This Is Our Love

This Is Our Love
Perbincangan Sesama Menantu



Pukul 10.00, keluarga Mahendra baru kembali dari makan malam di luar dalam rangka merayakan Ken yang lulus sidang skripsi. Suasana hati Ken sudah membaik, jauh sebelum pulang. Sebelum pergi, Bella mengembalikan suasana hati Ken yang kurang baik dengan memberikan dasi yang ia beli tempo hari sebagai hadiah. 


"Ah aku keluar sebentar," ucap Bella, padahal baru saja masuk kamar.


"Ke mana?" Ken menatap Bella, gerakannya membuka jas terhenti di tengah jalan. 


"Dapur, ada yang harus aku sampaikan pada Pelayan," jawab Bella. Ken mengangguk.


Pria itu lantas menuju ruang ganti. Sementara Bella ke dapur. Ken mematut sejenak saat membuka lemari jam tangan. Satu sisi untuk jam tangan Ken dan satu lagi untuk jam tangan Bella. Ken seperti memikirkan sesuatu.


"Belum ganti juga?" Bella masuk, langsung duduk dan membuka alas kakinya.


"Hm …." Ken melirik sekilas, meletakkan jam tangannya di dalam lemari lalu membuka dasinya. "Aru," panggil Ken lembut.


"Ya?" 


"Kamu punya banyak jam, mengapa selalu memakai jam itu?"tanya Ken. Ken berbalik, bersandar pada lemari. Kedua tangannya bersilang di dada. Matanya tertuju pada jam tangan dengan tali besi berwarna putih pada bagian pinggir dan emas pada bagian tengah. Untuk permukaan bagian angka dan jarum jamnya sendiri berwarna emas. 


Bella menatap jam di pergelangan tangannya itu, "oh itu … jam tangan ini hadiah yang sangat berharga dan berarti bagiku. Lagipula aku sangat suka jam ini, sesuai denganku," jawab Bella tersenyum. 


Berharga dan berarti, "hadiah dari siapa? Louis?" Langsung saja cemburu datang. 


"Bukan. Dari keluarganya," jawab Bella, membuka jam tangan itu. 


"Serius?" Ken masih menatap selidik Bella. "Atas dasar apa?"tanyanya ingin tahu. Bella mendengus, hadiah tahun kapan pun dipermasalahkan!


"Tuan Muda, apa kau ingat perbincangan kita saat di rooftop rumah sakit tempo hari?"tanya Bella, ekspresinya tetap tenang.


Mendengar itu dahi Ken langsung mengerut tipis, mengingat. "Ya," jawabnya setelah ingat.


"Berarti kau sudah tahu jawabannya," sahut Bella, tersenyum tipis pada Ken dengan mengangkat satu alisnya. Gayanya bak Tuan Muda, satu kaki berada di atas kaki satu lagi yang berpijak pada lantai.


"Ya," jawab Ken. Ia kembali melirik lemari jam tangan. 


"Lalu itu, apa kau membeli semua itu? Dari merknya, bukan jam tangan murah. Bukankah menyia-nyiakan uang membeli barang yang tidak dipakai?" Wajahnya masih sedikit masam. Bella mengerjap pelan, jam tangan - jam tangan itu sudah berada di sana lebih dari satu bulan. Mengapa baru sekarang ditanyakan? Apa Ken baru menyadarinya? Oh astaga! 


Bella mengusap kasar wajahnya, untuk apa mencemburui masa lalu yang telah berlalu? Itu hanya jam tangan bukan hati seseorang!


"Tuan Muda, sebelum kembali, aku ini tinggal lama di luar negeri. Tentu punya kenalan, punya sahabat, relasi, koneksi, teman. Itu semua hadiah dari mereka. Ah apa kau tahu? Setiap hari ulang tahunku tiba, ruang kerjaku penuh dengan bunga dan hadiah," jawab Bella, nadanya cukup angkuh. Ken terperangah, istrinya ini sedang pamer kah? 


"Aku menyimpan itu semua sebagai bentuk terima kasih dan kenang-kenangan. Salahkah aku menyimpannya, Tuan Muda? Oh jika kau keberatan, aku tak masalah menyewa brankas di bank untuk menyimpannya!" Bella yang mulai jengah menggunakan nada tegas dan mengancamnya.


"Eh tidak-tidak! Aku tak masalah, itu lebih dari cukup."


"Bagus! Kalau begitu aku mau ganti baju dulu!" Bella keluar dengan membawa pakaian gantinya. Ken menghela nafas lega. Ia duduk lemas di kursi. Rasanya tidak mengenakan menerima tatapan mengintimidasi Bella. 


*


*


*


Waktu menunjukkan pukul 00.00. Bella tidak bisa tidur. Dengan perlahan dan hati-hati melepaskan diri dari pelukan Ken yang tidur nyenyak. Bella menuju meja belajarnya, menghidupkan lampu kemudian membuka lembaran berkas yang diberikan oleh sekretaris Frans tadi.


Pikiran Bella yang pecah, berusaha konsentrasi pada materi di depannya. Sayang, ia sekeras apa ia mencoba, bukannya fokus Bella malah sakit kepala. Bella mengertakkan giginya pelan. 


Wush 


Wush 


Angin yang berhembus terdengar begitu jelas. Bella menoleh ke arah jendela. Pikirannya langsung tertuju pada rooftop. Cepat tanpa suara, Bella meraih jaketnya dan keluar kamar.


*


*


*


"Silvia?" Bella memanggil sosok wanita yang duduk di rooftop, menatap langit yang kelabu, suasana mendung. 


"Ah Abel? Sedang apa kau di sini?" Silvia terkejut, ia segera berdiri.


"Cari angin. Tidak bisa tidur, kau sendiri?" Bella mendudukkan dirinya di dekat Silvia duduk tadi. Bella tersenyum simpul seraya menggeleng pelan, kemarin suaminya sekarang istrinya. 


"Kenapa kau tersenyum? Ada yang lucu?"sungut Silvia, kembali duduk dan menatap Bella dari samping.


"Hm? Ah jangan salah sangka. Aku hanya merenggangkan ototku yang kaku." Bella melebarkan senyumnya dan menambah olahraga pada pipinya. 


Silvia menyipit, "oh ku kira apa."


"Kau kira apa rupanya?"


"Tidak. Aku sudah lupa." Bella terkekeh mendengarnya. Silvia tersenyum simpul. Keduanya sama-sama diam, menatap langit. Dua menantu keluarga Mahendra itu sepertinya punya kegusaran dan sesuatu yang menganggu hingga tak bisa tidur. Angin tetap berhembus, semakin kencang dan dingin namun tak mampu membuat keduanya beranjak. Bella merapatkan jaket dan memeluk tubuhnya sendiri, begitu juga dengan Silvia. 


"Kenapa?" Keduanya saling tatap, saling mengerjap saat berkata bersamaan.


"Kau dulu." Lagi-lagi barengan. 


"Kau saja!"ucap Bella.


"Tidak kau duluan!"ucap Silvia. 


Senyum lalu tertawa bersamaan. Hati yang gusar sedikit berkurang. 


"Sudah kau saja. Kau duluan yang di sini," putus Bella.


"Hm … hm, apa juga karena aku kakak ipar?"sahut  Silvia.


"Maybe."


"Baiklah. Aku akan bertanya lebih dulu," ucap Silvia.


"Hm."


"Kau tidak bisa tidur karena apa?"tanya Silvia to the point. Bella mengangkat sebelah alisnya. Sungguh ingin tahu kah? Silvia mengikuti ekspresi Bella. 


"Tak mau memberitahu?"tanya Silvia, nadanya sedikit sedih.


 "Kenapa? Takut karena aku istri rivalmu di perusahaan?"terka Silvia, menanti jawaban Bella yang belum menjawab sepatah katapun.


"Rival apaan?"sahut Bella, mendengus, menatap Silvia sekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Lalu?"


"Aku juga tidak tahu." Bella menggendikkan bahunya. 


"Serius? Aku tidak yakin!"


"Kau ini apa saja sih yang kau pikirkan?!"erang Silvia, gemas dengan Bella. 


"Mungkin rindu keluarga," ujar Bella, wajahnya menjadi sendu.


"Keluarga?" Silvia mengulang kata itu dengan bergumam. 


"Adikmu?"


"Semuanya."


Silvia menatap lurus ke depan. Menatap pepohonan yang daunnya menari diterbang angin. Silvia menghela nafas kasar. "Aku juga merindukan keluargaku. Sangat." Matanya mulai berkaca-kaca. Bella menoleh, entah mengapa hatinya ikut sedih melihat Silvia yang bergetar. Dengan cepat Bella menarik Silvia dalam dekapannya. Silvia membalasnya dengan memeluk Bella.


"Apa keluargamu tidak di kota ini?"tanya Bella hati-hati. 


"Beda alam," jawab Silvia, tergugu.


"Aku minta maaf. Turut berduka untukmu." 


Bella mengusap punggung Silvia. Tangis kakak iparnya itu sedikit mereda. Pelukan itu pun saling melepas. Silvia mengusap air matanya, "aku hanya punya seorang adik, tapi dia masih koma karena kecelakaan dua tahun lalu."


"Hm?" Bella memasang sikap serius merasa akan ada yang curhat padanya.


"Aku dan adikku kehilangan orang tua saat umurku masih 7 tahun dan adikku 2 tahun. Bertahun-tahun kami hidup di panti asuhan dan saat aku tamat SMA, memberanikan diri keluar dari panti. Kuliah sambil kerja di kota ini. Kebetulan aku beruntung mendapat beasiswa." Silvia menarik nafas sebelum kembali bercerita.


"Tiga tahun yang lalu aku lulus dan langsung bekerja. Beberapa bulan setelahnya aku berkenalan dengan Mas Brian. Awalnya hanya urusan pekerjaan, tak ku sangka aku jatuh cinta padanya. Aku sangat-sangat bersyukur karena cintaku terbalas. Sayangnya, sehari sebelum lamaran, adikku mengalami kecelakaan. Koma sampai sekarang dan dirawat di Amerika atas pertimbangan keluarga Mahendra," lanjut Silvia. Ia kembali menghela nafas, terasa sedikit lebih ringan. 


 


Bella mengangguk paham. Jalan hidup tidak bisa diduga. "Aku biasanya menjenguk adikku empat bulan sekali, kadang lebih jika Mas Brian ada jadwal ke LA."


"Lalu, mengapa setelah menikah, kau tidak kembali bekerja?"


"Mas Brian tidak mengizinkannya." 


Bella ber-oh-ria. Seharusnya ia sudah tahu. 


"Bagaimana? Sudah lebih rileks?"


"Hem. Ada teman cerita, sudah lebih baik."


"Siapa nama adikmu?"


"Fajar," jawab Silvia, melengkungkan senyumnya. Matanya berseri saat menyebutkan nama sang adik.


"Nama yang indah," puji Bella.


"Nama adikmu juga indah, Nesya, artinya keajaiban Tuhan," ujar Silvia. Keduanya tersenyum lebar.


"Ah ngomong-ngomong tentang adikmu kapan kami bisa bertemu dengannya?"tanya Silvia antusias.


"Bertemu Nesya?"


Ehem.


"Ahh itu …."


"Kenapa?"


"Sukar dijawab?"


"Bagaimana ya em …." Bella bingung menjawab pertanyaan Silvia ini.


"Begini kau tahu kan adikku juga sakit dan dengan kondisinya juga sulit untuk membawanya keluar, belum lagi aku tidak ingin adikku jadi sorotan. Jadi kalau tiba-tiba dikunjungi oleh kalian, aku takut kondisi adikku tambah kurang baik. Ah kau tahu kan di luar sana banyak yang kepo dengan keluarga ini?"


"Ah benar juga." Silvia mengangguk setelah mencerna ucapan Bella.


*


*


*


Setelah mengobrol dengan Silvia di rooftop, Bella kembali ke kamar. Silvia juga. Keduanya melangkah berdampingan. Sebelum masuk ke kamarnya, Bella lebih dulu mengecek kamar Dylan. Menghidupkan lampu sejenak melihat situasi kamar. Bella melangkah mendekati meja sofa. Terlihat ada rantang makan di sana. Setelah di check ternyata sudah kosong. Bella tersenyum lembut ke arah Dylan yang nyenyak di balik selimutnya.


Sebelum tidur tadi Bella ke dapur untuk meminta pelayan mengantarkan makanan setelah jam makan malam ke kamar Dykan, every night kecuali saat Dylan tidak berada di rumah. Mengingat itu Bella baru teringat akan ucapan Pelayan yang mengatakan bahwa Silvia sudah memerintahkan hal yang sama.


Aku lupa mengucapkan terima kasih pada Silvia. Lebih baik besok aku beli kan sesuatu untuknya.


"Good night, Dylan," gumam Bella kemudian keluar dari kamar, tak lupa mematikan lampu kembali.


Kembali ke kamar dan mendapati Ken masih tidur dengan nyenyaknya.


Bella melihat jam di atas nakas. 


"Astaga!"gumamnya setengah kaget. Cukup lama juga ia berbincang dengan Silvia. Waktu menunjukkan pukul 01.30. Sepertiga malam, Bella mencoba membangunkan Ken untuk tahajud berjamaah.


"Hm … ada apa?"tanya Ken serak dengan mata yang terbuka sedikit.


"Tahajud," jawab Bella. 


"Hem … ya." 


Jawabannya iya, tapi Ken tidak kunjung bangun, malah mengangkat kedua tangannya ke arah Bella.


"Apa?"


"Peluk dulu."


"Hah?"


"Peluk."


"Ahhh … kau memang bayi besarku!"gerutu Bella, wajahnya ketus yang gerakannya memeluk Ken sungguh lembut.


Cup.


Cup.


Bella mencium pipi Ken, kanan  dan kiri. Mata yang masih mengantuk itu terbuka, bibirnya, tersenyum lebar.


"Ayo bangun."


"Ya!"