This Is Our Love

This Is Our Love
Ending



Tiga bulan setelah tahun baru, Mahendra Group akan mengangkat Presdir baru, menggantikan Surya yang sudah ingin pensiun. Pemilihan Presdir dilakukan dengan sistem voting. Di mana direksi dan pemegang jabatan di Mahendra Group andil di dalamnya. Surya juga ikut memilih. 


Dan kini pemilihan itu tengah dilaksanakan. Surya, agar adil, tidak ada kecemburuan atau perasaan tidak adil, mengatakan bahwa ia tidak akan memilih. Surya tidak ingin nantinya, kembali memperburuk hubungan Ken dan Brian.


"Suaranya seri. Tinggal Tuan Surya dan Tuan Brian yang belum memilih." Ken jelas sudah memilih. Memilih dirinya sendiri. 


"Tuan Surya, Tuan Brian, apa pilihan Anda berdua?"


"Aku memilih … adikku, Ken," ucap Brian. Dan pilihan itu sontak mengagetkan semua orang, termasuk Ken sendiri, juga Surya. 


"Anda serius, Tuan Brian?" Brian mengangguk. 


"Aku serius. Aku memilih Ken sebagai Presdir. Suaraku untuknya," jawab Brian. 


"Tapi, apa alasannya? Kami memilih Anda. Mengapa Anda malah mengecewakan kami?"tanya pihak yang mendukung Brian. 


"Alasannya? Yang pasti bukan karena aku takut. Melainkan, setelah aku pikir kembali, aku sangat cocok dengan posisiku sekarang," jelas Brian. 


"Direktur keuangan, jabatan itu mungkin bukan yang tertinggi, akan tetapi posisi itu sangat sentral. Jadi, aku harap kalian mengerti maksudku. Aku ingin tetap menjadi direktur keuangan dan mengembangkan departemen itu menjadi semakin baik dari waktu ke waktu. Dan terima kasih atas dukungan kalian, aku harap kalian menghargai keputusanku. Lagipula, adikku pantas untuk menduduki posisi tersebut. Meskipun ia masih tergolong baru, akan tetapi ia banyak memberikan kontribusi pada perusahaan. Salah satunya adalah suksesnya proyek apartemen di Papua," lanjut Brian panjang lebar. 


Proyek yang berawal dari masa kepemimpinan Bella itu akhirnya telah rampung dan diresmikan. Itu berlangsung sebulan yang lalu. Dan kini, kawasan apartemen dan perbelanjaan itu sudah beroperasi. 


"Suaraku untuk mereka berdua. Karena mereka berdua memenuhi syarat untuk itu," ujar Surya. Dan hasilnya pun telah diketahui. Ken, suami dari Bella itu terpilih menjadi Presdir Mahendra Group menggantikan Bella. 


Ken dan Brian kemudian berpelukan. "Terima kasih, Kakak," jawab Ken. 


"Ternyata ini maksud ucapanmu." Brian tersenyum. 


"Benar."


"Aku tidak pernah kehilangan ambisiku. Hanya saja, ambisiku kini ke arah yang berbeda." Brian pernah mengucapkan itu pada Ken. 


Para pendukung Brian hanya bisa menghela nafas kasar. Keputusan Brian telah final. Mereka tidak bisa menggoyahkannya lagi. Selain itu, Ken juga bukan pilihan yang buruk. Dia mumpuni dan bisa membuktikan dirinya mampu. Selain itu, Brian pasti tidak akan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan matang. 


"Selamat untuk Anda, Tuan Ken!"


Surya tersenyum. Tujuannya telah tercapai meskipun jalannya tidak seperti yang ia perkirakan. Namun, itu jalan yang sangat indah dan memuaskan. Tidak hanya tujuan yang tercapai. Namun, hubungan keluarga juga begitu harmonis. 


Hah …. 


Lega sekali rasanya. Impian menikmati hari tua dengan bahagia seperti di depan mata. Apalagi di rumah ramai dengan cucu-cucunya. 


Ah….


Masa pensiun yang begitu indah. 


*


*


*


Dan ini adalah hari pelantikan Ken menjadi Presdir Mahendra Group. Hari yang mendebarkan untuk seorang Mahesa Ken Chandra. Karena ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya. Lebih bersejarah daripada saat diangkat menjadi wakil Presdir menggantikan Bella. 


Pagi setelah subuh, Ken langsung bersiap, begitu juga dengan Bella. Mereka mengenakan pakaian couple. Setelan jas biru yang Ken kenakan menambah wibawanya. Apalagi di usia yang sudah benar-benar matang. Dan itu serasi dengan pakaian yang Bella kenakan. 


Nayan dan Nizara, juga Liev, ketiganya juga mengenakan pakaian setelan biru. "Harap dan impianmu terwujud, Ken. Dan aku bangga padamu," ucap Bella, saat memakaikan dasi pada Ken. 


"Semua karenamu, Aru," balas Ken, menyentuh pipi Bella dengan lembut. 


"Jika menilik ke belakang, ini adalah salah satu tujuan pernikahan kita dulu," ucap Bella. "Dan aku sudah memenuhinya," imbuh Bella, telah selesai memakaikan dasi pada Ken. 


Ken mendengus. Ia tampak tidak senang mendengar Bella membahas masa lalu. "Awal pernikahan kita memang bersyarat. Akan tetapi, itu hanya sebentar karena aku mencintaimu, Aru. Dan tolong jangan ingatkan aku dengan alasan itu. Aku merasa malu," ujar Ken, dengan menatap dalam manik mata Bella. 


Bella tersenyum simpul. "Aku mengerti. Namun, meskipun begitu, masa lalu tidak akan pernah berubah. Terima kasih. Terima kasih telah mencintaiku, terima kasih telah membuatku merasakan kebahagian pernikahan. Terima kasih, telah memberiku keluarga yang bahagia. Aku mencintaimu, Ken," balas Bella, dengan kemudian mencium bibir Ken. 


Ken tidak melepaskan itu. Ia menyambut dan membalas ciuman Bella. 


"Tidak. Seharusnya aku yang mengucapkan semua terima kasih itu. Tidak terhitung. Aku hanya bisa mengatakan, i love you, more and more, my Aru."


Bella mendengus senyum. "Aku tahu. Tapi, mari berhenti berdebat tentang ini. Anak-anak sudah menunggu kita," ajak Bella. Membicarakan siapa yang paling mencintai tidak akan pernah ada habisnya. Tapi, yang pasti mereka saling mencintai. 


"Ya."


*


*


*


Tepat di pukul 10.00, acara pelantikan digelar. Setelah Surya menyampaikan sambutannya, Ken naik ke atas podium untuk itu untuk serah terima jabatan. Raut wajah Ken tenang. "Saya, Surya Mahendra menurunkan jabatan Presdir Mahendra Group pada Mahesa Ken Chandra," ucap Surya lantang. 


"Saya akan melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya dengan maksimal," jawab Ken, menerima jabatan itu dengan penuh kesungguhan. Tepuk tangan langsung pecah, memenuhi aula pelantikan. Surya dan Ken sama-sama tersenyum lega. 


"Selamat berjuang, Ken!"ucap Surya, sembari menepuk pundak Ken. 


"Terima kasih, Pa!"jawab Ken mantap. 


"Silakan, Ken," ucap Surya, mempersilakan Ken untuk memberi sambutan. Ken menghela nafasnya pelan. Sebelum berbicara, ia mengedarkan pandangnya lebih dulu. Lama, ia menatap keluarga kecilnya. Bella tersenyum lembut dan memberikan kode kecil pada Ken, semangat!


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua," ucap Ken, mengawali sambutannya dengan salam. 


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Pagi."


"Juga kepada anak-anak saya yang telah memberikan saya semangat. Juga kepada seluruh pihak yang telah mendukung saya. Terima kasih untuk semuanya karena telah memberikan saya kepercayaan untuk memimpin perusahaan ini untuk ke depannya!"


"Saya yakin, di antara yang duduk di sini, masih ada yang memiliki keraguan terhadap saya. Akan tetapi, akan akan berusaha maksimal untuk memimpin perusahaan ini menjadi semakin baik. Namun, untuk melakukan itu, tentu tidak bisa jika saya sendirian. Oleh karena itu, saya harap kita semua dapat bekerja sama untuk kemajuan Mahendra Group! Sekali lagi, terima kasih atas dukungan dan kepercayaan kalian!"


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


Ken memberikan sambutan singkat yang bermakna. Ia tidak meninggi. Namun, merendah untuk merangkul untuk mempersatukan pihak yang mendukung Brian. Ya, meskipun Brian mendukungnya namun belum tentu dengan pendukungnya. 


Dan itu dibalas dengan tepuk tangan meriah. Acara pelantikan itu berlangsung dengan lancar. 


*


*


*


Kini Ken, Bella, dan anak-anak mereka tengah berada di ruangan Presdir. Ruangan yang kini telah menjadi ruang kerja Ken. 


Pelantikan telah usai dan karyawan kembali bekerja. Surya dan Rahayu juga sudah pulang. Begitu juga dengan keluarga yang lain. 


Dan hari telah sore. Anak-anak tertidur pulas di kamar. Meninggalkan kedua orang tua mereka yang bermesraan di dekat jendela ruangan. Jendela full kaca yang menyajikan pemandangan ibu kota. Gedung-gedung tinggi dan lalu lintas kendaraan. 


Ken memeluk Bella dari belakang. Bella menyandarkan kepalanya pada dada Ken. Matanya terpejam. Bibirnya melengkung lebar. 


"Ken, bagaimana tanggapanmu tentang menambah anak?"tanya Bella. 


"Di satu sisi aku ingin. Di satu sisi aku trauma melihat kesakitanmu saat melahirkan. Mengapa menanyakan hal ini, Aru?"tanya Ken. Bella membuka matanya. Menatap dalam ke depan. 


"Itu memang sudah jalannya, Ken. Bagi seorang itu, rasa sakit itu adalah pengorbanan. Dan itu terbayar lunas saat mendengar tangis bayinya. Jika kau memang trauma, kelak tidak perlu ikut ke ruang bersalin," tutur Bella. 


Ken semakin mengeryitkan dahinya. Jika kelak? Aneh. Bella tiba-tiba membahas tentang anak. 


"Apa kau ingin mengatakan bahwa?" Ken menggantung ucapannya saat Bella memotong dengan berbalik dan mengangguk. 


Mata Ken terbelalak. Teringat percintaan beberapa waktu lalu. "Itu … jadi?"tanya Ken dengan mengerjapkan matanya. 


Bella mengangguk. Bella berjalan menuju tasnya. Mengeluarkan sesuatu dari sana. Testpack, dan itu dua garis. "Aku hamil, anak ketiga," ucap Bella. 


"Astaga! Aru!!" Ken langsung memeluk Bella. Mencium wajah istrinya dengan lembut. Kekhawatirannya tadi saat membahas tentang melahirkan sirna. Wajahnya berseri bahagia. Bahkan ia memeluk Bella dan membawanya berputar. 


"Kau bahagia?"


"Sangat!"jawab Ken. 


"Tadi kau takut, trauma?"


"Seperti katamu, kodrat seorang wanita memang melahirkan. Dan aku, aku tidak akan menuruti ucapan kelak itu. Aku akan tetap menemanimu, Aru! Karena dengan begitu, kita bisa berbagi rasa sakit," ucap Ken. 


Sudah lama, Ken memikirkannya. Sejujurnya, ia open saja. Jika hanya Nayan dan Nazira, it's okay. Jika ada tambahan, itu juga okay. Dan rupanya mereka kembali dipercayakan untuk menjadi orang tua. 


"Ini adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Terima kasih, Aru! Aku mencintaimu!"ucap Ken. 


"Aku juga, Ken!"


"You're one and only for me, Aru."


"You're forever dan ever for me, Ken."


"I love you!"


Keduanya berpelukan dan ditutup dengan ciuman romantis. 


*


*


*


Tujuan telah tercapai. Keluarga telah bersatu dan akur satu sama lain. Masing-masing bahagia dengan pernikahan dan keluarga kecil mereka. 


Dan life goes on. Mereka menjalani keseharian dengan bahagia. Masalah, suka dan duka mereka lalui bersama. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Mereka sudah pernah dihadapkan pada hal besar yang menguji kesabaran dan kesetiaan mereka. 


Datang akan pergi. Lewat kan berlalu. Di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan. Kisah ini telah selesai. Namun, perjalanan tokoh di dalamnya terus berlangsung. 


Semua kisah pasti ada akhirnya. Dan kisah ini berakhir dengan happy ending. Memiliki akhir yang direncanakan.


Author mengucapkan banyak terima kasih kepada Readers dan semua dukungan yang diberikan untuk karya ini. This is our love atau ini cinta kita. Terima kasih telah mengikuti kisah Ken dan Bella, dari awal pertemuan, pernikahan, hingga mereka memiliki dua orang anak dan akan segera menjadi tiga. 


Ending yang diharapkan. 


Happy forever. 


The End!


Sampai jumpa di karya selanjutnya.


^^^Salam Hangat, with Love^^^


^^^Author^^^


^^^💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜^^^