
Waktu menunjukan pukul 09.00. Tuan Adhitama baru menyelesaikan sarapannya. Pria paruh baya itu sarapan di kantin rumah sakit. Tadi pagi, tidak sempat sarapan karena ada meeting.
Hanya minum beberapa gelas air. Tadi malam ia juga begadang, mewaspadai jika ada hal tidak terduga pada istri dan putrinya.
Sekretarisnya?
Tuan Adhitama menyuruhnya untuk stand by di perusahaan. Masalah di rumah sakit, Tuan Adhitama bisa mengatasinya sendirian.
Selesai sarapan, Tuan Adhitama meninggalkan kantin kembali ke ruang rawat Nyonya Dinda dan Azzura.
Ceklek!
Tuan Adhitama melangkah masuk dan disambut dengan jemari Azzura yang bergerak. Tuan Adhimata bergegas ke sisi ranjang Azzura. Digenggamnya jemari Azzura, dan satu tangan lagi mendekap kepala sang putri.
Tak berselang lama, kelopak mata Azzura juga mulai bergerak dan pemilik bola mata berwarna coklat itu membuka matanya setelah tak sadarkan diri lebih dari dua belas jam.
Azzura mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
Satu menit, dua menit Azzura masih diam, ia tengah mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Tuan Adhitama yang sangat senang Azzura sudah sadar, mengecup cukup lama dahi Azzura.
"Pa …," panggil Azzura.
"Iya, Zura. Papa di sini," sahut Tuan Adhitama dengan meneteskan air mata.
"Mengapa Papa menangis?"tanya Azzura yang merasakan air mata Tuan Adhitama membasahi pipinya.
"Papa sangat takut dengan rencanamu, Nak. Papa tidak menduga akan sefatal ini sampai kamu dan Mamamu harus mendapat tindakan operasi," ujar Tuan Adhitama dengan tersengal.
"Mama mana, Pa?"tanya Azzura.
"Mamamu ada di sampingmu, Nak."
Azzura menoleh ke arah yang dimaksud oleh Tuan Adhitama. Nyonya Dinda belum sadarkan diri. Dan alat-alat kedokteran yang menempel pada tubuhnya juga tak berbeda dari Azzura.
Azzura menutup matanya, wajahnya memancarkan rasa bersalah, "Azzura tidak memprediksi sampai sefatal ini, Pa. Maafkan Zura, Pa."
Air mata Azzura mengalir, kembali membasahi pipinya.
"Sekarang Papa cukup lega, Zura. Zura sudah sadar dan kata dokter tadi pagi saat mengecek kondisi kalian, Mama akan segera sadar. Zura jangan merasa bersalah ya, Nak. Ini semua kan sudah atas kesepakatan kita," ucap Tuan Adhitama menenangkan sang putri.
"Sungguh, Pa?"
"Iya, Zura. Papa nggak bohong," jawab Tuan Adhitama dengan mengusap kepala Azzura yang ditutupi hijab. Azzura mengangguk lemah.
Ia kembali memejamkan matanya.
Mama siap?
Siap, Zura!
Brakk!!!
"Semua baik-baik saja kan, Pa? Paman sopir juga baik-baik saja, Kan?"
Tuan Adhimata mendengus senyum, "Paman sopir baik-baik saja. Sekarang Zura fokus sama bagaimana sikap Zura selanjutnya. Apa Zura sudah memikirkan langkah selanjutnya?"ujar Tuan Adhitama.
Azzura mengangguk pelan. Azzura kemudian meminta Tuan Adhitama membantunya untuk duduk.
Azzura menyentuh dahinya, bola matanya melihat ke atas, "ini perban operasi ya, Pa?"tanya Azzura.
"Iya."
"Pinjam kamera Papa."
"Untuk?"
"Mau lihat rupa Zura sekarang."
Tuan Adhitama merogoh saku celananya, mengambil ponsel, membuka kamera depan dan memposisikannya di depan wajah Azzura. Azzura melihat wajahnya.
Kecuali perban semua baik-baik saja. Wajahnya tidak ada luka serius, bekas luka kecil dan bisa diatasi dengan krim penyamar bekas lukanya.
Azzura melihat wajah cantiknya yang sedikit pucat dengan perban yang membungkus bagian dari dahi ke belakang.
"Oh iya, Pa. Aga mana?"tanya Azzura yang tidak mendapati sang suami di dalam ruangan.
"Papa menyuruhnya untuk bekerja," jawab Tuan Adhitama.
Tadi, Anggara kekeh mau menunggui Azzura sadar. Tidak berangkat ke perusahaan. Hanya saja, Anggara itu sekarang seorang Presdir.
Bagaimana bisa untuk tidak masuk di hari pertama?
Masih banyak yang harus Anggara lakukan dan pelajari di perusahaannya. Sementara tentang Azzura dan Nyonya Dinda ada Tuan Adhitama yang menjaga.
*
*
*
Rasa bersalah karena telah membohongi semua orang akan kehamilannya, Bella dan Ken bisa merasa lega karena Bella sekarang benar-benar hamil.
Kehamilannya memang tidak menunjukkan tanda-tanda seperti mual, tidak nafsu makan, atau sang ayah yang mengalami mual atau tingkah aneh.
Benar kata Bella, babynya sangat anteng dan mengerti kondisi orang tuanya. Dan penyebab berat badan Bella naik adalah karena hamil.
Rencananya, nanti saat pulang kerja, Bella akan memeriksakan kehamilannya. Ingin tahu sudah berapa lama usia kandungannya.
Dan Ken sejak tahu Bella benar-benar hamil, berubah menjadi sangat ketat pada Bella dan lebih cerewet lagi. Bella sendiri sampai jengah mendengarkan setiap ucapan Ken yang protektif padanya.
Urusan duduk saja harus diperhatikan. Jika saat makan siang Bella belum makan, maka Ken akan menyuapinya. Jika dalam selang waktu berurutan Bella tidak minum, Bella juga akan mengingatkannya.
Susu hamil untuk Bella juga di bawah ke perusahaan. Namun, Bella senang dengan hal itu. Sikap Ken itu cukup wajar untuk seseorang yang baru pertama kali merasakan moment menjadi calon ayah.
Hanya saja dengan benarnya kehamilannya ini, Bella merasa ragu akan rencananya. Tentang dirinya dan tentang izin Ken akan ia yang akan pergi ke LA untuk menagih atas semua hutang Tuan Tua Nero pada keluarganya dan orang yang turut terlibat di dalamnya.
Prediksi Bella adalah Ken akan mengizinkannya jika Ken sendiri ikut. Hanya saja masakannya Bella belum siap untuk hal itu. Tapi, ia juga tidak bisa terjebak di dalam keraguannya.
Bella menaikkan pandangnya melihat ke arah Ken yang sedang fokus pada laptopnya. Wajahnya seperti memikirkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Bella kembali fokus pada pekerjaannya setelah menghela nafas pelan.
Ya sudahlah.
*
*
*
Nyonya Dinda juga sudah sadarkan diri. Tuan Adhitama lega selega leganya.
Putri dan istrinya telah sadar dengan rencana yang berjalan mulus dan berhasil. Ketiganya sepakat untuk menutup rapat masa lalu sebelum Nyonya Dinda bangun.
Masalah rencana kecelakaan yang disengaja, Azzura dengan title keterbelakangan mental, semua dianggap tidak pernah terjadi oleh keduanya. Pembawaan Azzura juga berubah total.
Tatapannya tajam, wajahnya serius, dan tidak ada lagi wajah imut dan polos Azzura. Dia bukan lagi Azzura yang mental dan pikirannya seorang anak kecil. Tapi, adalah Nona Muda Adhitama dengan segala kemampuannya.
"Assalamualaikum, Pa." Itu Anggara dan Angkasa.
Anggara masuk dengan wajah yang tidak bersemangat karena ia belum mengetahui jika istri dan Mama mertuanya sudah sadar.
"Waalaikumsalam. Angga, Akas, kalian sudah pulang?"balas Tuan Adhitama.
Anggara terdiam beberapa saat melihat Azzura dan Nyonya Dinda sudah sadar dan Tuan Adhitama berada di antara keduanya. Angkasa tersenyum lepas, menepuk pundak sang kakak.
"Zura," panggil Anggara dengan nada bergetar, menghampiri sang istri. Azzura sedikit memiringkan kepalanya.
"Syukurlah kau sudah sadar." Anggara mendekap Azzura dalam peluknya.
Sungguh, Anggara sangat takut jika Azzura belum sadar juga. Kabar kecelakaannya kemarin, hingga melihat kondisi keduanya sebelum dan sesudah operasi membuat Anggara sangat-sangat takut.
Anggara sendiri merasakannya. Ia juga tidak tahu mengapa, bisa setakut dan sesedih itu dengan kondisi Azzura. Di hari pertamanya bekerjapun Anggara tidak mendapat titik fokusnya.
Pikirannya terus melarang pada sang istri. Hingga akhirnya Paman Wahyu menyuruhnya untuk pulang. Dan Angkasa ikut pulang menemani sang kakak.
Dalam benaknya mungkin terlepas dari alasan apa keduanya menikah, Anggara telah merasakan Azzura menjadi salah satu dari bagian dirinya. Mereka sudah cukup lama satu atap dan Anggara terbiasa dengan Azzura yang aktif.
Jika tiba-tiba diam dan tak sadarkan diri, pasti akan merasakan suatu kehilangan. Untuk Nyonya Dinda, kasih sayang wanita itu sangat tulus padanya.
Walaupun tidak bisa mengantikan kasih sayang Clara, setidaknya bisa mengobati kerinduan terhadap kasih sayang itu.
Dan tanpa disadari olehnya, itu adalah benih cinta. Benih yang berkembang sebelum mereka menikah. Sejak Bella mengatakan, Azzura bukanlah seseorang yang dirumorkan, membangkitkan rasa penasaran Anggara akan Azzura.
Dan siapa yang tahu, tingkah polos, manja Azzura padanya, sentuhan Azzura padanya, membuat jantungnya berdegup kencang. Anggara telah jatuh hati pada istrinya!
Hanya saja, ia sebelumnya jatuh hati pada Azzura yang keterbelakangan mental, bagaimana dengan Azzura yang sebenarnya?
Akankah Anggara semakin mencintai Azzura, atau menjadi mundur karena perbedaan mereka nantinya yang bisa dikatakan siginifikan?
Bisa dikatakan hampir mirip dengan Ken dan Bella.
Ah tidak, kemampuan bisa dilatih, bisa diasah hingga menjadi seseorang yang mampu.
Anggara harusnya tidak berkecil hati dan bertambah semangat.
Azzura membalas dengan memeluk pinggang Anggara.
"Sudah berlalu. Jangan bersedih lagi," bisik Anggara. Sejenak, Anggara merasakan perbedaan nada dan kata-kata Azzura.
Anggara melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Azzura, menatapnya dalam. Jika sebelumnya Azzura akan mengalihkan matanya dari tatapan Azzura, seperti seseorang yang tersipu.
Maka kali ini Azzura membalas tatapan itu dengan sama dalamnya juga. Bibirnya menarik senyum tipis menangkap keterkejutan di mata Anggara.
"Ada apa? Mengapa Aga terkejut? Ada yang aneh, Aga?"
Panggilannya masih sama tapi, nadanya bicaranya berbeda. Azzura di depannya ini bukan Azzura yang ia kenal.
"Zura, kau baik-baik saja, kan?"tanya Azzura dengan ragu.
"Aku baik-baik saja. Mama juga begitu. Aga sendiri yang seperti kebingungan," ucap Azzura.
Jelas Anggara bingung. Tidak ia temui tatapan dan wajah polos istrinya.
Ingatan Anggara kembali saat di malam pernikahan keduanya, di mana saat itu kaki Azzura terkilir saja sudah menangis hebat.
Dan sekarang, setelah mengalami kecelakaan dan Anggara tidak yakin kalau Azzura merasa nyaman dengan luka operasi dan beberapa luka kecil lainnya.
"Bagaimana jika kita lakukan pemeriksaan saja?"saran Angkasa yang juga merasa aneh.
Ekor matanya menangkap ekspresi tenang Tuan dan Nyonya Adhitama.
"Pemeriksaan?"beo Azzura.
"Itu bagus. Zura kita lakukan pemeriksaan intensif ya untuk cidera kepala Zura," ujar lembut Anggara.
Azzura yang sudah menduga hal ini akan terjadi, mengangguk pelan.
"Anda berdua tidak menyadarinya?"tanya Angkasa pada Tuan dan Nyonya Dinda.
"Putri kami telah sadar, kebahagian itu tidak membuat kami memikirkan hal lainnya," jawab Tuan Adhitama.
*
*
*
Setelah dilakukan serangkai pemeriksaan, hasilnya telah keluar dan mengejutkan tim dokter yang menangani pemeriksaan itu. Hasil mengejutkan yang membahagiakan. Mereka menyatakan bahwa Azzura telah sembuh dari cacat otaknya.
"Hanya karena benturan kepala?" Anggara tidak bisa untuk tidak terkejut.
"Ini sebuah keajaiban! Ini adalah kuasa Tuhan!"
Anggara melempar pandang pada istri dan keluarganya yang tengah berpelukan. Bicara tentang keajaiban, itu di luar nalar.
Akal dan medis tidak bisa membuktikannya namun itu nyata adanya. Keajaiban, mukjizat, hanya bisa diterima oleh hati dan keimanan.
Perasaaan Anggara menjadi campur aduk, jika Azzura sudah normal, akankah sikap Azzura pada dirinya tetap sama?
*
*
*
Minggu pagi, di kediaman Mahendra.
Bella duduk di meja makan, ditemani oleh Silvia, Dylan, dan Calia. Sedangkan Ken dan Brian yang berada di dapur.
Tak lama kemudian, Ken kembali dengan membawa segelas susu untuk ibu hamil dan Brian dengan membawa segelas jus alpukat untuk Silvia.
"Terima kasih, Ken," ucap Bella dengan memberikan ciuman pada pipi Ken.
"Sama-sama, My Aru. Ayo cepat minum," balas Ken dengan tersenyum lebar.
"Minumlah," ucap Brian pada Silvia.
"Terima kasih, Mas," ujar Silvia.
Silvia mengeryit melihat Brian yang memajukan pipinya. Disambut dengan empat orang yang tersenyum menggodanya.
Di bawah tatapan itu, Silvia dengan malu-malu memberikan ciuman pipi untuk Brian. Setelahnya ia langsung menunduk.
Di saat keempatnya mulai sarapan, Ken, Bella, Brian, Silvia, dan para pelayan di ruang makan dikagetkan dengan suara yang familiar namun sudah lama tidak terdengar.
"Assalamualaikum," salamnya dengan begitu bersemangat.
"Waalaikumsalam."
"KAK EL/EL?" Semua terhenyak.
"Hallo everybody. Surprise!!"