This Is Our Love

This Is Our Love
Awal Mula



"Kita sudah tiba, Nona, Tuan," ucap Tuan Adam memberitahu seraya membukakan pintu.


Namun, agaknya Bella memang sangat kelelahan. Ia masih lelah tertidur dengan bersandar pada bahu Ken. Ken tersenyum tipis, menggeserkan kepala Bella dengan lembut agar ia bisa turun lebih dulu lalu menggendong Bella masuk ke dalam kediaman Tuan Williams. 


Ken tertegun saat turun dari mobil. Ken merasa aneh dengan apa yang ia lihat. 


Bukankah biasanya rumah seorang Taipan itu mewah dan megah?


 Hunian melambangkan status sosial. Itu yang biasa lazim di masyarakat. 


Tapi, mengapa di hadapannya ini hanya sebuah rumah sederhana?


 Hanya ada satu lantai, pagar kayu, dan dinding rumah juga seperti dari kayu yang hanya dipoles hingga menunjukkan warna coklat gelap yang hampir menyentuh warna hitam dengan pola alami yang cantik. 


Tuan Adam tersenyum simpul melihat keheranan Ken. Tuan Muda dengan segala kemewahan di hadapan pada hunian orang yang lebih kaya daripada keluarnya, dan di sinilah bentuk pola pikir dan keinginan orang itu lain-lain. Lagipula ini di luar negeri, lain orang yang kumisnya, lain ladang lain belalangnya. 


"Posisi tidur Nona sangat tidak nyaman, Tuan," ucap Tuan Adam singkat. 


"Ah …." Ken seakan tersadar dan langsung berbalik menghadap Bella. Baru saja ia merunduk dan hendak menggendong Bella, membawanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Bella menggerakkan matanya, sesaat kemudian netra setajam elang itu terbuka. 


Bella mengerjap perlahan, mengusir rasa pusing dan juga mengingat. "Aku membangunkanmu, Aru. Maaf," sesal Ken. Bella memalingkan wajahnya pada Ken. Netra keduanya bertemu pandang. Cukup lama Ken dan Bella saling tatap. Sebelum akhirnya Bella tersenyum, begitu juga dengan Ken. 


"Sudah sampai?"tanya Bella setelah melihat ke arah luar. 


"Ini memang rumahnya, Aru?" Ken menyuarakan keheranannya dengan mengulurkan tangannya pada Bella. 


Bella menerima uluran tangan itu kemudian turun dari mobil. Ada beberapa pelayan yang menunggu di teras rumah. Mereka berseragam biru berlist putih. 


"Ayah angkatku orang yang sederhana, Ken," jawab Bella. 


"Ini terlalu sederhana," ucap Ken. Keduanya kini melangkahkan kaki masuk dengan dipimpin oleh Tuan Adam. Beberapa pelayan itu membungkuk tubuh mereka, menyambut Bella, "selamat datang kembali, Nona." Sapaan yang serentak. Bella mengangguk singkat. 


"Itu kayu kualitas tinggi, harganya tidak murah," ujar Bella.


 Ya benar juga. Walaupun tampilannya sederhana, namun komponen pembangunnya berkualitas dan berharga.


 Ken mengangguk kecil. Sekarang ia ingat, ada beberapa artikel tentang orang kaya di dunia ini yang gaya hidupnya sederhana.


 Salah satunya adalah Bill Gates pemilik perusahaan microsoft, lalu ada Jeff Bezos, kemudian Warrant Buffet, dan Mark Zuckerberg, pemilik media sosial Facebook yang telah menjadikan instagram dan whatsapp sebagai saudara. 


Memasuki ruang tamu dan ruang tengah, juga penuh dengan kesederhanaan. "Ayah angkatku lebih suka kesederhanaan dan kenyamanan, daripada kemegahan dan kemewahan tanpa kehangatan di dalamnya. Rumah ini dibangun setelah istri dan anak ayah angkatku meninggal," tutur Bella. 


Bukan tidak mampu, sangat mampu malah. Mau membuat rumah semegah dan semewah apapun itu, sangat mudah utnuk Tuan Williams. Hanya saja, rumah besar dan mewah, jika hanya dia penghuninya. Jika hanya Tuan Williams dan pelayannya, apa artinya? Dia tetap sendirian. Rumah besar itu pasti akan sangat kosong dan sepi. 


Jadi, lebih baik rumah sederhana ini saja. Sederhana namun tidak meninggalkan kesan elegan. Dindingnya dibangun oleh kayu damar laut. 


"Kamar Anda telah siap, Nona," ucap Tuan Adam yang kembali setelah memeriksa kamar Bella dengan matanya sendiri. 


"Makan siang juga sudah terhidang di meja makan, Nona. Apakah Anda ingin makan siang atau …."


"Aku belum shalat zuhur, Paman," sela Bella. 


"Ah, saya lupa, Nona. Kalau begitu, tempat shalat Anda akan segera siap." Tuan Adam bergegas melangkah pergi lagi. 


"Mereka ini punya toleransi yang tinggi. Apa saat pertama kali kau ditetapkan sebagai ahli waris Tuannya, dia tidak menentang?"tanya Ken. Hatinya masih banyak dipenuhi tanda tanya. 


"Yang terpenting adalah hati, Ken. Hati yang baik dan kemampuan yang mumpuni, itu adalah point utama. Masalah agama, itu ada bidangnya sendiri. Lakum diinukum wa liya diin," jelas Bella. 


"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku," gumam Ken. Bella mengangguk. 


"Ayo," ajak Bella dengan berdiri. 


"Ke mana?"


"Shalat, lalu makan siang, kemudian ke rumah sakit. Ah masalah dengan keluarga Nero juga belum tuntas," jawab Bella, menerangkan hal yang akan mereka lakukan.


*


*


*


Selesai shalat, Ken dan Bella makan siang. "Ayo duduk, Paman. Kita makan bersama," ucap Bella sebelum menyantap makan siangnya. 


"Saya akan makan setelah Anda selesai, Nona," tolak Tuan Adam. Bella menggeleng pelan. 


"Paman, kau adalah orang kepercayaan Ayah Williams dan juga orang kepercayaanku. Anda it's my family. Jangan sungkan dan terlalu formal begitu, berkat kepercayaan Andalah rencana yang saya buat berjalan dengan sesuai," papar Bella. Tangannya bergerak menunjuk kursi di seberang meja, mengisyaratkan dan menitahkan Tuan Adam untuk duduk di tempat yang ia tunjuk. 


Tuan Adam tak kuasa menolak lagi melihat tatapan tegas Bella padanya. Dengan canggung ia duduk dan mulai mengambil satu demi satu menu makan siang. 


"Kau juga segera makan, Aru," ucap Ken dengan mengarahkan suapan pada Bella. 


Tuan Adam mengerjapkan matanya, apakah ia sedang jadi nyamuk besar di antara sejoli itu? 


Dan Tuan Adam makan tanpa suara, ia bagai tidak ada di hadapan Ken dan Bella. 


Dalam waktu lima belas menit, mereka selesai makan siang. "Jadi, apa keputusan Anda, Nona? Akan akan menetap di LA dan menjadi Presdir Nero Group, bukan?"tanya Tuan Adam membuka pembicaraan dengan topik yang serius. 


"Paman, jika aku menjadi Presdir karena jumlah kepemilikan saham, berapa banyak yang harus aku pimpin?"sahut Bella, ia tenang dan santai.


Tuan Adam terkesiap. Artinya Bella tidak akan menjadi Presdir Nero Group. Lantas siapa yang akan menjadi Presdir Nero Group?


Tunggu, Ken tercengang dengan yang Bella katakan. Berapa banyak perusahaan yang akan Bella pimpin? Artinya saham yang ditanamkan di perusahaan-perusahaan itu berjumlah mayoritas? 


Ken memang belum mencari tahu tentang Tuan Williams. Tak ada waktu untuk mencari. Ken hanya berkelut pada semua pertanyaan yang jawabannya masih samar-samar. 


"Jadi, Nona?" Tuan Adam meminta keputusan Bella lebih lanjut. 


"Aku akan menunjukkan seseorang untuk menjadi Presdir Nero Group, Paman," jawab Bella. 


"Tapi, aku butuh data untuk memilihnya. Apa Paman bisa memberikannya padaku?"lanjut Bella.


"Data orang-orang kita atau data Nero Group terlepas dari keluarga Nero?"


"Yang tahu lokasi adalah orang sendiri, maka berikan aku data orang-orang Nero Group, Paman." Tuan Adam mengangguk. Ia berdiri dan membungkuk kecil tanda izin undur diri.


"Ah Paman, aku akan keluar setelah ini. Kemungkinan aku akan pulang sore. Jika nanti seandainya ada yang mencariku, katakan saja untuk menunggu atau kembali besok pagi," ucap Bella memberitahu. 


"Anda butuh sopir, Nona?"tanya Tuan Adam. Bella menggeleng. Tuan Adam mengangguk kecil kemudian undur diri.


"Ayo, kita ke rumah sakit." Bella berdiri.


"Kau sambil menjelaskan hari ini padaku, Aru?" 


"Aku tidak lupa akan janjiku, Ken," sahut Bella. 


Bella lalu ke kamar sebentar untuk mengambil tasnya. Tak berselang lama, Bella kembali dan melangkah keluar bersama dengan Ken. Keduanya menuju rumah sakit  Ronald Reagan UCLA Medical Center.


*


*


*


Di dalam perjalanan, ditemani dengan alunan musik bervolume rendah. Alunan musiknya romantis nan syahdu. Bella tampak menikmatinya seraya memejamkan mata.


"Apa tanggapanmu pada setelah mengetahui hal ini, Ken?"tanya Bella tanpa membuka matanya. Bella begitu tenang, sama sekali tidak ada kegugupan karena ia memang tidak melakukan hal yang keliru. 


"Apalagi selain you're amazing, Aru!"jawab Ken.


"Hanya itu? Wajahmu sedari tadi mencerminkan banyak pertanyaan. Katakan padaku, apa yang ingin kau tanyakan lebih dulu?" 


Bella membuka matanya. Menoleh pada Ken sekilas kemudian mengalihkan pandang menatap bangunan pencakar langit kota Los Angeles. 


"Bagaimana awalnya?"


"Bagaimana awalnya? Jika kau menanyakannya tadi, aku akan tetap menjawabnya sekarang." Ken mengeryit.


"Itu sudah cukup lama, Ken. Kalau tidak salah itu di zaman aku magang kuliah, sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu."


 Bella lulus S-1 hanya dalam waktu 2 tahun. Satu tahun ia gunakan untuk magang di salah perusahaan di Los Angeles dan lima tahun ia bekerja di Kalendra Group. 


Jadi, genap delapan tahun Bella di luar negeri. Dan ini, bukan kali pertamanya Bella menginjakkan kaki di Nero Group. Sebelum ini, Bella pernah beberapa kali menginjakkan kaki di Nero Group dengan label bagian di perwakilan kerja sama perusahaan. 


"Mungkin awal pertemuannya seperti sebuah novel atau cerita sinetron singkat. Seorang yang baik, seorang yang punya kemampuan, bertemu dengan orang tua yang kesusahan atau tengah kesakitan di jalan tapi, tidak ada seorangpun yang membantunya karena penampilan orang itu sangat sederhana. Dia menoleh. Orang tua itu awalnya menolak karena melihat perbedaan yang signifikan. Namun, melihat ketulusan yang ada di mata, orang tua itu luluh dan akhirnya menerima bantuannya." Bella menceritakan awal mulanya bertemu dengan Tuan Williams dengan cerita perumpamaan yang merupakan realnya. 


"Dia membawanya ke rumah sakit. Saat ditanya alamat atau keluarga, orang tua itu mengatakan dia lupa alamatnya dan dia sebatang kara. Dan Ken apa kau tahu apa aku lakukan?"


"Kau merawatnya?"terka Ken.


"Aku menawarkan diriku untuk merawatnya. Melihatnya yang kesusahan, hatiku sangat tidak tega. Aku seakan tengah melihat bahwa ayahku yang seperti itu."


"Dia awalnya menolak. Aku akan merepotkan sementara aku anak rantau. Aku seorang yang hidup mandiri dan sendiri di negeri orang. Dia merasa tidak enak."


"Pada akhirnya dia setuju. Aku merawatnya cukup lama dan ku ketahui dia menderita gagal jantung juga kanker. Dia sudah benar-benar seperti ayahku. Namun, kebersamaan itu tidak berlansung lama. Sekitar tiga bulan aku merawatnya, Tuan Williams meninggalkan dunia ini untuk selamanya." Bella memejamkan matanya. Air mata menetes darinya. 


"Setelah dia pergi baru aku tahu siapa dia sebenarnya. Dan aku sungguh tidak menyangka dan sama sekali tidak pernah menduga kalau aku ditetapkan sebagai pewaris dari semua asetnya."


Bella menyeka sudut matanya. "Kurang lebih seperti itu awalnya, Ken."


"Ya. Aku mengerti, Aru."