
Bella diam sesaat setelah bangun dari tidurnya. Ini baru pukul 04.45, tapi Ken sudah tidak ada di sebelahnya. Bella menajamkan pendengarannya, kamar mandi, ruang ganti, tidak ada suara apapun.
Kemana dia?
Bella menerka-nerka dalam hati.
Lari pagi? Renang? Atau di balkon? Atau ke masjid?
Bella menggeleng pelan atas terkaan terakhirnya. Di rumah ini disediakan tempat untuk salat.
Dengan langkah tegas, Bella menuju balkon, pintu tertutup rapat. Bella membukanya, merasakan angin subuh menerpa wajahnya. Kedua tangan Bella bertumpu pada pagar balkon.
Kedua mata Bella terpejam. Udara dingin serasa menyelusup masuk ke pori-pori tubuhnya. Dapat ia rasakan dengan jelas kulitnya dingin.
Hah.
Nafas kasar ia hembuskan. Manik mata hitam setajam elang itu menatap dingin ke depan.
Sudahlah. Bukan urusanku juga.
*
*
*
"Eh Abel kamu sudah rapi saja?" El dengan gayanya menarik kursi, bukan untuk Bella melainkan Anjani.
Anjani mengerjap melihatnya, "Aka saja yang duduk di situ," ucap Anjani cepat. Arka menurut.
Anjani mengambil tempat duduk di samping kanan Arka. El tersenyum, ingin mengambil tempat duduk di samping kiri Arka tapi sudah disela oleh Bella.
"Anjani juga sudah rapi, Kak El," ucap Bella melirik Anjani yang tampak tersipu.
"Ya kalian cantik," puji El yang semakin membuat Anjani merasa malu dan kini tertunduk. Dia bukan Bella yang sulit untuk digoda. Tapi biarpun begitu, Anjani juga bukan orang yang mudah bawa perasaan ke semua orang.
Namun, entah mengapa hati Anjani merasa tak karuan atas sikap El padanya juga Arka. Terbesit di hatinya bahwa El tertarik padanya. Hanya saja itu langsung terbantahkan mengingat bahwa El adalah seorang playboy dan dicap buruk oleh publik. Ya tapi yang namanya playboy pasti punya kelebihan bukan? Sedikit banyaknya Anjani juga terpengaruh.
"Ken mana, Bel?"tanya Rahayu.
"Loh Abel malah mau nanya sama Mama. Mama tahu Ken ke mana? Saat Abel bangun, Ken sudah nggak ada," balas Bella dengan wajah heran.
Rahayu juga tampak bingung, ia melirik Surya.
"Kemana lagi kalau bukan ke rumah Cia." Brian menjawab dengan nada santai namun tatapan lekat menilik ekspresi Bella.
Oh ternyata ke rumah Cia.
Bella hanya ber-oh-ria. Surya malah menatap kesal Brian.
"Untuk apa cari alasan lain, Pa? Toh semua juga sudah tahu. Ditutupi pun cepat atau lambat akan terbuka," ucap santai Brian.
Hm.
Surya menghembuskan nafas pelan, "Papa harap kamu paham, Bel," harap Surya yang dijawab anggukan oleh Bella.
Ya aku paham. Paham sekali!
Bella tersenyum, sorot mata yang penuh ketegasan membuat hati Surya dan Rahayu lega, juga Silvia.
Cia lagi. Cia lagi. Bosan aku mendengar namanya. Selalu Cia prioritas Tuan Muda angkuh itu, lalu Abel dianggap apa? Alat? Istri di atas kertas? Atau malah bukan istri. Huh untung Abelku gadis kuat. Nggak mudah ditindas sepertiku. Heh awas saja kau bocah angkuh, Abelku belum melakukan apapun untuk pernikahan ini. Aku jamin, cepat atau lambat kau pasti akan bertekuk lutut di hadapan Abelku! Kita nantikan saja serangan balasan dari Abel!
Anjani mendumel dalam hati. Wajahnya tampak kesal yang terlihat imut. El memandangnya dengan penuh binar di mata.
"Uncle kenapa lihat Mama begitu?" Arka yang sensitif menatap El penuh selidik.
"Karena Mama El cantik," jawab El tanpa malu.
Wajah Surya langsung kembali kesal. Sementara Brian dan Bella sama-sama memutar bola mata malas. Silvia dan Rahayu sendiri tersenyum simpul.
"Aunty Abel juga cantik, kok hanya ngelihatin Mama?"tanya Arka.
"Aunty Abel sudah ada yang punya. Ntar ada yang marah. Mama kamu kan single, jadi …."
"Mama masih ada Aka, masih ada Papa juga," sela Arka dengan wajah tak suka. Bella terkikik geli sementara Anjani melebarkan mata mendengar ucapan Arka.
"Kalau begitu Uncle akan janda Mama Aka," jawab El santai.
"Gimana? Mau kan kalau Uncle jadi Papa baru Aka?"tawar El yang seketika pupus saat Arka menggeleng keras.
"Nggak! Aka nggak butuh Papa. Aka cuma butuh Mama sama Aunty Abel!"
"Ya sayang sekali …." Dengan mimik kecewa, El menatap hambar sarapan di depan di depannya.
Kasihan, gara-gara sikap Mas Arman, Aka jadi trauma, batin Anjani sedih.
"Sudah-sudah. Ayo makan. Kalian berdua pasti ada hal penting bukan?"ucap Surya melihat setelan Bella dan Anjani. Keduanya serentak mengangguk.
*
*
*
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di depan sebuah gedung bertingkat. Anjani menatap rumit gedung yang bernama Diamond Corp itu. Ini adalah perusahaan milik keluarganya, tidak ini milik mamanya yang diambil alih oleh papanya dan dikuasai oleh keluarga tirinya setelah sang mama meninggal. Seharusnya ialah yang paling berhak akan tetapi karena ia lemah, penakut, naif, juga tak terlalu pintar, ia sebagai anak kandung dan pewaris sah perusahaan ini malah tersingkir. Sejak peristiwa itu, peristiwa perjodohan dengan pernikahan dengan sang suami, Anjani benar-benar terlupakan oleh keluarganya. Anjani juga enggan kembali ke kediamannya, sama saja baginya. Ah ralat sejak sang mama meninggal, Anjani memilih tinggal sendiri dan itu terjadi pada saat ia kelas XI. Dan Itu bukan rumah tapi sebuah tempat mengerikan! Di sana ia tidak dianggap keluarga melainkan sampah!
Tapi kini, Anjani telah kembali. Kembali untuk mengambil semua haknya! Dengan adanya Bella, Anjani menghapus semua keraguan dan ketakutannya. Bella, malaikat pelindungnya telah kembali. Anjani tidak takut dengan apapun lagi. Ia bukan sampah! Ia adalah diamond yang yang terbalut lumpur. Dan Bella adalah orang yang akan mengambil dan membersihkan lumpur itu. Ia akan menjadikan Anjani bersinar, seperti berlian!
"Sudah siap?"tanya Bella.
"Tentu. Aku sangat siap!"jawab Anjani mantap.
"Kau masih ingat ruangannya?"tanya Bella saat memasuki lobby.
"Tentu!"
"Haruskah kita izin masuk?"tanya Bella yang membuat Anjani menghentikan langkahnya.
"Bukankah kita akan langsung diusir?"tanya balik Anjani. Bella mendengus. Ia kemudian mengedarkan pandang mencari cela, akan tetapi tidak ada. Untuk masuk ke dalam lift saja harus melewati pemeriksaan dulu.
"Hm … aku ada cara."
"Apa itu?"
Bella membisikkan sesuatu pada Anjani.
"Hah? Apa tidak masalah?"
"Tentu saja tidak!"
"Ya … baiklah." Anjani yakin dengan Bella.
Bella menghampiri resepsionis.
"Permisi."
"Ya dengan siapa dan ada yang bisa dibantu," jawabnya ramah. Tentu saja, melihat penampilan Bella yang elegan dan berwibawa siapa yang berani bersikap tidak sopan.
"Saya perwakilan dari Mahendra Group, ingin bertemu dengan Presdir perusahaan ini!"jawab Bella.
"Ma-Mahendra Group?" Dengan terbata dan wajah yang terkejut bukan main, resepsionis itu terbelalak. Ia sungguh tidak menduga hal ini. Bella mengangguk. Resepsionis itu kemudian melihat jadwal Presdir hari ini.
"Tapi Nona, kami tidak ada janji temu dengan perusahaan Anda," ujarnya sembari menelan saliva melihat tatapan tajam Bella.
"Tentu saja tidak ada karena ini pertemuan yang tidak direncanakan!"
Resepsionis itu sudah berkeringat dingin. Dengan segera ia menghubungi seseorang.
"Baik. Terima kasih, Sekretaris Anton."
"Baiklah, Nona. Akan tetapi saat ini Presdir tengah rapat dengan direksi," jawabnya gugup.
"Tidak apa. Kami akan menunggu beliau di ruangannya."
"Baik. Baik, Nona. Silakan naik lift menuju lantai 20. Ruangan beliau ada di sana," ucapnya menunjuk lift.
"Terima kasih," ucap Bella. Dan resepsionis itu membungkuk hormat pada Bella. Anjani sedikit melongo. Semudah itu? Ah jual nama memang memudahkan urusan.
"Ayo."
Anjani mengikuti langkah tegas Bella. Menuju lantai 20. Setibanya di sana, Bella dan Anjani disambut oleh seorang pria setengah abad. Awalnya ia tersenyum lebar dengan wajah sangat bersahabat. Akan tetapi, saat melihat wajah Anjani, mata itu terbelalak dengan wajah berubah pucat.
"N-Nona besar?"ucapnya dengan nada rumit.
Anjani tersenyum. "Saya senang, Anda masih mengingat saja, Sekretaris Anton!"
"N-Nona besar apa yang Anda lakukan di sini dan mengapa Anda bisa di sini?"tanyanya lagi dengan wajah yang berkeringat.
"Tentu saja, mengambil apa yang seharusnya milikku!"
"T-tapi Nona besar?"
"Menyingkir dari jalan kami. Anda memanggil Anjani Nona Besar artinya Anjani punya hak besar di sini!" Dengan mudah Bella mendorong pria yang dipanggil sekretaris Anton itu menepi.
"Ayo, Jani!" Anjani mengangguk, ia kembali mengikuti langkah Bella.
"Tidak! Tunggu, Nona Besar! Anda tidak boleh masuk!"seru sekretaris Anton dengan penuh kecemasan. Ia mengejar langkah Bella dan Anjani. Namun, sayang Anjani dan Bella sudah masuk ke ruang rapat yang mana rapat dengan direksi kali ini adalah untuk mengukuhkan adik tiri Anjani sebagai Presdir menggantikan papanya.
"David tidak berhak menjadi Presdir karena dia bukan bagian dari Diamond Corp!"seru Anjani yang seketika membuat aktivitas di dalam ruangan itu terhenti dan semua menoleh ke arah pintu.
"Anjani?"
"Dia?"
Tampak dua orang yang sangat terkejut juga pucat melihat kedatangan Anjani. Sementara itu, para peserta rapat yang lain menatap keduanya penuh tanda tanya.
"Aku kembali, Pa! Aku kembali untuk mengambil semua hakku yang kalian rampas!"ucap dingin Anjani.