
"Ada apa, Zura?"tanya Anggara saat melihat sang istri termenung di pagi hari. Azzura menoleh pada suaminya yang baru selesai mandi. Handuk masih melingkar di pinggangnya.
"Sepertinya aku mendapat pekerjaan penting," ujar Azzura.
"Apa itu?" Anggara mendekat, berdiri tepat di samping Azzura.
"Hm, melacak lokasi," jawab Azzura.
"Benar. Dan ini sangat sulit lagi menantang." Anggara mengernyit. Dari tata bicara Azzura, itu sepertinya memang sangat penting lagi agaknya rahasia. Jika tidak, Azzura pasti sudah mengatakan semuanya dengan rinci.
"Kau sanggup?" Azzura juga butuh privasi. Sebagai suami, Anggara hanya bisa menanyakan kesanggupan Azzura dalam pekerjaan itu.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Azzura. Nadanya mantap.
"Katakan saja jika kau butuh bantuanku," ujar Anggara dengan mengusap kepala Azzura yang tertutupi hijab.
"Hm. Lekaslah. Kau harus segera berangkat, bukan? Jangan lupa ada meeting pagi ini," ujar Azzura dengan sedikit mendorong Anggara.
"Tidak bisakah aku digantikan Angkasa? Aku ingin lebih lama bersamamu," rengek Anggara, wajahnya menunjukkan ekspresi memelas.
"Tidak!"jawab Azzura dengan dingin dan tegasnya.
"Sehari saja," rayu Anggara lagi.
"Tidak. Jangan salah gunakan posisimu!"tolak Azzura.
Azzura mencembik. Sulit untuk dirayu. "Segera bersiap sana!"
Anggara segera menuju walk in closet. Azzura menghela nafas. Kadang sisi kekanakan Anggara sering muncul. Maka Azzura sebagai istri dan juga yang lebih tua selalu siap dan siaga untuk mengingatkan Anggara.
Anggara bukan hanya seorang mahasiswa baru yang baru menyelesaikan semester satu. Akan tetapi juga seorang Presdir dari Utomo Company. Peran Azzura tidak hanya sebagai seorang istri. Akan tetapi juga sebagai seorang kakak dan juga orang bagi Anggara. Tempat Anggara bersandar, tempat Anggara berbagi cerita, dan keluh kesahnya.
Meskipun sudah menjadi Presdir, Anggara tidak melewatkan waktu untuk kuliah walaupun ia tidak mengikuti perkuliahan secara langsung atau menikmati masa-masa seperti mahasiswa pada umumnya.
Wajah Azzura berubah serius saat kembali membuka laptopnya.
Ahh Azzura, lawanmu ini lawan kakap. Aku butuh banyak persiapan.
Azzura kemudian mengirimkan balasan pada email yang Ken kirimkan.
*
*
*
Benar! Azzura lah yang Ken maksud.
Ken ingat bahwa Azzura punya kemampuan yang hebat dalam ilmu komputer dan hacker.
Maka, Ken mengirim email pada Azzura. Meminta Azzura bergabung dalam misi menemukan dan menyelamatkan Bella.
Azzura menyetujui. Dia sangat berhutang budi pada Bella. Jika tidak, Azzura tidak tahu sampai kapan ia menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dari Anggara. Mengetahui Bella dal masalah, bagaimana mungkin Azzura tidak membantu?
Azzura sudah mengatakan yang sejujurnya pada Anggara. Membuka siapa dirinya sebenarnya.
Shock bukan main. Jelas itu reaksi Anggara. Anggara sempat menjaga jarak dari Azzura. Cukup lama, hampir seminggu lamanya. Azzura juga tidak tinggal diam. Ia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Anggara.
Dan pada akhirnya Anggara menerima dirinya. Menerima alasannya dan menerima dirinya yang sekarang, yang normal ini.
Sekarang, hubungan mereka sangat manis. Bahkan saat berkumpul bersama dengan Angkasa, adik Anggara itu bak nyamuk dan sering memilih untuk meninggalkan keduanya.
Keseharian Azzura dilakukan dari rumah. Ia tetap bekerja di ASA BANK, tentu saja tetap di balik layar. Selain itu, Azzura juga sering membantu Anggara apabila Anggara membawa pulang pekerjaannya. Memilih lembur di rumah daripada di kantor.
"Zura, ayo sarapan," ajak Anggara yang telah rapi dan siap berangkat ke kantor.
"Ayo," sahut Azzura, meninggalkan meja belajarnya dan melangkah keluar dari kamar dengan memeluk Anggara.