
Biodata Napi yang bertengkar dengan Nesya akan diberikan pada Bella besok di kantor polisi. Sekalian Bella ikut serta dengan polisi untuk meminta keterangan dari Napi lainnya. Bella ingin mendengarnya keterangan saksi secara langsung.
Polisi yang berbicara dengannya sudah pergi, meninggalkan dirinya bersama dengan dua petugas lapas yang bertugas menjaga dan mengawasi Nesya karena biar bagaimanapun status Nesya masihlah seorang Napi.
Dengan langkah yang masih sedikit tertatih, Bella meninggalkan depan ruangan Nesya, berniat kembali ke ruangan Ken setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada dua petugas lapas.
"Nona!" Bella yang berjalan dengan sedikit melamun tersentak mendengar seruan itu. Ia sontak berhenti dan membalikkan badannya ke belakang.
"Kamu … ada apa?" Bella mengenali siapa yang memanggilnya. Itu adalah perawat tadi pagi yang membantu dirinya.
"Anda ini! Walau sudah lepas infus bukan berarti bebas bergerak! Luka Anda itu masih basah! Anda harusnya istirahat di ruang rawat atau di rumah! Bukan jalan-jalan begini, malah sendiri lagi!"cecarnya, walau kesal ada nada khawatir di dalamnya. Ada sedikit penekanan menandakan kondisi luka Bella masih rawan terbuka lagi.
"Aku tidak nyaman memakai kursi roda. Lagipula aku merasa aku baik-baik saja, Nona Perawat. Aku juga tahu batasanku," jawab Bella, bibirnya mengulas senyum manis. Perawat dengan rambut sebahu dan bertag name Winda itu menghela nafas pelan.
"Baik, kalau begitu Anda ingin ke mana? Biar saya temani!"ucapnya, segera memposisikan diri memegang lengan Bella.
Ah sudahlah. Bella sedikit memutar malas matanya.
"Lantai 4, VVIP 3," ucap Bella memberitahu tujuannya.
Bella dan Perawat itu kembali melangkah menuju lift yang terletak di ujung koridor. "Rupanya Anda mengambil ruang rawat elite ya, Nona," ucap Perawat itu saat berada di dalam lift.
"Hm."
"Mengapa bukan adik Anda saja yang berada di sana? Bukankah kondisi adik Anda lebih parah?" Bella menatap Perawat itu dengan raut tidak senang. Perawat itu hanya menunjukkan wajah penasaran.
"Not your bussiness, Nona." Bibir Perawat itu langsung merengut kecewa atas jawaban Bella.
"Egois sekali padahal adiknya lebih butuh perawatan. Dan Nona ini juga sombong!"gerutu Perawat itu pelan. Ia berusaha memaksakan untuk tetap tersenyum. Bella acuh, pikirannya sudah kalut, ingin menenangkan pikiran malah diganggu dengan pertanyaan yang jelas mengusik hatinya.
Ting!
Tiba di lantai empat. Perawat itu walau sekarang merasa tidak nyaman di samping Bella, ia tetap mengantar Bella sampai di depan ruang VVIP tiga. Di depan ruangan itu ada dua pria berseragam bak bodyguard, langsung menunduk hormat pada Bella dan membukakan pintu. Bella melangkahkan satu kakinya masuk, tidak ada ucapan terima kasih yang keluar dari bibirnya.
Terdengar lagi gerutuan perawat itu.
Apa perawat ini dungu hingga tidak mengerti situasi dan siapa yang ia gerutukan? Lagi di dekat orangnya langsung dan dua bodyguard? Sejurus kemudian Bella berbalik dengan tatapan tajam padanya. Perawat itu jelas terdiam dengan tatapan menunduk.
"Lain kali sebelum kau bertanya lihat situasinya dulu. Kau lihat bukan aku sudah tidak butuh perawatan rumah sakit lagi? Dan ini bukan ruanganku melainkan ruangan suamiku! Jadi jangan asal menilai orang itu egois dan buruk!" Seusai mengatakan itu, Bella masuk dan menutup rapat pintu.
Perawat itu tercengang, beberapa saat kemudian ia menampar pipinya sendiri. "Cerobohnya aku!"runtuknya pada diri sendiri. Jelas sudah terlintas di benaknya bahwa Bella bukan orang yang bisa ia singgung. Untung saja orang yang singgung tidak terlalu mempermasalakannya. Jika tidak, bisa-bisa ia dikeluarkan dari rumah sakit tempatnya bekerja ini.
Aku harus meminta maaf, pikirnya.
Kedua bodyguard itu mengendikkan bahu melihat wajah frustasi Perawat itu.
*
*
*
"Aru … Nesya sudah pulang?"tanya Ken yang menyadari istrinya sudah kembali. Segera ia letakkan buku yang sedang ia baca, melihat ke arah Bella yang mendekatinya dengan wajah tenang nan datar seperti biasanya. Semua kekalutan dan kesedihan, Bella pendam.
"Hm. Baru saja. Jika tidak bagaimana bisa aku kembali?"sahut Bella, duduk di kursi dekat ranjang Ken.
"Lalu apa jawabannya atas salamku?"tanya Ken penasaran.
"Jawabannya?" Bella diam sejenak. Bagaimana bisa ia tahu jawabannya sedang Nesya tidak menjawab salam dari Ken?
"Benar. Atau jangan-jangan kau tidak menyampaikannya?"tuduh Ken, bibirnya memcembik kesal.
"Tentu saja aku sampaikan! Aku ini orang yang tepat janji!"bantah Bella. Ia menatap sangar Ken.
"Lalu apa jawabannya?"tuntut Ken tak mau kalah, ia menatap Bella menuntut jawaban.
Bella mendengus sebelum menjawabnya, "katanya ia tidak menerima pesan lewat perantara. Kau menyukaiku harus menyapanya secara langsung! Sekali okay, dua kali mengirim sapaan secara tidak langsung artinya kau takut dan tidak serius denganku. Kau tahu dia menyebutmu apa? Pecundang!" Bella menyeringai melihat wajah lesu Ken. Sorot matanya meredup, bibirnya terkatup rapat seakan membenarkan ucapan Bella.
Ken menunduk, meremas selimut, "aku memang pecundang," lirihnya.
Dahi Bella langsung mengkerut, matanya menyipit tajam tanda ia tidak suka dengan respon Ken.
"Aku tidak bisa melindungimu. Aku juga belum berani bertemu dengannya secara langsung. Aku memang pencundang, Aru." Ken menghakimi dirinya sendiri.
"Ck!! Jawabanmu ini memang membenarkan bahwa kau seorang pecundang!" Bella melipat kedua tangan di depan dada. Ia sangat kesal dengan jawaban Ken. Mengapa lembek dan menerima begitu saja tuduhan orang padanya?
Padahal di dalam darahnya mengalir darah keluarga besar. Apa karena sejak kecil tidak pernah ditekan atau diharuskan melakukan atau mengikuti apapun makanya membentuk karakter Ken yang seperti ini? Mungkin juga karena sedari kecil Ken tidak pernah dibebani tanggung jawab besar, terkesan lebih dimanja dan dibebaskan, tentunya sebelum ia menikah dengan Bella.
Ken semakin tertunduk. Sejujurnya ia hanya seperti ini pada Bella. Ia merasa apa yang Bella katakan memang benar. Oleh karenanya tidak ada bantahan yang keluar dari bibirnya.
Bersama Bella ia melihat dan merasakan hal ini. Bella kini bagai istri, kakak, sahabat, guru juga seperti seorang ibu di matanya.
"Guru …." Panggilan pelan yang diikuti angkatan kepala oleh Ken. Sorot mata lesunya hilang berganti dengan tatapan dalam dari Ken. Bella mengangkat satu alisnya.
"Ajarkan padaku untuk tidak menjadi seorang pecundang!"lanjutnya penuh harap. Bella tertegun sesaat tak lama ia tersenyum lebar.
"Baik. Gurumu ini akan mengajarimu dengan baik!"
Bella mengangguk, begitu juga Ken. Keduanya berjabat tangan dengan sama-sama tersenyum lebar, "aku ingin bertemu dengan Nesya, sekarang!"ucap Ken yang membuat senyum Bella memudar.
"Jangan sekarang!"
"Kenapa? Lebih cepat lebih baik, kan?"
"Benar. Itu benar jika kondisinya mendukung. Kau masih sakit, jam jenguk juga sudah berakhir. Itu sama saja kau membuang waktu dan menyakiti diri sendiri. Ingat seseorang yang menunda sesuatu atau mengalah belum tentu seorang pecundang. Kita tunggu sampai kau dan aku sembuh total, okay?" Dengan nada meyakinkan, membuat Ken mengerti. Ia mengangguk paham. Alasan Bella memang masuk akal.
"Kau lapar?"tanya Bella setelah melihat jam tangannya. Sudah pukul 17.00. Ken menggeleng.
"Mau makan buah?"tawar Bella. Ken mengangguk.
Bella meraih piring buah berikut pisau, meletakkannya dalam pangkuan lalu memilih apel sebagai buah yang akan dikupas. Ken menatap lekat wajah sang istri yang fokus mengupas apel. Ia tersenyum, wajah istrinya sungguh cantik.
"Sttt!" Ia meringis saat tangannya bergerak hendak menyentuh pipi sang istri.
"Ada apa? Mana yang sakit?"cemas Bella. Ken menggeleng, tangannya kembali ke posisi semula.
"Jangan banyak gerak dulu. Lukamu itu ada dua dan belum kering!"
"Ya … lalu lukamu? Apa masih sakit?" Ken bertanya lirih. Bella menggeleng. Bibirnya melengkung manis. Ia kembali melanjutkan kupasan apelnya. Ken kembali memeta wajah Bella. Bella yang merasa diperhatikan hanya memberinya lirikan singkat.
Benar, Bella memang sudah tidak menggunakan pakaian rumah sakitnya. Kini ia memakai celana longgar, kemeja lengan panjang berwarna biru dengan hijab berwarna hitam, senada dengan warna celananya.
"Aku katakan padanya jika aku tidak sengaja jatuh dari motor. Pinggangku sakit jadi jalannya begitu, bagaimana? Alasan yang cukup bagus bukan?"jawab Bella, wajahnya meminta pujian. Ken menggeleng seraya mendengus pelan.
"Guru kau memang hebat!" Pujian itu disambut tawa Bella.
Ah bagaimana Nesya tahu cara jalanku sedang dia terbaring tidak berdaya?gumam kecut Bella dalam hati.
"Atas pujianmu … ayo bukan mulut, apel segar datang …." Ken langsung membuka mulutnya menerima suapan potongan apel dari Bella.
"Bagaimana? Manis?"
"Lebih manisan My Aru!" Bella tersipu mendengarnya.
"Aakkk …." Ken meminta lagi. Bukannya langsung menyuapi Ken lagi, Bella malah berdiri dan cup.
Kecupan singkat mendatar di bibir Ken. Ken yang terkejut, mengerjap. Ia seperti bingung sesaat, bibirnya terbuka, Ken melongo.
Bella kembali tertawa. Ia kembali menyuapi Ken, "jangan melongo. Ntar ada nyamuk masuk," canda Bella.
Ken tersadar dan menguyah apel dengan tatapan kesal. Sedang sakit malah dipancing, andai ia tidak sakit ya pasti malam indah kemarin itu akan terulang lagi. Ken semakin mengerut kesal melihat senyum lebar Bella, "Ck!"
Kecupan singkat yang berhasil memancing gairah Ken.
Grep!
"Eh?!"
Bugh!
Cup!
Bella linglung sesaat atas gerakan singkat yang menarik tangannya dan kini bibirnya dan Ken bersatu. Mata Ken terpejam, ia sibuk menikmati bibir manis sang istri yang masih terpaku. Sejurus kemudian Bella mulai membalas ciuman sang suami. Keduanya seakan lupa bahwa sedang sama-sama terluka.
"Tuan Muda, Nona Muda?!" Baik Bella atau Ken tidak menggubris seruan panik dua bodyguard yang mendengar ada sesuatu yang jatuh dari dalam kamar Tuan dan Nona Muda mereka.
"UPS?!" Keduanya langsung menutup pintu saat melihat yang dikhawatirkan sedang asyik berciuman.
"Uh!" Mata terpejam Bella terbuka dan langsung mendorong Ken. Ken yang enggan, membuka matanya protes dan semakin mengeratkan pelukannya pada Bella.
"Sttt!" Ken meringis saat bibirnya digigit oleh Bella. Menekan bel untuk memanggil dokter.
"Aru!"protes Ken yang belum puas.
"Apa? Lihat lukamu itu!"ketus Bella. Ken melihat lukanya, noda darah terlihat jelas di baju bagian lukanya. Ken nyengir kemudian meringis. Tak lama dokter datang.
"Aduh kenapa tidak hati-hati, Tuan Muda? Luka Anda itu ada dua, jahitannya masih basah!"cemas dokter pria berusia di kepala 4 itu. Dibantu perawat kembali mengurus luka Ken yang kembali terbuka. Ken menunjukkan wajah datarnya meniru Bella yang beralih duduk di sofa.
Syukurin! Ken menangkap maksud itu saat Bella menaikkan alisnya dengan sedikit menyeringai.
"Ck!" Ken berdecak pelan.
"Nona coba lihat luka Anda," pinta perawat dan Bella menaikkan bagian baju kirinya sampai ke bagian luka.
"Kita ganti perban sekalian ya, Nona?"ucapnya setelah melihat luka Bella.
"Hm." Perawat tersebut segera melakukan apa yang ia katakan. Sedangkan dokter sudah keluar setelah membereskan luka Ken.
"Selesai."
"Terima kasih." Perawat itu mengangguk kemudian berlalu keluar.
"Stt Aru sakit." Ken merengek dari tempatnya yang disambut lirikan sinis Bella.
"Salahmu bertingkah!"
"Kau yang memancingku!"
"Memangnya kau ikan, hah?"
"Bibirmu umpannya!"
"Jadi aku yang salah?"
Ken mengangguk.
Ck padahal hanya ingin memberi hadiah mengapa malah panjang begini urusannya? Baik, Bella memilih mengalah. Ia menyatukan kedua tangan di depan dada, menundukkan sedikit kepalanya, "muridku tercinta, gurumu ini salah."
"Guru kau tidak tulus, harus ada hadiah permintaan maaf."
Alis Bella langsung menaut kesal. Ia mengangkat kepalanya, "jadi apa yang kau inginkan, muridku tercinta?" Dengan senyum dipaksa plus nada geram, Bella bertanya. Sorot matanya mengatakan bahwa jangan permintaan macam-macam.
"Akan aku katakan nanti," jawab Ken.
"Baiklah. Kalau begitu aku ingin tidur," ucap Bella dengan nada datarnya. Sebelum Ken menjawab, Bella sudah merebahkan dirinya pelan-pelan di sofa.
"Aru tidur di sini saja," ajak Ken setelahnya.
"Jangan banyak gerak dulu. Aku lebih aman jika di sini," sahut Bella.
"Baiklah." Ken mendesah pelan. Ia kemudian mencari posisi ternyaman untuk kemudian kembali membaca bukunya.
Belum ada setengah lembar ia membawa, Ken melihat ke arah Bella. "Aru…."
"Hm?"
"Apa boleh aku tahu sandi ponselmu?"tanya Ken ragu. Bella membuka matanya, menatap langit-langit kamar rawat.
"Untuk apa?"tanyanya.
"Itu untuk situsi darurat. Tapi jika kau enggan tidak masalah kok. Kau juga pasti punya privasi."
"Hm. Nanti ku beritahu," sahut Bella kembali memejamkan matanya. "Ah bangunkan aku jam 18.00, ya," lanjutnya.
"Baiklah."