
Bella melangkah keluar dari lift menyusuri koridor lantai tiga rumah sakit menuju ruang rawat Nesya. Ransel setia berada di punggungnya. Tangannya memegang sebuah bucket.
Ekspresi Bella tenang dan datar seperti biasanya.
"Assalamualaikum," sapa Bella lembut saat memasuki ruang rawat Nesya.
"Masih betah rupanya," gumam Bella, menarik senyum simpul, meletakkan bucket bunga krisan yang mengartikan harapan agar Nesya cepat sadar dan panjang umur.
Adiknya masih betah berada di bawah alam sadar. Kondisinya berangsur mulai stabil. Detak Jantungnya sudah tidak selemah kemarin. Namun, tetap saja kulit pucat belum bisa dipisahkan dari Nesya.
Bella meraih jemari Nesya dan membawanya menyentuh pipinya. Tatapan Bella terpaku pada wajah Nesya. Sorot mata penuh harapan beriring doa Bella sampaikan tanpa kata. Setitik air mata lolos. Kesedihan dan amarah kembali menyatu dalam diri Bella. Bella lantas memejamkan matanya. Menetralisir kesedihan dan amarahnya.
"Aku tahu kau sangat merindukan Mama dan Papa. Namun, belum saatnya kau bersama dengan mereka. Adikku, cepatlah sadar. Kakak belum siap untuk kehilanganmu juga," ucap lirih Bella sembari menyentuh lembut pipi Nesya.
"Kakak janji akan menemukan siapa pelaku di balik insiden itu! Siapapun dia Kakak pastikan akan membayar atas apa yang terjadi padamu!" Sorot mata teduh itu berubah menjadi dingin.
*
*
*
"Nona!"sapa seseorang saat Bella hendak masuk ke dalam lift naik ke lantai empat. Bella berbalik mendengar suara yang sudah familiar di pendengarannya, perawat Winda.
"Ada apa, Nona? Ingin memarahi dan membantu saya?"sahut Bella datar yang di telinga Perawat Winda adalah sebuah sindiran.
Perawat Winda buru-buru menggelengkan tangannya mengatakan bahwa bukan itu maksudnya.
Belum sempat lagi Bella mengajukan pertanyaan, Perawat Winda sudah membungkukkan tubuhnya dan menyodorkan paperbag ukuran kecil pada Bella. "Ini?"tanya Bella bingung.
"Nona, mohon maafkan saja atas ucapan saya kemarin," ucap Perawat Winda penuh pinta.
"Ucapan kemarin?" Bella agaknya lupa dengan ucapan yang dimaksud oleh Perawat Winda. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan, masalah itu ia anggap sebagai hal kecil, lagi sudah diluruskan. Artinya urusan sudah selesai.
"Benar." Perawat Winda masih membungkuk. Bella melirik sekitar. Beberapa tatapan aneh tertuju pada mereka berdua. Bella merasa tidak nyaman dengan itu. "Aku sudah melupakannya. Santai saja," ucap Bella, menggulurkan tangannya meminta Perawat Winda untuk berdiri tegak.
"Sungguh?"
"Iya," jawab Bella, tersenyum.
"Lalu mengapa Anda tidak menerima hadiah dari saya?"tanyanya sedih menatap paper bag putih yang masih ia sodorkan pada Bella.
"Oh ini untukku? Baiklah. Thank you." Bella menerima paper bag itu.
"Terima kasih, Nona." Winda kembali membungkuk sebentar dengan tersenyum. Bella mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kalau begitu aku pergi masuk, ya," pamit Bella melihat ke arah lift lalu melihat jam tangannya. Sudah jam 17.00, hampir seperempat hari ia meninggalkan rumah sakit.
"Perlu saya antar, Nona?"tawar Winda yang langsung disambut gelengan Bella.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri. Kerjakan saja pekerjaanmu," tolak Bella. Tak lama lift terbuka dan Bella segera masuk.
Winda tersenyum lega. Ia lalu berbalik meninggalkan area lift.
*
*
*
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ken langsung meletakkan buku yang ia baca dan tersenyum hangat pada Bella.
"Lama sekali," keluhnya kemudian diikuti dengan wajah merajuk.
"Aku ke perusahaan dulu," jawab Bella, meletakkan paper bag pemberian Perawat Winda dan ranselnya di atas meja lalu duduk melepas lelah.
"Pantas." Ken sudah hafal watak istrinya. Pengalaman mengurus Bella sakit tempo hari membuatnya tahu bahwa Bella dan pekerjaan sulit untuk dilepaskan. Selagi istrinya itu merasa mampu, maka sulit untuk dilarang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Dan lukamu?" Ken mengangkat bagian baju yang menutupi lukanya. Di sebelah kanan, dua perban yang menutup dua luka. "Aku rasa besok aku sudah bisa berjalan sepertimu," imbuh Ken.
"Syukurlah."
"Oh iya itu apa?"tanya Ken menunjuk paper bag putih di atas meja.
Bella meraihnya untuk mengetahui isinya. Bella mengeluarkannya, "gantungan kunci?"
Bella mengamati detail gantungan kunci berbentuk lumba-lumba itu. Matanya bergerak memikirkan apa alasan Perawat Winda memilih gantungan kunci sebagai hadiah permintaan maaf.
Ken yang melihat ekspresi Bella menyimpulkan bahwa itu hadiah dari seseorang, "dari siapa?" Bella langsung mendongak melihat ke arah Ken. Aura cemburu menusuk ke pori-pori kulitnya.
"Memangnya kenapa?" Bella penasaran, hanya gantungan kunci mengapa membangkitkan rasa cemburu Ken?
Lumba-lumba, melambangkan pertemanan juga kebahagian. Jika dirangkap bukankah artinya teman yang membahagiakan dalam arti lain adalah kekasih hati?
"Tidak terlalu penting juga siapa yang memberi," ujar Bella, kembali menyimpan gantungan kunci itu ke dalam tempatnya.
"Tentu penting!"
"Okay. Dari perawat atas nama Winda. Kemarin aku dan dia ada sedikit salah paham dan ini adalah hadiah permintaan maafnya. Jika kau tidak suka aku akan mengembalikannya," jelas Bella.
Syukurlah. Aku kira dari seorang pria, gumam Ken dalam hati.
"Tidak perlu, simpan saja." Bella mengangguki jawaban Ken itu.
*
*
*
"Uhh Aka kau sudah sangat berat sekarang," keluh Bella saat mengangkat Arka untuk duduk di pengakuannya.
"Abel lukamu?"
"Sudah kering. Tenang saja," sahut Bella. Sedangkan Ken mengamati interaksi itu.
"Tentu Aunty Abel. Mama selalu menyuruh Aka untuk makan banyak. Katanya biar cepat besar." Bella tertawa mendengar jawaban Arka.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Aka?"tanya Bella, mencubit gemas pipi chubby Arka.
"Tadi nilai ulangan matematika Aka nilai 90, Aunty," jawab Arka, meminta pujian dari Bella. Tentu saja Bella mengikuti skenario yang Arka inginkan. Bella memuji Arka, memberi pesan pada anak kecil itu untuk terus belajar dan jangan mudah berpuas diri.
"Aka come here," panggil Ken, menepuk sisi ranjangnya.
Arka yang sudah cukup akrab dengan Ken mengangguk.
"Hei anakmu cerdas keturunan dari mantan suamimu?"bisik Bella yang disambut kerucutan panjang bibir Anjani.
"Kau meragukan kesetiaanku?"tanya Anjani, matanya memicing kesal.
"Hanya bertanya," sahut Anjani santai.
"Memangnya aku ini bodoh, hm?"balas Anjani, matanya mendelik meminta penjelasan.
"Tidak juga. Kau dulu hanya malas mengasah diri." Anjani mendengus senyum. Ia kemudian menatap Ken yang bercengkrama riang dengan Arka.
"Tanyakan pada suamimu, kecerdasan itu bisa menurun dari siapa saja."
"Akan ku tanyakan."
"Tapi, bye de way tentang setia, apa kau masih setia menunggu El?"tanya Bella penasaran.
Anjani tidak langsung menjawab. Menunduk yang semakin menaikkan rasa penasaran Bella. Antara ragu atau sedang meyakinkan hati sendiri.
"Maybe," jawab Anjani kemudian. Jawaban yang tidak pasti. Bella tersenyum simpul untuk itu.
*
*
*
"Ken," panggil Bella yang sudah berbaring di sofa.
"Hm?" Ken yang sudah memejankan mata kembali membuka matanya dan melihat langit-langit kamar.
"Kecerdasan seorang anak bisa menurun dari siapa saja?"
"Untuk apa menanyakannya?"heran Ken.
Bella kembali duduk, "hanya ingin tahu."
"Kalau begitu kemarilah, tidur di sampingku," tutur Ken.
"Tapi, lukamu?"
"Sudah aman." Ken meyakinkan Bella, ia bahkan sudah bergeser memberi ruang yang cukup lebar untuk Bella. Setelah meyakinkan diri lagi rasa rindu tidur seranjang sudah menggebu, Bella melangkah dan naik dengan hati-hati ke atas ranjang. Lengan Ken menjadi bantal Bella. Ken merengkuh pundak istrinya dengan lembut, tak lupa memberi kecupan manis pada pipi.
Sedang Bella, memainkan jarinya di bagian dada Ken yang sedikit terbuka. Membentuk gambar abstrak. Sejenak keduanya menikmati posisi ini tanpa ada pembicaraan apapun.
"Sungguh kau ingin tahu?"
"Hm … anggap saja mengingat pelajaran sekolah dulu," sahut Bella, masih setia menggambar abstrak pada dada Ken. Ken menghela nafas pelan sebelum menjawabnya. Dahinya mengeryit seakan tengah mengingat bagian yang ditanyakan oleh Bella.
Bella sabar menanti. Ia mendongak, melihat wajah Ken yang masih merangkai jawab.
"Sebenarnya tingkat kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan dari faktor keturunan," ucap Ken, mulai menjawab pertanyaan Bella.
"Berapa banyak dari faktor keturunan?"
"Sekitar 50 persen. Itu pun lebih besar kemungkinan kecerdasan seorang anak diturunkan dari seorang ibu. Hal itu disimpulkan dari sebuah penelitan di mana gen kecerdasan orang tua dibawa oleh kromosom X. Masih ingat apa itu kromosom, Aru?" Bella mengeryit mengingat jawabannya. Tak lama kemudian ia menggeleng.
"Kromosom itu adalah molekul DNA yang membawa sifat keturunan. Dan alasannya dikatakan bahwa kecerdasan lebih besar diturunkan dari seorang ibu karena perempuan memiliki dua kromosom X sedangkan laki-laki hanya punya satu kromosom X dan sisanya adalah kromosom Y."
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Lalu 50 persen lainnya itu ditentukan dari lingkungan, didikan orang tua, gaya belajar, dan nutrisi," imbuh Ken.
"Lalu ku dengar kecerdasan itu bisa diturunkan dari nenek atau kakek, benar?"
"Bisa saja. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
"Baiklah. Aku sudah mengerti."
"Sudah puas?"
"Hm." Bella mengangguk.
"Kalau begitu boleh aku gantian bertanya?"
"Hm." Bella memejamkan matanya. Rasanya ia sangat mengantuk setelah menjalani hari yang cukup berat.
"Aru apa kau tidak canggung atau malu, atau insecure memiliki suami yang lebih muda dariku? Terlebih apa kau akan membawaku ikut serta ke acara reuni SMA-mu? Ku dengar dari pembicaraanmu dan Kak Jani, mereka meremehkan dan siap untuk mencibirmu. Apa kau tidak takut?"
"Aku bahagia bersamamu terlepas dari faktor apapun. Apa kau puas dengan jawaban itu?"jawab Bella tanpa membuka matanya.
"Sedang Baginda Rasulullah SAW. saja tidak pernah insecure memiliki istri yang belasan tahun lebih tua darinya. Rumah tangga mereka malah sangat harmonis dan menjadi panutan umatnya. Siti Khadijah, cinta sejati Rasulullah SAW. Lantas mengapa kau merasa tidak enak sendiri padaku padahal kita hanya selisih lima tahun? Mengenai reuni, memangnya mereka siapa? Punya hak apa mereka mengatur hidupku? Ken hilangkan sifat tidak percaya dirimu itu. Anggap saja siapa yang mencela dan mengkritikmu adalah seseorang yang sangat peduli denganmu hingga ia memperhatikan apa yang terjadi pada kita. Lagipula teman-teman SMA-ku, masih berada di bawah kedudukan suamiku," pungkas Bella, lagi tanpa membuka matanya.
Ken mencerna ucapan Bella sebelum akhirnya ia tersenyum, "ya kau benar, Aru."