
Selesai makan siang, Bella langsung pamit pergi. Begitu juga dengan Anjani. Di koridor rumah sakit, menuju parkiran tak hentinya Anjani menggerutu kesal. Bella yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Membiarkan Anjani mengeluarkan isi hatinya tentang kesan pertemuan pertama dengan Nesya setelah sekian lama.
"Huh dia hanya ingat tentang kelemahanku saja!"sungut Anjani saat tiba di samping mobilnya.
"Sudah lama yang bertemu wajar jika Nesya hanya mengingat tentang itu. Lagipula jika bertanya pada alumni Tunas Bangsa saat tahun-tahun kita belajar di sana, pasti yang mereka ingat tentang Anjani kelas IPS 4 adalah siswi culun dengan kacamata tebal dan mudah ditindas." Anjani semakin merenggut kesal. Ia memukul keras dengan lengan Bella.
"Auh!" Sang empunya tentu saja meringis sakit, "mengapa kau memukulku?"
"Bukankah kau bilang jangan buka luka lama? Huh kau malah semakin membuatku kesal!"
"Hm aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku dan Neysa ya," sesal Bella dengan mata memelasnya. Bella meletakkan kedua tangan di sisi telinganya. Hati Anjani melunak, sikap Bella ini sungguh menggemaskan.
"Huh wajahmu terlihat aneh!" Bella tersenyum mendengarnya. Dengan santai ia merangkul Anjani yang masih mencembik kesal.
"Masih marah? Hm bagaimana jika hadiah spesial dariku saat pulang dari Bali nanti?"
"Bali?" Lihatlah mata menyelidik Anjani itu. "Kau dan Ken akan bulan madu?"
"Ya dua hari lagi berangkat, bagaimana?"
"Serius?" Gantian Anjani yang memegang erat lengan Bella. Ia terlihat sangat ingin tahu.
"Hem." Bella menanggapi dengan anggukan.
"Berapa lama?"
"Tiga hari dua malam."
"Kau sudah memutuskan?"
"Memutuskan apa?" Anjani berdecak sebal mendengar pertanyaan balik dari Bella.
"Tentu saja …." Anjani menunjuk perutnya.
"Perut? Maksudmu daftar kuliner begitu?"
Anjani menggeleng gemas dan kesal. "Lalu?"
Anjani menjawab dengan membentuk setengah lingkaran di depan perutnya. Bella menggaruk kepalanya bingung.
"Kau tidak tahu?"
Bella menggeleng, "Apa maksudmu aku akan jadi gendut begitu?"
"Hah sedikit lagi. Kau memang akan jadi gendut!"seru Anjani, kembali bersemangat.
"Tapi aku makan porsi besarpun tubuhku tetap segini. Uhh ayolah Anjani katakan terus terang!"erang Bella, ia mulai kesal.
"Ck setiap wanita, sekalipun kurus pasti akan mengalami perut buncit setelah menikah, ya di beberapa kondisi mungkin tidak," sahut Anjani.
"Ah Anjani katakan terus terang. Kau membuatku bingung. Waktuku tidak banyak!"tegas Bella. Ia melihat jam tangannya dengan wajah tak sabar.
"Maksud Nona Anjani itu, Anda akan segera memberi adik sepupu untuk Den Arka," ucap sopir Anjani.
"Nah itu dia. Benar-benar. Huh kau ini terlalu polos atau benar-benar tidak tahu!" Anjani mengacungkan jempol pada sopirnya.
"Oh anak ya?" Anjani tersenyum gemas, dengan nada santainya Bella memastikan.
"Yayaya anak!"
"Memangnya aku ada bilang ingin menunda kehamilan?"
"Ah terserah deh. Sudah sana katanya kau sibuk. Ahhh untuk hadiah terserah, kau belikan apa pasti akan ku terima!" Anjani mendorong Bella agar segera berangkat.
"Ah baiklah aku segera pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati!"
"Huh anak itu memang aneh. Kadang langsung nyambung kadang loading super lama. Orang jenius tetap saja ada kelemahannya."
Hah
"Abel aku harap kau bahagia dengan Ken. Dan jika sampai Ken membuatmu terluka, aku pasti akan pasang badan untukmu!" Mata Anjani berkilat tajam. Sang sopir sedikit bergidik.
*
*
*
Setibanya di perusahaan, Bella langsung tenggelam dalam pekerjaannya. Tapi Bella terlihat sedikit gusar. Beberapa kali ia menghela nafas kasar. Kebiasaan saat gusar yakni minum sangat banyak terjadi pada Bella. Air minum cup yang tak jauh dari jangkauannya tinggal setengah lusin. Setengahnya lagi sudah habis dari setelah jam makan siang, bahkan satu jam lagi baru jam pulang kerja.
Apa Ken berencana melakukan pendekatan? Setelah ini apa yang akan Ken lakukan? Datang dan bertemu dengan Nesya? Mengatakan bahwa dia suamiku?
Uh ….
Bella memijat pelipisnya, ia merasa sedikit pusing. Sekali ia Bella minum, menyedot habis air dalam cup plastik itu.
Walaupun Papa, Mama, dan Ken sudah tahu, akan tetapi aku takut jika semuanya tahu, aku akan menempatkan Nesya dalam bahaya atau menjadikan Nesya sebagai kelemahanku. Tapi aku juga tak bisa menyembunyikan hal ini terlalu lama. Persaingan telah dimulai. Mahendra Group, perusahaan besar ini mustahil tak ada musuh.
Bella memejamkan matanya.
Tok
Tok
Ada yang mengetuk pintu ruangan Bella. "Masuk!"
"Selamat sore, Nona." Itu Frans yang datang dengan membawa beberapa berkas.
"Sore, sekretaris Frans, ada hal apa?"
"Presdir meminta perimbangan Anda untuk beberapa proyek akan segera berjalan, Nona."
"Perimbanganku?" Bella membuka salah satu lembaran berkas, dahinya mengeryit melihat rencana proyek di beberapa daerah, kebanyakan daerah wisata, pembangunan hotel dan resort juga ada proyek perkebunan, dan rencana pembangungan kawasan apartement mewah dan elit di Bali.
"Benar. Presdir mengatakan bahwa dalam waktu jabatan Anda, harus ada proyek besar yang berhasil Anda selesaikan. Ini adalah beberapa rencana pembangunan yang bisa Anda pertimbangan untuk diajukan ke meja tender. Presdir juga mengatakan Anda harus melakukan hal yang berdampak besar untuk perusahaan guna meredam beberapa rumor tidak sedap yang berkembang di perusahaan," papar Frans panjang lebar.
"Baiklah, aku mengerti. Juga katakan pada Presdir, aku akan melakukan yang terbaik. Selain itu, rumor tak sedap itu, anggap saja tidak pernah ada. Rumor hanyalah rumor yang tahu kebenarannya hanyalah yang dirumorkan," ucap Bella, tegas menutup lembaran berkas yang ia buka tadi.
"Setelah Anda memilih proyek, Anda harus …."
"Membahasnya lebih lanjut dengan direktur keuangan mengenai dananya. Saya tahu itu. Anda tidak perlu khawatir. Terima kasih telah mengingatkan saya," sela Bella. Frans tersenyum, "sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan!"
Frans keluar, meninggalkan Bella yang melihat tiga berkas di mejanya.
"Proyek pembangunan? Hotel, perkebunan, atau apartemen? Aku analisis nanti malam saja," gumam Bella, memasukkan ketiga berkas itu ke dalam ranselnya.
Ke samping kan dulu pikiran burukku. Nesya aman di lapas. Jika dia tersakiti karena hubunganku dengan keluarga Mahendra, aku akan memilih dirinya.
Bella tersenyum tipis, ia memejamkan matanya sejenak untuk kembali mendapatkan fokus.
*
*
*
"Waalaikumsalam." Dylan menghentikan aktivitas belajarnya saat mencium aroma yang membuat perutnya lapar.
"Mie ayam!"seru Dylan berbinar melihat kantong plastik yang Bella bawa.
"Mie ayam untuk anak manis yang sibuk belajar!"ucap Bella. Dylan langsung meraih kantong plastik itu dan menuju dapur.
"Lelah, Bel?"tanya Rahayu melihat wajah lelah yang tersurat dalam wajah tenang Bella.
"Namanya juga kerja, Ma," sahut Bella serius.
"Ah ya ya. Orang kerja pasti lelah." Rahayu tertawa pelan.
"Bella ke kamar ya, Ma."
"Ya ya cepatlah mandi, hari ini kita makan malam di luar. Ken lulus sidang skripsi, harus dirayakan!" Rahayu mengibaskan tangannya semangat pada Bella.
"Alhamdulilah." Bella senang mendengar berita baik itu. Artinya Ken tinggal menunggu wisuda dan bisa fokus menjadi sekretarisnya.
"Eh? Astaga! Bagaimana aku bisa lupa?!" Rahayu menunjukkan raut wajah bersalah sesaat setelah Bella meninggalkan ruang keluarga.
"Ken pasti kesal denganku," gumam cemas Rahayu.
*
*
*
"Sudah pulang?"
"Apa aku hantu?"sahut ketus Bella. Jelas-jelas ia sudah berada di dalam kamar, melihat Ken yang baru keluar kamar mandi dengan handuk komononya. Untuk apa lagi basa-basi?!
"Bagaimana? Lebih melelahkan tidak ada aku bukan?" Ken bukannya langsung berpakaian malah duduk santai dulu di sofa, menikmati minuman kaleng dingin bersoda.
"Sama saja," jawab Bella seraya melepas jaketnya.
"Benarkah? Aku tidak percaya!"sergah Ken, menyeringai ke arah Bella.
"Untuk apa aku berbohong?"tanya balik Bella, melepas dasi berikut jasnya. Bella kemudian menggulung kemeja maroonnya.
"Aku ini serba bisa. Ada atau tidaknya sekretaris tidak terlalu berpengaruh bagiku," ucap Bella yang merasakan tatapan tidak percaya Ken.
"Cih isteriku sungguh angkuh," cibir Ken.
"Kenapa? Tak suka punya istri sepertiku?"sahut Bella, menatap tajam Ken.
"Suka tidak suka, kau isteriku dan aku mencintaimu." Pria itu berdiri, melangkah dan memeluk Bella yang tengah berdiri di depan kaca. Menyelusupkan tangannya ke pinggang sang istri, meletakkan rahang di bahu Bella. Ken suka aroma tubuh Bella, aroma melati.
"Aru …."
"Hm?"
"Belum bisa ya?"
"Apanya?"
"Hei apa yang kau lakukan?!"pekik Bella saat tangan Ken meluncur ke bawah namun tertahan oleh Bella.
"Belum? Ah haruskah di Bali?"
"Kau ini mengaku paling keras hanya cium kening dan peluk, sikapmu ini malah kebalikan!"
"Isteriku apa hanya boleh cium kening dan peluk?"tanya balik Ken.
"Ahhh terserah deh!" Bella melepaskan diri dari pelukan Ken dan beralih duduk di sofa.
"Katakan, apa maksudmu memberi Nesya hadiah? Melakukan pendekatan kah?"
Ken tampak terkesiap sesaat, tak lama kemudian ia ikut duduk dan tersenyum, "kalian bersaudara sangat dekat ya?"
"Tentu saja!"
"Hm … ya aku melakukan pendekatan. Tadi aku sebenarnya ingin ke rumah sakit melanjutkan pendekatan, akan tetapi aku harus merayakan lulus sidang dengan teman-temanku."
"Oh."
"Aru? Kau tidak senang aku lulus sidang? Ekspresimu begitu datar!"keluh Ken.
"Sudah tahu," sahut Bella.
Ahh wajah Ken berubah kecewa. Dalam hati berkeluh kesal pada Rahayu. Sudah dipesan jangan katakan pada istrinya dulu, biar dia yang memberitahunya sendiri, malah melanggar janji.
"Kenapa? Tak suka dengan ekspresiku? Untuk ukuran Tuan Muda sepertimu lulus sidang bukankah hal biasa? Atau kau malah mau jadi bahan tertawaan karena tak lulus?"
Ken mendelik kesal pada Bella. Istrinya ini bukan memberi selamat malah meledeknya lagi.
"Ahh bukankah mau makan malam di luar? Cepatlah berpakaian aku juga mau mandi." Bella beranjak dan meninggalkan Ken yang menggeleng kesal.
"Aru tidak ada kah ucapan selamat untukku?"teriak Ken.
"Congratulations!"sahut Bella dari kamar mandi.
"Gift?"
"No!"
"Ah terlalu!"
Dengan gusar Ken masuk ke ruang ganti. Pria itu menggumam kesal pada Bella. Nasib punya istri dari keluarga yang pernah besar pada masanya, dengan kecerdasan yang mumpuni lagi tinggi pendidikan dan karier. Ken berdecak geram sendiri saat ia tak bisa memasang dasinya. Semenjak ia sering menggunakan setelan jas, selalu Bella yang memasangkan dasinya.
"Aru apa kau masih lama?"teriak Ken, ia duduk di kursi seraya memilih jam tangannya.
"Sebentar lagi!"
Beberapa saat kemudian, Bella kembali dengan mengenakan celana dan kaos lengan panjang, rambutnya terurai basah. Ken tertegun sesaat, matanya menatap lekat rambut Bella yang panjang, hitam, dan berkilau. Sesaat kemudian ia menelan ludah, antara gugup dan tergoda.
"Ada apa?"tanya Bella, ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk.
"A-Aru malam ini saja ya?"
"Apanya yang malam ini? Sudah cepat keluar sana. Kita sudah ditunggu!"
"Batalkan saja acaranya!" Ken memeluk Bella lagi. Keduanya saling tatap. Bella meremang sendiri melihat tatapan intens Ken. Ia gugup dan darahnya berdesir.
Baru saja bibir Ken ingin mencium Bella, azan magrib berkumandang. Ken menghela nafas kasar dan segera keluar. Lain halnya dengan Bella yang tersenyum lega. Ia belum siap untuk mandi keramas lagi dalam satu hari.
"Bersabarlah!" Bella melambaikan tangannya pada Ken dengan tersenyum jahil.