
Desya dan Irene bergegas keluar melihat apa yang terjadi.
Berdiri di belakang Bella yang berdiri di depan Ariel dan Lucia. Sementara Evalia tidak terlihat. Bella bersedekap tangan.
Pipi Ariel merah dengan bekas tamparan yang terlihat jelas. Lucia tampak terpaku. Nampan, irisan mangga, dan bumbu rujak berserakan di lantai.
Desya memperkirakan apa yang terjadi. Irene tetap di belakang Desya. Melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"KAU!" ucap Ariel dengan menunjuk Bella. Wajah geram tercetak jelas.
"CK! Membosankan!" Bella berdecak. Wajahnya menunjukkan ekspresi malas.
"Kau tahu siapa aku?! Beraninya kau menamparku! Cepat bersujud dan minta maaf!"seru Ariel dengan menunjuk-nunjuk Bella yang menaikkan alisnya. Tampaknya Ariel tidak menyadari kehadiran Desya dan juga Irene.
Lain halnya dengan Lucia. Lucia menunduk begitu matanya berbentur pandang dengan mata biru dingin Desya.
Lucia tidak seberani Ariel. "Bersujud?"beo Bella. "Padamu?" Tatapan merendahkan.
"Mimpi!"
Irene membelalakkan matanya. Lebih kepada melotot. Urat lehernya menegang. Wajahnya benar-benar gelap.
"Wanita sialan! Aku aku bunuh kau!" Ariel hendak menjambak Bella. Namun, sigap Bella menghindar dan membuat Ariel menabrak Desya. Desya tidak bergerak dari tempatnya. Ariel malah jatuh terduduk.
Bella melihat ke belakang. "Ah, mereka mencegatku dan menjatuhkan makananku. Kau tahu emosiku buruk dan ya … aku menamparnya," ucap Bella memberitahu.
Tadi, saat Bella keluar. Tiba-tiba saja Ariel dan Lucia menghadangnya. Tanpa banyak bicara menjatuhkan nampan yang berisi mangga muda dan bumbu rujaknya. Juga mengatakan sesuatu yang membuat emosi Bella semakin tinggi. Alhasil tamparan keras mendarat di pipi Ariel.
Melihat dari bekasnya, Ariel pasti sangat kesakitan. Kendati demikian, itu tidak segera membuatnya pergi malah semakin mencari masalah.
"Oh."
"Tuan?" Ariel tercengang dan tidak percaya dengan yang reaksi Desya, suaminya. Hanya oh? Dengan wajah datar? Bahkan Desya tidak menunduk untuk melihatnya.
"Tuan, Tuan Wanita sialan itu menamparku. Menampar istrimu. Menampar ibu dari putramu. Bagaimana bisa kau diam saja? Cepat hukum wanita sialan itu??"aduh Ariel dengan menekankan statusnya. But, Desya tetap acuh.
"Jangan mencari masalah dengannya jika kau masih ingin menyandang status itu!!" Jawaban yang di luar dugaan Ariel, juga Lucia. Setidak berarti itu Ariel di mata Desya? Dan seberapa penting Bella hingga Desya berpihak padanya?
"T-Tuan? Apa maksud Anda? Anda membelanya? Saya istri Tuan!! Dia menyakiti anggota Green Palace. Tuan harus menghukumnya!!"desak Ariel. Ia menengadah. Menatap Desya dengan tatapan rumit.
Tatapannya kesal bercampur dengan sedih dan kecewa. "Kau yang mencari masalah maka kau harus menanggung akibatnya!" Desya berkata dingin. Kemudian melangkah pergi dengan menarik tangan Bella.
Irene mengikut. Meninggalkan Ariel yang menunduk dengan perasaan malu, kecewa, kesal, dan marah. "K-kakak? Kau baik-baik saja?"
"Wanita sialan itu!! Aku akan membunuhmu!! Ahghhg Desya aku akan membuatmu memohon maaf padaku!!"
Ariel mendesis. Matanya dipenuhi dengan amarah. Lucia bergidik.
Apa yang akan dilakukannya? Bergumam dalam hati.
"Lepas!" Bella meronta dan menghempaskan tangan Desya yang menarik tangannya.
Desya menghentikan langkahnya. "Mengapa langsung mencari masalah?" Desya tampak cemas. Apa yang perlu dicemaskan?
"Kau yang menempatkanku dalam masalah, Tuan Desya!"sahut Bella santai namun penuh tekanan.
"Mengapa kau takut? Bukankah kau memberitahu untuk tidak takut pada mereka?" Desya terdiam. Bella menerka ada yang Desya sembunyikan. Namun, Bella tidak peduli dengan apa itu.
"Aku akan kembali ke kamar. Bye!" Bella melangkah pergi setelahnya.
"Kembali ke dapur dan bawa ke kamarnya seperti tadi," suruh Desya kemudian setelah menyentuh dahinya.
"Tuan."
"Setelah itu ke ruanganku."
Desya kemudian melangkah pergi meninggalkan Irene. Irene menghela nafas kasar. Ia tahu apa yang dikhawatirkan oleh Tuannya.
Biar bagaimanapun Nyonya Ariel adalah menarut yang dipilihkan oleh Tuan dan Nyonya Besar. Jika sampai Nyonya Ariel mengadu, Tuan dan orang tuanya bisa berselisih. Dan Nona Bella pasti akan menjadi sasaran.
Irene sejenak menunjukkan raut wajah khawatir. Hilang begitu ia melangkah menjalankan perintah Desya.
*
*
*
"Kita sungguh pulang?" Ken bertanya ragu. Tatapnya menunjukan keengganan. Tidak rela. Pulang tanpa istrinya. Ia melihat ke belakang padahal sudah berada di tangga pesawat.
Rahayu, Surya, dan Tuan Adam menunjukkan wajah prihatin. Mereka juga sangat enggan. Namun, keputusan mundur sudah bulat. Ya meskipun Bella awalnya sangat-sangat tidak ingin. Akan tetapi, setelah bujukan dan pengertian dari ketiga orang itu, akhirnya Ken setuju meskipun terasa sangat berat.
"Pulang sendiri? Tanpa Aru? Tanpa calon anakku?" Ekspresi Ken kini datar. Tatapan matanya terlihat kosong. Hatinya hampa. Separuh jiwanya tidak di sisinya. Belum lagi akan menghadapi pertanyaan setelah tiba di rumah.
"Ken, mengertilah. Kita pulang dulu. Susun rencana yang matang. Abel akan baik-baik saja dan kita akan segera berkumpul kembali!"ucap Surya menguatkan. Mereka sudah tahu siapa lawannya. Mencari bantuan adalah jalan yang paling tepat. Bersabar, itu yang harus mereka lakukan sekarang.
"Tuan, kami tahu perasaan Anda. Tapi, Anda harus kuat. Kita juga harus berjuang. Pasti di sana Nona juga sedang berjuang," ujar Tuan Adam.
Ken mengangguk pelan. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesawat. Ketiga orang itu saling melempar pandang.
Mungkin ini salah satu cara agar Tuan bisa benar-benar dewasa, ucap Tuan Adam dalam hati.
"Tidurlah. Perjalanan kita sangat jauh," suruh Rahayu. Ken menggeleng pelan. Ia duduk di bangku, menyandarkan punggungnya kemudian memejamkan matanya.
"Ken …." Membujuk lembut. Namun, Ken tetap menggeleng.
Rahayu menghela nafas. "Baiklah. Tidurlah di sini." Rahayu duduk di sebelah Ken.
Sedangkan Surya membuka laptopnya. Begitu membuka email, sudah begitu banyak email yang masuk. Sama halnya dengan Tuan Adam. Beruntung, insiden penculikan Bella tidak terekspos ke publik. Jadi, tidak begitu banyak pertanyaan akan ke mana Bella. Kecuali dari keluarga Mahendra.
Brian, El, Anjani, Dylan, mereka begitu menantikan kabar.
Rahayu meraih ponselnya. Memutuskan untuk memberitahu Brian bahwa mereka sudah dalam perjalanan pulang.
Pesawat mengudara. Melaju dengan pesat. Ini pagi hari, berharap nanti sore mereka sudah tiba di Jakarta.
Apakah aku perlu memberitahu keluarga Kalendra sekarang? Agar mereka bisa segera tahu dan segera berkumpul?pikir Surya. Tuan Adam ikut ke Indonesia. Ia bisa menghandle urusan dari tempatnya berada.
*
*
*
Ken masih dengan wajah lesunya. Bayangan akan kekesalan dan tatapan marah yang ditujukan untuknya, menguasai benak Ken.
Mereka menunggu mobil keluar dari cargo pesawat. Tidak lama. Mereka kemudian naik ke dalam mobil dan meninggalkan bandara.
Matahari bersinar dengan teriknya. Cahayanya memantul di kaca-kaca yang menjadi jendela juga dinding bangunan. Kemacetan juga tidak terhindarkan. Suasana kota yang masih sama. Hanya saja, terasa begitu kurang karena hilangnya seseorang.
Rindu.
Hatinya sangat merindukan Aru, istrinya.
Menghela nafas. Ken kembali memejamkan matanya.
Kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka tiba di kediaman Mahendra. Di teras, Brian, Silvia, Dylan, El, dan juga Fajar sudah menunggu. Wajah mereka terlihat sangat ceria.
Ken merasa sangat bersalah. Pasti, wajah bahagia itu akan segera meluntur.
"Assalamualaikum," ucap Surya, turun lebih dulu bersama dengan Rahayu.
"Waalaikumsalam, Pa." Menjawab hampir bersamaan.
"Bunda." Bergantian menyalami punggung tangan Surya dan Rahayu.
"Mengapa lama sekali di sana? Apa sakit Abel begitu parah?"tanya El.
"Iya, Bun. Kok lama sekali?"timpal Silvia.
Brian dan lainnya hanya menerima kabar lewat pesan dari Rahayu. Mengatakan bahwa Bella akan segera membaik dan dalam waktu dekat akan pulang. Karena sudah mengatakan seperti itu, meskipun curiga mereka hanya bisa percaya. Lagipula untuk apa Rahayu dan Surya berbohong? Itulah yang ada dalam pikiran mereka.
Sayangnya, hal yang tidak mereka duga akan segera terungkap. "Ada masalah makanya kami baru pulang," jawab Rahayu.
"Masalah?"
"Bunda, Kak Abel dan Kak Ken kok nggak turun-turun?" Dylan sudah sangat merindukan Bella. Menatap ke arah mobil yang berada di belakang mobil Surya dan Rahayu.
"Ah aku tahu, pasti ada kejutan, bukan?" Dylan mendekati mobil yang ia kira ditumpangi oleh Bella dan Ken. Namun, begitu membuka pintu, Dylan diam dengan dahi mengeryit. Surya memejamkan matanya.
"Loh, kok cuma Kak Ken? Kak Abel mana?" Mendengar itu, rasa curiga seketika melingkupi hati yang mendengarnya, kecuali yang sudah tahu.
"Apa trauma Abel kembali? Dia tidak bisa naik mobil?"terka Brian.
"Oh, Kak Abi masih di belakang?"imbuh Dylan bertanya.
"Tidak seperti itu."
"Loh? Paman Adam?" Brian dan Silvia terkejut melihat Tuan Adam turun dari mobil.
"Ayo, Tuan," ucap Tuan Adam meminta Ken untuk turun.
Ken turun. Pandangannya menunduk. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyaan itu meluncur dari Brian.
"Mana Kak Abi, Kak Ken? Bunda? Papa? Paman? Di mana kakakku?" Dylan semakin gusar. Wajah cemas tercetak jelas.
"Kalian menyembunyikan sesuatu? Apa yang terjadi pada Abel? Ken? Di mana istrimu?!" El ikut mendesak.
"A-Aru." Ya, hati Ken sudah saat ini sangat lemah, tentu saja tidak tahan dengan pertanyaan itu. "Ah aku tidak tahu.".
"Astaga, Ken? Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kalian kan selalu bersama? Seperti surat dan perangko?" El menggelengkan kepalanya.
"Kak Abel baik-baik saja, kan?" Dylan memegang pundak Ken. Ia sedikit meninggikan suaranya.
"Nona baik-baik saja. Dan dia berada di Rusia," jawab Tuan Adam.
Rusia?
Sendirian?
Dalam keadaan hamil?
For what? .
"Kita bicarakan di dalam," tukas Surya, memberi perintah. Surya masuk ke dalam rumah. Bersama dengan Rahayu dan diikuti dengan yang lain.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?"
Surya menghela nafas sebelum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat!
Terkejut jelas dirasakan!
Bella diculik?!
Oleh mafia Rusia?
Sungguh di luar dugaan!!
Tidak pernah dibayangkan.
"Ini masalah yang serius. Papa sudah menghubungi keluarga Kalendra. Kemungkinan besar, mereka akan tiba sore ini."
"Pa?!" Ken langsung protes. Menghadapi keluarganya saja ia sudah kelimpungan apalagi ditambah dengan keluarga Kalendra?
Surya tidak menggubrisnya. "Brian, Tuan Adam, El, Dylan, aku ke perpustakaan," ajak Surya kemudian.
Yang disebutkan namanya segera mengikuti Surya. Meninggalkan Rahayu, Ken, Silvia, dan Fajar. Ken semakin lemas.
"Tidak perlu seperti ini, Ken. Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kau harus kuat! Inj bukan salahmu!"ucap Silvia.
"Tapi, ini terjadi karena aku yang lemah, Kak." Parau.
"Maka kau harus menjadi kuat agar hal ini tidak akan terulang lagi. Ingat, kau bukan hanya seorang suami melainkan juga calon ayah!"
"Jika Kak Abel diculik, bagaimana cara memberi tahu adiknya, Nesya?"tanya Fajar.
Nah. Inilah yang menjadi masalah selanjutnya. Bagaimana cara memberitahu Nesya bahwa Bella diculik?