This Is Our Love

This Is Our Love
Teresa dan Louis part 1



Sekitar pukul 17.00, Gibran menginjakkan kakinya pulang di mansion keluarganya. Begitu memasuki rumah, ia disambut oleh beberapa pelayan. 


"Tuan Muda, Tuan Besar memanggil Anda ke ruangan beliau," beritahu Kepala Pelayan pada Gibran.


Gerakan Gibran melepas jas rompinya terhenti. Raut wajahnya terlihat bingung. Ada masalah apa hingga memanggilku ke ruang belajar? Ada kegelisahan di dalam hati. 


Gibran mengangguk. Ia dengan langkah besar menuju ruangan kerja sang ayah. 


Tok….


Tok….


Setelah mendapat persetujuan barulah Gibran membuka pintu dan melangkah masuk. 


"Ayah," sapa Gibran. Ayahnya yang tengah membaca buku besar di sofa tunggal yang terbuat dari rotan,  mendongak. "Sudah pulang, ayo duduk." 


Ayah Gibran yang bernama Wira kemudian menutup buku besar itu dan melepas kacamata bacanya. "Ada hal penting apa, Yah?"tanya Gibran memulai pembicaraan, ia sedikit gugup menerima tatapan menilik Wira. 


"Kau pasti sering mendengar pepatah sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, bukan?"


"Ya?" Gibran merasa semakin gugup. Ia merasa apa yang dibahas ayahnya berhubungan dengan pepatah itu. Tunggu!


"Begitu juga sedang sebuah rahasia, bukan?" 


"Rahasia? Apa dalam artian Ayah menunduhku merahasiakan suatu hal dari Ayah dan yang lain?"


Gibran begitu panik di dalam hati. Ia sudah mendapatkan ke mana arah pembicaraan ini. Bukan hal sulit bagi ayahnya mengetahui informasi tentang Vania.


"Kau yang lebih tahu, Gibran. Aku memanggilmu kemari bukan untuk memintamu mengatakannya secara langsung padaku. Aku hanya mau mengingatkan dirimu. Sebagai seseorang yang sangat mencintai kekasihnya, mungkin kau tidak masalah dengan kekurangannya. Namun, Gibran kau adalah seorang Tuan Muda tunggal keluarga kita yang memanggul tanggung jawab meneruskan keturunan. Aku yakin kau tahu maksudku," ucap Wira, ucapannya tenang namun penuh akan tekanan.


Wira masihlah kepala keluarga tertinggi, Gibran masih di bawahnya. Gibran menundukkan kepalanya. 


"Sejauh ini masih Ayah yang tahu soal vonis Vania. Semakin lama kau memutuskan, akan semakin banyak gejolak yang timbul. Keluarga tidak akan menyalahkanmu. Tapi, Vania? Dia yang akan jadi sasaran cibiran dan celaan."


"T-tapi, Ayah aku …."


"Ayah tahu. Kau tidak ingin menyakiti hati istrimu. Tapi, sekali lagi Gibran Ayah tegaskan kau harus segera mengambil keputusan."


Gibran langsung lemas di tempat. Wira sudah mengambil keputusan dan ayahnya masih termasuk mementingkan perasaannya dan Vania. Jika tidak, pasti Wira akan langsung membawa seorang wanita untuk menikah dengannya. 


"Enam bulan!" Gibran mengangkat kepalanya. 


"Ayah berikan waktu enam bulan untuk Vania bisa hamil. Setelah itu, kau harus bertindak sebagaimana mestinya seorang kepala keluarga!"


Wira begitu baik. Ia masih memberi keringanan lagi. Sudut hatinya masih berharap walau kecil akan menimang cucu dari menantu kesayangannya. 


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Yah!"jawab Gibran. 


"Pergilah." Gibran bergegas keluar. 


"Paman pesankan aku tiket penerbangan ke Brunei saat ini juga, ah tidak! Sewa jet pribadi saat ini juga!"


"Baik, Tuan Muda." 


Aku harus segera membahasnya dengan Nia. Enam bulan, itu waktu yang cukup untuk berusaha.


Vania memang sedang tidak berada di rumah. Ia sedang mengikuti program pertukaran psikolog ke Brunei Darussalam. 


Dalam waktu setengah jam, Gibran sudah ready untuk berangkat ke Brunei. Bertepatan dengan ia melangkah keluar dari pintu rumah, Ibunya baru sampai setelah menghampiri acara arisan. Ibu Gibran menatap anaknya heran, "kau mau dinas ke luar kota?"tanyanya.


"Iya, Bu. Gibran mau ke Brunei," jawab Gibran jujur.


"Hm, menyusul Vania atau memang mau dinas?"tanya Ibunya menyelidik. 


"Keduanya, Bu," jawab Gibran, tersenyum lebar.


"Ah kau ini. Sudah lekas saja berangkat," gerutu Ibu Gibran. Sebelum pergi, Gibran mencium punggung tangan Ibunya.


"Doakan Gibran sama Vania ya, Bu," pinta Gibran.


"Tentu, Ran." Ibu Gibran mengusap lembut rambut anak tunggalnya itu.


*


*


*


Jam pulang kerja Kalendra Group sudah tiba. Namun, pekerjaan Teresa belum usai. Sepertinya ia akan lembur hari ini. Terasa menghembuskan nafas kasar, menatap tumpukan map di mejanya.


"Abel aku benar-benar merindukan posisiku dulu," gumam Teresa. Ia menyandarkan kepalanya pada meja kerja. 


"Tidak bisakah kau kembali ke Kalendra Group setelah kontrakmu di sana usai?"tanya harap Teresa pada dirinya sendiri karena tidak ada seseorang lainnya kecuali dirinya. 


"Ah tidak mungkin. Kau bukan seorang single lagi." Teresa kembali menghela nafas. 


"Ah tidak! Jangan begini, Resa! Kau harus bertanggung jawab dan menjalankan tugasmu dengan baik! Abel bukan orang yang pantang menyerah apalagi mengeluh. Kau bisa, Resa! Jangan kecewakan Abelmu!"


Teresa duduk tegak. Yang tadinya lemas dan tak bersemangat kini berapi-api. 


"Resa kau lembur?"


Louis masuk ke ruangan Teresa dan bertanya. Teresa membeku sesaat saat Louis berdiri di ambang pintu. Teresa seperti takut pada Louis yang menatap dirinya santai. 


"Hei!"sentak Louis. 


"Ah benar!" Teresa memaksakan diri untuk tersenyum. Biar bagaimanapun ia harus tetap sopan pada atasannya.


"Okay. Aku akan menunggumu," sahut Louis.


"Eh tidak perlu, Tuan Muda. Saya bahkan tak tahu kapan pekerjaan ini akan selesai," tolak halus Teresa. Ia terkejut dan merasa tak yakin dengan apa yang barusan Louis katakan. 


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu setelahnya," balas Louis, mengabaikan penolakan Teresa. 


"Aku menunggu di luar," ucap Louis, keluar tanpa mempedulikan wajah murung Teresa. 


Tadi malam Louis juga lembur, Teresa juga lembur. Namun, lebih dulu siap pekerjaannya ketimbang Louis. Ia berinisiatif untuk melihat Louis dan mengajaknya pulang bareng. 


Alangkah terkejutnya Teresa menemukan Louis tengah memangku seorang wanita. Teresa memang proaktif pada Louis. Ia dan Louis dijodohkan oleh Max, Rose, juga Bella sendiri.


Restu sudah Terasa kantongi, ia dituntut untuk bisa menaklukan hati Louis, mendapatkan hati mantan playboy yang saat ini masih mematri kuat nama Bella di dalam hatinya. 


Sebagai kekasih Louis yang telah disetujui oleh keluarga dan Louis sendiri, tentu saja Teresa marah melihat pemandangan di hadapannya. Dengan kasar ia menarik tangan wanita itu dan menamparnya.


Namun, tak pernah Louis sangka kalau Louis akan menampar dirinya balik lalu menghardiknya. Mengatakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang bisa membatasi Louis.


Teresa jelas sakit hati dan pergi dengan perasaaan kecewa. Dan sore ini, adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadian tadi malam. 


Yang tak Teresa habis pikirkan adalah Louis sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah padanya. 


Huh!


Teresa mendengus kasar. "Abel bahkan tanpa adanya dirimu, aku tetap tidak bisa mendapatkan hati Louis. Jika aku menyerah kau tidak akan marah padaku, bukan?"gumam Teresa. Ia merasa lelah.


Louis hanya sekadar padanya, memandang dirinya sebagai teman dekat Abel. Walau mereka terlihat pulang pergi bersama namun tidak ada kemajuan untuk hubungan mereka. Louis tetap datar. 


"Ahhh tidak! Tidak! Jangan menyerah, Resa. Jangan biarkan Louis kembali pada jalan yang salah. Jika kau lakukan, Abel pasti akan tambah kecewa padamu!"


Semangat Teresa kembali. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. 


Langit telah gelap. Dan waktu menunjukkan pukul 20.00 waktu Jerman. Terasa merenggangkan tubuhnya setelah pekerjaan hari ini tuntas. Teresa membereskan mejanya kemudian keluar dari ruangannya. 


"Ke mana Louis?"gumam Teresa saat tidak mendapati sekarangpun yang menunggunya di depan ruangannya.


Teresa mencoba berpikir positif, Louis tidak akan mengingkari ucapannya sendiri. Teresa mencoba menghubungi Louis, barangkali pria itu ke toilet atau ke ruang keduanya sendiri.


Sayang, panggilan tidak dijawab. Teresa kecewa lagi. Dengan langkah gontai Teresa melangkah memasuki lift. 


"Apa langit sedang mengecekku?"


Teresa tersenyum kecut mendapati hujan turun saat ia hendak meninggalkan gedung Kalendra Group. 


"Payung, Nona," ujar penjaga lobby menyodorkan payung pada Teresa.


"Terima kasih," jawab Teresa. 


"Hah. Jangan bersedih. Kata Abel hujan itu anugerah."


Teresa memantapkan hatinya. Mengembangkan payung dan melangkah menembus hujan yang turun kian derasnya. Teresa berniat menunggu bus di halte. Namun, hujan membuat keterlambatan gerak karena keterbatasan jarak panjang.


Teresa menghentikan langkahnya tak jauh dari halte kala mendapati halte diduduki oleh beberapa pria yang berperawakan seram, dan kasar. Itu beberapa orang preman. 


"Hei, cantik! Mengapa menunggu di sana? Ayo bergabung dengan kami!"ucap salah seorang preman.


Tatapan semua preman di halte tertuju pada Teresa. Teresa mengabaikan mereka. Ia memilih diam dan meramalkan doa agar bus cepat tiba dan ia bisa pulang. 


Beberapa saat setelah Teresa meninggalkan gedung, sebuah mobil masuk dan berhenti di depan lobby. Pemiliknya yang tak lain adalah Louis turun dengan membawa kantong plastik.


"Tuan Muda, Anda menginap di ruangan Anda?"tanya penjaga lobby yang bersiap untuk pulang karena Teresa telah pulang.


"Tidak. Aku menunggu manager Teresa," jawab Louis, melangkah masuk.


"Tapi, manager Teresa sudah pulang, Tuan Muda." Langkah Louis terhenti, ia berbalik. 


"Kapan?"


"Kurang lebih lima menitan, Tuan Muda!"


"Sial!" Louis buru-buru kembali ke mobilnya. "Ada apa sebenarnya?"gumam penjaga lobby bingung. 


"Teresa mengapa kau tidak mendengarkan ucapanku?"kesal dan cemas Louis.


Hari sudah malam, lagi hujan, kondisi yang rawan untuk seorang wanita bahkan untuk pria juga. Teresa tidak punya kemampuan bela diri. Lain hal dengan Bella. 


Louis menuju ke halte yang berada sekitar 200 meteran dari gerbang perusahaan.


"RESA!!"pekik Louis melihat Teresa yang diganggu oleh beberapa preman bahkan bertindak tidak senonoh.


Payung Teresa bahkan sudah hilang entah ke mana dan kini Teresa meronta, mencoba melepaskan diri dari preman yang memeganginya.


"Tolong!"


"Tolong!"


Louis merasakan suara Teresa ditelan suara hujan. Tanpa menunggu lagi ia segera menolong Teresa. Berkelahi dengan preman-preman itu di bawah derasnya hujan. Teresa berjongkok, masih shock dengan yang terjadi padanya dan kehadiran Louis.


Perasaan Teresa begitu rumit. Rasa kecewa, kaget, senang, cinta, bercampur menjadi satu, sebenarnya apa yang kau pikirkan, Louis?


"Lari!!" Teresa mengangkat kepalanya saat mendengar komando dari salah satu preman. Didapatinya para preman lagi dan Louis menghampiri dirinya, mengulurkan tangan padanya.


"Kau baik-baik saja kan?"


Nafasnya terengah, ia bertanya dengan nada cemas pada Teresa. Saat ini, hilang semua rasa marah Teresa. Teresa menerima uluran tangan itu dan memeluk erat Louis.


"Aku baik, baik saja. Terima kasih." Teresa menangis dalam pelukan Louis.


"Syukurlah," ucap Louis lemah.


"Resa, maaf." 


Teresa tidak menjawabnya. Namun, tak lama kemudian ia mengeryit. "Louis?" Louis tidak menjawab dan Teresa menyadari Louis tak sadarkan diri.


"Louis kau kenapa?"


Teresa menggoyahkan tubuh Louis. Di saat ini menunjuk, di bawah hujan Teresa melihat cairan mewah yang telah bercampur dengan air hujan yang asalnya adalah perut Louis.


Louis tertusuk! Dan itu perbuatan para preman itu. Oleh karenanya para preman itu kabur. Dan penyebabnya adalah dirinya. Tanpa banyak drama lagi, Teresa membawa Louis ke dalam mobil menuju rumah sakit. 


Louis aku menanti penjelasanmu!