This Is Our Love

This Is Our Love
Kembali ke Lapas?



Bella tengah fokus pada pekerjaannya. Begitu juga dengan Ken yang mengambil alih beberapa pekerjaan yang dinilai masih mudah untuknya. Untuk sementara Bella memang mengasah kemampuan Ken pada tugas dan pekerjaan yang mudah dan itu akan ditambah tingkat kesulitannya sampai Ken benar-benar sudah mengetahui dan memahami suatu pekerjaan dari ranah mudah sampai tertinggi. 


Bella mengalihkan perhatiannya kala ponselnya yang berada di atas meja berdering. "Louis?"gumam Bella, melepas kacamata dan bangkit menuju jendela yang menampilkan suasana menjelang sore ibu kota.


Hari yang cerah, cakrawala masih gagah menunjukkan sinarnya yang terasa hangat di kulit. Ken memutar tubuhnya ke arah Bella. Ingin tahu apa yang Bella dan Louis obrolkan.


"Hallo, Louis. What's up?"jawab Bella.


"Hai, Abel. Are you busy?"sapa dan tanya Louis dari seberang sana.


"Sebenarnya aku sibuk. Tapi, tidak apa. Hal apa yang ingin kau katakan padamu?"tanya balik Bella. Biasanya jika Louis menelpon pasti ada suatu hal yang penting. 


"Oh. Ya ini cukup penting, sebenarnya. Apa bulan depan kau bisa pulang kemari?"


"Pulang? Ada acara apa?"


"Em … aku dan Resa akan bertunangan bulan depan." Bola mata Bella sontak membulat mendengarnya. 


"SUNGGUH?" Bella tak kuasa menahan keterkejutan sekaligus rasa senangnya.


Apa yang sungguh? Ken bertanya-tanya. Dilihatnya wajah yang istri berbinar tenang. Kabar bahagia apa?


"Kau tak percaya padaku? Kalau iya tanyakan saja pada sahabatmu itu, dengan Mommy atau siapa saja. Sebentar lagi kau akan menerima kabar media tentang rencana pertunangan kami!"sahut Louis, nadanya terdengar garang. 


"Tentu saja, tidak. Aku percaya padamu!"sergah Bella dengan menggeleng walau Louis tidak melihatnya.


"Aku sangat bahagia mendengarnya!"imbuh Bella. Akhirnya Resa mendapatkan cintanya, gumam Bella dalam hati. 


"Ya aku juga harus move on, bukan?"


"Ya. Kalau tidak kau akan memutus keturunanmu sendiri, Louis," sahut Bella disertai kekehan khasnya. Louis mendengus sebal. 


"Bagaimana? Kau bisa datang kan? Kalau bisa bersama dengan keluarga suamimu," tanya Louis memastikan. 


"Akan aku usahakan. Kau tahu kan jadwalku begitu padat?"


"Aku lega mendengarnya. Abel, kami menunggumu."


"Ah ya, satu lagi. Ku dengar dari Kakaknya, Calia ke Jakarta menemuimu, mengapa?"


"Oh kau sudah mendengarnya, ya? Hm aku berniat untuk melanjutkan terapiku," jelas Bella.


"SUNGGUH?!" Sama seperti keterkejutan Bella, Louis malah lebih keras lagi.


Uhuk-uhuk!


"Hei, Louis. Kau baik-baik saja, kan?"tanya Bella saat mendengar suara batuk dari telepon, terlebih samar ia mendengar suara Teresa.


"Hahaha tidak apa. Hanya luka kecil." Bella tidak tahu apa ucapan itu ditujukan padanya atau Teresa. "Kau terluka, Louis?" Ken mengeryit melihat gurat kecemasan Bella.


"Hahaha tidak-tidak. Hanya luka kecil, Abel. Bukan masalah. Kau dengar sendiri kan suaraku tidak aneh, bukan?"


"Okay. I believe you."


"Bye de way, kau begitu mencintai suamimu hingga bisa mengubah keputusanmu. Abel, apa masih ada cinta untuk?" Kalimat yang pertama diucapkan dengan nada kelakar, sedang yang kedua begitu serius.


"Tentu saja."


"Hah?" Louis tercengang dengan jawaban Bella. 


"Sebagai saudara, sepupuku tercinta," lanjut Bella.


"Ck! Kau membuatku jantungan," kesal Louis. 


"Hei-hei, kau begitu tak tahu malunya menanyakan hal ini sedang kekasihmu ada di sisimu!"ketus Bella.


"Dia yang menyuruhku," jawab Louis. 


"Berikan ponselnya pada Resa. Aku ingin berbicara empat mata dengannya!"suruh Bella.


"Hm."


"Ya, Abel?"sapa Teresa dengan nada riangnya.


"Louis terluka karena apa?" Bertanya pada Louis penyebabnya tidak akan dijawab dengan jelas, hanya akan mengatakan hanya luka kecil, bukan apa-apa. 


"Itu … itu salahku." Teresa tak bisa berbohong.


"Salahmu?"


"Aku tidak menuruti ucapan Louis untuk menunggu di perusahaan. Dia terluka karena menyelamatkanku dari preman. Abel, itu salahku. Ku mohon marahlah padaku agar rasa bersalahku hilang." 


"Hahaha …." Bella malah tertawa senang mendengar penyebabnya. Itu artinya benar Teresa sudah ada di hati Louis. Bella merasa sangat lega dan bahagia. 


"Itu hal yang bagus untuk hubungan kalian. Congrats, Resa, my bestie. I'm very happy about you."


"Ah … thanks, Abel. Aku juga sangat bahagia."


"Resa, kita akhiri dulu, ya. Aku harus kembali bekerja," ujar Bella.


"Ya. See you next month."


Ya itu sesuatu yang membahagiakan. Semua mendapat cintanya masing-masing, batin Bella. 


"Hal membahagiakan apa hingga membuatmu tak hentinya tersenyum, Aru?"


"Louis akan bertunangan dengan Resa. Tentu saja aku sangat bahagia," jawab Bella. 


"Lalu kita akan ke Jerman?"


"Kita atur jadwalnya dari sekarang," jawab Bella.


*


*


*


"Jadi, terapi akan dilakukan tiga kali dalam seminggu, yakni senin, rabu, dan jum'at. Semuanya dilakukan sepulang kerja agar tidak mengangguk jam kerjamu. Di hari senin itu akan adalah terapi seperti biasa sedangkan di hari rabu untuk hipnoterapi. Dan di hari jum'at itu kembali pada terapi biasa," terang Calia. 


"Apa pembagiannya tidak menyulitkanmu, Lia?"tanya Bella.


"Tidak. Selama tidak dalam proses terapiku, aku bertanggung jawab untuk mengamati perkembangan kesembuhan traumamu. Jadi, waktuku tidak akan terbuang percuma," jelas Calia. 


"Jangan takut akan aku akan kehilangan pekerjaan karena rumah sakit tempatku berkerja adalah rumah sakit keluargaku. Aku sama sekali tidak masalah, ataupun keberatan merawat pun sampai sembuh. Entah itu satu, dua, tiga, enam ataupun setahun. Jadi jangan khawatirkan tentang pekerjaanku di Jerman," lanjut Calia, meyakinkan.


"Tunggu, tadi katamu akan mengamati perkembangan kesembuhan trauma Aru, apa artinya kau akan mengikuti kami bekerja?"tanya Ken memastikan.


"Bisa iya, bisa tidak," jawab Teresa. "Tidak masalah, kan? Ah jangan takut aku akan mengganggu kemesraan kalian. Aku kemungkinan akan datang saat jam makan siang saja, sebelum Abel makan, aku akan lakukan beberapa hal dulu," lanjut Silvia.


"Jika begitu, lakukan saja yang terbaik. Aku setuju," putus Bella. 


"Kapan terapi perdana dilakukan?"tanya Ken.


"Tentu saja setelah kalian memaksimalkan jadwal dengan pengaturan hari terapi, kemungkinan bisa minggu depan," jawab Calia.


"Aku rasa mulai minggu depan saja, Lia. Minggu ini aku akan menuntaskan meeting akhir dengan Nero Group kemudian menghadiri acara pembukaaan bandara, barulah terapi dimulai, karena jadwalku minggu ini begitu padat. Sulit untuk dibagi lagi."


.


Besok adalah meeting akhir dengan Nero Group. Lalu dua hari kemudian adalah acara peresmian bandara. 


"It's okay," jawab Calia.


"Oh iya, Abel apa kau sudah mendengar perihal pertunangan Louis dan Teresa bulan depan?"


"Hm. Aku usahakan akan pulang untuk itu," jawab Bella. 


Calia ber-oh-ria. Sesaat ia lupa akan siapa Bella bagi keluarga Kalendra.


*


*


*


Ken berangkat ke perusahaan bersama dengan Brian dan Silvia. Karena Bella harus ke lapas Nesya menemui kepala lapas dan beberapa petinggi lainnya. Tadinya Ken ingin menemani Bella. Akan tetapi pagi ini ada meeting dan Bella menyuruh Ken untuk menggantikan dirinya.


Bella merasa Ken mampu untuk memimpin meeting itu dengan baik karena tadi malam Bella sudah menjelaskan pada Ken tentang materi meeting.


Kini Bella telah tiba di parkiran lapas. Lima belas menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Segera Bella melangkahkan kaki memasuki lapas dan menuju ruangan kepala lapas. Ternyata di dalamnya sudah berkumpul petinggi lapas lainnya. 


Mereka memulai pembicaraan serius setelah basa basi sesaat. Inti dari apa yang disampaikan oleh para petinggi lapas itu adalah tentang kondisi Nesya yang sudah membaik dan diharapkan segera kembali ke lapas. Karena status Nesya masihlah napi dengan masa hukuman sekitar delapan bulan lagi.


Ternyata mereka juga telah mengkonfirmasi hal itu pada dokter yang mana dokter, termasuk dokter Rey mengizinkan Nesya menjalani rawat jalan di lapas karena lapas juga punya unit rumah sakit. Untuk kemoterapi masih bisa seperti biasanya, hari kamis setiap minggunya. 


Ucapan mereka dibuktikan dengan surat persetujuan dari para dokter Nesya. Lalu mengenai jadwal operasi yang direncanakan kurang dari dua bulan lagi, Nesya akan kembali rawat inap di rumah sakit tiga hari sebelum operasi. Sebelum itu, lapas bertanggung jawab penuh akan keselamatan dan kestabilan kondisi Nesya. 


Bella mempertimbangkan beberapa saat. Dan akhirnya diputuskan Bella setuju dengan apa yang disampaikan para petinggi itu. Selain karena kesopanan mereka yang membahas dulu, bukan langsung tarik, ditambah dengan Nesya yang tampaknya tidak tertekan berada di dalam sel, membuat Bella menerimanya.


Bella menandatangai surat persetujuan setelah dibaca dengan seksama. Sebenarnya tanpa persetujuan pun bisa karena pada dasarnya selama satu tahun Nesya adalah milik pihak lapas sebagai tahanan. 


Selesai urusan di lapas pagi ini, Bella langsung menuju rumah sakit untuk memberi tahu Nesya. 


"Assalamualaikum," salam Bella pada Nesya dan Dylan. Perawat Winda kini kembali menjadi perawat umum, datang saat dipanggil saja. 


"Waalaikumsalam," jawab Nesya dan Dylan hampir bersamaan. Saat ini Nesya tengah membaca buku di ranjangnya sedang Dylan belajar bersama dengan guru privatnya dengan duduk lesehan di lantai dan bermejakan meja sofa.


"Tetaplah pada kegiatanmu, Lan," ucap Bella. Dylan mengangguk.


"Ada apa, Kak? Mana Ken?"tanya Nesya heran. Seharusnya Bella tengah bekerja, bukan?


Nesya menutup buku yang ia, yang isinya berkaitan dengan dunia kedokteran. Itu salah satu buku yang berada di perpustakaan keluarga Mahendra.


"Ken di perusahaan. Nesya ada yang ingin Kakak sampaikan," ucap Bella dengan nada serius. Nesya ikutan serius dengan wajah serius kakaknya. 


"Hal apa itu, Kak?" Nesya merasa tegang.


"Pihak lapas memintamu untuk melakukan perawatan di lapas mengingat kau masihlah seorang tahanan. Dan itu sudah disetujui oleh dokter dan kakak sendiri. Kau tidak masalah, kan?"


Nesya terperanjat mendengar ucapan Bella. 


"Apa?" Dylan mendengarnya.


Ia segera bangkit dan menghadiri kakak beradik itu sedang gurunya bersikap seolah tidak mendengar apapun di luar pekerjaannya sebagai guru. Hal itu ada di dalam kontrak bahwa setiap orang yang bekerja untuk keluarga Mahendra dilarang dan diwajibkan menutup indera mereka tentang masalah yang terjadi di dalam keluarga besar itu. Jika melanggar, akibatnya akan fatal.


"Kak Abel? Apa yang kau katakan? Kondisi Nesya sangat serius. Di lapas tidak akan menerima perawatan intensif!"protes Dylan.


"I know, Dylan! Aku lebih paham darimu! Tapi, saat ini Nesya adalah seseorang yang tengah menjalani masa tahanan. Lagipula keputusan yang aku ambil setelah mempertimbangkan banyak hal termasuk persetujuan dokter. Dokter Rey, dokter utama Nesya juga menyetujui hal ini, Dylan!"jelas Bella pada Dylan.


"Bagaimana jika ada yang menjahati Nesya lagi di sana?"


"Itu tidak akan terjadi lagi. Aku paham karakter teman-temanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri di dalam sana, Dylan. Aku punya akal, tidak semudah itu jika ingin menindasku," jawab Nesya.


"Nesya? Kau terima?" Dylan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. 


"Aku terikat oleh hukuman, Dylan. Dan aku harus menjalani hukuman itu untuk mendapatkan kembali kebebasanku. Jangan salahkah Kak Abel, karena sejak awal itu telah banyak melakukan hal untuk meringankan masa hukumanku dan keringanan lainnya. Aku juga tidak pernah menyalahkan dirinya karena telah membawaku masuk ke lapas. Justru aku senang karena aku mendapat banyak pelajaran darinya. Aku percaya pada kakakku. Dia tidak akan melakukan hal yang akan mencelakaiku. Kakak aku ikut pengaturanmu," papar Nesya panjang lebar. Ia menatap dalam Bella. 


"Lagi, di lapas tidak membosankan dan menakutkan. Hanya kalau tidak patuh saja akan mendapat hukuman. Dylan, apa kau tahu jika di lapas bisa melakukan banyak hal berguna? Aku bisa berkebun, belajar memasak, menjahit, menyulam, di sana aku dibina, bukan disiksa. Jadi, jangan terlalu khawatir," tambah Nesya lagi.


Perlahan, Dylan mulai mengerti dan menerimanya. 


"Kakak, kapan aku akan kembali ke lapas?"tanya Nesya.


"Sore ini."