
Selesai makan siang dan shalat zuhur, Ken, Brian, El, dan Dylan bermain badminton ganda di ruangan yang memang diperuntukan untuk olahraga. Satu ruangan yang luas dan multifungsi.
Di dalamnya bisa menjadi lapangan futsal, badminton, voli, bahkan basket. Atap ruangan juga dia dibuka dan ditutup. Jadi bisa outdoor dan semi indoor.
Sementara pada pria bermain badminton, maka para wanita duduk di pinggir lapangan menonton para pria yang serius bermain.
Selain menonton, ketiga wanita itu juga bersua foto, membagikan di story media sosial masing-masing dan tak lupa mengetag satu sama lain atau me repost story akun awal yang memostingnya.
Mereka juga bergosip dan yang menjadi tipe bahasan ketiganya adalah drama korea yang tengah on going.
"Aku cuma mengikuti satu drama, Now We're Breaking Up," beritahu Silvia.
"Bagaimana dengan kalian?"lanjut tanya Silvia.
"Aku mengikuti dua drama, Jirisan dengan Secret Royal Inspector and Joy," jawab Calia yang menyukai drama korea karena dulu ikut nonton saat Abel menonton dengan subtitel bahasa Jerman.
Kala itu drama yang pertama kali ia tonton adalah Goblin, yaps. Drama Ajusshi Gong Yoo dan Lee Dong Wook.
Sejak itu, selesai waktu kerjanya, Calia menyempatkan diri untuk menonton drama lainnya.
"Oh dramanya si bos Babel ya?"tanya Silvia memastikan.
"Perasaan namanya Ok Taecyeon deh, member 2PM." Sepertinya Calia tidak menonton drama bos Babel sebelumnya yakni Vincenzo yang tayang bulan Februari kemarin.
"Itu julukannya saat main bareng Song Joong Ki di drama Vincenzo," terang Bella.
Calia mengangguk mengerti.
"Kalau kau sendiri, Bel? Nggak yakin aku nggak ada yang kau ikuti," tanya Calia yang paham watak Bella.
Setidaknya ada satu yang tengah diikuti untuk pecinta drama korea seperti Bella.
"One Ordinary Day. Drama si aktor termahal," jawab Bella dengan memasukkan kacang bersalut ke dalam mulutnya.
"Kim Soo Hyun?"tanya Calia.
"Hm. Dan apa kalian tahu yang menarik di dalamnya?"tanya Bella, melempar tanya.
"Aku baru mendengar. Ini drama comebacknya setelah di It's Okay Not To Be Okay, ya?"sahut Silvia.
"Ya, begitulah."
"Apa yang membuatnya menarik, Bel?"tanya Calia ingin tahu.
Agaknya nanti setelah ini Calia akan langsung menontonnya.
"Yang pertama, namanya perannya adalah namanya yang dibalik menjadi Kim Hyun Soo. Dan di sini adegan vulgarnya nyata banget. Jadi, jomblo bakalan tercengang," jelas Bella.
"Sevulgar apa sih?" Calia menjadi sangat penasaran.
"Lihat saja sendiri," jawab Bella.
"Ah itu membuatku semakin penasaran." Calia sangat excited.
"Genrenya?" Silvia biasanya spesialis romantis, jika ada actionnya lebih ke komedi hitam.
"Criminal thriller."
"Memang sesuai denganmu," imbuh Silvia yang ditanggapi tawa renyah Bella.
"Hei-hei, Kak El mengapa kau tidak bersemangat seperti itu?"tanya Dylan yang merasa kesal dengan El.
Mereka kebobolan terus karena El tidak bersemangat dan fokus.
"Pasti karena keinginannya weekend dengan Kak Jani gagal. Makanya kayak kerupuk disiram air, meleyot!"ledek Ken yang satu tim dengan Brian.
"Ck! Kalian tidak tahu rasanya menahan rindu itu bagaimana?!"sungut El, ia memilih untuk istirahat dulu.
Dan satu istirahat semua ikut istirahat. Bella melemparkan minum pada Ken.
Ken duduk dan meminumnya. Silvia menyeka keringat Brian sementara Dylan dan El tersenyum kecut.
Calia menyangga dagunya, "saat sama suami, bucinnya sama suami. Saat nonton drakor bucinnya sama oppa dan ajusshi," goda Calia.
"Tambahi Gege, Lia. Aku juga bucin sama Zhan Gege!"sahut Bella.
"Siapa Zhan Gege itu, Aru?"tanya Ken dengan aura kecemburuan yang kental, begitu juga dengan Brian. Ia melirik selidik Silvia.
"Zhan Ge itu Xiao Zhan. Global Actor 2021 asal China," jelas Bella dengan mencubit gemas pipi Ken. Ken masih cemberut, wajahnya masam yang ditanggapi dengan wajah puas Bella.
"Siapa oppa, siapa ajusshi itu?"tanya Brian cemburu.
Dan kali ini El terkekeh. "Aduh-aduh, Kak Brian. Kau kemana saja sih? Masa nggak tahu maksud oppa sama ajusshi itu?"kekeh El.
"Kau tahu orangnya?"
"Itu hanya sebutan untuk kakak laki-laki sama Paman di negeri K-pop sana."
"K-pop? Apa lagi itu?"
"Aduh nih orang nggak tahu hal lain apa selain keuangan?"keluh Dylan dengan menepuk dahinya. El tak bisa untuk tidak tertawa lebih keras lagi.
"Tahu BTS? Blackpink? Lee Min-ho? Park Seo Joon? Emm Super Junior?"
El menanyakan beberapa nama bintang yang pernah menghiasi layar kaca Indonesia belum lama ini. Mereka ada brand ambassador internasional beberapa platform belanja online.
"Tidak," jawab Brian, spontan karena dia sendiri jarang mau lihat saluran televisi dengan iklan seperti itu channel yang dia saya tonton adalah cewek berita seperti TV One dan Metro TV.
El menyesal sendiri telah menanyakan pertanyaan itu. Seharusnya ia tidak menanyakannya. Kakaknya itu terlalu monoton. Namun, jika sudah seperti ini akan membangkitkan rasa penasarannya.
"Ah kalian kebanyakan drama!"keluh Dylan yang jengah.
"Mereka itu adalah artis atau aktor dari Korea Selatan sana dan aku rasa kalian berdua tidak perlu cemburu seperti itu. Mereka itu ibarat bisa dilihat sama tidak bisa disentuh. Cukup nikmati saja karyanya tanpa mengharap manusianya," papar Dylan lagi.
"Oh." Hanya satu kata sebagai sahutan.
"Mas tenang saja. Aku hanya menikmati karya mereka. Di hatiku, di hidupku hanya Mas yang aku cintai," ucap Silvia memadamkan cemburu Brian.
Brian masih menatapnya cemburu namun tatapan itu segera meluncut melihat tatapan meyakinkan Silvia. Tidak tega rasanya melihat tatapan memelas istrinya.
"Dan kau ini Ken! Sudah tahu aku suka menonton drama Korea atau Cina mengapa kau sekarang menanyakannya dan memasang tampang cemburu seperti tadi?"sungut Bella.
Ken tidak menjawab secara verbal. Ia merangkul pinggang Bella dengan posesif.
"Ayo lanjut main lagi," ajak Dylan.
"Kalau Kak El nggak semangat, ganti sama Kak Lia saja," ucap Dylan datar.
"Eh kok malah bawa-bawa saya?" Calia sok kesal. Padahal dia okay-okay saja.
"Nggak ah. Nggak adil kalau begitu kecuali kita ganda campuran. Tapi, Aru tidak boleh ikut," sergah Ken.
"Iya-iya. Kami tahu kok," sahut Calia dengan mencembik pada Ken.
"Eh-eh, kok kalian nggak nanya aku mau atau tidak sih? Aku ini …."
"Aku sama Mas Brian saja yang turun lawan mereka," tukas Silvia yang sudah tahu maksud ucapan Ken tadi.
"Okay." Brian setuju dan keempatnya turun ke lapangan.
Ken, Bella, dan El menjadi penonton. Tepat setelah permainan dimulai, ponsel Bella berdering. Dari Anjani.
"Ya. Assalamualaikum, Jani," jawab Bella yang didengar oleh Ken. Telinga El langsung memanjang.
"Oh sungguh?"
"Hm. Okay. Hati-hati ya," jawab Bella.
"Iya. Waalaikumsalam." Panggilan berakhir El segera bertanya. Iya tadi itu Anjani.
"Dia bilang akan pulang besok pagi," beritahu Bella.
"Besok ya?" El masih tanpa tak bersemangat namun tidak separah tadi.
Jujur saja El sangat ingin menelpon Anjani. Namun, ia urungkan karena tidak ingin menganggu Anjani yang menurutnya punya kesibukan, membuatnya menunggu hari berganti menjadi malam. Tapi karena tidak sabar menunggu malam, Elmengirim pesan pada Anjani.
Menanyakan kapan Anjani pulang dan Anjani menjawab dia juga belum tahu kapan akan pulang ke Indonesia. Hal itulah yang membuat El menjadi tidak bersemangat. Padahal tujuan utamanya pulang cepat selain untuk bertemu dengan keluarganya juga untuk menemui pujaannya hatinya dan calon anaknya.
Bagi pebisnis hari Minggu belum tentu hari libur. Hanya pegawai yang terikat dengan perjanjian kontrak saja mungkin yang libur hari Minggu.
Mereka para pebisnis, jikapun libur, tampaknya saja libur tidak datang ke kantor namun mereka tetap bekerja.
"Kenapa sih, Kak El? Kak Jani jaga hati buat Kakak kok. Nggak usah takut. Atau nanti saat Kak Jani pulang, Kakak lamar saja terus," saran Ken yang membuat El termenung.
"Itu ide yang bagus," timpal Bella setuju.
"Yakin bakal diterima?"
"Kakak sendiri yakin nggak bakal nikah sama Kak Jani?"tanya balik Ken.
"Yakinlah!"
"Ya kenapa ragu?"tanya Bella.
El menimbang. Dahinya mengeryit, membuat keputusan.
"Kalian benar!"serunya kemudian.
"Apanya yang benar?" Nada familiar sangat Ken rindukan. El menoleh ke arah pintu masuk ruangan ini.
"Jani?"kaget El.
"El? Kau sudah pulang?" Anjani juga terkejut.
Keduanya sama-sama terkejut dan menatap Bella. Dan Bella tersenyum simpul serta menaikkan kedua alisnya.
Tak lama El mendengus senyum, "Kalian mempermainkanku!"dengusnya.
"Abel kau sengaja bukan?"tuduh Anjani pada Bella.
"It's surprise, Guys?!"
Tadi, saat Anjani menelpon itu sudah berada di depan gerbang perumahan. Sengaja mengatakan jika Anjani pulang besok.
Dan Anjani sendiri juga mengatakan tidak tahu kapan akan pulang karena berencana memberi kejutan untuk El dengan berkunjung ke pesantren. Namun, siapa yang sangka, mereka juga tidak menduga bahwa mereka sama-sama comeback hari ini.
"Uncle, how are you?"tanya Arka.
"Ihh kelamaan di Singapura menyapa pun jadi pakai bahasa asing," sindir Bella.
"Eh maaf Aunty. Assalamualaikum," sapa Arka, dengan tersenyum malu.
"Waalaikumsalam."
"Aunty." Arka menuju Bella. Bella berjongkok dan memeluk bocah itu. "Bagaimana kabarmu, Boy?"
"I'm fine, Aunty. Aunty gimana keadaannya?"
"Alhamdulilah, Aunty sehat, Boy."
"Rindu dengan Uncle?" El ikut berjongkok.
"Ehmm…." Arka memasang pose berpikir. "Rindu nggak ya?"
"Hm?"
"Tentu saja, Uncle." Arka masuk dalam pelukan El. El memeluk erat Arka dan mencium rambutnya.
"Mama juga sangat rindu pada Uncle," bisik Arka.
El tertegun sesaat, rupanya Anjani merasakan hal yang sama. Itu membuatnya semakin yakin. El kemudian menatap Anjani yang menatap keduanya dengan tersenyum lebar.
Saat berbentur pandang, Anjani salah tingkah.
"Tadi apa yang benar?" Anjani menanyakan kembali tentang kalimat yang ia dengar terakhir, mengubah pembicaraan.
"Akhirnya Kak Jani pulang juga. Jika tidak, pacar kakak ini bagaikan bunga layu," ucap Dylan.
Menyadari kehadiran Anjani dan Arka, Brian dan lainnya berhenti bermain dan ikut bergabung.
"Pameranmu sukses?"tanya Brian.
"Alhamdulilah. Semua dalam jangkauan," jawab Anjani.
"Selamat untuk itu."
"Thank you."
"Hei El, kau tidak memberikan ucapan selamat?" Itu suara Calia.
El yang tidak menyiapkan apapun, berpikir keras dalam diamnya untuk menemukan cara ucapan selamat yang berkesan. Tiba-tiba El menurunkan Arka dan lari keluar ruangan.
"Eh? Kok malah lari?"
Anjani bahkan memutar kepalanya, ada rasa kecewa di matanya. "Jangan berburuk sangka dulu," ujar Bella dan bebas saja.
Tak berapa lama kemudian, El kembali dengan setangkai mawar di tangannya. Ia melangkah pelan, sangat pelan seperti ada temponya. Wajahnya sedikit tegang yang membuat semua ikut serius.
"Apa mau mau dilakukannya?"gumam Calia.
"Eh ada ini, El? Mengapa berlutut hanya untuk memberi bunga?"tanya Anjani bingung. El berlutut, dan mendongak.
"Aku tahu ini tidak sempurna. Seharusnya aku mempersiapkan makan makan, atau sebuah cincin. Namun, aku tidak bisa menunggunya lagi. Tapi, aku janji ke depannya akan mempersiapkan dengan baik."
"Hah?"
El lalu menyodorkan bunga mawar itu pada Anjani.
"Anjani, will you marry me?"