaburkan pakan ikan, balik menatap Ken.


"Memikirkan Cia?"


Ken kembali memalingkan wajahnya, menatap ikan koi yang menyantap makan siangnya. "Atau Abel?"terka El lagi. 


"Keduanya," jawab singkat Ken.


"Keduanya? Wah pantas saja kau seperti pusing tujuh keliling. Hm … sudah hampir dua minggu ku perhatian kau dan Abel merenggang. Tak adakah niatmu untuk baikkan?"


 El menatap Ken meminta jawaban. Ken menghela nafas berat. "Aku bingung mau mulai dari mana."


Ah El paham. Ken ini terkadang gengsi-an. 


"Bukankah tinggal minta maaf doang? Ajak mulai hubungan yang baru?"heran El.


"Memangnya Aru segampang itu? Aku sudah membuat hatinya terluka, aku egois, iya kali cuma bilang minta maaf langsung dimaafi?"ragu Ken dengan nada kesal. 


"Hem-hem … sepertinya kau bertemu dengan pakar yang benar."


Alis Ken bertaut mendengar ucapan bangga El yang sedang mengelus dagunya seakan tengah mengelus janggut. 


"Ada baiknya sebelum aku pergi, aku membantu adik tersayangku memperbaiki rumah tangganya, benar bukan?"


"Maksudmu?"


"Aku akan membantumu, biar bagaimanapun aku ini pernah punya banyak pacar, hehehe meluluhkan hati wanita yang sedang marah, kesal, dan kecewa itu dalam pengalamanku." Lihatlah wajah bingung plus kesal Ken, dan hidung El yang memanjang. Entahlah, El memang begitu.


"Bukan itu maksudku! Kau bilang kau mau pergi, kemana?"


El diam sesaat, ia menatap ikan koi yang telah selesai makan dan kini berenang dengan gerakan anggun. Wajahnya terlihat telah membuat atau menerima keputusan besar dan berat. 


"Pesantren."


Mata Ken membulat, "Pesantren? Untuk apa?"


"Ck tentu saja belajar. Memangnya aku punya kelayakan jadi pengajar di sana?"sahut El ketus.


Mendengar langsung membuat Ken terkekeh, "jika Kakak jadi guru di pesantren, santri di sana bukannya alim malah semakin luar biasa. Nanti harusnya ke masjid malah Kakak ajak ke diskotik." 


Mendengar ledekan sang adik, El mengerucutkan bibirnya, memangnya seburuk itu dirinya? 


"Oh iya, angin dari mana yang membuat Kakak akan pergi ke pesantren? Apa kau mengalami benturan hebat? Dan lagi  bukankah di umurmu sekarang, sudah terlalu tua untuk itu?"heran Ken. Kakaknya ini kan terkenal nakalnya luar biasa, tak berguna, kental dengan kehidupan malam dan tempat yang berbau alkohol dan ***, mengapa bisa mendapat ilham pergi belajar di pesantren?


"Memangnya ada yang salah ingin berubah menjadi lebih baik? Mendapat hidayah juga tidak dibatasi oleh usia kan?"tanya balik El, tersenyum tipis.


"Ah sekarang tidak penting apa alasannya, sekarang intinya adalah membuat sebuah permintaan maaf sebagai awal baru hubunganmu dan Abel."


El yang masih menyipitkan matanya penasaran, langsung berubah menjadi serius. 


"Bagaimana dengan dinner spesial?"saran El.


"Berdua?"


"Ya iyalah Ken! Masa' iya kamu mau bicara dari hati ke hati dikelilingi banyak orang? Nggak spesial dong," sahut gemas El. Ken bergumam, ia menimbang saran El. 


"Setuju kan? Jika setuju biar aku hubungi restoran terbaik untuk dinner spesial kalian, aku akan mengatur semuanya," ujar El, tampak sangat antusias.


"Ya boleh juga sih, tapi …." Ken tampak masih ada yang dipikirkannya.


"Tapi?"


"Apakah setelah baikkah nanti, kami kau pergi ke mana-mana selalu pisah? Aru kan trauma nggak bisa naik mobil." Entah apa yang membuat Ken percaya bahwa dalam hal ini El yang paling bisa membantunya. El menatap langit, memikirkan jawaban yang tepat. Trauma, sulit untuk dihilangkan, jika melakukan terapipun membutuhkan waktu yang cukup lama, iya kali harus menunggu Bella sembuh dari traumanya baru baikkan dengan Ken? 


El melirik Ken yang menatapnya menanti jawaban, "kau bisa naik motor?"


"Cuma bisa dibonceng."


"Hm?" El mangut-mangut, tanda telah mendapatkan jawaban.


"Abel kapan pulang dari luar kota?"


"Kemungkinan besok kalau nggak Selasa," jawab Ken, sedikit lesu. Hatinya merindu berat padahal ia tidak melihat Bella. Ingin menghubungi atau mengirim pesan, masih ada rasa malu juga takut diabaikan oleh Bella. 


Cia perlahan juga sudah menyingkir dari hatinya. Walau berat, Ken tetap berusaha dan teguh pada pendiriannya. Terlebih saat kemarin Clara mengirim pesan suara padanya.


Ken, lupakan dan lepaskan anak saya. Kamu tidak bisa memberinya kepastian. Aku juga tidak mau anakku terus menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian yang akhirnya akan berdampak besar bagi dua keluarga. Cia sudah merelakan kamu dengannya. Cia bisa hidup dengan baik tanpamu. 


Pesan suara Clara yang dikirim lewat nomor Anggara itu sempat membuat Ken kembali patah hati, namun segera ia bangkit dan semakin memantapkan hati hanya untuk Bella. 


"Pas! Waktu yang cukup untukmu  belajar cara bawa motor!"seru El.


"Belajar naik motor, aku?" Ken menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung.


*


*


*


"Ayo Ken, tambah sedikit kecepatannya, jangan lambat kali!"seru El yang mengawasi Ken yang tengah membawa motor supra milik salah seorang pelayan mereka di jalanan perumahan. El memposisikan motornya di samping Ken. El mendengus kesal. Kecepatan segini saja ia sudah gemetaran, tambah kecepatan bisa-bisa ia jatuh akibat tidak bisa mengendalikan motornya.


"Ayo tambah. Siput saja lebih cepat dari laju motormu ini. Dinaiki sama didorong nggak ada bedanya!"ucap El, memancing kekesalan Ken. Ken melirik kesal padanya.


"Berisik! Diamlah dulu!"ketus Ken. 


Ayolah Ken butuh konsentrasi, berhentilah membunyikan klakson itu, El! 


"Ck! Gini caranya, kapan bisanya? Hei Ken, waktumu ini cuma sedikit. Berani sedikit dong. Kalau jatuh ya itu resiko. Namanya juga belajar. Masa laki-laki takut sakit, malu loh sama Abel yang bawa motor mirip pembalap!" El kembali membumbui El semangat dan sedikit provokasi.


"Ahhh berisik!"teriak Ken kesal, ia menambah kecepatannya. El tersenyum dan menghentikan laju motornya. 


"Eh?" Ken terkejut sendiri saat menyadari ia bisa mengendarai motor dengan kecepatan sedang dengan baik. Namun, Ken terlalu cepat berpuas diri. Ken tertawa lepas.


"Hahaha aku bisa! Aku bisa!"


"Hei perhatikan jalanmu!"teriak El, dan sesaat kemudian motor Ken oleng dan nyungsep ke pagar tanaman. 


"Aduh!!" El buru-buru menghampiri Ken. Namun bukanlah langsung menolong Ken, El malah diam lalu tertawa mendapati Ken yang ngungsep memakan daun. 


Cuih 


Cuih 


"Dasar keterlaluan! Bukannya ditolong malah tertawa!"


Ingin rasanya Ken mengumpat, mengatakan El tidak berguna namun diurungkan karena belum tentu ia lebih baik dari El. Contohnya saja sekarang, ia dibantu oleh El untuk memuluskan rencana minta maafnya. 


Dengan masih tertawa, El membantu Ken berdiri lalu memberdirikan motor. 


"Ahh." Ken meringis saat melihat sikunya yang luka. 


"Sakit tahu!" Ken mengambil kasar plester yang El berikan, menutupi lukanya.


"Aigo! Wajahmu garang, sifatmu malah melow. Hei ku beri tahu padamu, jika kau nggak tahan sakit, jangan harap pernah malam pertama."


Ken terdiam, mengerjap menatap bingung El.


"Apa maksudnya?"


"Nanti juga tahu sendiri." Ken mendengus sebal. 


"Hm, aman kok. Kita coba beberapa kali lagi. Ingat jangan terlalu kencang ataupun lambat. Sedang-sedang saja. Nanti kalau sudah bisa naik ini dengan lancar, baru kita coba yang motor sport milik Papa," ucap El setelah memeriksa kondisi motor yang Ken bawa.


"Memangnya beda?"


"Ya kan biar nggak asing," sahut El. El kembali ke motornya.


"Pulang dulu yuk. Aku lapar," ajak El. Ken setuju, ia mulai menghidupkan mesin motor. Perlahan Ken mulai melajukan motornya. El kembali mengiringi dari samping agar El tidak gamang sewaktu berdampingan dengan kendaraan lain. Ken menenangkan hatinya yang berdebat saat melihat jalanan menikung di depannya. Ken menurunkan kecepatannya, El terkekeh pelan.


Hati-hati dan waspada, dan setelah beberapa menit, tiba di depan gerbang kediaman mereka. Di teras, Surya dan Rahayu duduk sembari menikmati kopi dan jus. 


"Gimana, sudah lancar bawa motornya?"tanya Rahayu antusias saat Ken dan El menyalami ia dan Surya.


"Lumayan lah, Bun," sahut El.


"Lumayan? Jatuh nggak?" Surya meletakkan majalahnya.


"Wajar kan, Pa?"jawab El, melirik Rahayu yang sibuk melihat siku Ken.


"Sakit, Ken?"tanya cemas Rahayu.


"Nggak, Ma. Luka kecil, kok," jawab Ken.


"Ya sudah. Oh iya apa semua  urusan pekerjaanmu sudah selesai?"


"Tentu. Tinggal menunggu Ken dan Abel baikkan aku sudah bisa berangkat ke sana," jawab El.


"Baiklah."


"Ken bagaimana perkembangan belajarmu?" Surya menatap Ken.


"Alhamdulillah baik, Pa."


"Baguslah, seminggu lagi kau akan masuk ke perusahaan bersama dengan Abel. Dan untuk posisimu sudah Papa tentukan."


"Oh ya? Bagian apa?"


"Rahasia!" Ken berdecak mendengar jawaban Surya yang seakan tengah menggodanya.


"Papa yakin kamu pasti suka dengan posisi yang Papa atur!" Ken semakin penasaran. 


Surya meraih cangkir kopi dan mendekatkannya ke bibir. Surya melihat cangkirnya yang sudah tidak berisi.


"ELVANO!!!"


Surya berteriak kesal, baru saja jadi anak yang baik, El sudah berulah lagi. Rahayu dan Ken saja menutup telinga mendengar teriakan Surya.


"Maaf, Pa. Kopinya enak jadi El habiskan," sahut El yang masih berani menunjukkan batang hidupnya lalu lari masuk ke dalam rumah. Surya mengatur nafasnya, "aku tidak bisa membayangkan betapa gaduhnya pesantren nanti karena El," ucap Surya.


*


*


*


Dua hari full Ken belajar naik mengendarai motor. Usaha kerasnya tak sia-sia, luka yang ia terima karena jatuh sebanding dengan kepuasan hatinya. Ken sudah mahir mengendarai jenis motor jenis apapun. El sebagai guru pun tak bisa tak berbangga hati. 


Hari ini Bella pulang. Ken sudah bersiap untuk mengajak Bella makan malam berdua. El juga sudah menyiapkan tempat mereka akan makan malam berdua.


Hanya saja saat waktu hampir menunjukkan pukul 20.00, Bella tak kunjung pulang. Ken uring-uringan menunggu di balkon kamarnya. Ponsel Bella tidak aktif, mungkin kehabisan daya.


Sudah pukul 21.00, dan kini seluruh keluarga menunggu cemas di ruang keluarga. 


"Assalamualaikum." Seseorang masuk. Bella dengan wajah lelahnya ternyata sudah tiba di rumah, ia langsung menyalami Surya, Rahayu, dan Ken. 


"Ada keterlambatan keberangkatan. Terus tadi di jalan ada insiden kecil," ucap Bella.


"Tapi kamu nggak papa kan?"


"Cuma luka kecil kok, Ma."


"Ya sudah. Istirahatlah kamu pasti lelah," ucap Surya. Bella mengangguk dan segera berlalu menuju kamar.


Ken langsung menyusul Bella. "Duh kasihannya, gagal dinner," celetuk El.


*


*


*


Di kamar, Bella duduk di sofa dan menggulung celananya, ada luka di lututnya. Bella segera membuka tasnya dan mencari plester.


Ken melihat itu dari balik pintu. Ia ingat betapa lemahnya ia saat mendapat luka di siku kemarin. Ia melihat Bella tidak meringis sama sekali, wajahnya terlihat datar. Setelah luka itu ditutup, Bella beranjak dan masuk ke ruang ganti lalu ka kamar mandi. Ken masuk setelah Bella masuk ke kamar mandi. 


"Aru sudah makan apa belum ya? Aku juga belum makan. Lebih baik aku dan Aru makan malam di kamar saja," pikir Ken, kembali ke luar kamar.


Lima belas menit kemudian Ken kembali dengan dua piring makanan. 


Dan Ken kecewa saat masuk ke dalam kamar menemukan Bella telah terlelap. Ingin membangunkan, Ken merasa tidak tega. Apalagi melihat  wajah lelah Bella. Ken hanya bisa mendaratkan kecupan di kening Bella kemudian makan sendiri.


*


*


*


Karena kesibukan Bella yang harus segera menyelesaikan semua target yang ia buat selama sebulan di Diamond Corp, membuat rencana Ken tidak kunjung terwujud, karena belum sempat ia mengutarakan niatnya, Bella sudah memotong bahwa beberapa hari ke depan ia sangat sibuk. Pergi saja tak sempat sarapan dan pulang selalu melewatkan makan malam. 


Ken termenung menatap langit dari balkonnya. Ia merasa mengapa sulit sekali? Padahal ingin mengajak baikkan? Ahh 


Ken mengacak-acak rambutnya saat melihat Bella keluar dari kediaman ini, berangkat ke kantor.


"Hei butuh bantuan kah?" El yang mau berangkat jogging menatap Ken dari bawah.


"Memang bisa?"


"Hohoho Anjani kan gebetanku, so nanti aku bantu deh."


"Ya." Ken menjawab seadanya karena jujur ia ragu dengan El.