
"Alhamdu lillahi rabbil 'alamin." Seruan syukur itu keluar dari muda mudi santri yang mengikuti lomba yang diadakan secara nasional dalam rangka memperingati hari Santri. Mereka berkumpul di aula seni, melakukan sujud syukur karena kerja keras mereka terbayar dengan apresiasi yang membanggakan. Hasil perlombaan diumumkan dua hari setelah waktu pengumpulan lomba ditutup.
Ada beberapa santri yang tidak ikut sujud namun tak menghilangkan wajah bahagia. Di antaranya ada dua orang pria dewasa dan seorang wanita dewasa tak lain adalah El, Nizam, dan Ustazah Fitri yang bertepuk tangan memberi apresiasi untuk jenis lomba yang berhasil dimenangkan.
Di antaranya adalah lomba film pendek serta dokumenter pesantren dan cipta lagu beserta music videonya, keduanya berada di peringkat satu. Sedang lainnya berada di peringkat 2 dan 3. Bisa dikatakan kalau juara umum tahun ini adalah Pesantren Baitussalam.
Ketiganya juga memberi tepukan semangat untuk peserta yang tidak menang. "Intinya kalian sudah memberikan yang terbaik. Urusan menang atau tidak itu urusan belakang. Ingat, kita tidak semata-mata mencari peringkat dalam mengikuti suatu perlombaan. Yang terpenting adalah kita mencari ridha Allah, mendapatkan pengetahuan dan skill, dan mendapat pengalaman. Ke depannya, harus berusaha lebih baik lagi," tutur Ustazah Fitri.
"Baik, Ustazah." Santri yang tidak menang, mereka sudah menganggap menang atau kalah adalah hal yang pasti, melakukan yang terbaik, berdoa dan bertawakal serta tidak berharap terlalu tinggi pada yang belum pasti, sama hal dengan hidup di dunia.
Ambisi itu boleh, namun jangan terjebak dan termakan oleh ambisi itu sendiri. Hidup dengan berpegang pada pedoman yang Tuhan telah turunkan, yang isinya sejalan dengan moral apapun itu, itu adalah yang terbaik. Berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa riya dan tanpa meninggalkan iman, syariah, dan moral.
Mereka yang tidak menang lomba begitu senang melihat teman yang mengikuti lomba yang dapat dikatakan paling ribet dan lama prosesnya karena harus membuat naskah, lirik lagu, pengambilan scene, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pembuatan film ataupun music video. Kerja keras yang benar-benar serius, terbayar tuntas. Tidak sia-sia waktu yang mereka keluarkan, keringat yang mengalir deras, dan lagi biaya yang tidak sedikit, hadiahnya cukup besar.
Menurut El lebih dari cukup untuk mengembalikan modal yang diambil dari kas pesantren. Dan sesungguhnya tiada hal yang sia-sia di dunia ini jika dikerjakan dengan niat karena Lillahi Taala.
"Tapi, alangkah baiknya jika kalian bisa menggenggam semuanya jadi satu," ujar El.
"Ini semua tidak lepas karena Kak El," ujar Haris.
El tersenyum dan menggeleng, "bukan karenaku. Tapi, karena kerja keras dan kekompakan tim."
"Tapi, jika bukan Kak El yang cepat menemukan solusinya, tak anyal kerja semua persiapan hanya akan jadi sia-sia," ujar Nisa. Ia tak suka melihat El yang merendah.
"Ini salahku yang membuat kalian panik." Naina menundukkan kepalanya.
"Hei-hei Nizam, mengapa anak didikmu itu begitu menyimpan rasa bersalah yang seharusnya sudah hilang?"heran El pada Nizam.
"Kok malah menyalahkan Gus Nizam sih, Kak El?!" Naina mengeluh. Dapat El lihat, sejak awal Naina punya ketertarikan pada Nizam dalam hubungan lawan jenis.
Namun, Naina pandai menyembunyikannya. Gadis itu bisa bersikap layaknya santriwati lain yang mengagumi dan menjadi Nizam idola mereka. Anak bau kencur ini … aku takut nantinya dia akan patah hati, batin El. Sekilas tatapannya iba pada Naina yang menundukkan wajahnya karena Nizam melihat dirinya. Tangannya masih harus digendong. Minimal satu minggu baru bisa dilepas.
"Sudah berakhir, Naina. Lepaskan rasa bersamamu. La …." Belum selesai Nizam berbicara, El sudah menyela.
"Lagipula jika kemarin kita tidak jadi ikut lomba, ada YouTube yang siap menampung kreativitas kita. Bahkan dengan jumlah subscribers pesantren ini ditambah promosi lewat media sosial, jika Kakak perhitungkan laba yang bisa kita dapatkan lebih banyak dari hadiah ini," terang El panjang.
"Astagfirullah, kenapa baru teringat sekarang?!"seru Nisa menepuk dahinya sendiri. Begitu juga dengan yang dilakukan dengan Haris, Fajar, dan Zidan, mereka lantas terkekeh pelan. Begitulah di saat panik, hal yang sederhana akan menjadi rumit. Hal yang solusinya simple terasa begitu sulit untuk ditemukan.
"Itu artinya, kalian harus tetap berkreativitas walaupun tidak ada perlombaan. Jangan karena lomba ini sudah berakhir kalian acuh dengan kreativitas. Dengan catatan, kalian tidak meninggalkan kewajiban kalian. Dan Tuan Muda, menyela orang yang masih berbicara itu tidak sopan!" tambah Nizam dan memberi teguran pada El. El mendengus. Santri lain menahan tawa melihat wajah El yang mereka rasa lucu dalam mengekspresikan rasa kesal pada Nizam.
"Sudah mengerti kan, Naina? Untuk apa kamu menyimpan rasa bersalah yang menyakiti hatimu sendiri sedang yang mereka kamu kecewakan sudah tidak ada dengannya? Apa yang terjadi pada kamu adalah musibah, sebuah teguran. Semua ada baik dan buruknya," tutur Ustazah Fitri pada Naina. Mata Naina berkaca-kaca, Laila sigap mendekapnya.
"Menangislah jika itu bisa membuat rasa bersalahmu sirna!"titah El. Wajahnya sudah sangat tebal. Jangankan ditatap dan jadi bahan pembicaraan warga pesantren, jadi topik pembicaraan seantero ibukota bahkan nasional, El sudah biasa.
Soal El yang menyuruh Naina menangis, sepertinya itu tidak akan terjadi sekarang karena azan ashar sudah berkumandang. Naina menyeka air sudut matanya. Semua yang berada di aula seni bergegas menuju masjid.
"Hei, Nizam," bisik El pada Nizam saat keduanya selesai shalat ashar dan kini melangkah menuju rumah Nizam dan Umi Hani.
"Ya? Ada apa, Tuan Muda?"tanya Nizam.
"Sudah beberapa hari sejak Naina kecelakaan, aku tidak melihat atau mendengar ada keluarga yang menjenguknya. Apa keluarganya sungguh tidak peduli dengannya?"tanya El heran. Dia saja yang dengil luar biasa, dulu, sekarang tinggal tengilnya saja, Papanya walau marah besar tidak mengabaikan dirinya.
"Naina yang melarang ibunya untuk datang."
"Hati anak itu sangat keras pada ibunya. Sampai saat ini aku belum mampu meluluhkan kekerasan hati Naina pada ibunya."
"Tidak. Aku sudah berusaha mulai dari waktu aku libur kuliah dan pulang ke Indo."
"Hm, begitu rupanya." El menganggukkan kepalanya mengerti. Mungkin ada hal yang membuat hati gadis itu semakin mengeras dari hari ke hari pada ibunya. Namun, setidaknya kekerasan hati gadis itu akibat broken home tidak mengarah pada hal negatif. Justru aku bangga karena dia punya hati yang teguh dan memilih pesantren sebagai tempatnya melampiaskan kesedihan dan kekesalan hatinya.
"Hm lalu … apa kau sudah punya gambaran untuk kapan menikah? Atau kau sudah punya calonnya?" Nizam menghentikan langkahnya saat El membahas hal yang sedikit krusial yakni kapan nikah, sudah ada calon kah?
"Aku … sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan, Tuan Muda. Dalam pandanganku ke depan, aku ingin bertemu dengan keluargaku yang terpisah selama puluhan tahun." Bahkan Nizam sempat memikirkan hal yang langsung ia tepis. Nizam tadinya berpikir untuk menyatukan kembali keluarganya. Namun, mengingat kepercayaan yang berbeda, tidak mungkin juga meminta ayah atau saudaranya untuk memeluk agama islam, dan mustahil juga ia dan Uminya melepas kepercayaan yang telah mereka anut sejak ada di dunia ini. Kecuali atas keikhlasan hati sendiri, tanpa paksaan dan alasan yang kuat selain karena keluarga dan cinta.
"Hm, okay. Tapi, aku saran untukmu. Jika kau berniat mencari istri nanti, lihat sekitarmu, tanyakan pada hatimu adakah sesuatu yang membuat hatimu bergetar sekian Allah SWT. Jangan sampai karena kau tidak memperhatikannya nanti, akan ada hati yang tersakiti," ucap El, menepuk beberapa pundak El lalu pamit meninggalkan El yang terhenyak dengan ucapan El. Dahinya mengeryit, tidak mengerti dengan apa yang El ucapkan. Apa maksudnya?
"Aku sudah membantumu, Naina," gumam El, tersenyum, melangkah menuju kamarnya. Kelas sudah selesai, El mau membaca beberapa bab naskah yang Bella berikan padanya saat mengunjunginya tempo hari. Setelah keluar dari pesantren nanti, El berharap dan menargetkan ia akan langsung comeback menggarap proyek.
*
*
*
"Abel, fokus pada tanganku. Dalam hitungan ke tiga kau akan tertidur dan akan kembali ke masa kecelakaanmu dulu dengan kakekmu," ucap Calia memberitahu.
Bella mengangguk. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Ken. Hari ini adalah hari Rabu, terapi kedua bagi Bella. Dan hari ini Ken bisa menemani Bella.
"Saat aku bertanya kau akan menjawabku dengan jujur. Katakan pada semuanya."
"Aku mengerti," jawab Bella.
"Satu, dua, tiga." Calia menjentikkan jarinya. Bella menutup matanya dan kesadarannya seakan kembali mendekati detik-detik kecelakaan yang merenggut nyawa kakeknya.
"Kakek." Kesadaran Bella yang duduk di kursi penumpang mobil yang dikendarainya dulu sewaktu kecil saat akan menuju lapangan tembak. Mata Bella memanas, hatinya begitu senang bisa melihat rupa kakeknya secara langsung.
Disentuhnya pundak sang kakek. Namun, tidak bisa disentuh. Ia tak nyata di sini. Ia tidak punya wujud di sini. Hanya kesadarannya. Dan ini bukan kembali ke masa lalu namun memunculkan kembali, membawa, mengorek memori Bella tentang kecelakan parahnya. Dengan bantuan Calia, Bella bisa mengingat semuanya dengan jelas.
"Kakek." Bella kembali memanggil, tak terasa ia menitikkan air mata.
"Tidak! Jangan mengobrol! Jangan seperti itu, Bella! Duduklah yang benar! Bersabarlah sedikit!"pekik Bella yang ingat bahwa setelah ini apa yang tidak pernah terbayang olehnya terjadi. Percuma, sia-sia. Seberapa kuat ia berteriak, seberapa keras memukul, itu sia-sia.
"Awas, Kakek!" Mendengar seruan Bella kecil, Bella menutup matanya dan saat ia sudah membuka mata, Bella berada di luar mobil kembali ke beberapa saat sebelum mobil bertabrakan. Kakek dengan sigap menggunakan tubuhnya untuk melindungi Bella kecil. Bella menatap hal itu tanpa ekspresi. Tanpa sepatah kata ia menyaksikan mobil kecil itu terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak pembatas jalan.
Ia melangkah menghampiri mobil yang sudah ringsek, memperlihatkan kakek yang memeluk Bella kecil, keduanya bersimpah darah. Kondisi Kakek begitu mengenaskan, pecahan kaca menusuk beberapa bagian tubuhnya, seperti punggung dan paha. Bella berjongkok, kakek dan cucu itu ternyata masih sadar.
Sebelum menutup mata, kakek tersenyum. Diikuti dengan Bella kecil yang ikut menutup mata. Bella menutup matanya, "kakek sama sekali tidak menyalahkanku."
Bella terkesiap saat mobil ringsek di dekatnya itu hilang. Bella berdiri, melihat sekitar. Semua berupa menjadi putih. Di detik berikutnya, Bella mendengar suara Calia.
"Abel … masalahmu ada pada hatimu. Menghancurkan rasa bersalah akan menghilangkan traumamu."
"Calia, aku ingin melihat reka adegan sekali lagi," ucap Bella. Entah mengapa Bella merasa ada yang kurang.
"Baiklah. Bersiaplah, fokuskan dirimu." Bella kembali memejamkan matanya. Saat membuka mata ia berada di tepi jalan. Bella menajamkan penglihatannya.
"Ini posisi kecelakaan terjadi." Bella memfokuskan dirinya pada truck yang akan menabrak mobil kakek.
"Ada yang salah dengan trucknya," gumam Bella.