This Is Our Love

This Is Our Love
Anak dan Menantu Keluarga Mahendra



"Aku rasa hukuman penjara setimpal dengan semua perbuatan mereka," ucap Bella saat mereka berada di ruang pemeriksaaan kantor polisi. 


"Tidak! Jangan Anjani. Kami keluargamu. Kamu tidak boleh memenjarakan kami. Ingatlah kami juga berjasa untukmu," ucap Ibu Dinda, istri Pak Satria.


"Benar! Ibu juga mengurus Kakak. Adik dan Papa juga mengelola perusahaan sampai detik ini. Kau tidak bisa menuntut kami. Bahkan kami berhak mendapat aset yang telah kami kelola selama ini," timpal Rossa.


"Jika bukan kerja keras kami, pasti Diamond Group telah sirna sejak dulu. Kau berutang jasa pada kami, Kakak Anjani!"sambung David.


Sementara Pak Satria dan Sekretaris Anton sendiri tidak mengatakan apapun. Mereka tetap diam. Anjani tampak dilema.


Bella memegang pundak Anjani.


"Setiap perbuatan ada konsekuensinya. Kalian berani melakukan perbuatan tercela maka kalian harus siap menanggung akibatnya. Hukuman penjara lebih baik daripada kalian dituntut untuk mengembalikan semua hasil yang telah kalian nikmati. Atau kita kirim saja mereka keluar negeri, Jani? Selamanya tidak boleh kembali ke Indonesia?" 


Bella menatap Anjani meminta jawaban. Anjani menatap Bella, dari tatapannya terlihat jelas bahwa ia sulit mengambil keputusan.


"Tidak! Aku nggak mau keluar negeri dalam keadaan miskin!"ucap Rossa, wajahnya pucat ketakutan.


"Aku juga nggak mau ganti rugi. Aku nggak salah!" David menunjukkan wajah sombong yang menyebalkan.


"Lepaskan kami!"ucap Dinda penuh tekanan.


"Jika dilepas tapi masih di dalam negeri, ada banyak konsekuensinya yang tidak diharapkan di masa depan, Anjani. Mereka terutama tiga orang ini, adalah tipe pedendam. Mereka bisa kembali untuk mengusik dirimu. Ucapan mereka tidak bisa dipercaya. Mereka tidak takut hukum, oleh karena itu mereka harus merasakan sakitnya sebuah hukuman! Tapi semua keputusan ada padamu. Ingatlah, kamu punya Arka yang memerlukan perlindunganmu. Sebagai seorang Presdir, kamu harus mampu mengambil keputusan yang memiliki resiko terkecil," ungkap Bella. Anjani sedikit melebarkan matanya.


Benar. Ia memang terhutang jasa dengan mereka. Biarpun bukan ayah kandungnya, Pak Satria pernah memberinya kasih sayang seorang ayah. Juga mereka memang mengelola perusahaan dengan baik, tampaknya. Akan tetapi, semua jasa itu telah dibayar lunas dengan semua perbuatan mereka pada Anjani.


"Aku sudah selesai, Abel." Anjani menatap Bella pasti.


Bella menaikkan alisnya. 


"Penjarakan mereka berlima! Proses sesuai dengan hukum yang berlalu!"lanjut Anjani kemudian, berdiri dan melangkah keluar tanpa mempedulikan panggilan, makian, umpatan, dan hinaan dari Dinda, Rossa, dan David. Bella tersenyum puas.


"Selamat menikmati hidup di lantai dingin."


Saat seserang biasa hidup dalam kemewahan dan kebebasan, maka sebuah kurungan besi, kebebasan yang terenggut, juga tiada harta yang dibawa, tidur hanya beralaskan kardus ataupun kain tipis, adalah mimpi buruk yang terus berlanjut, hal itulah yang akan terjadi pada Dinda, Rossa, dan David.


*


*


*


"Assalamualaikum," ucap Bella dan Anjani bersamaan saat mereka telah tiba di mansion keluarga Mahendra. 


"Waalaikumsalam," jawab Rahayu dan Silvia serentak. Bella dan Anjani mencium tangan Rahayu bergantian.


"Bagaimana urusan kalian?"tanya Rahayu. 


"Alhamdulillah, semua lancar, Ma," jawab Bella, mendudukkan dirinya di samping Rahayu. 


"Iya, Tante. Semua lancar terkendali sebab Abel yang menanganinya," timpal Anjani memuji Bella, mendudukkan dirinya di samping Silvia. Dari arah dapur, pelayan datang membawa minuman untuk majikannya.


"Alhamdulillah kalau begitu." Rahayu turut senang. 


"Urusan apa yang kalian lakukan sampai menjual nama Mahendra Group, Abel, Anjani?" Surya melangkah masuk diikuti oleh Brian. 


Bella tersenyum canggung sementara Anjani tertunduk takut.


"Maksud Mas gimana? Jual nama Mahendra Group?" Rahayu menatap bingung suaminya, Abel, juga Anjani. Brian yang duduk setelah menyalami Rahayu juga penasaran. Ia dan Silvia menjadi pendengar yang baik.


"Iya. Abel ini menjual nama perusahaan untuk bisa masuk ke Diamond Group. Dia cerdik menggunakan identitas calon wakil Presdir untuk masuk ke sana atas nama perwakilan perusahaan," jelas Surya yang disambut bulatan mata Rahayu, Brian, dan Silvia.


"Serius?" Rahayu dan Silvia bertanya serentak. Sementara Brian, ia kemudian mendengus, menatap kesal Bella.


"Hehe itu jalan aman masuk tanpa keributan, Pa." Bella tersenyum menunjukkan deretan giginya.


Surya menggeleng pelan.


"Untung benar. Kalau tidak? Bisa bahaya kamu Abel."


"Karena benar itu makanya Abel berani."


"Hm … dan ya Anjani, selamat atas pengukuhanmu sebagai Presdir baru Diamond Corp," ucap Surya menatap Anjani. Anjani mendongak, tersenyum, "terima kasih, Pak."


"What? Presdir?!"pekik Rahayu dan Silvia lagi, mereka juga kaget dan bertatapan. 


Hahaha 


Mereka bertawa, mertua dan menantu yang kompak.


"Tidak ku sangka, Anjani kamu hebat!" Rahayu memberi dua jempol untuk Anjani. 


Anjani kemudian diminta untuk menceritakan semuanya. Anjani dibantu oleh Bella menjelaskan semuanya. 


Rahayu dan Silvia terkagum, juga kesal dengan keluarga tiri Anjani. Surya dan Brian sendiri, tampak tenang. Brian yang tak pandai menunjukkan sebuah kekaguman, ia hanya berdecak kagum dalam hati. 


Pantas Papa memilih Bella. Sepertinya pertarungan menjadi pewaris ini menjadi lebih seru dan ketat. Ken bukanlah lawan terbesarnya melainkan kamu, Bella!


*


*


*


"Ah akhirnya tiba juga di rumah." El merenggangkan tubuhnya saat keluar dari mobil. 


El melangkah masuk, menyerahkan tas bening yang di dalamnya terdapat map juga naskah cerita pada pelayan.


"Letakkan di tempat biasa."


"Baik."


Tumben Tuan Muda El pulang secepat ini?gumam pelayan dalam hati. 


El menghentikan langkah saat di ambang pintu. Ia berbalik ke belakang, senyumnya mengembang melihat mobil Ken berhenti di depan mansion. Adik bungsunya itu keluar dari mobil dengan wajah datar yang berwibawa. 


Ken mengeryit melihat El. Mereka saling tatap dengan tatapan yang berbeda. El senang sementara Ken heran.


"Apakah ada badai?" Ken melayangkan sebuah cibiran, melangkah mendekati El.


"Ya madunya ada di sini," sahut El santai.


"Madu?"


"Haha sudah jangan dipikirkan. Ayo masuk. Semua sudah di dalam kecuali kita." El merangkul Ken. Ken meliriknya tajam, tampak risih. El tidak menyadarinya atau mungkin iya tapi ia tidak ambil pusing.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Eh kalian barengan?"


"Iya, Bun," jawab El.


"Duh Ken kamu mengapa lama sekali pulangnya?"


"Biasa saja kok, Ma." Menjawab santai.


"Ihh nggak bisa biasa lagi dong, Ken. Kamu ini sudah menikah, ada istri yang menunggu kamu," tegur Rahayu.


"Iya-iya." Ken malah berdebat.


"Yang lain mana, Bun?"tanya El.


"Papamu di kamar. Yang lain di taman samping kalau tidak salah."


"Taman samping? Kumpul di sana semua?"


"Iya. Brian, Via, Abel, sama Anjani."


El membulatkan matanya begitu juga Ken yang lalu ditutupi oleh wajah curiga.


"Kalian gabung sana," suruh Rahayu.


"Siap, Bun."


"Ayo, Ken!"ajak El.


"Nggak. Malas. Ken mau ke kamar," jawab Ken dengan wajah malas.


"Nggak!"tolak tegas Ken.


"Ken pergilah," ujar Rahayu.


"Ma, Ken lelah."


"Duduk saja di sana. Nggak nimbrung juga nggak papa. Ayolah, kita itu satu darah masa' miris komunikasi kayak gini?"ucap El. 


"Ken?!"


"Ya baiklah." Ken bangkit dengan kasar. El dan Rahayu mengembangkan senyum. 


Kakak beradik itu kemudian melangkah menuju taman samping mansion. Di sana ada sebuah gazebo, di dalamnya terdapat enam buah kursi di mana empat kursi telah terisi.


"Hei-hei siapa yang mau pindah rumah?" El yang mendengar ucapan Bella langsung menyambar dan kini berdiri di antara Bella dan Anjani.


"El?"


"Tuan El?"


Keduanya terkesiap. 


"Siapa yang mau pindah rumah? Kau Kak? Atau kamu adik ipar?"


"Nggak sopan. Duduk dulu baru bertanya!"ketus Brian.


"Oh okay brother!" El menurut, duduk di samping Anjani sementara Ken duduk di samping Bella. Silvia menatap penuh iri Bella yang dapat mencium tangan Ken walaupun Ken tampak menolak. Sedangkan dia? Silvia melirik sedih Brian.


"Ayo jawab pertanyaanku," desak El.


"Anjani yang mau pindah rumah, Kak El," jawab Bella.


"Hah? Benarkah itu?" El terkejut, ia menatap Anjani dengan tatapan berharap itu bohong.


"Benar, Tuan Muda El. Saya harus pulang ke rumah saya sendiri. Cukup lama saya merepotkan Abel dan keluarga Mahendra."


Deg!


Ada rasa tidak rela. 


"Mengapa? Apa di sini tidak nyaman? Atau kau mau kembali rujuk dengan suamimu?"terka El dengan nada menyelidik. Kekecewaan hatinya ia tutupi dengan wajah penasaran.


"Eh tentu saja tidak."


"Lantas?" 


Dua pasangan lainnya, menatap El dan Anjani dengan tatapan berbeda.


Apa playboy cap kadal ini tertarik dengan Anjani? Bella menyelidik.


Dasar buaya! Ken menggerutu.


Bukan urusanku juga. Brian acuh. 


Wah akan menyenangkan jika Anjani menjadi iparku juga. Silvia berharap.


Ehem.


Bella berdehem. Semua tatapan tertuju padanya.


"Begini loh Kak El. Sekarang kan Jani Presdir Diamond Corp. Jani punya rumah, rumah lamanya sebelum menikah. Semua masalah Jani sudah clear. Jadi sekarang Jani bisa kembali ke rumahnya tanpa masalah apapun," terang Bella.


"Presdir Diamond Corp?"


El dan Ken membulatkan mata mereka.


Ken menatap Anjani tidak percaya. 


Aku tidak yakin dengannya.


"Ya aku tahu kalian ragu tidak percaya. Tapi itu adalah kenyataan," tegas Bella.


"Aku tahu aku terlihat tidak menyakinkan tapi dengan bantuan Abel, aku pasti bisa dalam waktu satu bulan," ucap Anjani mantap.


Oh pantas saja. 


Ken berubah datar. Ia memilih menikmati cemilan di atas meja.


"Tapi kan adik ipar akan menjabat sebagai wakil Presdir Mahendra Group." El bingung.


"Kan sebulan lagi," jawab Bella.


"Oh begitu rupanya. Aku sudah paham."


El minum kemudian menatap Brian.


"Hei Kak Brian, bersiaplah untuk berjuang lebih keras. Lawanmu ini sungguh kuat," ucap El.


"Aku tahu." Menyahut acuh.


"Dan kau juga Ken, wah pasti berat sekali," ucap El mengalihkan tatapan pada Ken juga juga acuh.


"Ya." Menjawab malas.


"Ingat ya. Persaingan itu hanya di luar rumah. Di dalam rumah kita ini satu darah walau lain ibu," ucap El mengingatkan kakak dan adiknya itu. 


"Hm."


Lagi-lagi hanya deheman singkat. Brian dan El saling tatap sejenak kemudian saling membuang muka.


"Lihat itu adik ipar. Kami ini tidak kompak. Kecuali aku, aku memang tidak tertarik pada bisnis. Otakku tidak sampai ke sana. Aku lebih suka yang berbau akting. Ken juga padahal ia sangat cerdas tapi malah memilih pendidikan. Kasihan Papa sama Kak Brian."


"El! Apa maksudmu?!" Brian melotot kesal pada El.


"Huh aku kan tidak menyinggungmu, kenapa kau marah?" El menunjukkan wajah kesalnya.


Ya Bella sudah tahu bahwa Brian, El, dan Ken tidak satu ibu. Surya menikah dua kali. Istri pertamanya bernama Tiara sementara istri keduanya iyalah Rahayu. Tiara meninggal sekitar satu tahun lalu karena penyakit jantung. Sejak itu, perhatian, cinta, dan kasih sayang Surya yang untuk Rahayu seorang, istri kedua yang merupakan cinta pertamanya.


Hubungan antar saudara ini memang tidak terlalu dekat. Mereka hanya sibuk pada urusan masing-masing, saling acuh dan tidak peduli, terutama pada El. Tapi kini, sepertinya hubungan itu akan berubah. 


"Kakak ipar, apa kamu tidak ada keinginan berkerja? Setahuku kan kamu itu lulusan managemen bisnis," tanya El. Silvia terkesiap. Ia melirik Brian. 


"Adik ipar saja bekerja, apa Kakak ipar tidak bosan tiada kegiatan?"


"El jangan merubah apapun!"tegas Brian.


"Hidup juga butuh revolusi Kakak. Atau sebenarnya Kakak yang nggak ngasih izin?" El menuduh. Wajah Brian menggelap.


"Terserahmu mau bekerja atau tidak!" Silvia membeku dengan ucapan Brian. Belum sempat ia bertanya, Brian sudah pergi.


"Wah selamat Kakak ipar." El tersenyum.


Silvia tidak menjawab, memilih mengejar Brian.


"Banyak mulut! Mengapa kau suka sekali membuat keributan? Dasar tak berguna!"hardik Ken kesal.


El tetap tersenyum mendengar itu. 


"Hei bocah jangan bicara kamu! Tidak ada orang yang tidak berguna! Semua hanya belum menemukan jalannya!"tegur Anjani tidak suka. 


"Dia memang tidak berguna!" Ken berdiri kemudian pergi. 


"Abel bocah angkuh itu sungguh menyebalkan! Seenaknya saja menilai orang!"ketus Anjani.


Bella tidak menjawab. 


Faktor beda ibu kah?


"Sudahlah Anjani. Aku sudah biasa kok. Terima kasih telah menbelaku. Kamu adalah orang kedua yang membelaku setelah Bunda," ujar El tersenyum lembut.


Bella menatap El datar.


Tidak. El bukannya tidak berguna. Ia sering membuat masalah untuk mendapat perhatian. Walaupun itu sebuah hukuman itu sangat menyenangkan dirinya. Apakah aku juga punya tugas lain? Mengarahkan El?