
Nizam termenung setelah duduk di kursi penumpang pesawat. Ia memikirkan pertanyaan Bella tadi. Ingatannya menggali, tapi sama sekali tak ia jumpai jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Jangankan ke Jerman, ke negara Eropa mana pun ia sama sekali belum pernah.
Institut penelitian? Jurusannya ilmu agama bukan sains. Ia seorang guru agama bukan profesor ilmiah. Tapi mana mungkin juga Bella, yang dalam sekali pandang tahu bahwa Bella orang yang teliti bertanya tanpa alasan yang jelas.
Apakah ia punya saudara kembar?
Buru-buru Nizam menggeleng membantah prasangkanya itu. Ia anak tunggal!
Mungkin kebetulan hanya mirip. Bukankah di dunia ini dikatakan ada tujuh orang yang mirip satu sama lain?batin Nizam, memutuskan untuk membaca al-Qur'an kecil yang selalu menjadi sahabatnya.
Menjernihkan pikiran dan hatinya dari segala prasangka. Lagipula Bella tadi masih bertanya ragu, belum tentu benar.
Selama penerbangan kurang dari satu jam itu, Nizam tenggelam dalam bacaannya. Setelah pengumuman pesawat akan landing barulah ia menyimpan al-Qur'an kecilnya. Di luar bandara ia sudah ditunggu oleh sopir yang ditugaskan Umi Hani untuk menjemput dirinya. Selama perjalanan pulang menuju pesantren, Nizam tertidur.
*
*
*
"Aru mengapa tadi kau bertanya begitu pada pria itu?"tanya Ken. Keduanya belum tidur padahal sudah waktu menunjukkan pukul 23.00. Keduanya berbaring menatap awang-awang.
"Aku hanya merasa ia mirip dengan temanku di Berlin. Hanya saja sudah hampir setengah tahun kami tidak bertemu. Dia sangat sibuk dalam penelitian institutnya," jawab Bella, menghela nafas pelan.
"Setengah tahun tak bertemu? Apa kalian dekat?" Ken memiringkan badannya ke arah Bella.
"Hanya teman biasa. Kau tak usah cemburu," ujar Bella, memiringkan tubuhnya menghadap Ken. Bibirnya mengulas senyum manis.
"Hm." Ken bergumam.
"Aku tahu kamu, Aru. Tidak mungkin bertanya seterang itu tanpa alasan. Katakan padaku apa mereka mirip?" Ken penasaran dengan rupa teman profesor Bella itu. Bella tertawa pelan.
"Kau semakin memahamiku ya," ucap Bella seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Ken.
"Tentu," sahut Ken, meraih tangan Bella dan mengecupnya mesra. Bella terdiam sejenak, rasanya ada aliran listrik yang menyengat dirinya.
"Ayo katakan," sentak Ken pelan.
"Baik-baik." Bella mengubah posisinya menjadi duduk dan Ken juga mengubah posisinya. Paha Bella menjadi bantalnya, tetap menggenggam jemari Bella. "Rupanya memang sangat mirip. Hanya beda penampilan saja. Namun, namanya sama-sama Nizam. Makanya aku mengira tadi itu dia."
"Jika Nizam yang tadi cenderung pakaian kokoh, maka Nizam sana cenderung mengenakan jas baik jas formal atau jas labnya. Memakai kacamata, rambut berponi, rambutnya juga gondrong, mungkin tak ada waktu untuk pangkas," lanjut Bella lagi.
Dalam benak Ken sudah menemukan gambarannya, "kepercayaannya?"tanya Ken memastikan.
Bella menggeleng, "tidak seiman." Wajah Ken lega. Wajah yang tadinya datar dan penuh aura cemburu hilang sudah. Wajahnya berseri, menambah kadar ketampanannya.
"Apa kau tidak bosan terus menanyakan perihal masa laluku? Bahkan teman-temanku pun menjadi objek kecemburuanmu." Ken diam. Ia tidak langsung menjawab.
"Apa kau tidak merasa bersalah terus mencemburui orang-orang di sekitarku dulu? Rasanya tidak adil. Aku bahwa hanya tahu Cia sebagai masa lalumu. Teman kuliah, sahabatmu, pergaulanmu, aku sama sekali tidak tahu," keluh Bella. Sorot matanya menandakan kecewa pada Ken.
"Karena aku hanya punya Cia sebagai masa lalu. Sahabat? Aku tidak punya. Berteman hanya sekadar," jawab Ken, pelan.
"Bahkan tipe introvet saja punya teman dekat. Aku tidak percaya!"cibir Bella. Ken mengangguk meyakinkan.
"Dulu, Cia lah satu-satunya teman dekatku, sahabatku sekaligus kekasihku. Aku juga malas berteman lebih jauh, karena kebanyakan dari mereka hanya memanfaatkan statusku. Berteman karena materi, bahkan ada yang menghasut diriku," ungkap Ken.
Bella bergumam, gantian ia yang cemburu. Ya dulu Cia memang segalanya bagi Ken. Namun, sekarang bukan lagi. Cia hanya masa lalu!
"Lupakan saja. Jangan bahas hal itu lagi," tukas Bella. Ia menaikkan pandangannya dari Ken, menatap awang-awang.
"Baiklah. Apa kau sudah mengantuk?"tanya Ken, meraih tengkuk Bella, meminta Bella kembali menatap dirinya.
"Belum." Bella kembali menunduk, keduanya saling tatap dalam.
"Bagaimana jika bahas tentang rencana bulan madu kita?"tawar Ken, ia harus menciptakan bahan obrolan baru, asalkan tidak menyinggung soal hubungan asmara di masa lalu.
"Hm katakanlah."
"Aku merasa aku tidak begitu pantas menanyakan hal ini karena seharusnya aku lah yang menanganinya. Tapi apa daya aku sangat tidak berpengalaman, harus mengandalkan istriku yang cerdas ini," lakar Ken, menyelipkan pujian untuk Bella. Bella tertawa renyah, dengan gemas mencolek hidung Ken.
"Intinya?"tanya Bella.
"Aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Jam berapa kita berangkat, sudah pesan tiket atau belum? Di sana kita menginap di resort, villa, atau hotel? Lalu apa kendaraan kita selama di sana?"tanya Ken beruntun.
"Sudah diatur," jawab singkat Bella. Tentu saja ia hanya mengatur jam penerbangan, masalah lainnya akan ditangani oleh keluarga Kalendra. Kemungkinan besar, mengingat jumlah anggota pasti akan memesan resort.
"Motor juga dibawa?"
"Begitulah."
"Merepotkan juga jika bepergian harus membawa motor. Aru apa kau tidak merasa kesulitan atau bosan gitu?"
Saat kecil saja tidak bisa disembuhkan, pasti akan bertambah sulit saat dewasa. Pernah Bella mencoba sekali mengikuti terapi untuk traumanya di Berlin. Namun, di hari pertama Bella sudah menyerah.
"Jangan berkecil hati. Fobia pasti bisa diatasi. Aku akan minta Papa mencarikan terapis untukmu," ucap Ken, berharap Bella setuju.
Bella tidak menjawab. Ia tampak memikirkan ucapan Ken. Dalam hatinya membenarkan ucapan Ken, memang cukup merepotkan.
"Hm kita bahas lain kali saja. Aku sudah mengantuk. Besok juga harus berangkat pagi. Ayo tidur." Ken mengangguk, matanya sudah sayu mengantuk. Menguap sesaat dan mengganti posisinya. Bella kembali berbaring. Keduanya saling berhadapan. Keduanya masih belum memejamkan mata juga. Tangan Bella terulur, telunjuknya menyentuh batang hidung Ken, menyusuri batang hidung sang suami lalu turun ke bibir. Mata Ken mengikuti gerakan telunjuk Bella itu. Ia mengerjap pelan merasakan telunjuk Bella yang berhenti di bibirnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Hanya mencoba melakukan adegan ini seperti di dalam drama," jawab Bella tersenyum.
"Dasar pecinta drama!"ledek Ken.
*
*
*
Tiba sudah hari keberangkatan Ken dan Bella ke Bali serta Brian dan Silvia ke Raja Ampat, Papua. Pukul 06.00 mereka sudah berangkat menuju bandara, diangkat oleh Surya, Rahayu, juga Dylan. Anjani yang mengucapkan selamat berlibur dari ponsel karena Arka sedang tak enak badan.
Keberangkatan Bella dan Ken ke Bali pukul 07.05 dengan maskapai Garuda Indonesia. Kurang dari 20 menit sebelum penerbangan, keluarga Mahendra tiba di bandara. Urusan motor langsung ditangani oleh pihak bandara.
Bella memang memilih penerbangan pagi karena waktu tibanya di Bali tak jauh beda dengan tibanya keluarga Kalendra. Keluarga Kalendra telah berangkat pukul 08.00 kemarin, penerbangan selama kurang lebih 20 jam, ditambah dengan perbedaan waktu yang cukup jauh, diperkirakan keluarga Kalendra akan tiba sekitar pukul 10.00 nanti.
"Dylan Kakak pergi dulu. Maaf nggak bisa ajak kamu ikut. Kakak di sana untuk pekerjaan bukan liburan," ujar Bella pada Dylan yang menunjukkan mimik sedih karena tidak ikut. Pria imut itu hanya mengangguk pelan, tersenyum tipis saat Bella mengacak-acak rambutnya.
"Jangan nakal ya di rumah. Nurut sama Bunda Ayu," pesan Bella.
"Kakak juga." Dylan memeluk Bella. "Jangan sampai kelelahan. Dylan nggak mau Kakak jatuh sakit nanti," lanjut Dylan. Ken mendelik kesal pada Dylan, ia tersindir seakan baru saja diberi peringatan. Rahayu menahan tawanya. Tiga lainnya menunjukkan wajah datar.
"Pasti."
"Sama jangan lupa pakai sunblock, pakai topi, kacamata kalau keluar. Jangan sampai kulit Kakak belang. Sama jangan lupa buah tangannya," pesan Dylan lagi. Bella mengangguk.
"Perhatian kepada penumpang pesawat dengan penerbangan nomor GA 402 Jakarta-Bali akan berangkat. Penumpang sudah bisa masuk ke dalam pesawat." Terdengar pengumuman untuk keberangkatan Bella dan Ken.
"Ya sudah sana cepat," ucap Rahayu pada keduanya anak dan menantunya.
"Baik." Sebelum beranjak, terlebih dulu bergantian mencium tangan Surya dan Rahayu.
"Kami berangkat, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Surya dan Rahayu menatap punggung anak dan menantu mereka. Mata mereka menyiratkan harapan besar.
*
*
*
Di dalam pesawat, penumpang kelas bisnis, Bella duduk sembari membaca berkas pekerjaannya. Ia juga sibuk menyesuaikan kembali jadwal Bella untuk meeting online. Satu jam mengudara mereka hanya fokus pada perkerjaan.
Bella menutup lembaran berkas, sudah mengusai materi meeting yang dijadwalkan setelah jam makan siang nanti. Begitu juga dengan Ken. Keduanya saling tatap, sama-sama tersenyum, "finish?"
"Yups!"sahut Bella, merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Saat merenggangkan otot lehernya, Bella baru teringat bahwa ia belum memberitahu Ken satu hal.
"Ken ada yang ingin aku sampaikan," ucap Bella.
"Ada apa?"
"Tapi kau jangan marah ya." Mendengar nada gugup Bella, Ken mengeryit, perasaan tidak enak menghampiri hati Ken.
"Katakanlah."
"Okay. Janji kan?" Bella mengacungkan kelingkingnya pada Ken.
Ken menautkan kelingkingnya pada kelingking Bella sebagai jawab.
"Sebenarnya ada motif lain ke Bali selain untuk bulan madu," beritahu Bella, ia meringis melihat tatapan Ken yang berubah tajam.
"Maksudnya?"
Bella menceritakan perihal keluarga Kalendra dan tim yang ikut serta dalam tender itu yang berdarmawisata ke Bali. Wajah Ken langsung menggelap, sudah terbayang betapa lengketnya nanti Louis pada istrinya.
"Aku akan jaga jarak. Lagipula Daddy dan Mommy sudah tahu bahwa aku sudah menikah. Aku juga berencana memberitahu Louis tentang statusku sekarang karena aku sudah menemukan wanita yang cocok untuk Louis, keluarganya pun sudah menyetujui. Aku tak minta banyak darimu tolong jaga rahasia tentang hubungan kita sampai waktunya tiba. Kecuali di mata Daddy dan Mommy, hubungan kita adalah atasan dan bawahan, okay?"
"Kau bisa jaga jarak, dia?"desis Ken, ia menundukkan wajahnya.
"Percaya padaku." Bella meminta Ken menatap dirinya. Ditangkupnya kedua pipi Ken. Menatap Ken penuh harap.