This Is Our Love

This Is Our Love
Buku Besar (1)



Deg. 


Pertanyaan yang dinanti El akhirnya keluar. El menghela nafas. Ia sudah siap. 


"Sebenarnya ada masalah dengan mereka."


"Problem? What's problem?"tanya Aniani, terkejut. 


"Ya, masalahnya cukup besar dan sulit. Dan ini pasti akan mengejutkanmu," ujar El. 


"Katakan dengan jelas, El!" Kegelisahan menyelimuti Anjani. 


"Apa yang terjadi pada mereka?"desak Anjani, cemas begitu terpancar darinya.


"Abel, your bestie, diculik," beritahu El dengan berbisik..


Mata Anjani membulat. Sebelum Anjani sempat berteriak, El sudah membekap mulut Anjani.


"I know. Kau pasti terkejut dan sedih. Mungkin kau juga mengira aku berbohong. Tapi, ini serius. Untuk detailnya akan aku ceritakan di mobil. Ayo," ujar El.


Anjani yang bak orang linglung kini diam saja saat El menarik tangannya meninggalkan restoran. El menggendong Arka. Mereka meninggalkan restoran dengan gerimis yang semakin deras membasahi bumi


El menceritakan apa yang terjadi pada Bella secara rinci pada Anjani seperti apa yang ia dengar dari Ken, Surya, dan Tuan Adam. Tidak ada yang dilebihkan atau pun dikurangi. 


Anjani yang mendengarnya tak mampu membendung air matanya. Ia menangis sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya. Bukan! Bella bukan sekadar sahabatnya melainkan saudaranya!


Arka yang melihat ibunya menangis, menyentuh pipi Anjani menyeka air mata yang menetes dari mata cantik ibunya. 


"Mama jangan sedih. Aunty Abel pasti akan pulang," ucap Arka. 


"Benar, Jani. Tidak perlu sedih itu. Abel kita pasti akan segera pulang," ucap El, menimpali. Anjani menyeka air matanya. 


"Aku tahu. Terima kasih," ucap Anjani. El tersenyum. 


"Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu!"ucap Anjani. Setelah mengetahui hal ini tentu saja ia tidak bisa berpangku tangan. 


"Jangan sedih. Berdoalah untuk keselamatan Abel. Itu adalah bantuan yang sangat besar," jawab El. 


"Aku pasti akan melakukan hal itu, El. Yang aku maksud hal lain. Aku ingin membantu. Aku ingin bergabung dengan tim untuk mencari Abel!"


"Anjani I know kau sangat khawatir pada Abel. But, sungguh bukannya aku menolakmu untuk ikut serta dalam tim. Akan tetapi, kau sendiri juga punya tanggung jawab yang besar. Kau tetap melakukan tanggung jawabmu dan berdoa untuk selamatan Abel. Aku juga akan menjalani keseharian kok seperti biasa. Begitu juga dengan Ken yang akan diangkat menjadi wakil presiden menggantikan Abel. Kita mencari secara diam-diam. Tidak boleh menimbulkan kecurigaan publik karena itu akan dapat membuat keributan.


 Aku tahu kau pasti mengerti," papar El. Menjelaskan pada Anjani. Bukan maksudnya menolak niat baik Anjani. Akan tetapi, orang-orang yang dimiliki oleh keluarganya, keluarga Kalendra, dan juga Tua  Adam serta dengan Azzura sudah cukup. 


Penjelasan El begitu jelas dan bisa mengerti. Setelah memikirkannya Anjani mengangguk pelan. "Baiklah."


*


*


*


Mengeluarkan isi hatinya kepada s


sang Pencipta. Meskipun Bella percaya Sang Pencipta tahu isi hatinya. Namun, setelah mengatakan secara lisan, hatinya terasa lega. Ketenangan selalu bersamanya karena yakin Tuhan ada bersamanya. 


Rindu memenuhi relung hatinya. Kenangan demi kenangan hadir dalam ingatannya. Sebelum diculik oleh Desya, Bela selalu menjalankan salat malam bersama dengan Ken. Dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an. 


Air mata Bella jatuh. Iya ingin pulang ingin segera meninggalkan istana ini. Iya sangat sangat merindukan suaminya, adiknya, sahabatnya, dan semua keluarganya. 


Selain rasa rindu rasa bersalah juga menyusup ke dalam hatinya. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, apa yang menimpa dirinya ini pasti membuat keluarganya sedih. 


Bella memejamkan matanya. Sudah banyak tentang doa yang ia ucapkan. 


Ya Allah ya Tuhanku mudahkanlah urusan hamba. Berilah hamba kekuatan agar mampu menjalankan kewajiban hamba. Berilah hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan dalam hidup hamba.


Ya Allah ya Tuhanku, berilah Hamba kesabaran agar hamba mampu menghadapi mereka. 


Ya Alla ya Tuhanku, hamba mohon, kuatlah hamba. Ya Allah ya Tuhanku, hanya kepadamu hamba memohon dan meminta. Hamba ingin segera pulang. Kabulkanlah permohonan hamba. 


Aaminn. 


Bella mengusapkannya ke wajah. Bella kemudian bangkit untuk mengambil Al-Qur'an dan kembali ke tempatnya semula. Dibukanya lembaran Alquran tersebut, membaca Al-Qur'an surah Al-Kahfi.


Suara Bella yang merdu dalam membaca kitab suci itu memenuhi seluruh kamar. Suasana begitu menenangkan. Kegelisahan dan kesedihan hati Bella akan lenyap. Ya, membaca firman-firman Allah itu ampuh untuk mengobati dan menenangkan jiwa.


Setengah jam kemudian Bella menutup Alquran dan mengembalikannya ke tempat semula. Melepas mekena dari melipatnya bersama dengan sajadah. 


Bella duduk di tepi ranjang. Melihat jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Belain kembali tidur. Berbaring dan memejamkan matanya, kepalanya malah terasa pusing dan sulit untuk tidur.


Sepertinya aku insomnia lagi, batin Bella. Bella memang sering mengalami insomnia. Namun, beberapa bulan belakangan ini insomnianya menghilang dan kini sepertinya kembali lagi. 


Kantuk menyerang namun ia tidak bisa tidur. Bella kembali duduk dan langkah menuju meja belajar. 


Menghidupkan lampu belajar dan mengambil sebuah buku besar.  Buku itu berasal dari Irene. Tadi Irene memberikan beberapa buku besar padanya. Satu diantaranya sudah Bella pelajari. 


Bella membuka buku besar tersebut. Ternyata bersejarah berdirinya Black Rose dan peralihan pemimpin dari yang satu ke pemimpin seterusnya. 


Bella membaca dan mempelajarinya dengan serius. 30 menit kemudian Bella menutup buku tersebut. Ia mendongak kemudian mengernyit. 


"Jadi, penerus tidak diturunkan pada anak sulung melainkan tes?"gumam Bella. Bella sedikit menangkap maksud Desya. Kesya ingin mengubah tatanan Black Rose. Dan untuk itu dibutuhkan orang luar yang tidak kolot dan mempunyai kemampuan di bidangnya. 


"All right. Pertumpahan darah juga tidak bagus."