This Is Our Love

This Is Our Love
Family



Desya menatap iri Bella dan Ken yang tengah bercengkrama mesra. Pasangan itu duduk bersebelahan dengan Ken yang mengusap perut Bella, menyapa anaknya. 


Kini mereka berada di ruang tamu Green Palace, ruang tamu utama. 


Desya sendiri tengah diobati oleh Irene. Apalagi kalau bukan luka akibat serangan mendadak dari Leo, Louis, dan Brian tadi. 


Hati Desya panas. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan hadiah itu, but dia cemburu dengan Ken. 


Selama dia di sampingku, jangankan mengobati lukaku, pegangan tangan saja aku sudah dipukul, keluh Desya dalam hati. Cemburunya begitu pekat hingga Irene saja merasa sesak selama mengobati luka Tuannya. Bukan hanya Irene, Dimitri, Aleandra, dan Evalia juga merasakan hal yang sama. 


Keluarga Mahendra, Kalendra, dan Tuan Adam sendiri belum tiba di ruang tamu ini. 


"Obati aku, Evalia!"ucap Desya tiba-tiba, dengan tetap menatap Ken dan Bella. Kedua orang itu, bak di sini tak ada orang lain. 


Irene langsung menatap Evalia yang membulatkan matanya. Irene segera mundur. "Silakan, Nyonya," ucap Irene. 


Evalia menelan ludahnya. Meskipun perlakuan Desya tidak sedingin dulu, tetap saja rasa takut masih ada di hatinya. Apalagi dengan situasi hati Desya saat ini. 


"Majulah Evalia. Jangan buat Desya semakin kesal," ujar Aleandra sebelum Desya memberikan lirikan tajam padanya. Aleandra paham maksud tersembunyi dari Desya.


"Baiklah." Gugup. Evalia menggantikan Irene. Dengan lembut dan juga tangan yang masih gemetar, Evalia mengobati luka pada wajah Desya. Matanya hanya terfokus pada Desya. 


Dari dekat, wajah Desya semakin tampan meskipun ada luka lebam. Tanpa sadar wajar Evalia memerah. 


Aku malah mengingat malam itu, runtuk Evalia, mengingat saat ia dan Desya begitu dekat, mereka menyatu yang menghasilkan janin dalam rahimnya. 


"Kakak … kau hanya peduli pada suamimu?"  


Bella mengangkat wajahnya saat mendengar suara Nesya. Begitu juga dengan Ken, Desya, Evalia, dan lainnya. 


Ini adiknya? Mirip namun terlihat lebih lemah, batin Desya menilai Nesya. 


Kini, mata Bella hanya terfokus pada adiknya. Nesya dipapah oleh Dylan. Menggunakan jaket untuk menghalau hawa dingin. Karena ini musim dingin di Rusia. Wajah adiknya begitu sayu, dengan mata yang memerah. Mendung dan sebentar lagi akan turun hujan. "Nesya," panggil Bella, meninggalkan sofa dan segera menghampiri Nesya. 


"Kakak!" Air mata Nesya tidak bisa dibendung lagi. Kakak beradik itu berpelukan erat. Bella juga bukannya tidak menangis. 


"Terima kasih telah menjaga keyakinanku, Kak. Aku sangat merindukanmu," ucap Nesya serak. Pelukannya begitu erat pada Bella. Menyembunyikan wajahnya di leher Bella. Akhirnya, rasa takutnya selama ini sirna. Digantikan dengan rasa bahagia yang tidak terhingga. Berharap, ke depannya semua sesuai dengan rencana. 


Di saat-saat itu, tiba-tiba ada yang menarik Bella hingga pelukannya dengan Nesya terlepas. "Ken?! Apa yang kau lakukan?!"marah Bella.


"Aru, kau harus perhatikan dirimu sendiri. Kehamilanmu sudah besar. Pelukan terlalu erat akan membuatnya tertekan dan tidak nyaman. Selain itu, Nesya juga baru keluar rumah sakit. Aku tahu kalian sangat merindukan satu sama lain. Namun, jangan sampai buat masalah lain," jelas Ken panjang lebar dengan merangkul pinggang Bella.


Ah … benar juga. Alasannya cukup logis. Itu bisa diterima. Malah, kini rasa bersalah yang hadir di wajah keduanya. "Kau baik-baik saja, Kak? Apa kau merasa tidak nyaman?"tanya Nesya cemas.


"Kakak baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"balas Bella. Keduanya kini berpegangan tangan. Nesya mengangguk.


"Ayo, duduklah," ajak Bella. Kakak beradik itu duduk bersebelahan. 


"Kakak!" Selesai Nesya, giliran Dylan yang memeluk Bella dari belakang. 


"Hei, Bocah! Beraninya kau mendahului kami!"seru Louis. Ken sedikit memberi jarak agar Bella tidak terlalu sesak menghadapi keluarga yang lain. 


Bella tetap duduk. Berdiri terlalu lama sangat tidak nyaman baginya. Apalagi dengan kehamilan yang lebih besar daripada usianya. 


"Siapa cepat dia dapat. Weekkk!"balas Dylan, menjulurkan lidahnya pada Louis. Louis mengepalkan tangannya. Ia segera menarik Dylan. Dan akhirnya kedua orang itu terlibat pertengkaran ringan, bukan saling memukul. Namun, saling menghalangi dan mendahului.


"Abel!" Panggilan serentak dari Surya, Rahayu, Max, dan Rose.


"Pa, Ma, Dad, Mom," sapa Bella dengan tersenyum. Matanya kembali menangis saat satu persatu dari mereka memeluknya. 


Abel? Bukankah namanya Bella? Lalu tadi, pria itu memanggilnya Aru? Apa itu nama kesayangan? batin Desya. Evalia sendiri sudah selesai mengobati luka Desya. Namun, saat hendak kembali ke tempat duduknya, Desya menahan lengannya dan menariknya, duduk di pangkuannya. Evalia membeku. Ia bersandar di dada Desya dengan satu tangan Desya melingkar di pinggangnya. Meskipun begitu, tatapan Desya tetap pada Bella. Tidak berpaling meskipun Ken melihatnya dengan tajam. 


Cemburu. Evalia merasa cemburu. Namun, ia juga senang. Evalia sendiri tetap diam. Ia patuh, tidak menggoda. 


"Syukurlah kau baik-baik saja, Sayang. Kau tahu betapa paniknya kami saat tahu kau diculik?"ucap Rose. 


"Maaf, Mom. Aku juga tidak tahu akan mengalami hal itu," balas Bella, dengan ekor mata sedikit melirik Desya yang masih setia menatapnya. 


"Tapi, kau tidak terlihat seperti diculik. Lihat pipimu, kau bertambah gemuk," ucap Max. Ya, tubuh Bella memang bertambah gemuk akibat kehamilannya. 


"Itu karena aku memperlakukannya dengan baik," sahut Desya. 


Max menoleh pada Desya. Pria itu menyunggingkan senyum. "Tetap saja, Anda melakukan hal yang salah! Setidaknya kami datang dengan cara baik karena Abel memberitahu kami kau memperlakukannya dengan baik!"balas Surya.


"Yes. I know. Tapi, aku tidak pernah menyesal melakukannya. Aku malah senang, aku memiliki kesan di dalam hatinya," balas Desya lagi, dengan menatap Bella.


"Tidak bisakah kau diam dulu, Desya?"ucap Bella. 


"Oh, okay!" Tercengang. Pria itu menuruti ucapan Bella? Ken bahkan bergantian menatap keduanya. 


Apa ini? Apa yang aku lewatkan?batin Ken. Ia resah. Namun, menahannya. Karena ini masihlah sesi pertemuan. Belum semua mendapat giliran. 


"Jujur saja, aku tidak bisa membencinya," ucap Bella. 


"Sepertinya hubungan kalian juga baik," cetus Rahayu, penasaran dengan hubungan keduanya. Gaya bicara yang santai bahkan di hadapan Dimitri dan Aleandra.


"Ya, aku penasehatnya. Aku juga kerja di sini," jawab Bella dengan kekehan ringan. 


Max menghela nafasnya. "Kau ini," ucap Max, dengan mengusap kepala Bella. 


Sebelum Max menarik tangannya, ada yang menggeser dirinya. Dan itu juga menggeser keempat orang tua lainnya. 


Bukan hanya Ken yang sebenarnya cemburu dengan hal itu. Namun, Desya juga. 


"Aku bahagia sekali, Abel."


"Aku juga, Kak," balas Bella.


"Kau tampak buruk," balas Bella yang dibalas decakan Loius. "Teganya kau," celetuknya. Di wajahnya memang terdapat beberapa memar. Bella terkikik geli. 


"Bagaimana kabarmu, Kak?"


"Sebelum kau ditemukan aku merasa sangat buruk," jawab Louis. 


"Maaf." Bella menunduk. Dan Louis mengangkat dagu Bella. 


"Bukan salahmu. Semua sudah ketetapan," ucap Louis sebelum digeser oleh Teresa.


"My Abel …." Teresa duduk di samping Bella. Keduanya berpelukan sebelum berpegangan tangan.


"Aku sungguh khawatir padamu. Aku takut tidak akan bertemu denganmu lain, Abel."


"Aku baik-baik saja, Resa. Bagaimana denganmu? Oh astaga! Kau hamil?!"ucap Bella saat melihat perut Teresa yang agak menonjol.


Teresa tertawa. Wajahnya sedikit memerah, "ya, sudah dua bulan," jawab Teresa. 


"Congratulation, Resa, Kak Louis," ucap Bella. Wajahnya begitu berseri. 


"Wah … tidak terasa ya, Kak? Kau akan jadi seorang ayah. Dan keponakanku akan bertambah banyak," ujar Bella, dengan mengusap lembut perut Teresa.


"Kau juga. Sebentar lagi akan jadi seorang ibu," balas Louis. 


"Ehem!" Leo dan Brian berdehem. "Kalian kedinginan?"tanya Louis, ia menggoda keduanya yang belum mendapat giliran. 


Dan Teresa bergeser. Bella segera diapit oleh Helena dan juga Silvia. Di sisi Silvia tentu saja suaminya, begitu juga dengan Helena. 


"Wah … apa kau hamil anak kembar, Abel?"tanya Helena yang melihat perut besar Bella.


"Mungkin, Kak," jawab Bella dengan tertawa renyah. 


"Mungkin? Kau belum pernah memeriksanya?"


"Dia yang menolaknya. Padahal di istana ini adalah staff dokter yang lengkap!" Desya yang menjawabnya. 


"Benarkah itu, Abel?" Rahayu dan Rose menatap Bella cemas. Bella sedikit kik-kuk. Ia mengangguk membenarkan. 


"Ayo lakukan USG, aku ingin tahu perkembangan anakku," ucap Ken, mengajak Bella.


"Ya," jawab Bella.


"Apa dia pernah menendang?"tanya Silvia penasaran. Secara usia kandungan Bella sudah 24 Minggu. Bella mengangguk. 


"Wah, aku tak sabar menunggu bayiku meresponku," ucap Silvia. Ia begitu bersemangat. 


Wanita itu, kehamilannya sudah menginjak umur 12 Minggu atau tiga bulan. Perutnya yang dulu seingat Bella rata, kini sudah menonjol.


Begitu juga dengan Helena. "Senang bisa melihatmu lagi," ucap Brian, mengulurkan tangannya. Mereka berjabat tangan.


"Aku juga," balas Bella. 


"Maaf, tadi aku membuat keributan. Tapi, melihatmu baik-baik saja, aku lega dan perasaan kesal dan marah itu hilang semuanya," ujar Leo, gantian berjabat tangan dengan Bella. Bella tersenyum.


"Orang yang kakak pukul bukan aku," ucap Bella, mengalihkan pandangnya pada Desya yang masih memangku Evalia. "Melainkan dia," lanjut Bella. Tatapannya sedikit aneh pada Desya. 


"Sepertinya dia sangat menyayangi istrinya," celetuk Helena dalam bahasa Jerman. Melihat ekspresi Desya yang datar dan tidak menjawab, Helena yakin Desya tidak mengerti bahasa Jerman. 


"Istrinya tengah hamil juga," sahut Bella, dalam bahasa Jerman pula.


"Ku dengar istrinya ada tiga. Mana yang dua lagi?"tanya Leo, penasaran. 


"Yang satu meninggal pas tahun baru kemarin. Yang satu lagi di Italia," jawab Bella.


"Tatapannya lekat padamu. Apa memang seperti itu?" Helena bertanya penasaran. 


"Entahlah, Kak. Dia kadang tidak bisa ditebak. Namun, aku bisa menyesuaikan diri dengannya. You know? Aku juga harus cari jalan aman," jawab Bella, dengan kekehan.


"Kau hebat," ucap Brian, memuji Bella.


"Nona." Giliran Tuan Adam yang menyapa.


"Paman. Bagaimana kabarmu?"sapa Bella. 


"Sangat baik!"jawab Tuan Adam. 


"Aku lega mendengarnya. Namun, Paman pasti melewati hari yang berat, kan?"


"Tapi, tidak seberat dirimu, Nona." Tuan Adam menangis. 


"Semua sudah berakhir. Kita kembali bersama," ucap Ken, dengan kembali duduk di samping Bella. 


Kini aku tidak hanya cemburu pada pria itu. Tapi, juga pada Bella. Dia memiliki keluarga yang begitu menyayanginya. "Tuan, aku merasa pegal," bisik Evalia. 


"Duduklah di sofa," jawab Evalia. Evalia segera beringsut. Ia bernafas lega. 


"Eh iya, mana Kak El?"


"Kami tidak sempat mengabarinya. Dia sedang syuting di Jerman. Kau ingat naskah yang ditulis oleh Kak Helena?"


"Tentu."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku sebelumnya? Alasan apa yang kalian gunakan karena ketidakhadiranku?"tanya Bella, ia sangat penasaran