This Is Our Love

This Is Our Love
Mundur



Perceraian tidak boleh dilakukan jika sang istri dalam keadaan hamil. Surat itu tidak berlaku dan pasti Bella telah memikirkan. 


"Benar! Surat cerai itu tidak sah meskipun ada tanda tangan dan cap jempol Abel. Ini dalam rencana Abel. Dia pasti sudah mempertimbangkannya. Kamu jangan sedih dan setidaknya kita lega karena tahu Abel baik-baik saja," tutur Surya yang sudah menguasai rasa keterkejutan. Surya berpikir dari sudut pandang yang lain. Sebagai seorang pimpinan Mahendra Group, tentunya ia tidak bisa mengasumsikan suatu hal hanya pada satu alasan. Bella bukan hanya sekadar manantunya. Akan tetapi juga wakil Presdir sekaligus salah satu tangan kanannya selain Brian. 


Ah Brian. Dia dan lainnya pasti sangat menantikan kabar. Walaupun belum tahu Bella diculik. Namun, kabar sakit saja sudah menggemparkan. 


Dan inilah yang akan menjadi pekerjaan untuk mereka. Bagaimana cara menjelaskannya pada yang lain. Untuk Ken, rasanya tidak bisa diharapkan karena diperkirakan Ken akan kosong untuk jangka waktu yang bisa dikatakan cukup lama. 


"Berikan suratnya padaku, Yu," ucap Surya. Rahayu memberikannya dengan masih tergugu. Surya kembali membaca surat tersebut. 


Tak lama kemudian, Tuan Adam kembali dengan seorang pria berjas putih, seorang dokter. 


Rahayu merangsek, membiarkan dokter tersebut memeriksa putra bungsunya itu. 


"Tuan Muda ini … dia kelelahan dan dehidrasi. Dan sepertinya ia mengambil shock berat. Apa dia mengalami hal yang berat?" Dokter tersebut menerangkan sekaligus memastikan. 


Surya mengangguk kecil. "Benar. Dia memang mengalami hal yang berat. Apa perlu di infus?"


"Sebaiknya begitu," jawab Dokter tersebut. 


"Lakukan yang terbaik untuk putra saya, Dokter," ujar Rahayu. Dokter tersebut mengangguk. Ia kemudian menghubungi seseorang dan menyuruh untuk mengantar infus ke kamar ini. Dokter itu adalah dokter di klinik hotel ini. 


Tak sampai lima menit, infus sudah datang dan segera dipasang pada Ken. Ken masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Wajahnya sudah tidak begitu pucat lagi. 


"Saya berikan dia obat tidur agar bisa istirahat cukup," ujar Dokter memberitahu. 


"Terimakasih, Dok," balas Surya. Dokter tersebut kemudian pamit. 


"Mari bicara di luar, Tuan Adam," ajak Surya pada Tuan Adam. Melihat wajah serius Surya, Tuan Adam mengangguk. 


Rahayu tinggal sendirian, menjaga dan menunggu Ken sadar. 


"Aku tidak begitu yakin. Namun, sepertinya kita tidak perlu melanjutkan pencarian," ujar Surya dengan nada pelan. 


"Tidak perlu? Apa alasannya? Anda menyerah?" Tuan Adam terkejut dan merasa bingung dengan apa yang Surya sampaikan. 


"Surat ini … silahkan Anda baca," jawab Surya dengan menyodorkan secarik kertas surat dari Bella kepada Tuan Adam. Tuan Adam menerima dan membacanya. Tulisan itu dalam bahasa Indonesia dan Tuan Adam menguasai bahasa itu. 


"Bagaimana menurut Anda?"tanya Surya. 


"Nona mengatakan dia baik-baik saja. Dan secara tersirat menyuruh kita untuk mundur." Tuan Adam langsung satu pikiran dengan Surya. 


Surya mengangguk kecil. "Tapi, apakah kita harus mundur?" Tuan Adam merasa ragu dan tampaknya kurang setuju. 


"Kita juga harus mempertimbangkan Ken. Dan kalaupun kita mundur banyak yang harus kita atasi. Anda tahu sendiri, Abel punya banyak keluarga dan semuanya berpengaruh. Jika penjelasan kita tidak logika, saya rasa Anda tahu apa yang akan terjadi," ucap Surya panjang. 


Nesya, Anjani, keluarga Arshen, keluarga Kalendra, Dylan, bahkan keluarga Mahendra sendiri. 


Tuan Adam memijat dahinya. Ia juga pusing dan bingung hendak mengambil keputusan apa. 


Di saat kedua orang besar itu tengah dilema, ponsel Surya berdering. Panggilan dari Rahayu. "Iya, Yu," jawab Surya.


"Ken sudah sadar, Mas," ucap Rahayu. 


"Mas akan segera ke sana," sahut Surya. Dengan ponsel dalam genggaman, Surya dan Tuan Adam kembali ke kamar Ken. 


Ken bangun tidak sesuai dengan perkiraan dokter. Saat masuk, Tuan Adam dan Surya mendapati Ken diam saja dengan mata kosong menatap langit-langit kamar. 


"Katakan Ma, Pa, surat itu palsu, kan? Aru tidak mungkin menulis itu, kan?!" Nadanya memang pelan. Namun, emosi terasanya. Mata Ken mulai memerah. 


"Dari tulisan itu benar tulisan Abel. Akan tetapi, surat itu tidak sah," jawab Surya langsung. 


"Tentu saja percaya, Pa. Tapi, apa maksudnya kita mundur? Berhenti mencari Aru, begitu?" Ken beringsut duduk. Wajah tidak berdaya bercampur wajah protes. Sorot mata yang sudah berkaca-kaca. 


Tuan Adam menghela nafasnya. "Tuan Muda. Intinya Anda harus percaya pada Nona. Anda harus percaya Nona akan kembali pada Anda suatu saat ini. Saat ini, kita belum tahu seberapa kuat lawan kita. Hanya dengan mundur, kita bisa menyusun rencana yang lebih pasti dan matang lagi. Selain itu, ini juga akan membuat Tuan Muda terlatih dan terdidik. Saya harap Anda dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan pandai mengambil keputusan. Tuan Muda, mundur bukan berarti menyerah!!"


 Tuan Adam yang awalnya, tidak menyukai Ken sebagai pasangan dari Bella. Kini mendukung Ken sebagai pasangan Bella. Benar, kedewasaan seseorang bisa dicapai dengan menghadapi hal berat dan merasa diri berada di titik terendah. 


"Ah iya, Ken apa kau ingat ciri orang yang mengantarkan surat ini padamu?"tanya Surya. Ken mengeryit tak lama mengangguk pelan. 


"Dia lebih tinggi dariku, wajah tampan, namun auranya terasa dingin dan menakutkan."


Wait! Tuan Adam dan Surya saling melempar pandang. Sejurus kemudian, Tuan Adam mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto pada Ken. "Coba lihat, apakah salah satu dari orang di foto ini?" 


Ken melihatnya. Dan ia menunjuk foto seseorang. "Desya Volcov, pimpinan dari Black Rose Mafia. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh di tanah Rusia. Wait! Rusia, pantas saja dia mengecoh dengan mendarat di Mongolia!" Tuan Adam menatap Surya dengan tatapan gusar. 


"Seberapa kuat?"


"Dia sangat disegani. Kekejamannya terkenal. Dan dia juga memiliki darah bangsawan. Sulit untuk bisa menyentuh dirinya. Agaknya, motif sudah hampir menemui titik terang. Dia tertarik pada Nona dan kemungkinan besar ingin menjadikan Nona sebagai salah satu bawahannya." Sepertinya Tuan Adam sudah mencari tahu dan mengetahui siapa dan latar belakang orang-orang yang berpengaruh di Rusia ataupun Mongolia. 


"Menginginkan Aru?"


"Tapi, sejauh infomasi yang saya dapatkan, beliau tidak menyakiti wanita," ucap Tuan Adam. Setidaknya itu bisa membuat mereka bernafas lega. 


"Dia juga sudah memiliki tiga orang istri juga anak. Jadi, Tuan Muda tidak perlu begitu cemas. Nona pasti bisa menyesuaikan diri." 


"Tapi, mafia tetaplah mafia," balas Surya. 


"Jika ingin menyerang, kita harus punya persiapan yang matang. Lebih baik memang kita mundur dulu," ucap Tuan Adam lagi. 


"Tuan Muda?" Tuan Adam menatap dan meminta pendapat Ken. 


"Lakukan yang terbaik." Ken memang keras kepala. Namun, ia bisa mengerti. Tuan Adam sudah menerangkan duduk perkaranya. Ya anggap saja mereka tengah berpisah karena Bella menjalani suatu tugas penting. 


"Selain itu, ada baiknya kita jujur. Bersatu lebih penting daripada kita saling menyalahkan," tukas Rahayu.


"Tapi, Ma." Ken sangat ragu dan takut. 


"Ada kami," jawab Tuan Adam yang diangguki oleh Surya dan Rahayu.


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Desya tiba di China. Yups, China ada negara tujuan untuknya mencari mangga muda. Why? Karena Desya menilai China yang paling dekat dan juga merupakan salah satu negara penghasil mangga terbesar di dunia setelah India. Jadi, mustahil di negara ini tidak ada mangga muda. 


Sebelum mendarat Desya memerintahkan bawahannya untuk mencarikan perkebunan mangga. Ah tidak, Desya menyuruh bawahannya untuk membeli kebun mangga. 


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dengan mobil, akhirnya tiba di perkebunan mangga yang sudah menjadi miliknya. Desya menghela nafas panjang. 


Ia tiba di sini saat hari sudah benar-benar gelap. Desya bergegas, tidak membuang waktu dan segera memetik mangga muda dan juga mangga sudah siap panen. Ia melakukan sendiri. Tanpa memanjat. 


Para bawahan yang ikut hanya bisa bertanya dalam hati. Demi apa Tuan mereka melakukan hal itu? Ke China hanya untuk memetik mangga, mangga muda pula. 


"Apa aku benar-benar jatuh hati padanya? Aku sudah sangat merindukannya." Desya bergumam. Dan matanya memang dipenuhi sorot mata kerinduan. 


"Kita kembali!" Tak sampai satu jam di perkebunan, mereka kembali ke bandara untuk kembali terbang ke Rusia.