This Is Our Love

This Is Our Love
Undangan Telah Datang



Kabar tentang pernikahan Putra Pertama keluarga Utomo, Anggara dengan putri dari Presdir ASA Bank menjadi perbincangan hangat di publik, khususnya dalam lingkaran dunia bisnis ibukota. Kabar tentang Pernikahan anak keluarga Utomo itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan mengingat kondisi keluarga Utomo yang cukup terpuruk.


Menjalin tali pernikahan dengan suatu keluarga bukanlah hal baru jika sudah menghadapi kondisi kritis. Bahkan di beberapa kondisi, orang tua dengan sukarela menawarkan pernikahan putri mereka walaupun itu tidak sesuai dengan keinginan sang anak. 


Yang mengejutkan kalangan pebisnis juga publik adalah calon istri Anggara. Presdir ASA Bank hanya memiliki seorang putri yang dirumorkan menderita penyakit mental.


Umurnya sudah dewasa namun perilakunya seperti anak kecil. Umurnya juga jauh di atas usia Anggara. 


Undangan juga telah disebar tak lama setelah berita itu rilis. Tuan Surya yang berada di apartemennya di Paris menggeleng pelan membaca berita itu. 


"Ada apa, Mas?"tanya Rahayu yang baru selesai mandi.


Wanita yang masih sangat cantik di usianya itu keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono. Surya meletakkan ponselnya di atas meja.


"Keluarga Utomo benar-benar bertekad untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan kita. Mas nggak tahu apa yang dipikirkan oleh Bayu dan Clara hingga rela menikahkan Angga dengan anak keterbelakangan mental. Kasihan anak itu, sudah harus menanggung beban besar di usia yang masih muda," tutur Surya, ia mengesah kasar. 


"Itu sungguhan?" Mendengar penuturan Surya, Rahayu tidak habis pikir. Ia duduk di samping Surya dan mengambil ponsel suaminya, membuka artikel yang tadi dibaca oleh Surya.


"Dengan tindakan mereka ini, turut menyeret nama keluarga Mahendra. Kita berada di posisi yang kurang menguntungkan jika begini ceritanya," ucap Surya. Ia kesal dengan cara yang diambil oleh keluarga Utomo.


Sungguh jika keluarga Utomo meminta bantuannya, akan ia bantu sebisa mungkin, tanpa imbalan apapun. 


Namun, Surya juga tidak bisa sembarang ambil keputusan membantu keluarga Utomo jika keluarga itu belum meminta bantuannya. Surya menjagakan perasaan menantu bungsunya yakni Bella. 


Di sisi lain, publik pasti mengira ia tidak respect dan care dengan apa yang menimpa keluarga Utomo. 


"Clara memang keras kepala dan sangat tinggi harga dirinya. Tidak heran jika dia tidak meminta bantuan kita. Lagipula … seorang anak harus berkorban untuk keluarganya. Itu urusan keluarga mereka, kita tidak bisa ikut campur di dalamnya. Mereka yang memutuskan hubungan dengan kita, maka tidaklah kita salah jika tidak turun tangan membantu mereka. Lagi mengingat hubungan lalu Ken dan Cia, kita harus menjaga perasaan Abel. Kita tidak bisa sembarangan bertindak mengingat lagi latar belakang keluarga Abel," sahut Rahayu. 


Ibunda Ken itu tidak merasa cemas, hanya menyayangkan keputusan yang keluarga Utomo ambil. Clara memang sahabatnya, namun keluarganya adalah prioritasnya.


"Apa kita diundang?"tanya Rahayu kemudian.


Surya menggeleng. Orang di mansionnya belum ada yang mengabaru bahwa menerima undangan dari keluarga Utomo. 


"Coba telepon Abel," usul Rahayu. Surya melihat jam dinding. 


"Tunggu jam makan siang saja. Abel mungkin sangat sibuk sekarang," jawab Surya. 


"Baiklah."


Namun, tak lama setelahnya ponsel Surya berdering. Segera Surya angkat saat terlihat jelas nama Abel yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, Pa."


Sapaan ringan yang hangat terdengar dari seberang sana. Rahayu meminta Surya menyalakan loudspeaker. 


"Waalaikumsalam, Abel. Ada apa?"jawab Surya.


"Kau tidak sibuk, Sayang?"timpal Rahayu.


"Eh ada Mama rupanya. Bagaimana kabar kalian?"tanya Bella.


"Alhamdulillah, kami okay. Kalian? Ken mana?" Rahayu merindukan suara anak-anak dan menantunya.


"Ken masih menyelesaikan urusan setelah tanda tangan kontrak, Pa," jawab Bella. 


"Baru selesai meeting rupanya," balas Rahayu. 


"Ada masalah apa, Bel?"tanya Surya.


"Ini tentang keluarga Utomo, Pa. Apa mereka ada menghubungi Papa?"


"Mereka tidak ada mengontak Papa," jawab Surya. 


"Oh begitu ya? Mereka mengirimkan sudah undangan pernikahan kepada keluarga Mahendra. Apa Mama dan Papa akan menghadirinya?"beritahu Bella. 


l"Sudah dikirim?" Surya menatap Rahayu. Rahayu menggeleng, jadwal Surya di sini begitu padat. Dan di waktu pernikahan itu adalah satu dari sekian jadwal pentingnya.


"Papa dan Mama tidak bisa menghadirinya. Kau, Ken, Brian, dan Via saja yang mewakili keluarga Mahendra. Papa dan Mama tidak bisa pulang, urusan di sini masih sangat padat," ucap Surya memberi keputusan.


"Kami berempat?" Bella memastikan.


"Jika kau enggan, Brian dan Silvia saja yangb menghadiri pernikahan mereka," tukas Surya. 


"Ah bukan itu maksudnya. Kami akan menghadirinya. Masa lalu adalah masa lalu. Mereka mengundang tentu saja harus dihadiri. Toh di undangan tidak disebutkan bahwa Nabilla Arunika Chandra dan Mahesa Ken Mahendra dilarang hadir," lakar Bella yang disambut kekehan Surya dan tawa kecil Rahayu.


Mana mungkin keluarga Utomo melakukan hal itu, sama saja memulai perang secara terang-terangan pada anggota keluarga Mahendra.


"Baiklah jika begitu. Kau memang dapat diandalkan. Sampaikan salam dan ucapan maaf kami pada Bayu dan Clara karena tidak bisa menghadiri pernikahan Angga," pesan Surya.


"Tentu. Ah satu lagi, bagaimana jika mereka berubah pikiran dan meminta bantuan keluarga Mahendra?"


"Jika mereka meminta bantuan Papa. Papa akan memberi jawaban setelah mendengar pertimbanganmu. Jika seandainya mereka meminta bantuan keluarga Mahendra, apa kau setuju?"tanya balik Surya. 


Tidak terdengar jawaban dalam waktu dekat. Surya menerka Bella tengah menimbang jawaban untuk pertanyaannya.


"Jika begitu maka tidak masalah. Asalkan masalah dianggap bisa ditangani dan kesepakatan yang dibuat masuk akal tanpa merugikan pihak manapun. Toh aku dan keluarga itu tidak ada konflik," tutur Bella. 


"Hahaha sungguh? Yayaya bagimu memang tidak ada konflik tapi bagi mereka? Ah kau sendiri lanjutannya."


"Itu urusan mereka," sahut santai Bella. 


"Ah Pa aku harus kembali bekerja. Aku akhiri ya. Assalamualaikum, Ma, Pa," pamit Bella.


"Waalaikumsalam," jawab Surya. Ia tersenyum tipis.


Menoleh ke arah Rahayu yang telah mengenakan dress berwarna putih, bersiap untuk menemaninya menghadiri pertemuan relasi.


"Aku kirim ucapan selamat via instagram saja pada Clara," ujar Rahayu, ia sudah memegang dan membuka aplikasi instagram.


"Katakan pada mereka, belum terlambat untuk meminta bantuan kita. Sekaligus ingatkan bahwa kita tidak butuh penawaran apapun. Kita akan melakukannya atas dasar kekeluargaan bukan bisnis," ucap Surya.


Rahayu mengangguk. Surya berdiri untuk mengenakan tuxedo berwarna cream, membalut kemeja putihnya. 


*


*


*


Ken yang baru saja duduk di kursinya, menoleh dengan raut wajah tidak percaya. Cia adalah bagian dari keluarga Utomo, pasti akan hadir di pernikahan itu.


Apa Bella tidak keberatan menghadiri acara yang dipastikan mantan kekasihnya ada di dalamnya? 


"Apa perintah Papa? Dan kita?" 


"Benar. Kita, keluarga Mahendra selain Papa, Mama, dan El," sahut Bella.


"Kau serius?"


"Untuk apa aku bercanda?"


"Baiklah jika itu keputusannya. Aku tiada kuasa untuk menolak," putus Ken. "Kapan acaranya? Biar aku sesuaikan dengan jadwalmu."


"Tiga hari lagi. Kita datang setelah pekerjaan tuntas."


"Okay." Ken kemudian berkutat dengan tabletnya untuk mengatur ulang jadwal Bella. 


"Hei Ken, apa kau gugup?"


"Mengapa harus gugup?" Ken menatap Bella.


"Bertemu dengan mantan?"


"Jika aku gugup artinya aku masih ada perasaan. Aku akan membuktikan ucapanku bahwa sekarang aku hanya mencintaimu. Untuknya, sudah sirna semuanya."


"Kau yakin?" Bella menarik senyum miring mendengar nada percaya diri Ken.


"Ya!"


*


*


*


"Mas hari Senin nanti sepulang kerja kita akan menghadiri acara pernikahan Anggara," ucap Silvia pada Brian.


Saat ini mereka tengah berada dalam perjalanan pulang ke kantor setelah meeting di luar. Brian yang fokus pada layar tabletnya, menoleh pada Silvia dengan kerutan tipis pada dahinya.


"Anggara?"


"Benar. Anak keluarga Utomo," jelas Silvia. Silvia juga tercengang saat menerima pesan dari Bella. 


"Dengan anak keluarga mana?" Brian tampaknya tertarik.


"Putri Presdir ASA bank."


Brian sedikit melebarkan matanya. Ia tahu tentang keluarga itu. 


"Okay." Brian memilih tak ambil pusing.


Toh tidak ada perintah untuk membantu keluarga Utomo. Keputusan keluarga itu juga bukan hak dan wewenangnya. Brian hanya sedikit terkejut. Dalam dunia ini, apapun bisa terjadi.


"Kita hadir?"


"Hm." Brian memalingkan wajahnya keluar jendela yang dibuka setengah. 


"Stop!"ucap Brian tiba-tiba. Sopir tentu saja menghentikan laju mobilnya kemudian menepi. Silvia meringis karena dahinya menabrak bangku di depannya.


Seperti de javu, Sang Sopir melirik dari spion tengah. Tanpa sepatah katapun, Brian langsung turun. Silvia yang belum sempat protes ikut keluar. Ia terperangah saat tahu jika Brian menuju ke warung kaki lima yang menjual gado-gado. Sang sopir yang melihatnya dari dalam mobil menaikkan alisnya.


Silvia mengerjap melihat sosok berpenampilan mewah dari ujung rambut sampai ujung kaki menunggu pesanannya dengan berdiri, mengamati proses pembuatan pesanannya. Ingatan Silvia kembali pada saat Brian pertama kali mencicipi gado-gado. 


Ini enak.


Brian menyukai makanan itu sampai membelinya secara langsung. Padahal bisa menyuruh Silvia atau sopir turun. Tapi, suaminya benar-benar menyukai gado-gado! 


Tak lama kemudian, Brian kembali ke mobil dengan menentang kantong plastik yang berisi gado-gado.


"Cuma satu, Mas?"


"Kamu mau?"tanya balik Brian.


"Hah?" Ah lupa. Brian bukan orang yang peka. 


"Kalau begitu beli lagi sana."


"Apa?" Padahal Silvia baru saja mengkhayal satu porsi berdua. Lagi lupa Brian bukan orang yang romantis. Silvia menghela nafas kasar. 


"Tidak perlu. Mas saja yang makan," ujar Silvia tersenyum.


"Yakin?"


"Iya."


Brian menatap Silvia tidak percaya. Ia ingat Silvia lahap menyantap gado-gado kemarin. Tanpa bertanya dan mengucapkan sepatah kata lagi, Brian kembali turun. Silvia tercengang saat tahu Brian kembali ke warung dan kembali menunggu pesanannya selesai.


Silvia merasa heran sekaligus senang. Brian mulai peka. Sang sopir tersenyum lebar. "Tuan Muda Brian mulai berubah, Nona Muda Via."


"Anda benar, Pak. Ia menjadi sedikit lebih hangat."


Lima menit kemudian, Brian kembali dan menyerahkan kantong plastik berisi satu bungkus gado-gado pada Silvia.


"Terima kasih," ucap Silvia senang. Ia memeluk kantong plastiknya. Brian mengangguk.


"Jalan, Pak!"


Sopir kembali melajukan mobil setelah mendapat perintah dari Brian.