
Saat membuka mata, Ken mendapati sisi di sampingnya telah kosong. Ken duduk kemudian menyalakan lampu kamar, mengedarkan pandangnya
Hening.
Ken menajamkan pendengarannya.
Kosong.
El sudah tidak ada di kamarnya. Mungkin sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke Jerman. Ken tidak ambil pusing.
Ken kemudian merenggangkan tubuhnya, melemaskan otot-otot yang menegang, mempersiapkan diri menyambut hari yang baru.
Ken melihat alarmnya. Masih pukul 4.30, sedangkan alarm Ken atur di pukul 5.00.
Ken mendengus pelan. Padahal ia lembur dan sangat lelah. Namun, ia terbangun sebelum waktu yang ditentukan.
Ah … mungkin ini reaksi tegangnya untuk menghadapi meeting umum nanti.
Ken menghembuskannya nafas. Bangkit dari ranjangnya dan mendekati jendela. Disibaknya gorden. Hari masih gelap. Matahari belum bertugas, masih sang rembulan yang bersinar.
Kembali Ken merenggangkan tubuhnya.
Ya sudahlah. Lebih baik aku segera mandi dan membaca ulang berkas meeting nanti, batin Ken.
"Fighting, Ken!"ucap Ken menyemangati dirinya sendiri.
Dengan bersenandung, Ken melangkah menuju kamar mandi. Ya … sedikit mengubah tragedi menjadi komedi. Dibawa bersedih dan menyalahkan diri sendiri pun tidak akan mengubah apapun. Lebih baik melakukan hal yang berguna.
Harapan masih terbuka lebar.
Jalan juga tidak tertutup. Ibarat pepatah, banyak jalan menuju Roma. Satu ditutup masih ada jalan lain. Namun, kadang kala harus berusaha keras untuk menemukan cara membuka pintu tersebut.
*
*
*
Sarapan pagi keluarga Mahendra berlangsung tanpa suara. Semua anggota keluarga fokus pada sarapan masing-masing.
Orang yang sama dengan posisi duduk yang sama. Hanya satu yang kosong yakni bangku Bella. Satu posisi kosong itu, membawa kekosongan yang sangat berarti di kediaman ini.
Ya tidak bisa dipungkiri, bahwa saat hadirnya Bella lah hubungan keluarga ini menjadi erat dan rapat. Contohnya saja adalah hubungan antara Brian dan El. Yang semula saling acuh kini menjadi hangat. Begitu juga dengan hubungan Ken dengan kedua kakaknya. Juga hubungan anak dan orang tua serta hubungan suami dan istri.
Meskipun ada tambahan anggota keluarga yakni Fajar. Hal itu sama sekali tidak berarti dengan kekosongan akibat hilangnya Bella.
Kecuali pakaian Rahayu, El, Dylan, dan Fajar, yang lain menggunakan pakaian formal.
Rahayu mengenakan gamis berwarna maroon, senada dengan warna hijabnya.
Yups!
Rahayu memutuskan untuk berhijab. Ia merasa malu dengan kedua menantunya yang berhijab. Rahayu juga teringat pada Nesya. Meskipun dipenjara, Nesya berhijab, menutup auratnya.
Lantas, bagaimana dengan dirinya yang bebas dan berkecukupan ini? Lagipula itu adalah perintah agama, sudah sebuah kewajiban. Dan pada akhirnya, Rahayu memutuskan untuk berhijab dan itu mendapat dukungan dari semua keluarga.
Terlebih Surya, ia sangat senang sebagai istrinya tidak menunjukkan tubuh moleknya pada orang lain. Dengan gamis itu, bentuk tubuh Rahayu sama sekali tidak terlihat.
El mengenakan pakaian kasual, lengkap dengan jaketnya. Karena di wilayah Eropa sudah memasuki musim dingin di bulan Desember. Maka, El tentu harus punya persiapan. Ya, meskipun terlalu cepat digunakan sekarang.
Barang bawaannya sudah dimasukkan oleh pelayan ke dalam mobil. Selesai sarapan, ia akan menuju bandara setelah mampir ke Diamond Corp untuk berpamitan pada kekasih hatinya, Anjani.
Fajar, selain menjalani terapi kaki untuk bisa berjalan normal, kini ia juga mengikuti kelas akselerasi. Dulu, sebelum koma Fajar memanglah anak yang cerdas. Ia langganan juara kelas. Juga beberapa kali memenangkan olimpiade baik tingkat sekolah, daerah, ataupun nasional. Dan pernah menjadi finalis di olimpiade internasional.
Sementara Dylan, ia sudah hampir menyelesaikan setengah dari seluruh semester. Selesai mempelajari semua semester, Dylan tinggal mengikuti ujian di instansi terkait untuk mendapatkan ijazah. Kemudian melanjutkan pendidikan ke universitas sembari mulai membangun kembali keluarganya. Tak lupa juga, ia akan menikah dengan Nesya dalam waktu kurang dari satu tahun lagi.
Brian, pria itu semakin manis dan cukup protektif pada sang istri, Silvia. Memang memang masih ke kantor meskipun ia tengah hamil. Brian mengurangi pekerjaan Silvia agar tidak terlalu lelah. Silvia juga satu ruangan dengan Brian. Agar Brian bisa melihat istrinya setiap saat tanpa mengganggu pekerjaan masing-masing.
Ken, terkadang kecemburuan menyelimuti hatinya melihat kemesraan Brian dan Silvia. Ia cemburu melihat Brian yang bisa memeluk Silvia, bisa mengusap perut Silvia, di mana di dalam rahimnya terdapat buah cinta mereka. Sedangkan dirinya hanya bisa memeluk lewat kenangan.
Sampai kapan?
Sampai kapan ia dan Bella berpisah?
Kapan takdir mempersatukan mereka?
"El kau akan mampir ke tempat Anjani?"tanya Rahayu, setelah mereka selesai sarapan.
"Iya, Bun. Kenapa, Bun?"tanya balik El.
"Bunda mau nitip kue buat Anjani dan Aka," jawab Rahayu, menyuruh pelayan mengambil sesuatu di dapur.
"Kue?" El mengeryit. Begitu juga dengan Ken.
"Iya, kemarin Bunda buat kue kering. Tanya saja Brian dan Silvia. Mereka sudah mencicipinya. Hanya kalian berdua yang belum karena pulang kemalaman," jelas Rahayu.
"Oo … begitu rupanya." El dan Ken mengangguk hampir bersamaan. Tak berselang lama, pelayan yang Rahayu suruh tadi kembali dengan membawa sebuah kotak yang diberi pita berwarna biru dan beberapa toples berisi kue.
"Ini untuk Anjani dan ini untuk dimakan bersama," ujar Rahayu. Dan kue itu menjadi makanan penutup sarapan pagi ini.
Sekitar pukul 7.30, Surya, Brian, Silvia, El, dan Ken meninggalkan kediaman Mahendra menuju tujuan masing-masing.
Jalanan tidak terlalu padat. Kurang dari 30 menit, El sudah tiba di Diamond Corp. Bertepatan pula dengan Anjani dan Arka yang baru tiba di Diamond Corp.
"El?" Anjani terhenyak. Selain karena penampilan El, juga karena sopir yang dibawa oleh El. Biasanya kasih hatinya itu menyetir sendiri, mengapa hari ini yang menggunakan sopir dengan penampilan yang begitu rapi?
"Assalamualaikum, my heart, Aka," sapa El pada kedua kesayangannya itu.
"Waalaikumsalam, El."
"Waalaikumsalam, Uncle."
Anjani dan Arka menjawab hampir bersamaan. "Kau kemari, El?"
"Ini," ujar El dengan menyodorkan kotak kue yang Rahayu titipkan tadi.
"Apa ini?"tanya Anjani sembari menerima kotak tersebut.
"Kue, dari Bunda," jawab El.
"Ah dari Bunda. Terima kasih. Sampaikan terima kasihku pada Bunda, ya." El mengangguk singkat.
"Uncle mau ke mana?" Arka yang sudah paham gaya berpakaian El, menyuarakan rasa penasarannya.
"Iya, El. Kau rapi sekali. Dan mengapa hari ini menggunakan sopir? Apa kau dihukum? Kau melakukan kesalahan apa?"tanya Anjani dengan raut wajah khawatir. Namun, tak menghilangkan tatapan selidiknya.
"Aku akan ke Jerman untuk meninjau lokasi syuting. Rencananya aku akan di sana selama 3 malam 4 hari begitu," ucap El.
Anjani tampak terkejut. "Lama sekali, Uncle," ucap Arka, seakan tidak rela. El tersenyum lembut.
"Namanya juga pekerjaaan penting, Aka. Tentunya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bukankah Mama Aka juga begitu?"
Arka mendongak, menatap sang ibu kemudian menatap El. Bocah itu mengangguk, membenarkan.
Anjani menghela nafasnya. Benar, seorang sutradara juga sangat sibuk. Ia tidak hanya berperan saat syuting dilakukan. Akan tetapi mempersiapkan segalanya sebelum syuting dan menyiapkan semuanya setelah selesai syuting.
"Baiklah. Hati-hati di sana. Jaga hati, jaga mata, jaga kelakuan. Jangan macam-macam!"ucap Anjani memperingatkan.
"Siap, my heart," jawab El dengan posisi hormat. Anjani tertawa renyah.
"Uncle ke Jerman apa akan bertemu dengan Key?"tanya Arka.
"Kemungkinan besar iya."
"Kalau begitu sampaikan salamku pada Key ya, Uncle. Dari Aka yang paling tampan," ujar Arka dengan gerakan narsis. Agaknya, Arka sudah ketularan sifat narsis El.
"Baik-baik. Nanti Uncle sampaikan pesannya."
"Aku kirim salam juga untuk keluarga Kelendra." Anjani mengenal mereka dan mereka juga mengenal Anjani, setidaknya salam harus sampai.
"Kalau begitu lekaslah berangkat. Pesawat pasti sudah menunggumu," timpal Anjani.
"Kau menyuruhku cepat-cepat pergi?" El mengubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Eh? Bukan begitu." Anjani terkesiap. Ia langsung menyergah pertanyaan El.
"Lantas?" Dengan mimik sedih. Anjani merasa bersalah dan juga gemas.
"Kalau cepat pergi kan cepat kembali," jelas Anjani.