This Is Our Love

This Is Our Love
Teresa dan Louis Part 2



Teresa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak menuruti ucapan Louis. Jelas-jelas ia tahu Louis akan menepati janjinya, mengapa ia begitu ceroboh dan mudah kecewa hingga menyebabkan Louis celaka dan kini sedang dalam penanganan dokter. Ia akhirnya tahu kalau Louis pergi untuk membeli makan malam karena Teresa mendapati kantong berisi makanan yang masih terasa hangatnya. 


Dan Louis celaka karena menyelamatkan dirinya. Teresa duduk menunggu di depan ruang UGD, sembari memukul kepalanya sendiri. Ia menunduk, dalam hati tak hentinya meramalkan doa untuk keselamatan Louis. 


"Teresa!" Teresa mendongak, Max dan Rose, serta Leo sudah tiba dan menghampirinya. Wajah ketiganya begitu cemas. 


"Tante." Teresa langsung memeluk Rose. Air mata yang sedari tadi ia tahan langsung tumpah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa Louis terkena tusukan?"tanya Max, sedang Leo mengintip ke dalam ruang UGD dari bagian pintu yang dikhususkan untuk hal itu. 


"I-ini salahku, Tante. Ini karenaku," jawab Teresa terisak. Teresa kemudian menceritakan apa yang terjadi sebelum Louis mendapatkan luka tusuk pada perutnya itu.


Teresa walau ia takut keluarga Louis akan kesal padanya tapi ia tidak bisa berbohong. Sebuah hubungan dibangun di atas kepercayaan, diisi dengan kepercayaan bukan dengan kebohongan. 


Max menggeleng pelan mendengarnya. Rose menghela nafas pelan.


"Bukan salahmu, Teresa. Awal masalahnya adalah kerena Louis. Daripada engkau menangis menyesali apa yang barusan kalian berdua alami, lebih baik kau membersihkan dirimu dan berdoa untuk keselamatan Louis," ucap Leo yang meskipun pandangnya tetap ke arah dalam ruangan UGD, telinganya mendengar jelas apa yang Teresa jelaskan.


"Aku rasa ini juga akan menjadi awal mula hubungan baru kalian," timpal Max.


"Ayo, Tante temani kamu ke toilet," ucap Rose. Teresa mengangguk lemah. Ia berjalan gontai walau dipapah oleh Rose. 


"Apa menurutmu Louis kembali pada sifat buruknya dulu?"tanya Max, melempar pandang pada anak sulungnya.


 Leo menggeleng, "rasanya sulit dipercaya. Louis berubah semata-mata bukan karena Abel. Tapi, jawaban pastinya ada pada Louis sendiri," jawab Leo.


Jika Louis berubah hanya karena Bella, pasti Louis sudah menggila dan langsung kembali pada dunianya sebelum mengenal Bella. 


Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter yang menangani Louis akhirnya keluar. Dokter mengatakan bahwa kondisi Louis sudah dalam keadaaan aman. Lukanya tidak sampai melukai organ dalam tapi, sempat membuat mengalami kekurangan darah. Syukurlah rumah sakit mempunyai stok darahnya. 


Louis yang belum sadarkan diri, diperkirakan sadar pada keesokan paginya. Louis kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. 


"Kau pulanglah dulu, biar sopir yang mengantarmu," ucap Max, setelah mereka berada di ruang rawat Louis.


Teresa menggeleng, ia sekarang tengah duduk di sisi Louis dengan memberanikan diri menggenggam jemari Louis. Rona wajah Louis sudah kembali seperti biasanya dari yang sebelumnya pucat. 


"Ibu dan adikmu nanti khawatir kau belum pulang juga," bujuk Rose. Ketiganya belum tahu jika Teresa sudah memberitahu keluarganya.


Tadinya Ibu dan adiknya ingin ke rumah sakit. Namun, Teresa melarang keduanya. Hari sudah malam dan hujan belum mereda. Sangat berbahaya berada di luar di saat seperti ini. 


"Baiklah. Jika begitu kami percayakan Louis padamu," pungkas Max.


Rasa cemas sudah berkurang, Louis dan Teresa juga bukan anak kecil lagi. Teresa mengangguk. Max, Rose, dan Leo kemudian pulang. Mereka sepakat untuk tidak mengabarkan apa yang terjadi pada Louis pada Bella. 


*


*


*


Semalaman, Teresa tidak bisa tidur. Ia menunggui Louis dalam kondisi terjaga walaupun sorot matanya menggambarkan rasa lelah dan kantuk yang menggunung. Hingga pada akhirnya Teresa tidak bisa menahan kesadarannya lagi. Sekitar pukul 05.00, Teresa berhasil terlelap dengan posisi duduk dan ranjang Louis sebagai bantal. 


Dua jam kemudian, jari telunjuk Louis bergerak, diikuti dengan gerakan kelopak matanya. Dahinya mengeryit, bibirnya terbuka sedikit, gurat cemas tercetak jelas pada wajah Louis. "RESA!"


Louis membuka matanya. Rupanya ia mengingat kejadian tadi malam. Nafas Louis terengah. Teresa yang begitu nyenyak, seperti seekor kerbau, tidak terganggu dengan teriakan Louis itu. 


Louis menoleh ke samping kanan saat merasakan ada seseorang yang berada di sisinya dengan menggenggam jemarinya. "Ah, aku ingat syukurlah kau baik-baik saja. Tapi, mengapa aku berada di rumah sakit?"


Louis kembali mengingat-ingat. Ia berseru pelan saat sudah mengingat semuanya dengan jelas.


"Maaf, Resa," gumam Louis.


Diusapnya dengan lembut pucuk kepala Teresa, bibirnya melengkungkan seulas senyum. Karena Louis masih mengantuk, dan luka di perutnya mulai terasa perih akibat obat bius yang sudah habis, Louis memutuskan untuk tidur sebentar lagi. 


Satu jam kemudian, Teresa terbangun. Dengan mata yang masih mengabur, mengerjap berulang kali untuk menjernihkan penglihatannya, tetap saja Teresa merasa kurang jelas.


Rasa kantuk masih membayanginya. Terlebih saat melihat Louis yang dalam penglihatannya belum sadarkan diri. Teresa melangkah tak semangat ke dalam kamar mandi. Hari ini jelas ia cuti, dan cutinya diurus langsung oleh Leo selaku Presdir Kalendra Group. 


Kabar tentang Louis juga dirahasiakan dari publik, termasuk pada beberapa petinggi perusahaan. Alasan yang Leo katakan mengenai kondisi Louis adalah Louis mengalami demam yang cukup tinggi hingga bangun dari tempat tidur pun tidak bisa.


Dan Teresa diminta untuk menjaga dan menemani Louis. Alasan yang terdengar receh dan kurang logis. Akan tetapi, para karyawan percaya mengingat hubungan Louis dan Teresa, serta Teresa yang proaktif pada Louis. 


Louis buru-buru menutup matanya saat Teresa keluar dari kamar mandi. Tadi ia terbangun karena pergerakan Teresa. 


"Sudah jam berapa sekarang?"gumam Teresa, kembali duduk dan melihat jam tangannya. 


"Pukul 08.00?"


"Eh!"


"Huh, Dasar! Dokternya berbohong padaku!" Louis membuka matanya saat mendengar gerutuan Teresa itu.


"Hei!" Louis memanggil sebelum Teresa keluar kamar. Teresa berbalik. Matanya melebar sesaat disusul dengan langkah lebarnya menghampiri Louis. "Kau sudah sadar?"


"Hm."


"Syukurlah!" Teresa menyatukan kedua tangannya, mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhan. 


"Kau mau ke mana tadi?"tanya Louis, pura-pura tidak tahu. Louis berbicara dengan normal. 


"Ke ruangan dokter. Tadi aku ingin menanyakan pada dokter mengapa kau belum siuman juga padahal sudah lebih dari delapan jam," jawab Teresa.


"Tidak selamanya perkiraan dokter itu benar, Resa," sahut Louis. 


"Eh jangan banyak gerak dulu. Lukamu masih basah!" Teresa menahan bahu Louis yang hendak duduk. Louis menatap Teresa, keduanya bertatapan sesaat. 


"Aku lebih nyaman duduk untuk membahas apa yang aku katakan tadi malam," ucap Louis.


"Ah?"


"Bantu aku duduk," pinta Louis kemudian. Teresa tanpa menjawab dengan kata, langsung membantu Louis untuk duduk. Perasaannya kembali kacau, begitu mengingat masalah di antara keduanya. Selesai membantu Louis duduk, Teresa juga duduk dengan kepala tertunduk. 


"M-mengapa kau menolongku? Mengapa kau mengorbankan dirimu untuk melindungiku? Padahal kau mengatakan aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku tidak penting dalam hidupmu. Mengapa, Louis? Apa karena aku sahabat Abel?" Teresa mengeluarkan unek-uneknya yang ia pendam di bawah rasa cemas dan bersalah pada Louis. 


"Itu hanya sandiwara, Resa." Teresa mengangkat kepalanya, menatap Louis tidak mengerti, "sandiwara?" Apa maksudnya? 


"Wanita itu adalah putri dari salah seorang pengusaha yang menyebarkan rumor buruk tentangmu. Ia juga seorang model yang keras kepala, licik namun bodoh. Sebelum malam itu, siangnya ia menemuiku dan menunjukkan foto jika kau adalah seorang yang tak setia, bahkan menunjukkan foto dengan diedit seolah-olah kau berselingkuh, padahal kau berfoto dengan adikmu." 


"Lalu?"


"Aku bersandiwara padanya, aku seolah-olah marah padamu dan maaf untuk tamparan dan ucapanku kemarin. Tamparlah aku balik untuk melampiaskan rasa sakitmu," lanjut Louis. 


Teresa jelas langsung menggelengkan kepalanya. Louis sudah hampir membahayakan nyawanya untuk menyelamatkan, tidak kuasa rasanya Teresa mengangkat tangan untuk memukul Louis. 


"Lantas apa kau masih bersandiwara?"


Louis menggeleng. "Sudah selesai. Dan lihatlah." Louis meraih remote dan menyalakan televisi. 


Salah satu channel tengah memberitakan tentang pengakuan seorang model akan foto dan rumor buruk tentang Teresa yang beredar di masyarakat. Ia mengakui bahwa itu hanya sekadar rumor dan meminta maaf pada pihak yang dirugikan atas apa yang ia lakukan. Wanita itu juga menyampaikan bahwa ia akan hengkang dari dunia modeling. 


Louis menggeser channel yang memberitakan tentang saham perusahaan keluarga wanita itu anjlok dan terancam bangkrut.


Louis menarik senyum smirk. "Lalat pengganggunya sudah mati, Resa. Kau memaafkanku, kan?"


"Jadi, kau melakukannya karenaku?"


"Aku harus meyakinkannya bahwa aku benar-benar marah dengan berkata demikian. Aku menghilangkan rasa waspada dan meningkatkan rasa kepercayaannya padaku. Dan aku membuatnya mabuk untuk mendapat pengakuannya. Setelahnya aku mengancam dirinya dengan pengakuannya sendiri. Dan itu lah hasilnya."


"Teresa." Teresa menatap Louis dengan mata yang berlinang. 


"Aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku. Kau berarti bagiku. Dan ini semua tidak ada hubungannya dengan Abel." 


"Selain itu, Teresa, maukah kau berjuang bersamaku? Maukah kau tetap berjuang untukku?"


"Tentu saja!" Teresa langsung memeluk erat Louis.


"Aku sangat senang akhirnya kau mengakui keberadaanku." Tanpa disadari oleh Louis, dan kini telah ia ungkapkan, nama Teresa sudah berada di dalam hatinya. 


"Danke, Resa."


"Morning," sapa Max dan Rose, masuk ke ruang rawat Louis. Sebenarnya mereka sudah tiba sejak tadi. Mereka sengaja menunda masuk saat mendapati Louis dan Teresa tengah berbicara serius. 


"Bagaimana perasaanmu, Louis, Resa?"


"Aku merasa lega, Mom," jawab Louis, yang diangguki oleh Louis.


Max mendengus senyum, "kalian ini, lain kali untuk mencegah hal seperti ini, kalian harus saling terbuka. Kalian sudah dewasa, menyelesaikan masalah tidak hanya harus menggunakan hati tapi juga logika," pesan Max. 


"Aku sudah meminta maaf dan menjelaskannya pada Resa, Dad."


"Sudah buat komitmen?"


"Ah, hehehe belum, Dad."


"Kalau begitu bahaslah hubungan kalian berdua, bicara dari hati ke hati. Mommy harap ini adalah awal baik dan eratnya hubungan kalian," tutur Rose. Kedua orang tua itu saling rangkul pinggang. 


"Ah ya, sebaiknya bicarakan juga mengenai pertunangan sebagai respon untuk berita itu," ucap Max, melempar pandang ke arah televisi.