This Is Our Love

This Is Our Love
Jerman



Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jayapura ke Jerman selama 11 jam menggunakan pesawat pribadi. Jika menggunakan pesawat komersial bisa memakan waktu hingga 16 jam. Bella dan rombongan tiba di Jerman pukul 02.00 dinihari. Setengah jam sebelum mendarat, Bella sudah menghubungi Max untuk mempersiapkan mobil menjemput mereka karena mereka tidak membawa satu unit pun kendaraan. 


Sementara itu, setelah mendarat Calia langsung pamit lebih dulu karena sopir yang ditugaskan untuk menjemputnya sudah tiba lebih dulu. 


Umi Hani, Nizam, dan Dylan merasa sangat asing dengan lingkungan di sini. Terutama Nizam dan Umi Hani. Mereka hanya bisa celingak-celinguk.


Sedangkan yang lain, terutama Bella sudah tidak asing lagi dengan lingkungan khas Eropa. Terlebih Bella yang sudah berulang kali pergi pulang menggunakan bandara ini. Seluk beluknya pun ia sampai hafal.


Sementara untuk Surya dan Rahayu akan tiba esok pagi. Sepuluh menit kemudian, dua mobil dengan tipe alphar tiba. 


"Nona Bella," sapa kedua sopir saat turun.


"Maaf kami terlambat." Bella mengangguk.


"Ayo cepat masukkan ke dalam bagasi," ujar Bella. 


Kedua sopir memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi dibantu oleh Nizam, Ken, dan Dylan. El sendiri tengah menggendong Arka yang begitu nyenyak tidur. 


Lima menit kemudian, mereka meninggalkan bandara menuju kediaman Kalendra. Dalam waktu empat puluh lima menit, mereka tiba di mansion mewah kediaman Kalendra.


Mansion yang sama megahnya dengan mansion keluarga Mahendra namun ini lebih ke gaya Eropa. Seluruh anggota keluarga Kalendra rupanya menunggu kedatangan Bella dan rombongan, termasuk Key.


Dengan menahan kantuk, walaupun sudah diminta untuk tidur saja oleh Helena namun Key menolaknya dan tetap pada pendiriannya menunggu kedatangan aunty tercinta.


Helena dan Leo tidak bisa memaksakan kehendak mereka lagipula besok Key cuti sekolah. Dan pada akhirnya Key tidur juga. Tidak sanggup menahan kantuk dan segera dipindahkan oleh Loe ke kamar.


Bella yang pertama kali turun dari mobil mengikuti oleh Ken, Brian, Silvia, Dylan dan penghuni mobil kedua yakni El, Anjani, Arka, Umi Hani, dan Nizam. Mereka langsung masuk ke dalam rumah. 


"Good night, All," sapa Bella dengan tersenyum lebar pada keluarga Kalendra.


"Abel!" Rose langsung memeluk Bella. Keduanya berpelukan.


Menunggu moment itu selesai, Mas berjabat tangan dengan Brian sebagai pria yang tertua, juga menyapa Umi Hani dengan Nizam sebagai penerjemah. Biarpun sekolahnya berbasis agama islam, bahasa inggris tetap menjadi bahasa wajib. 


"Kami sudah membuat janji dengan putra Anda. Kemungkinan setelah pernikahan Putra kedua saya besok, kita dapat menemuinya langsung," ucap Max.


Umi Hani mengangguk dan terharu mendengar terjemahan dari Nizam. 


"Terima kasih banyak, Tuan." 


"Sama-sama. Sudah seharusnya kita saling membantu," jawab Max.


"Akhirnya setelah sekian lama kamu kembali lagi ke rumah ini, Abel," ucap senang Rose.


"Iya, Mom. Abel sangat senang sekali," jawab Bella. 


" Jadi hanya Mommy saja yang dipeluk? Bagaimana dengan Daddy? Apa kau tidak merindukan pria tua ini?"ucap sedih Max, ia cemburu. Rose mendengus sebal. 


"Sudah tua masih saja cemburuan!"ketusnya.


"Aku sangat merindukan Daddy!"tukas Bella, memeluk Max. 


"Nah ini baru adil!"


Sementara itu, Brian dan Silvia bercengkrama dengan Leo dan Silvia, di mana sebelumnya mereka sudah cukup saling mengenal. 


Lain halnya dengan Ken dan Louis yang kembali bertatapan. Seakan ada sebuah perang yang terjadi dalam tatapan keduanya.


"Aduh kalian ini! Sudah punya jodoh masing-masing  masih tidak akur seperti ini!"heran El dengan menggelengkan kepalanya melihat Ken dan Louis. 


"Aku senang kau menjaga Abel dengan baik!" Ucap Louis dengan nada datar sembari mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Ken. Ken langsung menerima uluran tangan itu.


"Aku juga sangat bahagia karena kau akhirnya menemukan cintamu! Selamat untuk pernikahanmu sebentar lagi!!"balas Ken.


Louis tersenyum tipis, jabatan tangan keduanya selesai. Setelahnya Ken beralih menyapa Rose dan Max yang masih berbicara dengan Bella. 


"Kau ... Louis?"tanya El. 


"Benar," jawab Louis dengan pandangan ke arah Bella.


"Hei! Kau itu akan segera menikah! Mengapa melihat istri adikku seperti itu?" tegur El yang tidak suka dengan tatapan Louis pada Bella. 


"Ada yang salah dengan aku menatap sepupuku sendiri?"


"Tatapanmu yang masih menyimpan rasa itu yang salah," jelas El. 


"Hm!"


"Tapi, kau siapa? Aku tidak melihatmu waktu itu?"tanya Louis.


"Aku? Aku Elvano Mahendra, Tuan Muda Kedua Mahendra Group. Aku kakak ipar kedua Abel," jawab El memperkenalkan dirinya. 


"Oh." Louis hanya membalas singkat. 


El berdecak, "si kaku ini sangat menyebalkan," gumam kesal El karena pandangan Louis tetap terarah pada Bella yang sedang membahas tentang kehamilan Bella. Rose dan Max sungguh sangat bahagia. 


"Eh, Abel, siapa saja wajah-wajah baru ini?"tanya Helena yang melihat Anjani dan Arka. Dengan Dylan mereka sudah kenal.


"Ah ini Anjani dan ini Arka. Anjani ini sahabatku sejak zaman sekolah dulu. Dan dia juga calon istri dari kak El," jawab Bella, memperkenalkan Anjani dan Arka.


"Begitu rupanya. Wah lengkap sekali, ya."


"Ya sudah, kalau begitu kalian langsung istirahat saja. Terlebih kau, Louis!"ucap Max memberi instruksi. 


*


*


*


"Abel!"tahan Louis sebelum Bella masuk ke dalam kamar. Ken menatap tangan Louis pada Bella dengan tajam.


"Mau membahas apa? Tidak tahu apa ini sudah hampir pagi dan kami butuh istirahat?"tanya Ken.


"Lagipula Aru tengah hamil, istirahatnya harus cukup!"tambah Ken.


"Aku tahu. Sebentar saja. Sepuluh menit tidak lama!"ucap Louis. Melihat tatapan Louis, membuat Bella tidak tega.


"Baiklah. Hanya sepuluh menit," putus Bella. 


"Aru?!"


"Tidak papa. Masuklah lebih dulu," ujar Bella. 


"Hanya sebentar saja!" Ken mengesah kesal. Ia masuk dengan wajah masam. Selalu seperti ini!


"Mau bicara apa, Kak?"tanya Bella to the point. 


"Kau bahagia aku akan menikah dengan Teresa?"


"Mengapa aku tidak bahagia?"tanya balik Bella.


"Jangan balikkan pertanyaanku, Abel! Katakan padaku, bagaimana perasaanmu?"


"Kita sudah memiliki cinta masing-masing yang memang sesuai, kau juga akan menempuh hidup baru, dengan calon pendamping hidup yang aku kenal baik. Aku bahagia dan jika aku tidak bahagia, untuk apa aku datang ke sini jika bukan untuk menghadiri pernikahanmu, Louis?l


"Bagaimana jika nanti aku belum bisa sepenuhnya menghapus namamu dari hatiku? Bagaimana jika seandainya aku menyakiti perasaan Teresa karena aku belum bisa melupakanmu? Apa tanggapanmu?"


"Jika kau, menyakiti Teresa karena aku belum bisa melakukanku, aku akan membuatmu menyesal karena telah menyakiti sahabatku! Masalah hati, kau harus bisa menghapus namaku dari dalam hatimu, Louis. Aku sudah menikah, aku sangat mencintai suamiku dan sekarang aku tengah mengandung buah buah cinta kami!"jawab Bella.


"Dan kau memang harus move on dariku! Cukup, sudahi! Jangan kau terus simpan, itu akan menjadi sebuah petaka untuk hidup barumu nanti dengan Terasa!"


Louis tersenyum tipis mendengarnya. "Aku mengeryit." Matanya memerah. 


"Boleh aku memelukmu?"tanya Louis, meminta izin.


"Thanks, Abel." Pelukan yang sangat singkat dan Louis segera melangkah pergi. Bella menghela nafas pelan, "life goes on."


*


*


*


Setelah landing di Bandara Internasional Brandenburg Berlin, mengantarkan Tuan dan Nona Muda mereka dengan semangat, dan setelah mengisi bahan bakar, pesawat pribadi keluarga Mahendra kembali mengudara, bertolak menuju Paris untuk menjemput Tuan dan Nyonya Besar Mahendra. 


Lama penerbangan dengan pesawat pribadi dengan kecepatan maksimum sekitar 1 jam penerbangan, dalam keadaaan normal sekitar 1 jam 30 menit. Dan dalam waktu 3 jam 30 menit, Surya dan Rahayu sudah tiba di Jerman. Mereka tiba saat fajar menyingsing. 


Setelah mobil turun dari pesawat, Surya dan Rahayu langsung bertolak menuju kediaman Kalendra. Mencari kediaman pengusaha besar di negeri ini, yang tidak mereka ketahui seluk beluknya bukanlah hal sulit. Surya tinggal mengikuti maps yang telah Brian kirimkan sebelumnya. Lagipula ada nama perumahannya.


Hanya saja, untuk masuk ke dalamnya bagi tamu yang tidak akan mungkin tanpa izin dari yang akan dikunjungi. Sama seperti perumahan keluarga Mahendra. Namun, Max sudah memberitahu penjaga gerbang, jadi nantinya mereka hanya perlu mengkonfirmasi. 


Rahayu menurunkan kaca jendela, melihat suasana pagi ibu kota Jerman ini. Matahari yang mulai menunjukkan arunikanya menyentuh lembut wajah Rahayu.


Rahayu memejamkan matanya, merasakan dan menikmati kehangatannya.


Pagi yang hangat di penghujung musim gugur sebelum memasuki musim dingin di mana suhu akan menjadi dingin, dan salju akan turun. Tanda natal akan segera datang diikuti dengan tahun baru. 


"Bagaimana jika kita merayakan Tahun Baru di sini?" Melihat Rahayu yang sepertinya menyukai Berlin, Surya memberi penawaran. 


Mendengar itu, Rahayu menggelengkan kepalanya. "Itu ide yang bagus. Hanya saja, akan lebih hangat jika kita menghabiskan tahun baru di rumah. Lagipula ada yang belum lengkap," jawab Rahayu.


"Siapa, Yu?"tanya Surya. Ia menoleh sekilas pada sang istri yang menatapnya teduh.


"Nesya, Mas. Kita harus pikirkan Abel juga. Lagipula di usia kehamilannya ini, seharusnya ia jangan berpergian jauh dulu. Tapi, aku juga tidak bisa melarangnya. Ini adalah hari besar untuk keluarganya, hari bersejarah juga baginya. Pernikahan sekali seumur hidup, semua keluarga Kalendra mengharapkan kehadirannya. Dia itu bukan hanya menantu kita. Abel adalah putri kesayangan keluarga Kalendra. Lagipula semua ikut di dalamnya, itu membuat aku lega," terang Rahayu. 


"Baiklah. Mas mengerti," balas Surya. 


Bella sedikit banyaknya pasti akan merasa ada yang kurang. Jika merayakan tahun baru di luar negeri, itu pasti akan membuat Bella sangat sedih. Dia bebas, sedangkan adiknya belum juga keluar. 


Tapi, bagaimana dengan rencana Bella yang akan pergi ke Los Angeles untuk menemui Marco?


Bella izinnya akan pergi sendiri, jika sudah hamil begini apa akan diizinkan pergi sendirian ke sana?


Secara ke Los Angeles bukan untuk happy-happy akan tetapi untuk menagih hutang, itu hal yang berisiko. Namun, mengingat keluarga Nero yang tengah sekarat sekarang, setidaknya itu membuat Surya sedikit melepaskan kekhawatirannya. 


Pukul 07.00, keduanya tiba di pintu masuk perumahan yang berupa sebuah gerbang yang tinggi dan lebar. Besinya tebal dan dengan berwarna perak yang bersinar di terpa sinar matahari. Setelah mengkonfirmasi, keduanya diperkenankan untuk masuk.


Surya kembali melajukan mobil. Kawasan perumahan elit nan mewah. Perumahan untuk orang-orang terpandang dan berpengaruh. Hingga Surya dan Rahayu akhirnya tiba di depan kediaman Kalendra.


Gerbang terbuka. Di sana sudah menunggu anak, menantu, dan keluarga Kalendra sendiri kecuali Louis yang tengah bersiap untuk pernikahannya di pukul 10.00 nanti di salah satu gereja di Berlin. 


Dan bisa kalian tebak, begitu Rahayu turun siapa yang memeluknya? 


El! 


Anak kedua Surya itulah yang pertama kali memeluk Rahayu mendahului Ken si anak kandung sendiri. Ken bahkan mengerjap karena dipotong oleh El. 


"Sabar, sudah kangen berat tuh," ucap Bella dengan menyentuh bahu Ken yang tampak sedikit kesal. Ken bergumam. 


"Bunda!" El memeluk Rahayu El. Bahkan Surya saja sedikit terkejut melihat pergerakan anak keduanya itu.


Rahayu juga sampai terdorong ke belakang beberapa langkah, "El?" Rahayu mengeryit.


"Ada apa, Sayang?"tanya Rahayu lembut.


"El sangat merindukan Bunda!"jawab El. 


"Apalagi Bunda, El Sayang," balas Rahayu. Rahayu begitu tulus pada kedua anaknya dari istri pertama Surya. 


"Pa," Brian memilih untuk menyalami Surya lebih dulu. Disusul oleh Silvia, Ken, dan Bella. Leo dan Helena juga ikut menyalami Surya, "Paman," sapa keduanya ramah. 


"Senang rasanya kita berjumpa lagi, Tuan Surya," ucap Max, mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Surya.


"Tidak perlu terlalu formal. Kita seumuran dan bisa dikatakan kita adalah keluarga, bukan?"balas Surya, menyatakan tidak perlu ada embel-embel Tuan, tanpa sapaan formal. 


"Seperti keinginanmu, Surya," jawab Max dengan tersenyum lebar. 


"Ya begini yang aku inginkan, Max."


"Hei Kak El, gantian dong! Kami juga mau memeluk Mama!"seru Ken.


"Shutt! Diam dulu, jangan ribut!"balas El dengan wajah serius. Semua diam dan mengeryit dengan ucapan El itu. 


"Ada apa, El?"tanya Rahayu yang tidak menemukan keanehan. 


"Bunda lelah tidak?"tanya El.


"Errmm … tidak terlalu lelah, mengapa?"


"Bunda lelah!"sangkal El. 


"Apa maksudmu, El?" Surya merasa bingung. 


"Kita bicara di dalam, Pa!"


"Ehhh?" 


"KAK EL?!" Ken memekik kesal karena El menggendong Rahayu dan membawanya masuk ke dalam kediaman. Padahal ia dan yang lain belum menyalami Rahayu.


Sebagai seorang anak kandung, tentu saja Ken cemburu dan merasa kesal. Ken langsung menyusul El dan Rahayu. 


Silvia terhenyak saat Brian ikut menyusul juga. Ya walaupun Brian sudah tidak dingin lagi. Tapi, kedekatannya pada Rahayu belum seperti El.


Untuk mengucap salam dan mencium tangan Rahayu saja itu sudah termasuk sebuah perubahan dan keterkejutan besar. Jika Brian akan kembali merubah sikapnya menjadi seperti El, bukankah itu artinya keluarga ini semakin perfect?


Tidak ada lagi kesenjangan antara satu dengan yang lainnya? Ya masalah memang kebanyakan pada Brian, si batu es yang mulai meleleh perlahan.


Bella dan Silvia juga menyusul. 


Surya menghela nafas kesal, "Ya begitulah El. El yang membuat suasana rumah begitu ramai," ucap Surya melempar senyum pada keluarga Kalendra.


"Saya sudah mendengar banyak tentang El, Paman. Dan itu benar adanya, Paman," ujar Leo.


"El juga berbakat dalam dunia perfilman, Paman. Dan sebentar lagi naskah cerita saya akan selesai dan El bisa segera melakukan pemilihan pemain dan memulai syuting. Kemungkian di awal tahun, sudah bisa dimulai," sambung Helena.


Surya tertegun sesaat. Penulis sekelas Helena yang di usia muda, karyanya sudah banyak dipublikasikan dan mendapat banyak penghargaan, bahkan karyanya yang telah dijadikan sebuah film atau drama masuk ke dalam nominasi film atau drama bergengsi, memuji El?


Sedangkan dirinya? Sudah dibahas di bab sebelumnya. 


Rasa bersalah dan rasa senang kembali hadir di hati Surya. 


"Paman? Anda baik-baik saja?"tanya Loe cemas. 


"Paman baik-baik saja," jawab Surya dengan menyeka sudut matanya.


"Yang lalu biarlah berlalu, Surya. Justru jika El kehilangan seluruh esensinya itu yang bahaya. Minatnya ke arah sana, biarkan dia berkembang," nasihat Max. 


"Kau benar, Max," sahut Surya. Keduanya kemudian masuk dengan berangkulan. Jika ada yang bertanya, sudah jam 07.00 kok masih bisa santai? Kan acara pernikahan dimulai pukul 10.00, dan lokasi gerejanya cukup jauh, dan mereka adalah keluarga mempelai.


Jawabannya sederhana, mereka hanya tinggal berganti pakaian saja. MUA mereka juga sudah berada di sini, dalam waktu satu jam akan sudah selesai semua dan mereka akan berangkat. Surya dan Rahayu tidak perlu lagi bertukar pakaian. 


Di ruang tamu keluarga Mahendra, Surya tersenyum lembut. Melihat anak dan menantunya memeluk isterinya, termasuk Brian. 


...****************...


...****************...


...****************...