
Meeting pagi ini dilakukan secara online dan dari tiga negara berbeda. Bella di Indonesia, Surya di Paris dan Nero Group di Amerika Serikat. Meeting dimulai pukul 06.00 waktu Indonesia. Entah siapa yang membuat jadwal meeting sepagi dan semalam ini jika di dunia negara itu. Bella hanya berasumsi jadwal mereka sangat padat hingga meeting harus dilakukan malam hari.
"Baiklah meeting hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa di meeting selanjutnya." Surya menutup rapat dari tempatnya berada. Bella mengangguk dari tempatnya duduk yakni di meja belajar di dalam kamarnya dan Ken. Waktu menunjukkan pukul 07.30.
Surya sudah lebih dulu keluar, disusul dengan peserta meeting lainnya meninggalkan Bella dan Tuan Tua Nero.
"Anda ingin berbincang dengan saya lagi, Tuan Tua?"tanya Bella dengan senyum tipisnya. Sedari meeting dimulai. Bella memasang wajah seperti biasa, datar dan tenang walau hatinya kembali dipenuhi gejolak amarah pada Tuan Tua Nero.
Urusan pribadi dan pekerjaan tidak bisa dicampur aduk. Ia harus bersikap profesional terlebih mengingat posisinya sebagai wakil Presdir Mahendra Group.
Sejujurnya ingin sekali Bella mencakar dan menginterogasi pria tua yang tersenyum ramah padanya.
"Saya dengar dari Tuan Surya Anda mengalami insiden yang cukup mengerikan. Tidak menduga bahwa dalam waktu dekat Anda sudah seperti sediakala," ucapnya ramah.
"Oh Papa menceritakannya pada Anda? Terima kasih atas perhatian Tuan Tua. Saya merasa tersanjung," jawab Bella. Ia membalas senyum ramah Tuan Tua Nero dengan senyum yang sama.
"Lain kali Anda harus lebih hati-hati," pesan Tuan Tua Nero. Bella mendengus dalam hati.
Jika aku tidak hati-hati pasti aku sudah tewas sejak lama!
"Anda juga harus menjaga kesehatan Anda, Tuan Tua. Tidur larut malam di usia Anda sangatlah tidak bagus. Tidurlah lebih awal, banyak mengonsumsi vitamin, berjemur pagi juga sangat bagus agar tulang Anda tidak rapuh. Dan saya sangat berharap bisa bertemu langsung dengan Anda," ucap Bella.
Terlihat wajah Tuan Tua Nero sedikit berubah. Hanya sekejap dan kini ia tersenyum lebar. Wajah tuanya terlihat berseri, "Anda sangat perhatian. Saran Anda akan saya lakukan. Dan saya juga berharap demikian."
"Jaga selalu kesehatan Anda, Tuan Tua. Good night and see you next time!"pamit Bella sebelum meninggalkan ruang meeting online.
Huh sudah tua masih berlagak!ketus Bella dalam hati. Wajahnya berubah menjadi dingin.
"Aru … apa kau ada masalah dengan Tuan Tua itu?"tanya Ken setelah Bella menutup laptop dan memasukkannya ke dalam ransel.
"Masalah?"
"Kalian saling memberi peringatan. Bukankah artinya kalian ada perselisihan?" Ken yang duduk di tepi ranjang sembari menikmati potongan buah mengutarakan analisisnya.
Ken … kepekaannya sedikit meningkat.
Di usia tua, akhir hayat biasanya disebabkan karena penyakit di usia senja. Oleh karenanya Bella memperingati Tuan Tua Nero untuk menjaga kesehatan sampai pada akhirnya mereka akan bertemu dan berhadapan. Saat itu tiba, Bella akan meminta penjelasan tentang mengapa keluarga itu membuat keluarganya hancur.
"Sesama pebisnis wajar bukan saling memberi peringatan? Lagi ini kerja sama yang sangat besar. Pasti akan ada waktu pertemuan tiga kubu ini," sahut Bella. Ia berdiri dan meminta Ken menyuapinya.
"Benar juga. Namun, rasanya sedikit aneh."
"Tidak perlu dipikirkan. Kau akan terjebak di dalamnya nanti. Lebih baik kita segera ke perusahaan."
Koreksi, Ken sebenarnya sudah terjebak di antara masalah keluarga Bella dan keluarga Nero. Nyawanya hampir melayang tempo hari. Walau belum menemukan bukti kongkret bahwa keluarga Nero lah dalang dari penyerangan mereka waktu di Bali, Bella yakin bahwa Tua Tua Nero lah pelakunya.
"Eh apa makan siang nanti kau akan ke rumah sakit melihat adikmu?" Ini hari Kamis. Gerakan Bella yang memakai jaket sedikit melambat. Wajahnya berubah muram. Ken tidak melihat perubahan ekspresi itu karena posisinya di belakangi oleh Bella.
Sampai saat ini Neysa belum sadar juga. Terhitung sudah seminggu Nesya terbaring koma dengan kondisi yang belum ada peningkatan.
"Jadwalku sangat padat. Aku sudah memberitahu Nesya kalau aku tidak bisa menemaninya kemoterapi."
"Sayang sekali padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya." Bella yang telah selesai memakai jaketnya berbalik dan melihat Ken.
"Akan ada waktunya. Jangan murung begitu. Ayo berangkat!" Dalam waktu 45 menit lagi akan ada meeting yang akan dipimpin oleh Bella.
"Okay."
*
*
*
Ken dan Bella makan siang di sebuah restoran berbintang sekaligus untuk meeting dengan perusahaan klien. Di meja berbentuk bulat itu, tersaji beberapa macam menu, di mana menu utama belum disentuh sedang menu pembuka sudah habis menemani jalannya meeting mereka.
Meeting berlansung lancar dan ditutup dengan makan siang bersama.
"Semoga kerja sama kita berlangsung dengan lancar, Nona."
"Saya harap juga demikian, Tuan."
Bella dan perwakilan meeting perusahaan klien berjabat tangan.
"Kalau begitu, kami permisi," ucap perwakilan itu lagi.
"Silakan. Semoga hari Anda menyenangkan," jawab Bella. Tiga orang perwakilan meeting itu kemudian keluar dari ruangan.
Huft!
Bella menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa?"tanya Ken yang sedang mengecek jadwal Bella selanjutnya.
"Aku kekenyangan," aduh Bella, diiringi dengan sendawa pelan.
"Kau memakan semua menunya, dari pembuka sampai penutup. Wajar jika kau kekenyangan," sahut Ken, terkekeh geli melihat Bella yang menepuk-nepuk perutnya dengan wajah datar.
"Porsi yang mereka pesan porsi besar. Lagipula mereka yang menanggung tagihan sayang jika tidak dihabiskan. Ah lain kali jika meeting di luar, masukkan tempat ini sebagai tempat meeting. Menunya enak semua," ucap Bella. Ia merubah posisinya menjadi tegak dan membuka ponselnya sejenak.
"Ah dasar kau ini!"celetuk Ken.
"Jadwalku setelah ini?"tanya Bella tanpa menoleh pada Ken.
"Setelah ini kita mengunjungi proyek di Jakarta Selatan, lalu kembali ke perusahaan untuk meeting dengan SR Corp. Lalu ada meeting dengan Diamond Crop sekalian makan malam di hotel Kintani," jawab Ken.
Bella mengangguk mengerti, "ayo berangkat," ucap Bella kemudian. Ia menyimpan ponselnya dan mengenakan jaket juga ranselnya.
"Sudah merasa lebih baik? Sudah susut kan?"
"Sudah."
"Baiklah."
Keduanya keluar dari ruang VIP restoran. Saat hendak menuruni tangga, keduanya berpapasan dengan Anjani yang ternyata juga berada di lantai yang sama dengan keduanya hanya beda ruang saja.
"Abel?"
"Kau di sini juga?"tanya Anjani sumringah. Keduanya sedikit menepi dan berpelukan.
"Ya. Baru saja selesai meeting dan makan siang. Kau juga?"
"Hm." Sejenak Anjani memperhatikan penampilan Bella lalu melihat ke arah Ken yang memberi jarak untuk mereka berbincang.
"Sepertinya kau sangat sibuk," ucap Anjani.
"Memang. Dua hari ini jadwalku super padat. Tapi, aku sudah terbiasa," jawab Bella membenarkan.
"Aku juga sangat sibuk. Dampak kau sebulan di Diamond Corp sangat berdampak besar bagi perusahaan," ucap Anjani.
"Itu resikonya. Harusnya kau senang perusahaanmu berkembang pesat." Bella menepuk pundak Anjani.
"Aku hanya merasa bersalah pada Aka. Waktuku untuknya tidak sebanyak dulu bahkan sangat sedikit." Wajah Anjani sedikit murung.
"Tunggulah sebentar lagi. El akan segera pulang," ujar Bella, menepuk bahu Anjani.
"Mengapa melenceng ke dia?" Anjani tampak tersipu.
"Tentu. Dia kan calon suamimu," goda Bella.
"Ah … Abel!!"rengek Anjani, ia merasa malu.
"Hmhp! Sampai itu tiba kau akan memanggilku kakak ipar," celetuk Anjani kemudian.
"Baiklah, kakak ipar." Anjani semakin tersipu mendengarnya.
"Aru," panggil Ken menunjuk pada jam tangannya. Bella melihat jam tangannya sendiri.
"Ah Jani aku aku pergi sekarang," pamit Bella.
"Pergilah. Kau super sibuk, aku sangat mengerti."
"Sampai jumpa nanti malam. Assalamualaikum," pamit Bella lagi.
"Waalaikumsalam." Anjani mengangguk.
*
*
*
Pukul 20.00, Ken, Bella, dan Anjani melangkah keluar dari hotel tempat mereka meeting. Mobil Anjani sudah menunggu. Sang sopir sudah membukakan pintu untuknya.
"Abel jangan lupa hari minggu kita reuni di hotel Aksara," ucap Anjani sebelum masuk.
"Tenang saja. Aku mengingatnya."
"Jangan sampai lupa. Ken masukkan acara itu dalam jadwalnya Abel, ya!"pinta Anjani.
"Kebetulan di hari itu dan di jam sebelum acara, kami ada meeting di sana. Tenang saja, aku dan Aru pasti akan datang!"sahut Ken, merangkul pundak Bella.
"Ck betapa sibuknya dirimu ini! Hari minggu pun bekerja!"decak Anjani. Bella tertawa menanggapinya.
"Kita ini bukan pegawai negeri," sahut Bella.
"Benar juga. Kalau gitu aku pamit lebih dulu. Assalamualaikum," pamit Anjani.
"Waalaikumsalam," jawab Ken dan Bella. Anjani masuk ke dalam mobil disusul oleh sang sopir. Dalam beberapa detik mobil Anjani sudah melaju dan meninggalkan Bella dan Ken yang masih berdiri menatap laju mobil yang sudah menjauh dan menghilang dari pandangan.
"Aru kita langsung pulang atau mampir ke pasar malam lagi?"tanya Ken sebelum melajukan motor meninggalkan area parkir hotel. Ken teringat bahwa
"Pulang saja," jawab Bella, memeluk dan bersandar pada Ken kemudian memejamkan matanya.
*
*
*
Setibanya di mansion keluarga Mahendra, Bella dan Ken langsung menuju kamar. Sesampainya di kamar, Ken langsung menuju kamar mandi. Sedang Bella melepas jaket, hijab, disusul dengan membuka dasi dan jasnya. Bella menyandarkan punggungnya pada sandaran empuk soda. Matanya terpejam mengurai rasa lelah yang mendera.
Ceklek!
Bella membuka matanya saat mendekat pintu kamar mandi terbuka. Dilihatnya Ken keluar hanya dengan menggunakan handuk. Perban yang menutup dua lukanya sudah hilang, hanya menyisakan bekas luka.
Seakan ada angin segar dan air di tengah padang pasir, mata lelah Bella berubah menjadi mata lapar. Ia menatap setiap jengkal tubuh Ken dengan penuh minat. Ken tidak menyadari tatapan lekat Bella padanya. Ia bahkan bersenandung ria saat menuju walk in closet.
Kancing kemeja atas Bella telah terbuka. Ia bangkit dan menyusul ke masuk ke walk in closet.
"Eh?" Ken terperanjat kaget merasakan sebuah pelukan saat tengah memakai pakaian dalamnya. Ken berdiri tegak setelah selesai memakai pakaian dalamnya.
"Aru kau kenapa?" Ken merasa aneh. Darahnya berdesir menerima pelukan Bella dalam kondisi hanya mengenakan pakaian dalam dan handuk.
"Aku lapar," jawab Bella.
"Lapar? Bukankah tadi kau makan banyak?"
"Mengapa kau tidak mengerti?" Nadanya merajuk, pelukan kepada Ken semakin erat.
"Kalau begitu tunggulah sebentar. Aku pakai pakaian dulu baru ke dapur." Bella berdecak. Ia melepas pelukannya dan membalikkan Ken menghadap dirinya. Mata bingung bertemu dengan mata sayu. Ken mengeryit, masih belum paham.
"Aku lapar," aduh Bella lagi, kedua tangan mengalung pada leher Ken.
"Hanya kau yang bisa menuntaskannya," imbuh Bella lagi. Wajahnya dan Ken sangat dekat. Keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Maksudmu?" Ken mulai mengerti. Ia memastikan dan diangguki oleh Bella.